NovelToon NovelToon
Takdir Celine & Levin

Takdir Celine & Levin

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:157.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jiriana

Ini kisah anak-anak dari Novel "Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya" yang akan menceritakan kisah anak-anak dari pemeran novel tersebut. Disarankan untuk membaca novel itu terlebih dahulu.

Kepergian Celine 10 tahun yang lalu masih membekas dengan jelas diingatan Levin. Perasaan bersalah, marah, kecewa, dan rindu bercampur jadi satu. Levin tidak pernah berhenti mencari keberadaan Celine, meskipun tidak pernah menemukan jejak apapun. Hingga suatu hari dia bertemu dengan wanita yang dia yakini adalah Celine, tapi sayangnya wanita itu mengatakan tidak mengenal Levin.

"Aku tidak punya kakak sepertimu." -Celine

"Kau boleh melupakanku, tapi kau tidak boleh lupa di mana rumahmu. Kau harus tetap ikut pulang bersamaku." -Levin

"Dia adalah kekasihku. Kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja tanpa seijinku." -Jefry

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Celine? Kenapa Celine tiba-tiba menghilang setelah kepergiannya ke Swiss?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulah Nakal Jeniffer

Setelah selesai mandi, Erzio menghampiri Levin di apartemennya. Seperti biasa, Erzio akan ke apartemen Levin untuk mengajaknya makan malam. Terkadang jika mereka sedang malas, mereka hanya memesan makanan lewat layanan antar atau mereka akan makan di salah satu restoran yang ada di lantai bawah apartemen mereka.

Malam ini, Erzio mengajak Levin untuk makan di restoran hotel dekat apartemen mereka karena dia merasa bosan dengan makanan yang biasa mereka pesan. Levin hanya menurut saja dan mengikuti ke mana Erzio membawanya. Selesai makan malam, Erzio dan Levin membahas mengenai pesta yang akan Zio gelar di club malam tempat Josep pernah mengadakan pesta.

"Apa Kak Alea sudah tahu kalau kau akan mengadakan pesta di club malam?" tanya Levin.

Kakak Erzio itu, memang melarang keras adiknya untuk sering keluar masuk club malam karena takut adiknya akan membuat masalah. Dia bahkan melarang adiknya untuk menyentuh minuman beralkohol. Padahal, selama ini, Erzio sering datang ke club bersama Josep dan teman yang lainnya tanpa sepengetahuan Alea.

"Dia tidak akan melarangku. Aku bukan anak kecil lagi. Umurku sudah 27, Vin. Berpesta di club adalah hal yang wajar."

Umur Erzio dan Levin terpaut 1 bulan 3 minggu, Levin lahir lebih dulu dari pada Erzio. Berbeda dengan Erzio yang selalu mengadakan pesta di club jika berulang tahun, Levin justru tidak pernah merayakannya. Dari dulu dia tidak suka berpesta terutama di club malam.

"Kapan Livia ke sini?"

"Aku belum bertanya lagi padanya."

"Apa kau sudah bertanya pada Celine mengenai pertunangannya dengan Jefry?"

"Sudah. Dia juga tidak tahu ada acara pertunangan itu."

Beberapa hari lalu asisten Jefry mendatangi kantor Levin dan memberikan undangan padanya. Tidak hanya Levin yang diundang, tetapi Erzio juga diundang ke acara tersebut.

"Apa Jefry sengaja membuat kejutan untuk Celine?" tebak Erzio.

"Mungkin. Kita akan tahu saat di pesta nanti."

Memikirkan itu, Erzio sedikit khawatir. Bagaimana kalau itu memang pesta pertunangan dan mereka berdua sungguh bertunangan nantinya? Dia takut Levin akan membuat masalah saat di pesta nanti jika itu memang benar.

"Jam berapa besok kita menjemput kak Alea dan Jen?"

"Sepulang bekerja saja."

Saat mereka akan pulang, tidak sengaja bertemu dengan Celine dan Jefry yang baru saja keluar dari lift. "Tuan Levin, ternyata ada di sini juga."

Erzio tersenyum masam. Dia juga ada di sana, tapi Jefry bahkan tidak meliriknya sama sekali.

"Dunia ini sempit sekali, di mana pun selalu bertemu denganmu, Tuan Jefry. Apa kalian baru akan makan malam?" tanya Levin dengan wajah datarnya.

Celine tidak berani membuka suaranya saat tadi melihat tatapan dingin dari Levin. Meskipun hanya sesaat, tapi mampu membuat Celine membeku selama beberapa detik.

"Benar, aku sengaja mengajak kekasihku untuk makan malam di sini karena akhir-akhir ini dia tidak napsu makan."

"Tuan Jefry perhatian sekali," ucap Levin dengan nada mencibir, "oh yaa, karena kita sudah bertemu di sini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Levin dan Erzio akhirnya kembali masuk ke dalam restoran, Levin duduk di meja yang sama dengan Jefry, sementara Erzio dengan Celine di meja lain yang berjauhan dengan mereka berdua.

"Celine akan tinggal di apartemenku setelah kontraknya habis dan juga aku akan membawa Celine ke Indonesia untuk bertemu dengan orang tuaku. Kau bilang pulang lebih dulu ke Jerman, aku yang akan mengantarnya pulang nanti. Aku tidak butuh persetujuanmu, aku hanya ingin memberitahumu saja."

Sudut mulut Jefry berkedut dan wajahnya terlihat tidak senang. "Tuan Levin, kau tidak bisa memutuskan apapun mengenai Celia. Dia bukan adik kandungmu, juga bukan kekasihmu, dia kekasihku. Apapun yang berkaitan dengannya, kau harus berbicara dulu denganku."

Wajah Levin nampak tenang selama beberapa saat kemudian senyum sinis menghiasi wajah tampannya. "Kau juga tidak bisa memutuskan hal yang sangat penting tanpa persetujuannya. Pertunangan itu, kau menyembunyikan dari Celine, kau pikir dia tidak akan marah?"

"Aku lebih mengenalnya dari pada kau. Aku sudah mempersiapkan hal itu jauh-jauh hari. Entah nanti atau kapan, dia juga akan menjadi istriku, tinggal menunggu waktu saja," ucap Jefry dengan yakin, "sebagai keluarga angkatnya, bukankah kau seharusnya mendukungku agar Celia bisa hidup bahagia?"

"Aku tidak setuju jika Celine menikah denganmu. Kau tidak pantas untuknya."

"Kalau aku tidak pantas, lalu siapa yang pantas menurutmu? Jangan bilang kau yang pantas untuknya," ucap Jefry dengan wajah mencibir.

"Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu." Levin lalu berdiri, "antarkan dia langsung pulang setelah selesai makan malam."

Jefry terlihat menatap kepergian Levin dan Erzio dengan wajah dingin dan senyuman sinisnya.

*****

Esok harinya setelah pulang bekerja, Levin langsung menjemput Jeniffer di apartemen Alea. Alea memutuskan untuk tinggal di apartemen Levin juga, meskipun kontraknya belum habis.

"Jen, kakak akan pulang lebih dulu ke Indonesia," ucap Alea ketika mereka sedang bersantai di ruangan keluarga apartemen Levin.

Semua yang ada ruangan itu seketika menoleh pada Alea. "Kenapa buru-buru, Kak?" tanya Erzio dengan wajah heran.

"Mommy memintaku untuk pulang."

"Apa terjadi sesuatu di sana?" timpal Levin.

Alea menghela napas. "Mereka memintaku untuk segera menikah dengan Justin."

Erzio terkekeh mendengar itu. "Kak, kau memang harus segera menikah, jangan sampai kau jadi perawan tua. Diumur segini, kau bahkan hanya berkencan dengan satu pria," cibir Erzio sambil tertawa mengejek.

Orang tua mereka memang sudah berkali-kali meminta Alea untuk segera menikah, apalagi di umur Alea yang sudah mengijak 32 tahun dan belum juga ada tanda-tanda mau menikah. Padahal, banyak sekali yang menyukainya.

Awalnya Stella dan Dion membiarkan Alea untuk mencari calonnya sendiri, tapi hingga kini, Alea belum juga mengenalkan mereka pada pria yang disukai. Alea terlalu sibuk dengan kairnya hingga melupakan kehidupan asmaranya. Justin adalah mantan kekasih Alea yang sangat mencintainya. Dia adalah anak bungsu dari keluarga Yates, salah satu keluarga kaya raya, yang tidak lain adalah teman dari Dave.

Beberapa kali Justin datang menemui orang tuan Alea untuk melamarnya, tapi selalu ditolak oleh Alea. Kali ini, Justin kembali mendatangi orang tua Alea bersama dengan keluarganya. Alea pun sudah tidak bisa mengelak lagi. Tidak ada lagi alasan yang bisa dia gunakan untuk menolak Justin karena dia sudah berjanji pada orang tuanya untuk menikah tahun ini.

"Tutup mulutmu Zio atau aku robek mulutmu," ucap Alea dengan wajah kesal, "tunggu saja giliranmu tiba, maka kau akan merasakannnya."

Erzio terkekeh. "Kak, mantan kekasihku banyak. Aku tinggal memilih salah satu dari mereka. Beres," ucap Erzio enteng.

"Kak, kau tidak boleh menikah dengan orang lain. Hanya aku yang boleh menjadi istrimu," ujar Jeniffer sambil menatap tajam pada Zio dan ditanggapi dengan tatapan malas oleh Erzio.

"Jen, aku mencari istri, bukannya anak asuh." Erzio menatap Jeniffer dengan ragu, "aku takut kalau menikah denganmu, orang lain akan mengira kau itu adikku, bukan istriku."

"Kau jahat sekali, Zio. Awas kau kemakan dengan ucapanmu sendiri. Jangan sampai kau cinta mati pada Jen nanti," sahut Alea sambil menahan senyumnya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penampilan Jeniffer. Dia terlihat seperti wanita pada umumnya. Hanya saja sifat manja khas anak orang kaya yang membuatnya terlihat tidak dewasa dan terkesan seperti remaja.

Jeniffer menampilkan wajah cemberutnya. "Aku bukan anak kecil. Kita hanya berbeda 5 tahun, Kak," protes Jeniffer.

"Kalau kau memang bukan anak kecil, maka tunjukkan padaku. Perlihatkan kalau kau bisa menjadi wanita dewasa," tantang Erzio, "kau saja tidak pernah berpacaran sama sekali, Jen. Aku bahkan ragu padamu, apa kau pernah berciuman atau tidak. Kau sama saja dengan kakakmu," cibir Erzio.

Levin hanya dia, nampaknya tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan Erzio dengan Jeniffer, meskipun Erzio membawa namanya. Dia lebih memilih untuk memainkan ponselnya.

"Kata siapa aku belum pernah berciuman? Aku sudah pernah melakukannya," ucap Jeniffer dengan bangga.

"Siapa pria itu? Katakan padaku, pria brengsek mana yang sudah berani menciummu?" tanya Erzio dengan wajah kesal.

"Kaulah orangnya, Kak. Kau yang sudah mengambil ciuman pertamaku," jawab Jeniffer dengan wajah santai.

Erzio sangat terkejut mendengar perkataan Jeniffer. "Kapan aku menciummu? Kau jangan berani memfitnahku, Jen. Aku sama tidak pernah menciummu," sanggah Erzio cepat. Tentu saja dia tidak terima dengan ucapan Jeniffer karena dia memang tidak pernah mencium adik Levin itu.

Jeniffer tersenyum hingga deretan giginya terlihat semua. "Aku yang menciummu saat kau sedang tidur. Itu terjadi saat kau masih SMA. Itu adalah ciuman pertama kita. Aku sudah menandaimu semenjak saat itu."

Saat itu, Jeniffer sedang berada di rumah Erzio dan Stella meminta Jeniffer untuk membangunkan Erzio yang masih tertidur di kamarnya. Jeniffer yang tidak tahan melihat bibir merah Erzio akhirnya mengecup bibirnya selama beberapa detik lalu membangun Erzio seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Jen, beraninya kau menciumku saat tidur. Apa kau tidak memiliki malu sama sekali?"

Erzio nampak masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh adik Levin itu. Tanpa rasa malu sedikitpun, dia menceritakan itu di depan kakaknya sendiri, seolah itu adalah hal biasa.

"Siapa suruh kau memiliki bibir yang sangat seksi," jawab Jeniffer dengan wajah acuh tak acuh.

"Kaaau....." Erzio sampai tidak mampu berkat-kata lagi akibat ulah Jeniffer. Alea yang sedang duduk di samping Jeniffer hanya bisa mengulum senyumnya.

"Berapa kali kau mencuri ciuman dariku?" tanya Erzio lagi dengan tatapan menyelidik.

Jeniffer menatap ke atas sebentar kemudian berkata, "Lima kali dan semuanya saat kau sedang tidur. Terakhir kali saat kau sedang mabuk satu tahun lalu."

Erzio dibuat tercengang dengan pengakuan Jeniffer, tidak menyangka kalau adik Levin bisa melakukan itu padanya. Erzio memajukan tubuhnya ke depan lalu menggerakkan jari telunjukmya ke arahnya. "Mendekatlah."

"Ada apa?" tanya Jeniffer sambil memajukan tubuhnya ke arah Erzio.

"Pletaaaak." Erzio menjentikkan jari telunjuknya ke dahi Jeniffer dengan kuat.

"Aaawww, sakiiiittt, Kak." Jeniffer mengusap dahinya berkali-kali yang terlihat memerah.

"Apalagi yang sudah kau perbuat saat aku tidur?"

"Tidak ada."

"Jangan pernah berani lagi menciumku saat aku sedang tidur, jika tidak, aku akan mengadukanmu pada mama," ancam Erzio.

Jeniffer berusaha menahan senyumnya karena berhasil membohongi Erzio. Padahal saat itu, dia memotret adegan ketika dia sedang mencium bibir Erzio.

Bersambung....

1
Dyah Oktina
aduhhh...kasihan... baru mau belah duren.. bel berbunyi.. kok jd ikut kesel.. 🤭😁😁
Dyah Oktina
iya betul itu..
Dyah Oktina
iya betul jeslyn... jangan paksakan keinginan mu dave..kasihan levin
Dyah Oktina
jeni...kamu emang ngeselin..d bilang pelan ngak nurut.. d kasih suara keras sedih ngak terima.. duh..
Dyah Oktina
justru godaan setelah menikah lama itu yg sangat besar..
Dyah Oktina
cinta bertepuk sebelah tangan emang menyakitkan...apa lagi sempat merasakan indahnya bersama..😭😭😭
Dyah Oktina
sofi????????🤭😁😁terbawa dgn cerita sebelah ya thor
Dyah Oktina
kla cinta ngak terus terang jdnya saling menyakiti...hah...pusing..bacanya gemana yg menjalankan tambah mumet..
Dyah Oktina
sejak kapan ada sofi thor.. bukannya jen yg ada.. 🤭
Dyah Oktina
kalungnya dah d ambil...apa belum..pasti belum.. lupa semua krn terbawa emosi.. 🤭
Dyah Oktina
kerasa kan ... kla suka terus d abaikan..gemana rasanya. .. sedap ya zio..🤭
Dyah Oktina
zio...kamu tuh ngak jelas banget sih... ngak mau ngaku suka ke jen.. tp mengabaikan..giliran d abaikan jeni ngak terima ...marah..
Dyah Oktina
josep ....bukan jefry thor.. kla jepry kan tunangan celine
Dyah Oktina
bisa nasehatin celine..lah dia sendiri minum alkohol berbotol2..😠
Dyah Oktina
Luar biasa
Dyah Oktina
wah... masa iya masih inget jeni.. dgn kalung mamanya yg sdh 10thn lalu.. ck..ck.. ingatan yg hebat✌️😁😁
Shewid Lestari
Luar biasa
Dyah Oktina
berarti umur celine 18thn ya saat d cerita ini
Ida S
kok jenifer agresif bngt jd cewek yaa🙏
🔴🏡s⃝ᴿ 🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰❀∂я
Celia itu pasti Celine yg udh operasi wajah cs luka bakar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!