Unara Callista, Gadis Remaja Berusia 17 Tahun Yang Terpaksa Bekerja Sebagai Waiters Di Sebuah Klub Malam.
Karna Ulah Teman Seprofesinya Di Klub Yang Memberikan Nara Obat Perangsang Pada Minuman Nara, Libidonya Naik Dan Nara Di Bawa Pergi Oleh Pria Yang Ingin Menyelamatkannya, Tapi Justru Pria Itu Sendiri Yang Tak Mampu Menahan Geloranya.
"Wahai hati. Janganlah engkau menyimpan rasa pada apa yang tak bisa kau gapai. Sebab pemilik Raga ini, tak kan mampu menerima lara yang kan terukir karna kebodohanmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Kamu tahu apa itu cinta.?
Menurutku, cinta adalah ketika kita melihat orang yang kita cintai terluka, justru kita yang menangis seakan merasakan sakitnya.
Aku pernah mendengar seseorang berkata, kasta cinta yang ter-tinggi adalah, ketika kita mampu untuk ikhlas melihat orang yang kita cinta bersama dengan orang lain yang ia cinta, yang mampu membuatnya bahagia.
Sedangkan, mendapatkan seseorang dengan cara memaksa, itu bukanlah cinta. Tapi obsesi.
...****************...
Nara bersikap sangat baik pada Valdo, pertama yang harus dilakukannya adalah membuat Valdo merasa percaya. Sehingga membuka peluang baginya untuk bisa kabur dari sangkar emas ini. Dan Valdo merasa sangat senang dengan perubahan sikap Nara padanya.
Mereka baru saja melakukannya, olahraga pagi di ranjang yang panas, bahkan Nara melakukannya dengan suka rela dan sangat menikmati di sertai lirih-lirih suara memalukan yang sangat menggairahkan. Jelas saja Valdo merasa sangat senang dan juga puas. Nara telah berubah.
Mereka melakukan ritual mandi bersama, sepeti biasa, Valdo menggendong tubuh Nara, melayaninya seperti seorang ratu, memanjakannya seperti Tuan Putri.
Dan Valdo memulai penyatuan sekali lagi kepada Nara saat di kamar mandi.
Valdo mengunci tubuh Nara bersandar pada tembok, menghadap dirinya, mengangkat satu kaki Nara ke atas pundaknya. Lalu ia mengarahkan dirinya menyeruak kedalam tubuh Nara.
Nara hanya bisa mendesis dan m3nd3_ -$4h, matanya terpejam menerima serangan Valdo. Memang terasa perih, Valdo seakan tak memberikan Nara jeda. Tapi Nara mulai menikmatinya. Tubuhnya normal, itu wajar saja.
Valdo mengeksplor leher Nara, menambah jejak-jejak kepemilikan yang sangat banyak disana.
Kini Valdo menautkan bibirnya pada bibir Nara. Nara membalasnya. Mereka melakukan penyatuan itu dengan tempo yang pelan dan sedang.
Setelah Valdo merasa di titik tinggi, ia membalik tubuh Nara menghadap tembok. Ia lantas melakukan penyatuan dari belakang.
Nara tensentak. Valdo menambah tempo, mempercepat gerakan maju-mundurya, hingga ia sampai pada pelepasan.
"Aaahhh. Aaahhh.. Ahhh."
Nafas mereka tersengal. Valdo memeluk Nara dari belakang. Mengecup ceruk leher dan punggung Nara.
Valdo kembali memandikan Nara.
Setelah selesai membersihkan dan merapikan diri. Mereka kini tengah bermain catur bersama, tertawa, bercanda bersama. Terlihat sangat bahagia. Seperti sepasang kekasih yang sedang bahagia-bahagianya.
Tiba-tiba ponsel Valdo di atas nakas berbunyi, Valdo meraih benda pipih itu. Ia mengangkat dan berbicara dengan orang di seberang sana.
"Apa.?"
Seseorang di seberang telepon sana telah mengabarkan kabar buruk pada Valdo. Ayahnya , Tuan Bakhtiar mengalami kecelakaan pesawat dan di nyatakan tewas.
Valdo di minta untuk segera ke Rumah Sakit untuk memastikan dan mengurus segala urusan di Rumah Sakit.
Valdo menjatuhkan ponselnya, tubuhnya merosot kelantai, ia menangis bersimpuh di lantai, Nara tidak tega melihatnya, ia lantas mendekat, dan memeluk Valdo yang tengah berduka. Nara mengelus rambutnya, mencoba menenangkan Valdo.
Valdo bangkit, ia harus segera ke Rumah Sakit sekarang. Nara menganggukkan kepala.
"Tunggu."
Nara menghentikan langkah Valdo saat hendak melangkah, Nara memeluk tubuh Valdo hangat lalu menautkan bibirnya pada bibir Valdo dengan mesra. Valdo sangat senang, ia benar-benar merasa jika Nara telah berubah dan mencintainya.
"Aku akan segera pulang,.!" Ucap Valdo sambil mengecup kening Nara penuh sayang.
Nara melihat Valdo dari jendela atas kamarnya, Mobil Valdo sudah keluar pagar. Nara bergegas. Ia telah berhasil mengambil kunci dari saku jas Valdo tadi saat memeluk Valdo. Ini kesempatan terbaiknya. Dan mungkin akan menjadi kesempatan terakhir bagi Nara untuk bisa keluar dari tempat ini.
Nara bergegas. Ia membuka pintu. Tidak ada orang. Ia lantas menuruni tangga. Dan sebelum ia mencapai lantai bawah, Nara berhenti, ada beberapa penjaga ber pakaian serba hitam disana.
Nara berpikir cepat, bagaimana caranya dia bisa menerobos penjagaan itu. Nara semakin panik dan tegang, ia lantas kembali ke lantai atas. Dia mencoba mencari cara. Nara membuka ruangan demi ruangan. Ada yang terkunci. Dan akhirnya ia menemukan satu ruang yang bisa di buka. Sebuah kamar.
Nara masuk kedalam kamar itu. Ia kembali menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Nara mendekat ke arah jendela. Ia melihat keluar, itu adalah halaman belakang Villa, Nara mengamati keadaan. Ada beberapa penjaga juga di luar tapi mereka di depan dan di samping Villa, bagian belakang ini aman. Nara melihat jauh kearah sana di belakang Villa adalah sebuah hutan atau seperti kebun.
'Aku harus kabur lewat sini.'
Nara sudah bertekad, Nara melihat ke arah bawah, tidak begitu tinggi pikirnya di banding tekadnya yang sudah bulat. Ia lantas mengambil tirai, menyambung kain itu antara satu dan lainnya, ada 3 Tirai putih. Memang tidak sampai tepat di bawah. Tapi itu cukup pikir Nara.
Nara pun segera mengikat Tirai pada besi yang ada di dekat jendela. Ia lantas menuruni lantai atas menggunakan tirai itu, telapak tangan Nara terasa panas bahkan perih saat menggenggam kuat tirai itu menahan berat badannya sendiri yang terus merosot ke lantai bawah.
Genggaman talinya sudah habis, dan kaki Nara masih belum menapak pada tanah. Ia lantas melepas tangannya yang berpegang pada tirai menjatuhkan dirinya sendiri. Suara yang di hasilkan dari jatuhnya tubuh Nara tidak begitu keras. Karna tak terlalu tinggi.
Seorang penjaga yang mendengar seperti ada suara bertanya pada temanya, dan penjaga lain mengatakan jika tidak ada suara apa-apa.
Nara lantas mengendap-endap kabur dari Villa, masuk kedalam hutan itu. Nara terus berlari. Ia tidak mempedulikan kakinya yang berdarah-darah karna terkena kerikil, batu, kayu ataupun duri.
Nara terus berlari, memasuki hutan belantara. Entah sudah berapa lama Nara berlari, kadang ia jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi dan bangkit lagi.
Nafasnya sudah sangat tersengal-sengal, tapi Nara tidak berhenti, Nara terus berjuang. Tangisnya mengiringi perjalanannya.
Akhirnya Nara melihat jalan setapak. Ia mengikuti jalan itu terus berlari, tenaganya sudah terkuras. Dan langkahnya semakin pelan.
Nara berhenti. Ia terduduk berselonjor di tanah. Gaun tidur berwarna putih selutut itu sudah sangat kotor terkena tanah yang lembab.
Nara menangis. Menyebut nama Tuhan. Memohon pertolongan. Ia melihat telapak tangan, lutut dan kakinya yang penuh luka-luka, darah segar bercampur dengan tanah yang berlumpur.
Nara menghentikan tangisnya. Ia seperti mendengar sebuah mobil yang berjalan. Nara lekas berdiri. Tenaganya kembali pulih karna semangat hidupnya. Nara tak lagi mempedulikan sakit serta luka yang ia rasa. Nara kembali berlari menyusuri jalan setapak.
Sekarang dataran yang di lewati sedikit menanjak, Nara berjalan pelan karna ia sudah sangat lelah. Ia sudah keluar dari hutan itu. Matahari sudah tinggi. Panasnya terik namun tak terasa karna disini hawanya dingin.
Nara akhirnya menangis sambil tersenyum. Ia melihat jalan raya. Meski jarang, namun mobil terlihat sesekali lewat. Nara lekas melangkah menuju jalan raya. Dan ia berhasil mencapai jalan raya itu.
Nara menoleh ke sana kemari, tidak ada lagi kendaraan yang lewat, ia sudah frustasi. Nara takut jika para penjaga Villa Valdo menyadari dirinya yang kabur dan segera mencarinya.
Nara sudah menangis semakin frustasi. Begitu lama dia berdiri, satupun kendaraan masih belum juga nampak.
Pandangan Nara semakin kabur. Dia kelelahan, stres, kurang cairan, membuat Nara semakin melemah. Nara melihat ada sebuah mobil dari kejauhan. Matanya berkunang-kunang, Nara berusaha mengangkat kedua tangannya melambai-lambai ke arah mobil itu. Namun sedetik kemudian, semuanya menjadi sangat gelap. Nara jatuh tak sadarkan diri. Ia pingsan.
padahal aku tungguin tiap hari kelanjutannya🤔
tapi kisah Arend sm zico kok nggak ada thor, aku padahal sudah masuk ke branda author ya, cari judul love or game 😫😫😭😭😭😭 nggak ada thor yg ada nona dan tuan, mainan bos mafia
makasi thor atas novelnya..semangat untuk slalu berkarya🤗