Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
“Kalau begitu, besok kalian akan melangsungkan pernikahan. Tak perlu memikirkan soal pakaian dan segala persiapannya, biar kami yang mengurus semuanya.”
Ucapan Bima terasa lega di hatinya. Akhirnya, mereka menemukan pengganti Rara untuk mengisi kekosongan yang tiba-tiba terjadi.
Bima dan Sari sebenarnya sudah menyukai Laras sejak lama. Pernah terlintas di pikiran mereka untuk menjodohkan putra mereka, Raka, dengan gadis itu. Namun, waktu itu Raka menolak dengan tegas karena hatinya sudah terikat pada orang lain. Siapa sangka, Tuhan punya jalan-Nya sendiri untuk mempertemukan takdir. Kini, Laras akan menjadi menantu bagi mereka.
“Tunggu sebentar. Aku ingin Raka dan Laras terlebih dahulu membuat surat perjanjian pranikah. Aku tak ingin putriku dirugikan di masa depan. Mengingat putramu bisa saja kembali pada kekasih lamanya, jika wanita itu suatu hari datang kembali. Aku ingin kau mengikat janji putramu, agar dia tak bisa mempermainkan hati dan nasib putriku di kemudian hari.”
Ucapan Darma terdengar tegas dan tak terbantahkan.
“Pa, kenapa harus ada persyaratan seperti ini? Aku rasa tidak perlu,”
Laras menggeleng pelan, suaranya terdengar penuh keberatan. Ia tak mengerti mengapa pernikahan yang seharusnya dimulai dengan kepercayaan, justru harus dibatasi oleh selembar perjanjian tertulis.
“Papa melakukan ini bukan tanpa alasan, Nak. Papa hanya ingin memastikan masa depanmu aman. Papa tak sanggup melihatmu terluka atau ditinggalkan di saat kau sudah tak dianggap berharga lagi nanti.”
Darma menatap putrinya dengan pandangan prihatin, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa semuanya demi kebaikannya sendiri.
“Benar kata Papamu,” sahut Bima menyambung. “Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Dokumen ini bukan untuk merusak hubungan, tapi sebagai jaminan agar tidak ada pihak yang bertindak semena-mena. Lebih baik bersiap sejak awal daripada menyesal di kemudian hari.”
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, perlahan keraguan di hati Laras mulai luntur. Ia sadar, niat kedua orang tua itu memang tulus. Akhirnya ia pun menyetujui. Setelah selesai menandatangani lembar perjanjian tersebut, Bima dan istrinya membawa surat itu untuk diserahkan kepada Raka, agar pemuda itu juga membubuhkan tanda tangannya sebagai tanda persetujuan.
*****
Flashback..
Suasana seketika berubah kacau saat diketahui calon mempelai wanita pergi begitu saja, padahal besok adalah hari pelaksanaan pernikahan. Rara hanya meninggalkan selembar surat di atas meja riasnya, menjelaskan bahwa ia merasa belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan memutuskan untuk pergi.
Raka Adi Pratama, putra tunggal seorang pengusaha ternama di negeri ini, harus menerima kenyataan pahit ditinggal calon istrinya menjelang hari bahagia.
Pria itu merasa sangat kecewa. Keputusan Rara membuatnya malu di hadapan banyak orang, sekaligus meruntuhkan harapannya selama ini.
Selama ini, Rara adalah satu-satunya wanita yang mengisi hatinya. Raka sangat mencintai gadis itu, namun ia tak menyangka akan ditinggalkan dengan cara seperti ini. Jujur saja, ia merasa kecewa dan sakit hati. Ia ingin membenci Rara atas sikapnya, namun rasa cinta yang masih tersisa membuatnya tak sanggup melakukannya.
Ia pun sempat berpikir untuk menunda pernikahannya, berharap kekasihnya berubah pikiran dan kembali bersedia membangun rumah tangga bersamanya. Di dalam hatinya, Raka masih yakin bahwa Rara juga menyayanginya, dan suatu hari pasti akan kembali.
“Apa? Kamu mau menunda pernikahan mu hanya untuk menunggu gadis itu? Kamu sudah kehilangan akal sehat, ya?” bentak Bima, ayah Raka, yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. “Apa kata orang nanti kalau acara ini dibatalkan? Semua persiapan sudah selesai, undangan sudah disebar luas, besok pun seharusnya jadi hari bahagia. Tapi sekarang calon istrimu pergi begitu saja tanpa kabar jelas.”
Pria lebih dari paruh baya itu terlihat sangat kesal, melihat putranya yang seolah dibutakan perasaan sampai tidak bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana yang tidak. Tidak jauh dari tempat keduanya berdebat, terdengar suara langkah kaki mendekat.
Ia tak sanggup membayangkan betapa malu nama keluarga mereka besok. Pernikahan yang disiapkan secara megah nyaris gagal di tengah jalan. Sebagai keluarga yang dihormati dan memiliki nama baik, Sari tidak ingin reputasi itu rusak, apalagi sampai berdampak pada jalannya perusahaan yang mereka bangun.
“Papa tidak mau tahu alasannya. Besok pernikahan harus tetap dilaksanakan,” tegas Bima dengan nada yang tak bisa dibantah.
“Tapi dengan siapa, Pa? Rara sudah pergi meninggalkan kita,” jawab Raka dengan nada putus asa.
“Kamu tak perlu pusing memikirkan penggantinya. Papa yang akan mencarikan calon istri untukmu. Percuma Papa membiarkanmu memilih sendiri, tapi akhirnya ditinggalkan juga. Acara ini tidak boleh dibatalkan. Apa kita harus menanggung malu hanya karena sikap gadis yang tak bermoral itu?” lanjut Bima dengan nada tinggi.
Memang sejak awal Bima tidak menyukai Rara. Namun, karena terus dibujuk istrinya dengan alasan demi kebahagiaan putranya, akhirnya ia pun menyetujui hubungan itu dengan berat hati.
Raka hanya bisa menerima keadaan dengan pasrah. Papanya bersikeras agar pernikahan tetap berjalan, bahkan sampai mengancam akan mencabut segala fasilitas hidup mewah dan haknya sebagai pewaris utama harta keluarga jika ia menolak.
Malam itu juga Bima dan Sari duduk berhadapan dengan sahabat karibnya. Mereka meninggalkan Raka di rumah dan berkunjung meski waktu sudah sangat larut.
“Ada apa sampai kalian datang malam-malam begini? Bukankah seharusnya kalian beristirahat, mengingat besok adalah hari pernikahan putra kalian?” tanya Darma menyambut kedatangan mereka.
Belum sempat Bima menjawab, Lina, istri Darma, datang membawa nampan berisi minuman buatan tangannya.
“Minumlah dulu, baru ceritakan semuanya,” sela Lina ramah.
Bima dan Sari menerima teh itu dengan tangan gemetar. Sejak mendengar kabar kepergian calon menantu, mereka sama sekali belum sempat menyentuh makanan atau minuman. Rasa panik membuat mereka tak memikirkan perut, yang ada di pikiran hanyalah bagaimana mencari pengganti secepatnya menjelang hari H.
“Jadi, ada urusan penting apa sampai kalian datang kemari? Sepertinya ada hal yang mendesak terjadi,” tebak Darma.
“Calon istri Raka kabur meninggalkan kami,” jawab Bima sambil meletakkan gelasnya kembali ke meja.
“Kabur? Bagaimana bisa? Bukankah mereka sudah saling mencintai?” kali ini Lina yang bertanya dengan nada terkejut.