Kisah gadis polos bernama Kania dengan seorang laki-laki yang Kania anggap sebagai monster karena memiliki banyak memar di wajah.
Jangan lupa add Facebook Author ya : Helly IV
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defina Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
***
Ruang Kerja Daniel.
Terlihat Kania tengah duduk di kursi dengan posisi menghadap ke arah jendela kaca perusahaan.
Ya, saat ini Kania masih berada di perusahaan Daniel.
Tadinya Kania ingin langsung pulang ke rumah. Tapi Arez malah mencegahnya dan memaksa dirinya untuk tetap di ruang kerja Daniel.
"Kalau bukan karena Kak Arez, Kania ogah nunggu di sini," oceh Kania dengan memasang wajah kesal.
"Eh tapi, Kania kan lagi marah sama Kak Daniel. Terus kenapa Kania malah nurut aja perkataan Kak Arez ya?"
"Ah, daripada kelamaan mikir, mending kabur aja," final Kania.
Tanpa babibu, Kania pun berdiri dari tempat duduknya, lalu perlahan ia berjalan menuju pintu dengan tujuan ingin kabur.
Dan belum sempat Kania memegang handle pintu, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka.
Sontak Kania pun membulatkan mata karena orang yang membukakan pintu tersebut bukanlah Arez, melainkan Daniel.
"Mau ke mana Sayang? Mau kabur ya?" tebak Daniel dengan tersenyum menyeringai.
"Engga," timpal Kania singkat.
Buru-buru Kania pun langsung berjalan menuju kursi, lalu ia duduk di atas sana dengan memasang wajah datar.
"Ck." Daniel sekilas terkekeh. Setelah itu, ia mulai mengunci pintu ruangan tanpa sepengetahuan Kania.
"Sayang!"
Daniel kini mulai berjalan mendekati Kania, lalu ia berdiri di belakang tempat duduk sang Istri.
"Kamu masih marah, hm?" tanya Daniel seraya membungkukkan tubuhnya agar lebih leluasa melingkarkan kedua tangannya di leher Kania.
Hening.
Tidak ada respon dari Kania.
"Sayang, please bicara!" pinta Daniel sembari menempelkan pipinya dengan pipi Kania.
"Emang harus Kania bicara sama Kakak?" tanya Kania yang tanpa sadar mulai membuka suara untuk Daniel.
"Harus dong Sayang. Kayak barusan," timpal Daniel seraya mengecup pipi Kania dengan lembut.
"Opss..." Kania langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saat tersadar dirinya berbicara kepada Daniel.
"Ck." Daniel sekilas terkekeh. Setelah itu, ia mulai merubah posisi tubuhnya menjadi berjongkok di hadapan Kania.
"Beneran masih marah?" tanya Daniel seraya mengusap-usap pipi Kania dengan lembut.
Kania kembali tak merespon dan malah sibuk menatap pemandangan kota indah.
"Aku di bawah sini Sayang. Bukan di depan!" seru Daniel di akhiri dengan menarik lembut kepala Kania agar mau menunduk menatap dirinya.
"Katakan, apa yang harus kulakukan supaya kamu mau memaafkanku?" tanya Daniel.
"Ga perlu," jawab Kania singkat.
"Kalo gitu kasih aku hukuman!" seru Daniel.
"Yakin mau dihukum sama Kania?" tanya Kania, yang kini mulai menatap Daniel dengan sangat lekat.
"Yakin Sayang," timpal Daniel seraya tersenyum lembut ke arah Kania.
"Ya udah Kania hukum Kakak sekarang."
Dengan gerak cepat Kania membungkuk menenggelamkan wajahnya di leher Daniel. Setelah itu, ia mulai menggigit leher sang Suami dengan cukup kuat.
"A*hh."
"Sayang!"
"Jadi ini hukumannya, hm?" tanya Daniel seraya membelai rambut Kania dengan lembut.
Sejenak Kania menjauhkan giginya dari leher Daniel. "Iya. Emangnya kenapa? Kakak mau protes?" tanya Kania agak ngegas.
"Ya enggaklah Sayang. Masa hukuman kayak gini harus protes sih," timpal Daniel disertai dengan kekehan kecil.
"Yaudah, Kania gigit Kakak lagi aja," ucap Kania yang kini beralih menenggelamkan wajahnya di sisi leher kanan Daniel. Dan...
Gret!
Kania kembali menggigit le**r sang Suami. Kali ini gigitannya itu sangat agresif membuat Daniel yang merasakannya langsung memejamkan mata.
"S*shh, pelan-pelan Sayang!" pinta Daniel sembari mencengkram kuat rambut Kania.
"Haha rasain!" ledek Kania. Lalu dengan cepat ia menjauhkan wajahnya dari leher Daniel.
"Ck." Daniel sekilas tersenyum miring. Ia benar-benar menikmati hukuman yang diberikan Istrinya tadi.
"Mau gigit lagi ga?" tawar Daniel dengan menaik-naikan kedua alisnya.
"Enggak."
"Emang udah cukup ngasih hukumannya?" tanya Daniel, sekilas mengusap pipi Kania dengan lembut.
"Udah."
"Jadi dimaafin?"
"Iya," timpal Kania tanpa memandang ke arah Daniel.
"Liat sini Sayang!" pinta Daniel seraya menarik lembut kepala Kania agar kembali menunduk menatap dirinya.
"Kamu masih marah, hm?" tanya Daniel.
Kania menggeleng. "Kania gak marah sama Kakak. Cuma ya sekarang ini Kania lagi sedih aja," ungkap Kania dengan memasang wajah sendu.
"Sedih kenapa Sayang? Apa ini ada hubungannya dengan orang yang udah jahatin kamu?" tanya Daniel, yang langsung direspon anggukan kepala dari Kania.
"Yaudah, kalo gitu cerita padaku siapa yang udah jahatin Istriku yang lucu ini!" seru Daniel sekilas mencubit pipi Kania dengan gemas.
"Aletta Kak," timpal Kania to the point.
"Aletta?"
"Iya, Aletta, karyawan Kakak."
"Apa yang dia udah lakukan padamu, hm?" tanya Daniel sembari mengusap pipi Kania dengan lembut.
"Dia udah numpahin bekal makanan Kakak," jawab Kania agak lirih.
"Cuma itu Sayang?"
Kania mengangguk. "Iya. Soalnya bekal makanan Kakak dibuat penuh cinta oleh Mommy Saras. Makannya tadi Kania sempat bertengkar sama Aletta karena Kania gak terima Aletta numpahin gitu aja masakan Mommy Saras," jelas Kania sembari menunduk lebih dalam.
Daniel tersenyum. Lalu dengan cepat ia pun merubah posisi menjadi berlutut agar lebih mudah memeluk tubuh mungil sang Istri.
"Pantesan aja penampilan kamu berantakan, ternyata bertengkar sama Aletta," ucap Daniel seraya mengusap-usap punggung Kania dengan lembut.
"Iya Kak. Aletta jahat. Dia udah numpahin bekal makanan Kakak," cicit Kania.
"Yaudah, nanti aku akan kasih dia hukuman Sayang," final Daniel.
"Jangan!"
Mendengar hal itu, Daniel langsung mengerutkan dahinya.
"Jangan? Kenapa jangan? Bukannya dia udah jahatin kamu?" tanya Daniel sembari mengurai pelukannya dengan Kania.
"Emang iya Aletta udah jahatin Kania. Tapi Kania ga rela kalo Kakak kasih hukuman ke Aletta," jawab Kania terus terang.
"Loh kenapa?" Daniel semakin dibuat bingung dengan jawaban sang Istri.
"Ya soalnya Kakak bakal kasih hukuman ke Aletta gigit leher juga kan," tebak Kania seraya memasang wajah polosnya.
Mendengar hal itu, Daniel pun langsung tertawa keras. "Pfttt, Hahaha ..."
"Ihh Kakak, kok malah ketawa sih." kesal Kania dengan mengerucutkan bibirnya.
"Habisnya kata-kata kamu lucu, Sayang. Masa aku kasih hukuman ke Aletta gigit leher sih," kekeh Daniel.
"Tapi itu kan emang kenyataan. Buktinya tadi Kania kasih hukuman ke Kakak gigit leher," ucap Kania, masih dengan wajah polosnya.
Perlahan Daniel menghela napas, berusaha untuk tidak tertawa lagi.
"Beda dong Sayang. Ga semua hukuman itu harus sama," ucap Daniel seraya membelai rambut Kania dengan lembut.
"Ohh jadi ga sama?"
"Iya, ga sama. Tergantung orang yang ngelakuinnya. Kalo kesalahannya fatal ya pasti hukumannya berat, contohnya aja dipenjara selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun," jelas Daniel.
"Ooo gitu." Kania mulai ber-oh ria sembari menganggukan kepala mengerti. "Berarti Kakak mau kasih hukuman apa ke Aletta kalo bukan gigit leher?" tanya Kania.
"Paling kasih skorsing," jawab Daniel.
"Skorsing?"
"Iya skorsing, jadi nanti Aletta tidak diizinkan masuk ke perusahaan selama beberapa waktu."
"Ohh...." Kania kembali ber-oh ria. "Tapi kalo misalnya nanti Kania yang ngelakuin kesalahan, Kakak bakal hukum Kania?" tanya Kania menatap Daniel dengan tatapan tanda tanya.
"Ya iyalah Sayang. Masa engga," kekeh Daniel.
"Terus hukumannya apa?"
Sejenak Daniel tersenyum miring. Setelah itu, ia mulai mendekatkan wajahnya pada telinga Kania. "Manjain kamu selama 24 jam," bisik Daniel.
"Hah? 24 jam? Capek dong nantinya kalo Kakak manjain Kania terus," kaget Kania.
"Kalau kamu yang dimanjain sih ga capek," ucap Daniel seraya mengusap bibir Kania dengan jari telunjuknya.
Lantas bibir Kania langsung membentuk senyuman mengembang. Entah kenapa akhir-akhir ini jantungnya selalu berdetak sangat cepat jika berada di dekat sang Suami.
🚫🚫
"Kak!" Kania mulai merasa kegelian saat Daniel tiba-tiba mengendus-endus jenjang lehernya.
"Jangan diendus kayak gitu ihh! Kania belum mandi tau!" peringat Kania.
"Biarin," ucap Daniel singkat, namun sukses membuat Kania ternganga.
Ia tak habis pikir Suaminya akan melakukan hal seperti ini di saat dirinya belum mandi.
"Kakk!" Kania refleks memejamkan mata erat ketika Daniel melancarkan aksinya kembali dengan mel*mat sisi leher kanan Kania.
"A*hh, Kakk ..." des*h Kania saat Daniel tiba-tiba menggigit leh*rnya.
"Pelan-pelan!" pinta Kania sembari mencengkram bahu Daniel dengan sangat kuat.
Perlahan tangan Daniel mulai menyentuh tengkuk Kania agar dirinya lebih mudah mel*mat leher sang Istri. Namun ...
"Awww," ringis Kania.
Lantas Daniel langsung menarik wajahnya begitu mendengar suara rintihan Kania. "Ada apa Sayang?" tanya Daniel panik.
"Sakit," cicit Kania.
"Mana yang sakit?"
"Ini." Tangan Kania mulai menyentuh tengkuknya sendiri.
Dengan cepat Daniel bangkit dari lututannya dan beralih ke belakang Kania untuk memeriksa keadaan tengkuk sang Istri.
"Kenapa bisa ada luka cakaran gini Sayang?" tanya Daniel seraya memasang wajah cemas.
"Karena ulah Aletta, Kak," jawab Kania to the point.
"Aletta?"
Kania mengangguk mengiyakan.
"Si*lan!" umpat Daniel dan langsung mengeluarkan handphone dari saku celananya.
Lalu tanpa babibu, Daniel menelpon Arez.
"Arez, beri hukuman pada Aletta sekarang juga. Skorsing dia sampai tiga bulan ke depan!" titah Daniel dengan tegas.
"Baik, Tuan."
Tut!
Daniel mematikan sambungan telponnya dengan Arez. Setelah itu, ia kembali berlutut di depan tempat duduk Kania.
"Kita obati ya Sayang!" seru Daniel seraya membelai rambut Kania dengan lembut.
Cepat-cepat Kania mengangguk.
Bersambung
Tinggalkan jejak jangan lupa yaa..
ini kania emang gak tau apa apa atau gimana kk. ko lugu ya kebangetan
lo ketemu sama orang jahat gimana coba....