Maya terpaksa menggantikan ibu nya yang tengah sakit untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pengusaha kaya raya yang sudah memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai model.
Karna kesibukan sang istri yang begitu padat membuat Alvian lebih banyak mengahabiskan waktunya di rumah bersama pembantunya daripada dengan istrinya sendiri, hingga pada suatu hari ia melakukan kesalahan yang fatal terhadap pembantunya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raisya ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Setelah melihat keadaan Maya lebih membaik, Alvian mengajak sang Istrinya untuk segera pulang, ia merangkul tubuh istrinya untuk naik ke dalam mobil.
Tubuh Maya tampak lemah dan Tatapan Matanya tampak kosong dan juga sendu, karena hati dan pikirannya tengah memikirkan nasib ibu dan adik-adiknya.
Sepanjang perjalanan Maya hanya bisa diam sambil menatap lurus ke depan, namun tanpa terasa air matanya kembali terjatuh ke pipinya, tapi Alvian tidak berani berkata apa-apa , ia hanya bisa membiarkan Maya sambil sekali melirik ke arah Maya, Alvian sangat memahami perasaan Maya saat ini, sedih, cemas dan juga merasa bersalah, mungkin itu yang di rasakan oleh Istrinya saat ini, Semua penderitaan yang di alami sang istri merupakan dampak dari perbuatannya malam itu.
Maya tampak tengah tertidur saat Mobil yang di kendarai oleh Alvian telah sampai di halaman rumahnya.
Alvian tidak tega untuk membangunkan Maya, ia memutuskan untuk membiarkan Maya tidur dan menunggu Maya sampai terbangun dengan sendirinya.
Alvian memundurkan sandaran tempat duduk Maya ke belakang dengan perlahan-lahan, agar membuat posisi tidur Maya dapat lebih nyaman, dan ia juga membalutkan jaket yang ia pakai ke tubuh Maya.
Alvian menatap lekat wajah Maya dari dekat, wajah yang penuh dengan kesedihan, Alvian benar-benar merasa bersalah atas semua penderitaan yang di alami oleh Maya.
"Maafkan saya May... gara-gara perbuatan saya, kamu jadi seperti ini" ucap Alvian seraya menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggenang di sudut mata Maya.
Hampir 30 menit Alvian menemani Maya tidur di dalam mobil, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Maya akan bangun, sebab Maya tidur begitu pulas, mungkin karna ia kelelahan dan banyak pikiran.
Akhirnya Alvian memutuskan untuk membawa Maya keluar dari dalam mobil, karna terlalu lama tidur di dalam mobil juga tidak baik untuk Maya dan bayi yang ada di dalam kandungan nya.
Alvian terpaksa memberanikan diri menggendong tubuh ramping Maya dan membawanya menuju ke kamar, ia melakukannya dengan sangat hati-hati, jangan sampai membangunkan tidur Maya.
Setelah sampai di kamar, Alvian membaringkan tubuh Maya di atas tempat tidur, kemudian ia membuka sepatu Maya dan setelah itu menyelimuti Maya dengan selimut tebal dan juga lembut.
Setelah memastikan Maya tidur dengan nyaman, Alvian membaringkan tubuhnya di sebuah sofa yang ada di kamar tersebut, ia tidak tega meninggalkan Maya sendiri dalam keadaan seperti ini, lagi pula ia juga sedang malas bertemu dengan Bella di kamarnya, sebab Bella pasti akan mempertanyakan kepergiannya dengan Maya, tadi Alvian Memang tidak sempat berpamitan kepada Bella terlebih dahulu.
Tidak sampai sepuluh menit, Alvian juga terlelap di atas sofa tersebut dengan menyilangkan kedua tangannya di atas dada tanpa bantal atau pun selimut, bahkan kaki panjangnya tampak sedikit menggantung di sofa tersebut.
*
*
Setelah melihat kakaknya bersama Maya tadi, Alvian langsung masuk ke dalam club' tersebut menemui teman-temannya, ia memesan beberapa botol minuman untuk melampiaskan amarahnya, bahkan ia mentlaktir teman-teman nya untuk minum sepuasnya sampai pagi.
Dan kebetulan orang yang mengantarkan pesanan Farel dan teman-temannya adalah Rara, pegawai baru di club' tersebut, yang merupakan adik dari mantan kekasih Farel, wanita yang sangat ia cintai. Diam-diam Farel memperhatikan Rara yang tengah menyusun botol-botol tersebut di atas meja, Rara masih tampak canggung dan kaku, sebab ini adalah hari pertama ia bekerja di Club' tersebut.
"Hai... kamu pegawai baru ya di sini"
"Boleh kenalan gak" Goda Bimo yang merupakan sahabat farel.
Rara tampak mengacuhkan ucapan Bimo.
"Cantik-cantik kok jutek sih"
"Nanti cantik nya ilang loh..." Goda Bimo lagi.
Rara tidak menghiraukan ucapan Bimo, ia tetap pokus dengan pekerjaannya.
"Silahkan di nikmati pesanannya"
"Saya permisi dulu" ucap Rara dengan sedikit tersenyum, karena walau bagaimanapun ia tetap harus bersikap ramah kepada pelanggan seperti apa yang di perintahkan oleh atasannya.
"Hahaha Mampus Luh, di kacangin" ledek Jerry tertawa puas.
"Sialan Lo Jer" ucap Bimo kesal.
"Tenang aja Bim... kalo awal-awal emang suka malu-malu kucing" timpal Miko yang tengah merangkul tubuh Kekasihnya yang berada di sampingnya, sejak tadi kekasihnya tampak bergelayut manja kepada Miko
"Woy... sampe segitunya lu ngeliatin tu cewek, Lo juga suka sama tu cewek" ucap Jerry saat melihat Farel terus memperhatikan Rara dari kejauhan.
"Apaan Sih... siapa juga yang ngeliatin dia" kilah Farel.
"Alaaaah gak usah ngeles Lo, gue liat sendiri Lo ngeliatin cewek itu sampe gak ngedip-ngedip" Ucap Jerry lagi.
"Seriusan Lo juga suka sama cewek itu" ucap Miko penasaran.
"lo jangan gitu dong Men, gue duluan yang naksir tu cewek" timpal Bimo.
"Apaan sih Lo bertiga ngomongnya gak jelas banget. Udah ah gue mau ke toilet dulu" Ucap Farel kesal sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Hai cantik.... mau gak temenin saya minum" ucap seorang pia yang sudah setengah mabuk kepada Rara.
"Maaf tidak bisa, saya sedang kerja" jawab Rara berusaha untuk tetap ramah
"Gak apa-apa, nanti saya bakalan kasih kamu tips yang banyak" ucap Pria tersebut.
"Tidak terima kasih" jawab Rara lagi.
"Saya permisi dulu" Rara berusaha untuk menghindar.
"Eh... kamu mau kemana cantik..." ucap Pria tersebut seraya menarik tangan Rara.
"Jangan sok jual mahal seperti itu, saya akan bayar berapa pun yang kamu mau asal kamu mau melayani saya" ucapnya lagi seraya membelai tangan Rara.
"Lepasin, saya bukan wanita seperti itu, saya disini hanya untuk bekerja" Rara berusaha melepaskan diri dari Pria tersebut.
"Untuk apa kamu capek-capek bekerja, lebih baik layanin saya, saya akan bayar lima kali lipat gaji kamu" Pria tersebut menarik tangan Rara sehingga Rara terduduk di pangkuan pria tersebut, kemudian pria tersebut memeluk Rara dari belakang sambil mencium wangi rambut Rara.
"Lepasin... jangan kurang ajar sama saya" Rara berusaha keras untuk melepaskan diri, tapi tenaga pria itu benar-benar kuat.
"Lepasin perempuan itu" ucap Farel yang tak sengaja lewat di depan mereka. Saat pria tersebut lengah, Rara langsung berlari dan bersembunyi di belakang tubuh Farel.
"Siapa lo berani-beraninya gangguin gue, wanita ini milik gue" ucap pria tersebut sambil beranjak dari tempat duduknya, ia tampak kesal karna Rara berhasil kabur.
"Lo gak liat kalo perempuan ini gak mau sama Lo, sebaiknya Lo cari perempuan lain aja yang bersedia ngelayanin Lo" jawab Farel lagi.
"Nggak... gue gak mau cewek yang lain, gue mau dia"
"Minggir Lo" Pria tersebut berusaha menyingkirkan tubuh Farel untuk mengambil Rara kembali.
Rata tampak ketakutan melihat pria tersebut hendak mendekat lagi.
"Ayo Manis... kembali sama saya" Pria tersebut menarik tangan Rara
"Nggak aku gak mau" Rara semakin ketakutan.
"Brengsek Lo" Akhirnya Farel melayangkan sebuah pukulan di pipi pria tersebut, ia benar-benar kesal karna pria itu terus memaksa Rara.
"Gue udah bilang dia gak mau sama lo" ucapnya lagi.
"Sialan Lo" Pria tersebut tidak terima dengan perbuatan farel hingga akhirnya mereka berdua terlibat perkelahian dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Tentu saja Farel menjadi pemenangnya, karna pria tersebut sudah dalam keadaan setengah mabuk, jadi farel tidak terlalu kesulitan melawan pria itu.
"Makasih ya... Lo udah nolongin gue" ucap Rara kepada Farel, tubuhnya masih tampak gemetar.
"Sama-sama, lain kali Lo harus lebih hati-hati lagi, tapi kalo Lo pengen aman sebaiknya Lo gak usah kerja di tempat seperti ini" jawab Farel dingin, sambil pergi meninggalkan Rara.
Sebenarnya Rara benar-benar terpaksa bekerja di tempat itu, ia juga sudah tau konsekuensinya bekerja di tempat itu, tapi keinginannya untuk meringankan beban ibunya membuat ia nekat mengambil pekerjaan itu, apalagi di jaman sekarang ini sangat sulit mendapatkan pekerjaan.