haiyy... ini novel pertama aku ya, mungkin nnti ada bnyak typo. mohon di maklumi ya.
syifa putri ardiyanti wijaya, anak satu-satunya dari pasangan ardiansyah wijaya dan riyanti wijaya.
syifa anak yg cukup cantik, putih, pinter dan mandiri.
Dia tinggal hanya bersama kedua orang tua nya, hidup dengan bahagia dan harmonis, smpai Akhirnya tuhan mengambil mereka berdua di hari yang sma hanya berselang beberapa jam, dan seketika dia kehilangan Dua orang yang sangat berarti dalam hidup nya.
Disisi lain ada Rendi yang sempat koma setelah mengalami kecelakaan, yang setelah sembuh membuat nya trauma dan hampir gila karena kehilangan kekasih yang dia cintai, sampai akhirnya dia bertemu dengan syifa yang mampu membuat dia move on dari masa lalunya
Tapi semuanya tak berjalan dengan mulus dan indah, Disaat hubungan mereka semakin dekat, malah terjadi kesalah pahaman diantara mereka.
Syifa kaget saat dia tau orang yang telah menempati ruang dihatinya itu, adalah orang yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya.
penasaran? bagaimana syifa menjalani hidupnya tanpa kedua orang tua nya
dan apakah syifa bisa bisa memaafkan dan menerima Rendi setelah dia tau jika Rendi adalah penyebab kematian kedua orang tua nya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rina agustini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Will you marry me 2
"Ya udah,, makasih udah mau nganterin aku." ucap syifa dengan tersenyum
Saat Syifa membuka pintu mobil dan di saat dia ingin keluar dia tidak sadar jika sabuk pengaman nya belum di lepas.
"Auw....aish...." jerit Syifa yang tak sengaja luka di tangan nya terkena tali sabuk pengaman.
Melihat itu dengan Repleks Rendi langsung mendekat ingin membantu melepaskan sabuk pengaman nya.
"Fa, tangan kamu kenapa" bukan nya melepaskan sabuk pengaman tapi matanya malah tertuju pada luka ditangan Syifa
"ini pasti sakit ya.. ini harus di obati" ucap Rendi
"Gak perlu Ren, ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh kok" oceh Syifa
Rendi tak mempedulikan ocehan Syifa, Dia langsung mengambil box kecil yang berisi obat-obatan untuk luka seperti obat merah, kapas pembalut luka dan plester nya. yang sengaja di letakkan mommy nya di mobil untuk jaga-jaga.
"Sini tangan mu biar aku obati" ucap Rendi lalu mengambil tangan Syifa
"Gak usah berlebihan Ren, ini hanya luka kecil" ucap Syifa
Saat Rendi mengobati luka di tangan nya, jarak antara mereka sangat dekat, sehingga syifa dapat merasakan deru napas Rendi, membuatnya menatap dan memperhatikan wajah Rendi yang menawan, Syifa memandang dengan tatapan kagum.
"Sempurna, pantas banyak wanita mengagumi mu Ren" batin syifa
"lukanya memang kecil, tapi ini juga bisa menyebabkan infeksi nanti, aku gak mau kalau kamu kenapa-kenapa"
ucap Rendi setelah memberikan obat merah dia memasangkan perban di tangan syifa
Syifa tersenyum, melihat begitu perhatian dan pedulinya Rendi padanya
"Ya Allah, bisakah waktu berhenti sebentar saja" batin Syifa
"Nah ini sudah selesai" ucap Rendi
"Makasih..." ucap Syifa
"hem... makanya lain kali hati-hati jangan ceroboh, luka sekecil apapun tetap sakit kan" ucap Rendi dengan nada sedikit ngegas
"kenapa kamu yang marah-marah gitu, niat gak sih ngobatin" ucap Syifa
"Siapa yang marah sih fa, biasa aja kok" bela Rendi
"kalu gak marah, terus ngapain ngegas gitu" lanjut Syifa
"Maafin aku fa" ucap Rendi saat dia sadar dia kembali menyakiti perasan Syifa dengan kata-kata nya
"Belum apa-apa sudah gitu, dikit-dikit marah, apalgi nanti kalu beneran nikah, gimana jadinya" gumam Syifa
"Ngapain mikirin nikah, bukan nya kamu gak mau nikah dengan ku, terus buat apa mikir gitu" ucap Rendi yang sempat mendengar gumaman Syifa
"kapan sih aku bilang gak mau Ren,,!!" ucap Syifa
"baru beberapa menit yang lalu, kamu menolak aku, sekarang kamu sudah amnesia." ucap Rendi
"Ouhh ya, masa sih, emangnya aku bilang nolak nya gimana coba" ucap Syifa dengan menahan tawa nya yang sengaja menjahili Rendi
" waktu aku ngajak kamu nikah, kamu bilang gak bisa, dan saat aku nanya apa alasanmu, kamu bilang sudah ada lelaki lain di hati mu" jelas Rendi
"memang ya lelaki itu 90% gak peka" ucap Syifa lalu geleng-geleng kepala
"Maksud mu apa, gak usah bertele-tele, lagian kenyataan nya kok begitu. gak usah cari pembenaran" ucap Rendi merasa gak terima jika dirinya di bilang lelaki yang gak peka
"Siapa yang mencari pembenaran sih Ren, kamu nya aja yang salah menyimpulkan" ucap Syifa
"Okeh, sekarang aku tanya sekali lagi, siapa lelaki yang kamu sukai..!!" tanya Rendi
" hehehe... yakin pengen tau nih" ucap Syifa yang sengaja menjahili Rendi lagi dan membuat nya tak berdaya.
"Fa, kamu kenapa sih senang bangat bikin aku penasaran dan kesal" ucap Rendi
"hehe maaf Ren.. bukan nya begitu" ucap Syifa
"hem,,, terserah kamu aja deh. capek ngomong sama kamu" kata Rendi pasrah
"Ouhh kamu capek ngomong sama aku, ya udah gak usah ngomong aja, aku juga malas" ucap syifa sambil manyun
"ya udah..." ucap Rendi
"Aku mau turun sekarang" ucap Syifa
"gak ada yang ngelarang,, silahkan" ucap Rendi
Syifa diam lalu menatap ke arah Rendi dengan wajah cemberut yang membuat Rendi pengen ketawa
"Kenapa lagi..!!" ucap Rendi
"Gimana aku mau keluar,, tangan habis di perban gini" batin syifa
"Tau ah,, dasar gak peka" ucap syifa lalu dia menatap keluar jendela mobil
"hahaa,, rasain lagian ngapain ngerjain gue sih, kamu pasti nungguin aku membuka sabuk pengaman itu kan" batin Rendi
Rendi sengaja mendiamkan Syifa dan pura-pura gak peka sambil menahan tawa saat melihat wajah cemberut Syifa.
setelah kurang lebih 10 menit kemudian, Rendi pun akhirnya tak tega, dia pun kembali mendekat untuk membukakan sabuk pengaman Syifa
"gak capek tuh muka cemberut mulu dari tadi, lagian ya harus nya aku yang kesal, dari tadi kamu jahil sama aku kan" ucap Rendi
Setelah Rendi selesai melepaskan sabuk pengamannya Rendi pun mengangkat wajah nya, tanpa di sadari wajah nya hampir mengenai wajah Syifa.
dak,, dig.. duk.. jantung mereka berdetak lebih cepat. mata mereka saling beradu satu sama lain. yang membuat jantung mereka semakin berdetak lebih cepat dan makin cepat.
"Ya Allah,, jantung ku serasa mau lepas" batin Syifa
"ini kenapa jantung berdetak begitu cepat.. ya Allah tolong jangan biarkan aku mati hari ini, aku belum menikah dan mempunyai anak" batin Rendi yang mulai berpikir ngawur.
"Ren.." panggil Syifa yang sempat menyadarkan Rendi dari lamunan nya
"ehh,... maaf..." ucap Rendi lalu Rendi ingin membukakan pintu untuk Syifa dari dalam, lagi-lagi membuat perasaan Syifa tak karuan.
"Aku bisa sendiri Ren.." ucap Syifa yang menghentikan pergerakan tangan Rendi
Rendi pun berhenti, membiarkan Syifa membuka pintu mobil sendiri, Dan disaat Syifa mau turun Rendi menghentikan nya lagi
"Tunggu dulu fa,," cegah Rendi
Syifa pun membalikkan badan nya menoleh ke arah Rendi
"Ini untuk mu, simpan saja.. anggap saja ini hadiah dari ku untuk mu." ucap Rendi sambil menyerahkan kotak cincin yang berisi cincin.
"Simpan saja dulu Ren..." belum selesai Syifa melanjutkan omongan nya lagi-lagi Rendi memotong nya
"Buat ap aku menyimpan nya fa, aku gak makai cincin ini, lagian ini ukuran nya sengaja aku buat seukuran jari mu" tegas Rendi
"kenapa sih Ren, aku belum selesai ngomong selalu saja di potong" ucap Syifa. dan Rendi hanya diam
"Maksud aku simpan dulu, sampai kamu dan keluargamu benar-benar melamar ku secara resmi, bukan seperti tadi" lanjut Syifa dengan nada sedikit kesal dengan sikap Rendi
Rendi kaget saat mendengar Syifa bicara seperti itu, Dia sangat bahagia, itu terlihat dari wajah dan mata yang berbinar-binar, sampai membuatnya tak bisa berkata-kata lagi
"Jadi Apakah lelaki yang di maksud nya tadi adalah aku, kenapa aku bego bangat sih" batin Rendi sambil menepuk jidat nya sendiri.