Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detektif dan Rahasia Tante
Pagi ini, ada sesuatu yang terasa sangat ganjil di dalam penthouse mewah milik Tiffany.
Gavin yang biasanya terbangun karena mendengar suara langkah kaki terburu-buru atau dentingan berkas kerja milik Tiffany justru mendapati suasana ruangan yang sangat tenang. Biasanya, setiap pagi ia selalu disuguhi pemandangan Tiffany yang super sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat kerja, mulai dari laptop, tumpukan dokumen, ponsel, hingga blazer abu-abu kaku andalannya.
Namun, hari ini sang CEO yang biasanya berwajah kaku sedingin es justru terlihat sangat santai.
Terlalu santai.
Gavin bahkan sempat melirik jam di dinding untuk memastikan dirinya tidak salah bangun.
"Ini benar-benar Tante?" gumamnya dalam hati.
Di meja makan, Pelayan Zhang—pembantu senior yang dikirim oleh Tuan Chen untuk merawat sekaligus mengawasi gerak-gerik mereka—telah menyediakan menu sarapan pagi yang hangat seperti biasanya.
Gavin duduk sambil memperhatikan Tiffany dari sudut matanya.
Wanita itu tampak tenang. Tidak ada tumpukan dokumen di samping piring. Tidak ada laptop yang terbuka. Bahkan ponselnya pun hanya diletakkan begitu saja di atas meja.
Aneh.
Sangat aneh.
Saat mereka berdua sedang menikmati sarapan, Tiffany tiba-tiba meletakkan cangkirnya perlahan. Ia menatap Gavin di seberang meja, kemudian berkata dengan nada datar,
"Gavin, untuk hari ini kamu di rumah saja. Kamu boleh bermalas-malasan di rumah sepuasmu. Kalau bosan, kamu juga boleh keluar membeli sesuatu yang kamu inginkan."
Gerakan sendok Gavin langsung berhenti di udara.
Ia mengernyitkan dahi.
"Ha?"
Gavin menatap Tiffany seolah baru saja mendengar pengumuman bahwa harga barang-barang kesukaannya turun sembilan puluh persen.
"Lho, tumben hari ini aku enggak diajak, Tante?" tanya Gavin penuh selidik. "Biasanya kan aku selalu diseret ke sana kemari. Dipaksa ikut ke kantor pusat Chen Corp. Terus, Tante juga biasanya selalu ngomel kalau aku beli barang-barang kesukaanku yang Tante anggap aneh dan enggak berguna."
Tiffany tetap diam.
Gavin semakin menyipitkan mata.
"Apa benar hari ini aku bebas beli barang kesukaanku? Jangan-jangan nanti Tante nyesel karena aku malah menghabiskan uang Tante?"
Tangan Tiffany yang sedang memegang cangkir berhenti sesaat.
Namun, hanya sesaat.
Setelah itu, ia kembali menyesap minumannya dengan wajah datar seolah tidak mendengar apa pun.
Gavin semakin curiga.
"Kenapa diam?"
Tidak ada jawaban.
"Tante?"
Tetap tidak ada jawaban.
"Tante, jangan-jangan..."
"Habiskan sarapanmu."
Akhirnya Tiffany bersuara.
Gavin langsung terdiam.
Jawaban singkat itu justru semakin mencurigakan.
Hari ini Tiffany lebih pendiam daripada biasanya. Dan sekarang, tingkat diamnya sudah mencapai level yang menurut Gavin cukup mencurigakan.
Setelah selesai makan pagi, Tiffany langsung berdiri dan mulai bersiap-siap untuk keluar dari apartemen.
Gavin memperhatikannya dari sofa.
Tiffany mengambil tas, mengenakan blazer, memeriksa ponselnya, lalu berjalan menuju pintu.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada ajakan.
Tidak ada omelan.
Bahkan sebelum keluar, Tiffany hanya sempat berkata,
"Hari ini kamu bebas melakukan apa yang kamu mau."
Klik.
Pintu penthouse tertutup.
Gavin masih berdiri di tempatnya.
Beberapa detik kemudian, matanya menyipit.
"Justru karena Tante bilang negitu, aku jadi semakin penasaran."
Jiwa kepo mantan sultan Jakarta itu mendadak bangkit.
Tanpa membuang waktu, Gavin buru-buru menyambar jaketnya.
"Operasi Detektif Gavin dimulai!"
Aksi pengintaian dimulai.
Ia menjaga jarak beberapa meter dari Tiffany, sesekali bersembunyi di balik tiang, papan iklan, atau orang-orang yang kebetulan berjalan di depannya.
Sayangnya, kemampuan menguntit Gavin ternyata tidak sebagus kepercayaan dirinya.
Beberapa kali Tiffany berhenti secara tiba-tiba, membuat Gavin nyaris menabrak orang lain.
Untung saja ia berhasil menghindar.
"Nyaris ketahuan," gumamnya sambil mengusap dada.
Tak lama kemudian, Tiffany menghentikan langkah dan masuk ke sebuah toko mewah di kawasan pusat kota.
Gavin segera mengambil posisi di balik sebuah tiang jalan.
Ia mengintip dari sana.
"Masuk toko mewah? Mau beli apa?"
Beberapa menit kemudian, Tiffany keluar dengan ekspresi tenang.
Gavin semakin penasaran.
"Apa yang dibeli?
Karena rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun, Gavin langsung masuk ke toko tersebut begitu Tiffany menjauh.
Ia menghampiri penjaga toko yang berdiri di balik meja konter.
Dengan senyuman paling ramah yang bisa ia keluarkan, Gavin berkata,
"Permisi, Mbak cantik. Wanita yang baru saja keluar dari toko ini, kalau boleh tahu, dia sedang mencari atau membeli apa, ya?"
Penjaga toko itu menatap Gavin beberapa detik.
Senyum profesional langsung terpasang di wajahnya.
"Maaf, Tuan. Ini adalah privasi pelanggan kami. Informasi tersebut sama sekali tidak boleh diberitahukan kepada orang lain."
Gavin terdiam.
Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
"Oh."
Gagal.
Total.
Ia bahkan sudah menggunakan jurus "Mbak cantik", tetapi tetap tidak berhasil.
Gavin mendengus kecil lalu berbalik.
Ia segera keluar dari toko untuk kembali mengikuti targetnya.
Namun, baru saja menapakkan kaki di trotoar depan toko, langkah Gavin langsung terkunci.
Tubuhnya membeku.
Tepat di hadapannya, Tiffany sudah berdiri dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
Tatapannya lurus.
Dingin.
Sangat dingin.
Gavin menelan ludah.
Tertangkap basah!
"Gavin."
Suara Tiffany terdengar rendah.
"Kenapa kamu dari tadi mengikuti aku terus?"
Gavin buru-buru memutar otak.
Dalam waktu kurang dari tiga detik, ia menyusun sebuah alasan yang menurutnya sangat masuk akal.
Ia terkekeh canggung sambil menggaruk tengkuk.
"Eh? Hahaha! Siapa juga yang ngikutin Tante?"
Tiffany mengangkat satu alis.
"Aku enggak ngikutin Tante, kok!" lanjut Gavin cepat. "Aku cuma sedang jalan-jalan mencari barang yang mungkin aku suka. Kebetulan saja arah jalan kita searah."
Ia menunjuk ke toko di belakangnya.
"Dan kebetulan juga aku memang mau mampir ke toko ini. Tante jangan geer, deh!"
Tiffany hanya mengembuskan napas panjang.
Wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang baru saja mendengar kebohongan paling buruk dalam hidupnya.
"Kalau kemampuan menguntitmu sebagus kemampuanmu membuat masalah, mungkin kamu sudah menjadi detektif."
Gavin langsung tersenyum.
"Pujian, kan?"
"Bukan."
Senyum Gavin langsung menghilang.
Tiffany melanjutkan,
"Sudah, jangan ikuti aku terus. Sana pergi beli barang yang kamu suka. Untuk hari ini kamu bebas membeli apa pun yang kamu suka."
Setelah mengatakan itu, Tiffany kembali membalikkan badan dan melanjutkan perjalanan.
Gavin berdiri mematung.
Ia menatap punggung Tiffany yang semakin menjauh.
"Dia pasti menyembunyikan sesuatu."
Bukannya menyerah, rasa penasaran Gavin malah semakin besar.
Dengan langkah yang disamarkan dan jarak yang lebih jauh, Gavin kembali mengikuti Tiffany.
Kali ini ia berusaha lebih profesional.
Setidaknya menurut dirinya sendiri.
Ia bahkan sampai berjalan di belakang sebuah rombongan turis agar tidak mudah terlihat.
"Operasi kedua. Detektif Gavin kembali bertugas."
Perjalanan Tiffany akhirnya berakhir di sebuah hotel mewah bintang lima yang berdiri megah di pusat kota.
Gavin berhenti beberapa meter dari pintu masuk.
Matanya membesar.
"Hotel?"
Tiffany masuk dengan langkah anggun tanpa menoleh ke belakang.
Gavin segera mengikuti.
Begitu masuk ke lobi, ia langsung bersembunyi di balik sebuah pilar marmer besar. Dari sana, ia mengintip ke arah lounge privat.
Beberapa saat kemudian, seorang pria muncul.
Penampilannya sangat necis. Jasnya rapi, rambutnya tertata sempurna, dan sikapnya memancarkan aura seorang pebisnis kelas atas.
Tiffany menghampiri pria itu.
Mereka berjabat tangan.
Gavin mengerutkan kening.
"Siapa dia?"
Tiffany dan pria tersebut berbincang sebentar. Gavin tidak bisa mendengar percakapan mereka dari tempatnya berdiri.
Tak lama kemudian, keduanya berjalan bersama menuju sebuah ruang VVIP yang tertutup rapat.
Mata Gavin langsung melebar.
"VVIP?"
Kecurigaan Gavin naik beberapa tingkat.
Tanpa berpikir panjang, ia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah cepat.
Ia berniat menyelinap masuk.
Namun, baru saja kakinya melewati batas koridor khusus, tubuh tegap Gavin langsung ditahan oleh dua orang penjaga berbadan besar yang berdiri di depan pintu.
"Maaf, Tuan," ujar salah satu penjaga dengan suara tegas. "Ruangan VVIP ini sudah disewa secara privat untuk kepentingan khusus. Orang dari luar yang tidak memiliki kepentingan tidak diperbolehkan masuk."
Gavin menatap pintu tersebut.
Kemudian menatap penjaga.
Lalu kembali menatap pintu.
"Kalau saya bilang saya suaminya?"
Kedua penjaga itu saling berpandangan.
Gavin langsung tersenyum percaya diri.
Namun salah satu penjaga hanya berkata,
"Kalau begitu, silakan hubungi beliau terlebih dahulu."
Senyum Gavin membeku.
"Ah..."
Kena mental.
Ia akhirnya terpaksa mundur.
Dengan wajah sedikit bersungut-sungut, Gavin meninggalkan lobi hotel.
Begitu sampai di trotoar, ia berjalan gontai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
"Aish... kenapa juga aku mesti repot-repot mengikutinya hari ini?"
Gavin menghela napas.
"Lagian, itu urusan dia. Mau pergi ke mana saja atau mau bertemu dengan siapa saja, itu urusan dia. Sudahlah, ini bukan urusanku!"
Ia berjalan beberapa langkah.
Kemudian berhenti.
Wajahnya berubah.
"Tapi..."
Gavin menoleh ke belakang, memandang gedung hotel yang menjulang tinggi.
"Siapa sebenarnya pria itu?"
Keningnya berkerut.
"Dan kenapa hari ini aku sama sekali enggak diajak oleh Tante Judes?"
Gavin terdiam.
Entah kenapa, melihat Tiffany bertemu pria tersebut, ada perasaan aneh yang membuat dadanya tidak nyaman.
Ia segera menggelengkan kepala.
"Enggak. Enggak boleh mikir aneh-aneh."
Namun, baru dua langkah berjalan, ia kembali berhenti.
"Kalau memang enggak ada apa-apa, kenapa Tante sampai merahasiakannya?"
Gavin mendongak menatap langit.
Jiwa detektif imajinernya kembali menyala.
Sepertinya, kasus ini belum selesai.
Dan satu hal yang paling Gavin benci adalah rasa penasaran yang tidak mendapatkan jawaban.
"Baiklah."
Ia menyeringai tipis.
"Detektif Gavin belum kalah."
Sementara itu, di dalam hotel, ada sebuah rahasia yang sedang Tiffany sembunyikan hari ini...
Yang Mungkin akan menjadi kejutan tersendiri bagi Gavin.