(Kanaya Khairunnisa Aulia) gadis yang berusia 17 tahun, di paksa oleh keadaan yang mengharuskan dia menikah mendahului kedua kakaknya dengan (Alfan Alvaro) yang usianya terpaut jauh 10 tahun darinya, karena Suatu alasan yang tidak bisa di hindari olehnya.
"Kamu pasti akan menyesal karena telah menyanggupi pernikahan ini?" tekan Alfan
"Tidak, aku tidak akan pernah menyesalinya karena ini pilihan ku!" jawab Kanaya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikut kisahnya?
Makasih ya guys sudah mau baca? sungguh sangat senang sekali di baca! tapi jangan di bom like yah🙏 dan di sarankan komentar yang membangun? ✌️🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safna Colloction, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 ENTAHLAH
Gadis cantik berlari melalui Kevin dan Kanaya Tanpa permisi, tangannya langsung naik mengalungkannya di leher Alfan yang hendak masuk mobil, sedetik kemudian Dia mencium bibir Alfan dengan sangat agresif.
"Apa yang kamu lakukan Dewi?" Alfan yang syok langsung melerai ciumannya. "Kenapa kamu bisa tahu rumahku?" dengan marah Dia mengintimidasinya.
"Itu tidak penting sayang! yang terpenting aku sekarang sudah berada di sini, aku sangat kangen sama kamu?" dia memeluk Alfan kembali
'Wanita yang berada lagi? batin Kanaya
Alfan menyingkirkan pelukannya, dia mengalihkan pandangannya ke arah Kanaya dan Kevin yang berada tidak jauh darinya, yang Alfan tangkap pertama adalah tatapan sendu Kanaya, Dia tidak melihat mata Kevin yang sedang menatapnya nyalang.
"Oh jadi begini kelakuan Lo? Sepertinya ini adalah hari keberuntungan buat gue bisa menyaksikan semua dengan mata kepala gue sendiri!" Kevin langsung bertepuk tangan untuk apa yang di lihatnya.
Alfan tidak menghiraukan perkataan Kevin dia malah berjalan mendekat ke arahnya, tangannya langsung terulur dengan lembut menggenggam jari-jari lentik milik Kanaya. "Nay!" tanyanya dengan lirih, tangan yang satunya lagi mengelus lembut Surai panjang Kanaya, dia berharap Kanaya mendongak ke arahnya.
"Lepas! jangan sentuh adik gue!" Kevin melepaskan tangan Alfan dari Kanaya, dia menyembunyikan Kanaya tepat di belakang tubuhnya, rahangnya mulai mengeras matanya mulai memerah dia seakan ingin menerkam orang yang berada di depannya itu.
"Apa apaan Lo Kevin jangan ikut campur!" Alfan mencoba merebut kembali tangan Kanaya, tetapi dia tidak mendapatkannya, Kevin tidak memberikan celah untuk dia mendapatkannya.
Kanaya hanya bisa berdebat dengan batinnya, tidak terasa tiba-tiba dia menjatuhkan air matanya. 'Aku sudah mempersiapkan diri akan tidak pernah sakit hati melihat Kak Alfan berpelukan dan berciuman dengan pacarnya, tapi entah kenapa di dada ini terasa sangat sesak?'
"Kanaya masuk mobil?"
"Jangan Nay!"
"Kakak bilang masuk."
"Aku tidak mengizinkan kamu untuk pergi, sekarang masuk ke dalam rumah?" perintah Alfan
"Adik gue tidak butuh izin dari Lo! sana Lo urus saja cewek itu!" sentak Kevin
"Dia bukan siapa-siapa gue Kevin!" jelas Alfan
"Sayang apa maksud kamu aku bukan siapa-siapa? Dewi menyela pembicaraan.
...Plak...
"Si*lan Lo masih berani mengelak?" Kevin memberikan tinjunya tepat di bibir Alfan dia sudah tidak bisa menahan dirinya.
"Kakak Kevin hentikan. aku bisa jelaskan!" Kanaya memegang tangan Kevin dengan sangat erat supaya Kevin tidak melakukannya lagi untuk memberikan tinjunya ke Alfan.
Kanaya sangat merasa sesak di dadanya melihat pemandangan yang tidak mengenakkan hatinya, detak jantungnya menjadi sangat cepat melebihi detikan jam, tubuhnya yang mungil langsung menyusut ke Paving blok di halaman rumah itu sembari memegang dadanya dia meringis sangat kesakitan.
Kevin langsung tersadar akan Kanaya terduduk ke Paving blok dengan menarik tangannya, "Naya apa asma kamu kambuh? tanpa jawaban dari Kanaya dia langsung membopong tubuh Kanaya untuk masuk ke dalam mobil.
Alfan mencoba meraih tangan Kanaya, tetapi tangannya di tepis Kevin, dia hanya bisa melihat Kanaya meringis kesakitan di dalam mobil.
"Minggir Lo!" Kevin mendorong tubuh Alfan agar menyingkir dari mobilnya, dia langsung masuk ke dalam mobilnya, Kemudian meninggalkan halaman itu.
"Sayang, siapa mereka?" tanya Dewi sambil bergelayut di tangan Alfan.
"Kamu pergi dari sini! dan jangan temui aku lagi." tegas Alfan tanpa memberi penjelasan.
Alfan langsung masuk ke dalam mobil dia meninggalkan Dewi sendiri di sana, dia menyalip mobil satu persatu untuk bisa menyusul mobil Kevin dengan kecepatan tinggi untung saja jalannya tidak terlalu ramai hari ini.
...*****...
Sepuluh menit kemudian, Kevin dan Kanaya telah tiba di Rumah Sakit terdekat di daerah Dxxx, Kevin langsung membopong Kanaya untuk masuk ke dalam rumah sakit itu dengan tergesa-gesa.
Lima menit kemudian, Alfan juga telah Sampai tepat berada di dekat mobil Kevin, dia langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit itu untuk menyusul Kevin dan Kanaya yang masih terlihat jelas dari pandangannya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti karena Kevin dan Kanaya seketika telah hilang dari pandangannya. "Kemana mereka?" Alfan menyusuri satu persatu ruangan dia tidak melihat Kanaya di semua ruangan itu.
...Kring!...
(Hallo)
(Kamu sekarang di mana? cepat ke kantor Papa sedang di Bandung.) suara dari sambungan telpon.
(Iya aku akan segera ke kantor!) Alfan Langsung mematikan sambungan telponnya.
Alfan melanjutkan Kembali pencariannya dia tidak perduli akan perintah Papanya, yang di pikirnya saat ini hanyalah Kanaya, Alfan terus menyisir semua penjuru ruangan rumah sakit itu, dan sesekali bertanya ke suster yang tidak tahu akan keberadaan Kanaya. sampai pada akhirnya Dia ke luar dari rumah sakit karena tidak mendapatkan apa yang inginkannya, tepat setelah berada di luar dia melihat mobil Kevin sudah pergi dari rumah sakit itu, dia mengejar tetapi sudah terlanjur jauh dari pandangannya.
...*****...
Kevin memberhentikan mobilnya di suatu tempat seperti lapangan kosong hanya terlihat rumput-rumput hijau yang sudah meninggi, tangannya langsung naik mengusap lembut rambut panjang Kanaya dengan sayang, dia menenangkan Kanaya yang sedari tadi terisak tangis.
"Apa yang ingin kamu jelaskan sama Kakak? Apa ada yang kamu sembunyikan dari Kakak?" Kevin terus menekan pertanyaannya karena tidak tahan melihat adik bungsunya itu.
Kanaya menggelengkan kepalanya menandakan tidak ingin dia berbicara, dengan air mata yang terus jatuh ke pangkuannya dia terus berdiam diri dengan menundukkan kepalanya.
"Kanaya lihatlah mata Kakak? Kevin mengarahkan wajah Kanaya ke wajahnya dengan kedua tangannya dan kini empat bola mata itu saling memandang satu sama lain, Kevin semakin merasa terluka melihat Kanaya sibuk dengan tangisnya.
"Mata kamu tidak bisa menipu Kakak Kanaya! Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? bicaralah! kalau kamu menganggap Kakak ada, kalau kamu tidak bicara berarti kamu tidak menganggap Kakak ini Kakak kamu!" Kevin terus menekan Kanaya untuk berbicara.
Kanaya menjadi sangat takut akan perkataan Kevin, dia mulai berani mengatakannya dari A sampai Z memang dia orangnya sangat lemah untuk Kakaknya ini, "Aku yang bersalah Kak. Kak Alfan sudah memperingatkan aku! tetapi aku yang memilih untuk masuk ke dalamnya jadi Kakak jangan salahkan dia."
Mimik wajah Kevin seketika menjadi berubah mendengar cerita Kanaya, dia langsung menurunkan tangannya dari wajah Kanaya, "Kakak mengerti sekarang, memang Kamu masih kecil Kanaya, jadi, kamu berpikiran seperti itu, Apa kamu menangis untuk dia? apa kamu sudah suka sama dia?" tanya Kevin memastikan.
Kanaya menggelengkan kepalanya "Entahlah!" jawabnya pelan.
"Kalau begitu cerai saja dengan dia, kedepannya kamu akan terus tersakiti, kamu tidak akan pernah bahagia dengannya sampai kapanpun, Kakak tidak ingin kamu menderita dengan pernikahan ini, Kakak akan bertanggung jawab atas semuanya sama Mama dan Papa." ujar Kevin.
...Bersambung......
...Lanjut ke Bab berikutnya......
WAKTU YANG TERBANGUN SIA SIA❎
Awas thor banyak kalimat atau ayat yg salah tulis..hati-hati..