Saat membuka mata aku mendapati bahwa semuanya berbeda.
Mulai dari penampilan hingga tempatku sekarang ini, tentu saja aku senang karena bisa hidup kembali setelah mengalami kecelakaan yang membuatku meninggal dalam keadaan tragis.
Padahal masih banyak yang lain, tapi kenapa harus di tubuh ini? Seorang putri Marquess bernama Cassiopeia Maximpratix Charcraes, antagonis terjahat dari awal sampai akhir.
Demi menghindari akhir yang tragis sebagai antagonis aku memilih untuk hidup dengan caraku sendiri. Termasuk untuk menjadi seorang kesatria, meski tak mudah karena banyak halangan dan rintangan tapi itu tak akan membuat tekadku hancur.
Namun, sekuat apapun aku berusaha tapi kenapa terus saja tertarik masuk ke dalam alur. Lalu, apa-apaan dia? Kenapa orang ini selalu mengikutiku? Apa karena aku mengetahui identitas aslinya ataukah hal lain?
Akankah aku bisa bertahan hidup di dalam dunia ini? Ikuti ceritanya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quensly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutar Otak
"Apakah medium?" tebak ku, lagi.
Gavril menggeleng, "Meski saya tidak tahu apa itu medium. Tapi, saya yakin bahwa itu salah."
"Lalu apa?" Karena sedang berada dalam fase malas berpikir, aku pun akhirnya langsung berhenti menebak.
"Jadi seperti ini, Lord harus mencari sesuatu. Entah itu perhiasan ataupun aksesoris lainnya. Tapi, benda itu harus memenuhi syarat. Yaitu memiliki daya ruang yang amat besar dan cukup untuk menampung banyak hal di dalamnya termasuk Galdeladi, seperti yang Lord ketahui bahwa Gladeladi bukanlah pedang biasa," tutur Gavril.
"Maksudnya aku harus mencari sebuah benda untuk ruang penyimpanan, begitu?" tanyaku.
"Tepat sekali," ucap Gavril membenarkan ucapanku.
"Barang yang seperti itu ya,"
Aku mencoba memutar otak memikirkannya. Meskipun malas, tetapi mau bagaimana lagi.
"Tapi, bukankah benda penyimpanan seperti itu membutuhkan kekuatan sihir yang besar?" tanyaku begitu mengingat sebuah fakta.
"Apa yang dikatakan Lord memang benar, tapi itu hanya akan terjadi ketika di dalam benda yang bersangkutan tidak memiliki sihir sedikitpun. Artinya, untuk bisa memakainya, Lord harus meminta seorang penyihir dengan kekuatan sihir terkuat untuk mengisi sedikit Magic-nya ke dalam benda itu yang akan dicampurkan dengan darah Lord nantinya.
Dengan begitu, walaupun Lord tidak memiliki sihir sedikitpun. Akan tetapi, Lord bisa menggunakannya dengan bebas." tuturnya.
Keluarga Kekaisaran dalam cerita ini adalah para penyihir terhebat, bahkan kekuatan mereka setara dengan penyihir agung.
Karena itu, Kekaisaran mengharuskan para anggota keluarganya memiliki sihir yang kuat, jika tak memiliki sihir maka dianggap sebagai aib yang takdirnya pasti akan di buang dan dikucilkan. Lebih parahnya lagi akan dibunuh.
Oleh sebab itu, Achazia mampu menjadi calon kaisar.
Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena Achazia adalah tokoh utama pria dalam cerita ini, dia memiki sihir yang besar bahkan magic circle miliknya di atas keluarga Kekaisaran lainnya.
Yang jadi masalahnya, aku tak ingin terikat dengan orang semacamnya.
Tapi, jika dipikir-pikir ada satu orang lagi yang memiliki kekuatan sihir di atas tokoh utama. Identitas tentangnya tidak disebutkan sama sekali, gara-gara dia hanyalah seorang tokoh antagonis terakhir sekaligus karakter jahat terkuat kedua setelah Cassiopeia yang akan menjadi penghalang untuk kenaikkan tahta Achazia.
Hanya penulisnya seorang lah yang tahu identitas tokoh jahat itu, kami para pembaca menyebutnya 'Rajanya para tiran'.
Alasannya ya karena dia seorang tiran gila yang membunuh seluruh anggota keluarganya dan naik tahta.
Itu bagian yang paling aku suka sewaktu menjadi pembaca, karena kedua tokoh utama melarikan diri dan memperkuat hubungan mereka di saat-saat menegangkan.
Jujur saja, kebanyakan pembaca menyukainya karena mereka terkadang melakukan hubungan intim.
Dimana lagi aku bisa mendapatkan seorang penyihir yang sangat kuat dan mau memberikan sedikit kekuatan sihirnya?
Ada 2 kandidat, yang pertama Achazia, sedangkan kandidat kedua adalah 'Rajanya para tiran'. Tapi, keduanya sangat sulit untuk ku minta bantuan.
Yang satu, alasan kematian Cassiopeia dalam cerita. Satu lagi adalah tiran gila yang keberadaannya saja tidak bisa diketahui.
Mungkin ini yang dimaksud Gavril, jika mencari benda itu bukanlah hal sulit. Aku bisa meminta sebuah guild mencarikan nya dan aku tinggal memberikan bayaran setimpal.
Atau yang lebih mudahnya lagi, aku bisa membeli dari Marquess. Mau bagaimana pun keluarga Charcraes adalah serikat dagang terbesar di Kekaisaran serta benua ini. Jadi pasti ada lebih dari 1 benda seperti itu.
"Apakah kau tidak memiliki kekuatan sihir, Gavril?"
"Maaf tapi saya hanyalah roh pedang, Lord." jawab Gavril.
"Tak perlu minta maaf, ini bukan salahmu."
"Hoam..."
"Hari sudah semakin larut, sebaiknya kita akhiri pembicaraan ini. Bersiaplah karena besok pagi-pagi latihan akan kembali dimulai," kataku.
"Lord yakin?" tanya Gavril.
"Tentu saja, memangnya kenapa? Aku merasa kekuatanku terlalu payah tanpa Gladeladi, jadi aku ingin mencoba untuk terus mengasah kemampuan." tuturku.
"Lord jauh lebih hebat, tak pernah ada orang yang bisa menguasai Gladeladi hanya dalam waktu 1 tahun. Jangankan memakai Gladeladi, seorang sword master terhebat saja tak mampu menguasai semua teknik pedang dalam waktu singkat. Tapi, Lord berbeda."
"Sudahlah, kau terlalu memuji. Itu semua mungkin karena ada sedikit bakat berpedang dalam diriku,"
"Baiklah, selamat istirahat." ucapku seraya beranjak dari duduk.
"Kalian boleh pergi atau menetap," imbuhku.
Rasa kantuk tak bisa di lawan, mataku sudah 5 watt. Tanpa memperdulikan respon mereka aku pun berlalu pergi ke kasur.
Bruk...
Tak butuh waktu lama untukku terlelap.
•••
Keesokan harinya.
Di ruang makan kediaman keluarga Marquess Charcraes.
Terlihat dua orang, yang satunya laki-laki setengah baya dan satu lagi remaja berumur 14 tahun. Mereka sedang menikmati makanan dalam keheningan.
Keadaan terlalu hening untuk dianggap sarapan bersama keluarga, walau berbicara di meja makan adalah hal terlarang bagi para bangsawan tapi tetap saja.
Namun, keheningan itu berakhir ketika seseorang yang tak lain adalah Marquess sendiri memulai percakapan setelah menyelesaikan santapan nya.
Tak...
"Deo!" tegur Marquess.
Deo menghentikan aktivitasnya lalu mendongak dan menjawab sapaan ayah angkatnya.
"Ada apa, Ayah?" balas Deo.
"Bagaimana keadaan Cassiopeia?" tanya Marquess.
"Kakak masih tertidur lelap, karena saat ini Kakak dalam fase pemulihan jadi waktu istirahatnya lebih lama." jawab Deo.
"Baiklah, kalau begitu kau lanjutkan saja." ujar Marquess.
Dia beranjak dari duduknya meninggalkan Deo bersama para pelayan yang menemani Deo.
"Semoga hubungan kalian semakin baik, Ayah, Kakak." gumam Deo.
Remaja itu melanjutkan kembali sarapannya yang sempat tertunda.
•••
*Sedikit informasi ya, dari tanda pemisah yang di atas sampai tanda pemisah di bawah menggunakan sudut pandang orang ketiga. Agar kalian tidak bingung saat membacanya.
Cklek...
Dengan hati-hati, Marquess membuka pintu.
Perlahan-lahan dia berjalan menuju ke sebuah kasur, tak ada suara sedikitpun yang dihasilkan olehnya.
Matanya menangkap sesosok gadis kecil yang masih tertidur lelap.
Meskipun usia gadis kecil itu menginjak 16 tahun, tapi di matanya dia masih gadis kecil berumur 5 tahun.
Senyuman manis terlukis di wajahnya yang membuat paras sang duda menjadi semakin tampan jika dihiasi senyum itu.
Untuk beberapa menit, pria itu menatap gadis kecil itu dengan hangatnya.
Tatapan yang bahkan tak pernah dirasakan sedikitpun oleh orang yang bersangkutan.
Tapi, tak berselang lama. Dia keluar dari kamar itu.
"To, tolong!"
Teriakan lemah yang terdengar itu membuat, Marquess tersentak dan segera kembali berbalik.
Di tatapnya, gadis kecil itu nampak gelisah.
Keringat bercucuran di wajahnya, dari bibir itu tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata yang berhasil...
...----------------...
Halo reader's, author balik lagi untuk merekomendasikan karya bagus lainnya yang sayang banget untuk di lewatkan.
slam dri My ice girl sranghae..
sudah q favorit ya