Nadia Vega, gadis cantik yang mencintai pria yang tak di anggap oleh keluarga nya. terpisah karena ambisi sang kakak pria yang juga mengagumi nya. melakukan berbagai cara licik untuk memiliki nya.
banyak rintangan yang harus mereka hadapi, termasuk terhalang restu dari orang tua nya sendiri.
dapatkan Nadia memperjuangkan kebahagiaan nya dan melawan kakak dari pria tersebut?
apakah setelah berpisah mereka akan bertemu lagi?
yuk kepoin cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun Nazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA APA DENGAN KA MIRA?
Part 33:
" Gak usah gitu juga kali kaget nya." Ucap si pembawa cerita. Aku yang tadinya hendak ke ruang kelas, jadi mengurungkan niatku karena ingin mendengar percakapan mereka tentang ka Mira.
" Seriusan Lo?. Tapi apa hubungannya sama pernikahan Daniel dan Nadia?."
" Katanya sih, ka Mira itu suka sama Daniel dan dia nggak sanggup harus satu kampus sama mereka, dan memilih menjauh dan pindah dari kampus ini."
" Kasian banget ya ka Mira, sama kayak nasib gue!." Celetuk salah satu dari mereka.
" Ya gitu deh. Padahal kalau di lihat-lihat, ka Mira sama Daniel itu cocok loh. Karena lebih cantik ka Mira dari pada si Nadia."
Ada rasa sesak di dada ini mendengar pendapat mereka tentang kecocokan ka Mira dan Daniel. Mereka lebih mendukung kedekatan ka Mira dan Daniel dari pada aku sendiri sebagai istri sah nya, mereka masih membanding bandingkan aku dan ka Mira, padahal mereka tau sendiri kalau aku lebih berhak atas Daniel saat ini.
Aku memilih keluar dari perpustakaan itu dengan hati di selimuti rasa cemburu. Lagi dan lagi ka Mira yang membuat ku cemburu, meskipun aku tau ka Mira sendiri tidak ingin lagi mengganggu hubungan kami, tapi tetap saja, mendengar bahwa ka Mira ternyata benar memiliki perasaan khusus untuk Daniel, membuat rasa cemburu ku semakin memuncak. Apa lagi saat ini Daniel sedang tidak ada di sisi ku, tidak ada yang menenangkan hati ku yang di penuhi rasa cemburu ini.
Mungkin aku terlalu naif, bahkan mungkin jahat. Karena telah mencemburui orang yang bahkan tidak berniat sedikit pun merusak dan membuat ku cemburu.
Entah mengapa aku terlalu bodoh. Hal sekecil ini mampu membuat ku lemah. Perkataan para siswa tadi, seakan terus terngiang-ngiang di telinga ku. Mungkin karena aku sangat takut kehilangan Daniel.
Ngomong-ngomong soal Daniel, aku jadi teringat kalau hari ini aku belum satu kali pun mendapat kabar dari nya atau ka Andre. Bukankah sebelum pergi dia sudah mengatakan akan mengabari ku setiap tiga kali sehari seperti minum obat, tapi sampai saat ini, jangan kan menelpon atau video call, via chat saja tidak.
Mengapa rasanya aku jadi tiba-tiba khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada nya.
Pikiran buruk selalu muncul jika itu bersangkutan dengan Daniel.
Ya Tuhan, pertanda apa ini?.
Bahkan aku sudah sering mencoba membuang jauh-jauh pikiran ini, tapi tetap saja perasaan itu, lagi dan lagi selalu menggerogoti hati. Padahal belum dua puluh empat jam Daniel melangkah jauh, pikiran ini seakan enggan untuk pergi.
Ku pikir. Dari pada selalu berpikiran negatif, lebih baik aku mencoba menghubungi nya lebih dulu.
Aku mengeluarkan ponsel ku dari dalam tas dan mencoba menghubungi Daniel.
( Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.)
Bukannya mendengar suara Daniel, tapi malah suara mbak Telkomsel yang selalu setia menjawab berkali-kali.
Karena ponsel Daniel tidak aktif, aku beralih menelpon ka Andre.
Tut Tut Tut
Kali ini ponsel ka Andre aktif, hanya saja saat di hubungi beberapa kali tidak ada jawaban.
Tak ingin menyerah sampai di situ, aku berusaha kembali menelpon ka Andre untuk menanyakan kondisi Daniel sekarang!.
Dan benar saja, kali ini ka Andre menjawab telepon nya.
Ka Andre.
( Iya Nad! kenapa?.)
Nadia.
( Kenapa sih gak ada ngasih kabar? bikin orang khawatir aja.) Dengan nada kesal.
Ka Andre.
( Ya maaf Nad, lupa.)
Nadia.
( Ya udah di maafin. Sekarang Daniel mana? aku mau ngomong.)
Ka Andre.
( Maaf Nad, gak bisa. Daniel sekarang udah mulai di tangani dokter.)
Nadia.
( Ah masa sih ka!, secepat itu emang nya?. Kalian kan baru sampai, kok langsung operasi sih, emang boleh?, gak dikasih istirahat dulu gitu?.) Aku mencerca dengan sejuta pertanyaan.
Ka Andre.
( Ya,,,,,, kenapa harus lama?, kan lebih cepat lebih baik!, biar bisa cepat pulang. Lagian boleh kok kata dokter nya.)
Aku bisa menerima penjelasan ka Andre, yang menurutku masuk akal. Itu lebih bagus, lebih cepat operasi, akan lebih cepat sembuh dan semoga juga cepat pulang.
Aku menyudahi sambungan telepon ka Andre. Dan kini aku bisa sedikit lebih tenang karena sudah mendapat kabar dari ka Andre. Dan aku memilih tetap fokus pada kuliah ku saat ini.
Aku menapaki koridor dengan berjalan gontai, meski aku berfikir untuk fokus dan tidak memikirkan tentang keadaan Daniel, aku bohong.
Mana mungkin bisa aku tenang begitu saja, saat aku tau Daniel di sana sedang berjuang sendiri untuk hidup nya, tanpa ada aku di sisi nya.
Sementara dari kejauhan, Ronal memperhatikan gerak-gerik ku yang seperti tidak ada semangat, lalu menghampiri ku. Dia khawatir dengan keadaan ku yang tiba-tiba terlihat sedih.
" Nadia!." Seru Ronal. Aku pun menoleh.
" Lo kemana aja sih? gue cariin juga." Ucap nya lagi saat sudah berhadapan.
" Gue habis dari perpustakaan." Jawab ku datar dengan senyum yang ku paksakan.
" Oh. Udah kelar nyatet nya?."
" Udah." Jawab ku singkat, karena aku memang sedang tidak ingin bicara banyak.
Ronal yang melihat tingkah ku tidak seperti saat pagi tadi kami bertemu. Dia langsung mengerutkan keningnya, heran. Seolah menerawang, apa yang terjadi pada istri sahabatnya tersebut.
" Lo kenapa Nad?." Tanya nya spontan.
Aku yang sedari tadi termenung, sontak menoleh ke arah nya." hemm. Kenapa apa nya?." Tanya ku yang benar-benar tidak tau apa yang dia maksud.
" Lo kenapa bengong?. Ada masalah?, atau ada yang terjadi sama Daniel di sana?." Ronal seakan ikut syok mengingat pertanyaan nya sendiri.
Aku hanya mengangguk pelan sambil sedikit tersenyum. Ronal mengelus dada nya terlihat sangat lega, karena apa yang dia pikirkan ternyata salah.
" Oh, kirain. Tapi kenapa Lo terlihat sedih gitu?, ada hal lain yang bikin Lo sedih, Lo gak ceria kaya biasanya."
" G-gue gak papa kok Nal!." Kelit ku.
" Udah Nad, gue tau kok Lo ada masalah. Cerita aja sama gue, kayak sama siapa aja. Gue ini sahabat laki Lo, yang berarti juga sahabat Lo. Kenapa harus malu cerita sama gue."
" Gue!!." Aku sedikit masih ragu untuk menceritakan nya pada Ronal, tapi aku juga butuh teman untuk berbagi dan meminta nasehat nya. Aku merasa Ronal adalah orang yang cocok untuk di ajak curhat.
" Ya udah. Kalau Lo belum siap cerita sekarang gak papa, tapi kalau Lo merasa butuh teman curhat, gue siap kok." Ronal mengulas senyum nya sesempurna mungkin.
" Makasih ya atas perhatiannya." Ronal mengangguk lalu melangkah pergi. Namun aku langsung mencekal lengan nya, supaya dia menghentikan langkahnya. Benar saja, dia langsung berbalik ke arah ku.
" Kalau gue mau cerita, Lo gak keberatan kan?." Kata ku dengan hati-hati.
Dia tersenyum menanggapi pertanyaan ku.
" Kan gue udah bilang, kapan pun Lo siap untuk cerita, gue akan selalu ada buat Lo."
" Ke kantin yuk. Gue akan ceritain di sana." Pinta ku.
Ronal mengangguk. Dia segera mengikuti ku ke kantin. Selain itu, di sana bisa berbincang sambil menghilangkan dahaga, agar hati dan pikiran juga bisa dingin.