Single , cantik, dan kaya raya menjadikan Divara sebagai wanita yang banyak di kejar oleh lawan jenis.
Namun sayangnya di antara mereka hanya memanfaatkan harta dan tak jarang banyak yang menorehkan luka ,bukan hanya sekali tapi berkali kali.
Hal tersebut membuat Divara benci dan trauma dengan semua pria, sehingga dia berimajinasi untuk membuat robot manusia sempurna berjenis kelamin laki laki yang akan dia jadikan pendamping.
Bagaimana tanggapan orang di sekitar Divara melihat tindakan wanita yang di luar akal logika itu?? Saksikan kisah nya di sini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T. L. Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa
Mbah Wongso belum bisa menjawab pertanyaan Divara, dan hal itu membuat wanita itu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang janggal di balik semua peristiwa ini.
"Sebenarnya pantang membongkar pelaku sesama dukun dalam dunia kami" tiba tiba mbah Wongso bersuara.
"Oh ya? ternyata di dunia kalian masih punya adap? aku kira semua dari kalian adalah manusia bid*ap..!" ucap Divara yang seketika memancing emosi mbah Wongso.
"Jaga bicara kamu..! Kalian juga tak kalah biad*apnya karena datang ke tempat kami untuk meminta pertolongan..bukan kah kalian punya Tuhan? Mintalah pada Tuhan kalian...!!" bentak mbah Wongso.
"Baiklah, setelah ini aku akan meminta kepada Tuhanku untuk melenyapkan semua dukun di dunia ini...agar tidak ada yang saling menyakiti dengan cara licik..pengecut ... dan menyerang dari belakang...!!" Divara tak kalah emosi.
Mata mbah Wongso menatap tajam dan di balas dengan hal yang sama oleh Divara.
Perdebatan keduanya tak ada ujung. Namun kecerdasan Divara mampu membuat mbah Wongso sedikit demi sedikit terpancing untuk mengakui perbuatannya.
"Sejauh mana anda bisa berkelit? Akui saja semuanya... aku tidak akan menyalahkan anda karena anda hanya bekerja dengan kemampuan anda, tapi jujur saja apa benar semua virus penyakit ini anda yang buat? dan sekarang anda sendiri yang menyembuhkan?"
Deggh,
Mbah Wongso di buat tegang dengan pertanyaan Divara. Dia tidak habis pikir..Yang awalnya meremehkan kemampuan Divara, ternyata kemampuan pola pikir wanita itu sangat cerdas .
Lelaki tua itu memilih untuk memalingkan wajah dan mencoba berpikir, karena apapun jawaban yang di berikan oleh mbah Wongso, Divara selalu mampu menyangkalnya.
"Apa tanah satu hektar masih belum cukup?" tanya Divara kemudian.
Mbah Wongso masih membisu.
"Seratus juta" Divara menambah imbalan yang di berikan.
Dan hal itu sontak membuat mbah Wongso menelan saliva. Dia benar benar yakin bahwa Divara bukan wanita biasa. Terlihat caranya menyebutkan imbalan tanpa berpikir panjang.
"Masih belum bisa memberi jawaban? Baiklah, bersiaplah mulai besok anda sudah tidak tinggal di sini lagi karena lahan ini besok akan rata dengan tanah...!" kalimat Divara kali ini berhasil memojokkan mbah Wongso.
Jantungnya sejenak berhenti berdetak, matanya tak mampu berkedip dan lidahnya terasa kaku untuk bersuara.
Otaknya sulit mencerna isi otak Divara. Di dunia spiritual mungkin dia ahli, tapi untuk urusan debat sepertinya Divara yang lebih juara.
"Baiklah....aku bersedia", dengan sangat terpaksa mbah Wongso menuruti kemauan Divara.
Melihat lawan bicaranya sudah tak berkutik, Divara tersenyum lepas.
"Ini kartu namaku, dan hubungi aku untuk langkah selanjutnya sebelum matahari terbenam esok hari" ucap Divara sambil menyodorkan kertas kecil berbentuk persegi panjang berwarna putih itu.
Segera lelaki tua itu meraihnya dari tangan Divara.
Dan baru saja mbah Wongso mengantongi kartu nama tersebut, Abraham kembali datang.
"Saya kira sudah cukup jelas ,kami permisi" pamit Divara sambil menggandeng Rafael.
Berjuta tanda tanya keluar di benak Abraham.
"Apa yang wanita itu katakan mbah?" tanya Abraham.
"Dia menanyakan seputar pengobatan dan meminta saran" jawab mbah Wongso terpaksa berbohong demi menjaga nama baik.
"Owh..." jawab Abraham sedikit tenang.
Keesokkan hari di rumah Divara.
Ting ..tung...ting...tung...ting..tung...
Terdengar bunyi bel berbunyi melengking dan tanpa henti di rumah wanita itu.
Ceklek,
Pintu terbuka. Divara di buat terkejut dengan aksi para pegawainya pagi itu.
"Tidak ..ini tidak mungkin...." Divara menutup mulutnya yang sempat terbuka lebar dengan kedua telapak tangan.