Serenada Senja, seorang gadis di penghujung 30. Dia ingin melarikan diri dari situasi kantor yang membuatnya stress sekaligus menghindari satu orang yang selalu mengejarnya. Juga desakan orang tuanya untuk segera menikah.
Nada mendapatkan keinginannya itu aetelah beasiswa S2-nya disetujui. Namun, pelariannya kali ini malah membuat Nada bertemu masalah baru.
Narendra, teman dekat yang sekaligus naksir Nada, membuat situasi semakin sulit untuk gadis itu. Dia pun harus berhadapan dengan Agam Alfiansyah, dosennya yang killer.
Situasi itu dimanfaatkan oleh Agam untuk mendekati Nada. Walau gadis itu terang-terangan menolak. Sampai akhirnya satu kejadian mengubah seluruh persepsi Nada. Bahwa takdir itu yang menentukan sisa cerita.
***
Season 2
Setelah Serenada mau membuka hatinya untuk Agam Alfiansyah, apakah akhirnya di bisa mendapat gelar sebagai Nyonya Agam?
***
Season 3
Setelah menikah, kesibukan Agam dan Nada makin bertambah. Apalagi mereka terpisah jarak. Akankah mereka segera menimang buah hati? Atau malah tersibukkan oleh aktivitas masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Good Bye Narendra
Sabtu pagi ini sangat berbeda. Bagaimana tidak, Mbak Milla menginap. Semalam ia bercerita tentang pertemuannya dengan Rendra. Aku tidak pernah menduga bahwa sahabatku itu adalah masa lalu Rendra. Dunia ini sangat sempit ternyata, sesempit kasur 160 cm yang kami tiduri bersama semalam.
Sepulang dari warung untuk sarapan pecel, kami bertiga berkumpul di ruang tengah. Neva dan Mbak Milla cekikikan terus dari tadi, menyaksikan sebuah acara absurd di Chanel Korea. Running Man atau entah apa nama acaranya.
Sementara itu aku memilih membuat kopi di dapur. Ingin kopi pagi ini, untuk mengisi energiku semalam yang terkuras gara-gara memikirkan Renda. Beruang madu yang pernah tiba-tiba datang tanpa kuduga, lalu menawarkan resumenya untuk mengajakku jalan-jalan.
Ah, Rendra. Bagaimana kabarmu sekarang?
Kuseruput kopi yang uapnya masih mengepul itu pelan-pelan.
Apakah aku sebenarnya jatuh cinta pada beruang kutub itu? Tapi, dia sudah terlalu jauh berhubungan dengan Mirna. Ah, sudahlah.
Kutepis pikiran itu dengan segera. Tidak selayaknya lagi aku memikirkan masa lalu. Ia sudah bertunangan dan akan menikah beberapa bulan lagi. Lagi pula, aku masih sedikit takut jika harus bertemu dengannya lagi.
Kubawa mug putih berisi kopi itu ke ruang tengah. Belum juga aku meletakkannya di meja, terdengar bel pintu berbunyi.
"Biar aku saja," kataku pada Neva dan Mbak Milla yang tidak terlalu peduli. Mereka masih fokus pada layar 32 inchi yang sedang berpendar.
Sampai di depan, langsung saja kubuka pintu tanpa mengintip siapa yang datang.
Sepasang mata biru kelam yang sudah lama tidak menatapku seintens itu kini kembali hadir.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Wa-waalaikum salam," jawabku terbata. Buru-buru aku membuang pandang. "Silakan masuk, Mas."
Radiasi kehadiran Mas Alfian yang tiba-tiba, benar-benar menggangguku. Tanganku mulai licin memegang mug. Buru-buru mundur dengan kikuk, kuetakkan kopi di meja tamu.
"Silakan duduk."
"Terima kasih," jawab Mas Alfian.
Satu hal mendadak terlintas di pikiranku. Dia pasti ke sini hendak mencari Neva, bukan aku.
"Sebentar, saya panggilan Neva," ujarku.
"Tunggu sebentar, Nad. Aku mau ngomong sama kamu. Duduklah!"
Aku masih tidak berani menatap matanya, tapi ada kesan serius dalam nada bicaranya. Entah apa yang ingin ia sampaikan, membuatku nervous saja.
"Pagi tadi aku mendapat kabar dari Tina," ia berhenti sejenak, "tunangan Mirna kecelakaan kemarin, dan sekarang sedang di RSSA (Nama rumah sakit di Malang)."
Otakku benar-benar lemot! "Mirna, maksudmu ... Rendra ... Rendra kecelakaan?" teriakku tanpa sadar.
"Aku ingin mengajakmu menjenguknya, dia kritis," ujar Pak Agam pelan.
"Ada apa, Nad?" tanya Neva sambil berjalan masuk ruang tamu. Tidak berapa lama kemudian Mbak Milla juga sudah ada di sini.
"Rendra kecelakaan kemarin."
Keterangan Pak Agam seketika membuat Mbak Milla menjerit histeris. "Tidak mungkiiinn!"
"Mbak Milla, kenapa?" tanya Neva kebingungan.
"Dia kemarin masih baik-baik saja ketika ...," ucapan Mbak Milla terpotong," Ya Allaaahh, jangan-jangan orang kecelakaan yang kulewati itu Rendraaaaa."
Mbak Milla jatuh terduduk. Aku dan Neva buru-buru mendekati istri Mas Wahyu yang sedang syok itu.
"Nev, ambilin air!" pintaku.
Kupapah Mbak Milla ke kursi tamu. Pak Agam tampak bingung melihat Mbak Milla yang tiba-tiba seperti itu.
"Its a long story', Sir," ujarku singkat.
Neva datang membawa segelas air. Mbak Milla mencecapnya sedikit.
"Dia, dia, gimana keadaanya sekarang?" tanya Mbak Milla pada Pak Agam.
"Katanya masih di ICU, belum sadar. Aku mau mengajak Nada menjenguknya."
"Aku ikut!" sahut Mbak Milla.
"Kamu masih kayak gini, Mbak. Jangan sekarang deh, kalau mau ke sana," ucapku sambil menggenggam tangannya yang gemetar.
"Tapi, Nad. Tapi, seandainya aku nggak mengajaknya bicara kemarin. Pas-pasti dia-dia nggak akan begini." Mbak Milla mulai terisak. Aku merangkulnya.
"Sabar Mbak, sabar. Itu bukan salahmu, semua pasti sudah diatur sama Allah." Kucoba menenangkan dia.
"Pasti gara-gara aku, Nad. Iya, ini hukuman buat aku, huhuuu," tangisnya makin keras.
Bingung harus bagaimana, aku dan Neva hanya bisa mengelus-elus punggungnya. Kubiarkan Mbak Milla menumpahkan semua tangisnya hingga mereda.
Tatapanku bertemu dengan Pak Agam. Entah apa yang ada di benaknya, seolah-olah dia sedang mencari jawaban tentang sesuatu. Kami terdiam dalam keadaan itu selama beberapa waktu.
Isakan Mbak Milla dan kata-kata Neva yang coba menenangkan, menjadi tanda bahwa kami tidak hanya berdua dalam ruangan ini.
Pak Agam memberiku kode untuk mengikutinya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar menuju teras. Kutinggalkan Mbak Milla bersama Neva lalu ikut ke luar.
Dengan kedua tangan masing-masing di saku celana, pria yang pernah mengajakku melihat air terjun itu berbalik. Kami berdiri berhadapan.
"Milla itu kenapa?" tanyanya sedikit lirih.
Lagi-lagi suaranya yang sedikit serak membuatku merasa aneh.
"Rendra ... " Kuceritakan semua yang terjadi kemarin sore persis seperti yang diceritakan Mbak Milla padaku.
"Hmmmm. Kamu tidak cemburu?"
Aku menatap matanya. "Apa maksudmu menanyakan itu?" Tiba-tiba orang ini membuatku sebal lagi.
"Yaaa, barangkali," jawabnya asal.
Mbak Milla keluar bersama Neva, kelihatannya sudah tenang.
"Kita ke sana sekarang?" ajak Pak Agam.
*
Ketika kami berempat sampai di sini, tidak ada seorang keluarga Rendra pun yang tampak. Peraturan Rumah sakit tidak memperbolehkan masuk selain keluarga. Tentu saja, di ruang perawatan intensif hal ini sudah biasa. Aku hanya bisa mengintip dari jendela kaca segi empat yang ada di pintu.
Beberapa saat kemudian, terlihat seorang pria keluar dari ruang ICU dan melepas pakaian khusus visite. Om Wigyo, aku mengenali uban yang menutupi rambutnya.
"Alfian, Serena," ujarnya kaget melihat kami bergantian.
Mas Alfian mencium tangan beliau dengan takzim.
"Iya, Om. Kami dapat kabar dari Tina. Bagaimana keadaannya?"
"Pendarahan di kepala, parah," terang Om Wigyo lemas.
Mbak Milla menggengga tanganku tanpa kata. Aku pun hanya bisa berdoa semoga Rendra kembali pulih. Keheningan melingkupi kami berlima tanpa terkecuali.
Kenangan tentangnya berulang kali berkelebat di benakku. Saat pertama kami berempat bertemu di masa orientasi, saat di kelas, di warung bakso, saat ia mengajakku jalan-jalan. Semuanya mengirimkan hantaman kesedihan yang bertubi-tubi.
"Nada," panggil Om Wigyo lirih.
"Iya, Om," sahutku sambil mendongak.
"Bisa bicara sebentar?"
Aku mengangguk.
Om Wigyo berjalan menuju teras samping. Tanpa sadar aku mencari wajah Pak Agam. Ia memandangku sejenak, sebelum mengangguk sebagai persetujuan.
Aku mengikuti Om Wigyo ke teras samping. Beliau duduk di bangku besi sendirian.
"Serenada, aku tidak pernah tahu dirimu dan Rendra memiliki hubungan khusus. Tapi jangan salah sangka, aku sangat yakin Rendra yang bersalah. Aku kenal bagaimana sifat keponakanku itu,"Om Wigyo mendesah panjang.
"Novi, mamanya Rendra sudah cerita padaku tentang kejadian penyerangan itu. Mungkin aku mewakili keluarga, sekali lagi harus memohon maaf padamu. Kuharap kau mau memaafkan semua kesalahan Rendra."
"Saya sudah memafkannya, Om. Semua itu sudah berlalu."
Om Wigyo manggut-manggut.
"Rendra memang malang, papanya meninggal saat ia SD. Mamanya seorang diri berusaha membesarkan tiga anak, hingga sukses seperti sekarang. Akibatnya, Novi memang jadi otoriter pada ketiga anaknya. Rendra memang jauh dari ekspektasi Novi, mungkin itu yang membuatnya sering kena marah."
Aku hanya diam saja mendengar cerita beliau.
"Mungkin kau sudah tahu, Rendra bertunangan dengan Mirna karena kerjasama bisnis."
Aku mengangguk.
"Hemm, sebenarnya Alfian dan anakku juga begitu dulu. Tapi, memang tidak jodoh mereka. Hahhaa," ujar Om Wigyo, seolah menertawakan nasib.
"Entahlah, Nad. Aku tidak ingin memaksamu dengan Alfian, tapi sebaiknya kau pikirkan lagi jika ingin bersama Rendra."
Syok rasanya aku mendengar perkataan Om Wigyo barusan.
"Saya, saya, ..."
"Apa pun pilihanmu, Nada. Om merestui. Jangan khawatir, Novi juga sudah pasrah pada pilihan Rendra."
Aku semakin susah bicara. Kenapa situasi ini malah menghimpitku? Apakah di pikiran mereka yang ada hanya tentang menikah? Tidak adakah yang menanyakan keinginanku?
"Om, dokter memanggil keluarga Rendra!" Panggilan Pak Agam, membuatku kembali ke alam nyata.
Aku mengekor Om Wigyo yang berlari kecil ke dalam. Mas Alfian meraih lenganku, menghentikan langkahku ke dalam.
"Mirna dan Tante Novi baru aja datang. Sebaiknya kita pulang dulu," katanya.
"Tapi," tolakku.
"Nad, situasinya lagi nggak enak. Sebaiknya kita menghindari hal buruk yang mungkin terjadi kalau mereka sampai melihatmu."
Menyadari situasi ini, diriku seperti duri dalam daging bagi mereka. Kubiarkan tanganku diseretnya melewati koridor samping, mengambil jalan memutar agar tidak perlu masuk ke lobby ICU.
Tidak bisa kutolak keinginan untuk menoleh ke arah ruang ICU itu. Perasaanku tidak enak.
"Rendraaaaaaa! Tidaaaaaaakk!"
Teriakan dan tangisan histeris dari ruang ICU menghentikan langkahku.
Apakah? Ya Allah ... apakah?
Tanpa kusadari air mataku meleleh. Kumohon semoga dia baik-baik saja, dia pasti akan sembuh.
Tiba-tiba kurasakan rasa hangat melingkupi tubuhku. Pipiku yang basah terbenam dalam dada bidang Mas Alfian. Irama jantungnya yang berdegup teratur, terdengar menenangkan. Untuk kedua kalinya, aku menumpahkan tangis dalam pelukannya.
Entah berapa lama kami dalam posisi ini hingga aku menyadari tidak seharusnya begini. Kulangkahkan kaki hendak mundur untuk memberi jarak, tapi ia makin mengetatkan pelukan.
No, no, no, please don't do this to me. Jangan memberi kesempatan pada hatiku untuk salah mengartikan sikapmu, Mas!
"Maaf, Serena. Aku tidak ingin melepasmu selamanya," ucap suara bariton yang selalu membuatku salah tingkah.
"Meski pun di hatimu masih ada Rendra, tolong beri aku kesempatan. Biar aku yang menghapus semua kesedihanmu, Nad. Aku benar-benar tidak tega melihatmu menangis," lanjutnya.
Kuletakkan kedua tangan di dadanya dan mendorongnya menjauh. Ia melepasku.
Masih memandang kemeja yang telah basah oleh air mataku, tak sanggup aku menatap wajahnya.
"Maaf, kemejamu basah." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Apa maksudnya dia berkata seperti itu, setelah kemarin bilang naksir sama Neva? Dasar cowok, sok care! Tukang gombal!
Kususut air mata dengan ujung jilbab. Lalu memandang sekeliling, berdoa semoga tidak ada yang melihat adegan barusan. Sangat memalukan!
"Kita jadi pulang? Mbak Milla dan Neva mana?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
Tidak berapa lama, dua cewek yang kucari itu keluar dari lobi ICU dengan berangkulan. Mereka berjalan menuju arah kami. Mata mereka berdua sama-sama sembab. Mungkin aku juga.
"Rendra udah pergi, Nad," ujar Mbak Milla dengan nada bergetar.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun," sahutku perih.
Maafkan aku, Ndra. Semoga Husnul khatimah, diampuni semua dosamu, dan diterima semua amal ibadahmu. Aamiin.
jadinya menggantung ...
Aku aja yg cm reader suka bgt sm mas Fian mu Nada....😍🤭
masa sm cwo mentah model ridwan aja gk keukur Nad😔
Qadarullaah....membuatku lbh kuat,lbh shabar&lbh ikhlash menjalani kehidupan....