Teror negeri Jawata, sosok Bocah Malapetaka yang mampu membasmi seluruh negeri dengan api. Seorang penguasa Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih justru menginginkan kekuatan Bocah Malapetaka, yakni Dunia Bawah yang menyimpan kekuatan ribuan Pasukan Ular. Di bawah kendalinya, pasukan pembantai memburu Bocah Malapetaka untuk dibunuh.
Di sisi lain, sekumpulan praja dikirim ke Kakilangit untuk misi latih tanding. Namun sebenarnya mereka hendak dibantai dan diubah menjadi tentara zombie.
Satu kejahatan tersingkap. Bocah Malapetaka mematahkan ketangguhan Sekte Kakilangit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hidayanthi alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Kelam
Menjelang senja di Kakilangit. Sekawanan gagak berterbangan di antara sisi gelap bangunan istana, menyeruak tiang-tiang gantungan usang di hamparan tanah tandus berbau busuk, pengap dan selalu sunyi.
Hampir tidak seorang pun melintasi tempat yang tidak pernah diinginkan siapapun datang ke sana, kecuali terpaksa untuk sampai ke gerbang Istana Kakilangit.
Sayup-sayup kicau serak gagak bertengger di puncak-puncak tiang. Sosok manusia berkuda melewati melintas. Derap kuda dalam remang-remang menjelang malam, menuju sebuah istana. Sesampainya di depan gerbang utama, ia turun dari kuda tunggangan, lalu melempar kata sandi pertanda identitas seorang abdi.
Balairung tua dan remang-remang, seseorang paling berkuasa di Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih, telah menunggu kedatangan seorang abdi akan menyampaikan kabar penting yang memuaskan.
Seseorang yang ditunggu, abdi mengenakan jubah gelap, memasuki balairung dijaga beberapa pengawal. Ia menghampiri Paduka tengah berdiri menghadap jendela, kedua mata menerawang keluar pelataran istana yang sunyi. Keadaan istana, sama kelam dalam satu dekade terakhir.
”Hamba menghaturkan hormat pada Paduka,” seorang abdi berada di belakang Paduka. Abdi itu membungkuk hormat disertai cemas takut raut mukanya.
“Ada kabar apa dari Tanapura? Belakangan ini, aku mendengar kabar dari para penjaga suar, tentang kuda cahaya tiba-tiba muncul dari kobaran api saat eksekusi seorang murid di sana. Jelaskan padaku apa itu, Sanca?” pinta Paduka Jayasinggih, lalu berbalik ke arah abdi yang disebutnya dengan nama Sanca. Lelaki tua renta itu sangat menunduk sampai bungkuk punggungnya.
“Benar, Paduka. Hamba juga telah melihat dengan mata kepala sendiri tentang kejadian tersebut,” jawab Ki Sanca.
“Kejadian apa sebenarnya yang telah kau lihat di sana?” tanya Paduka lagi.
“Hamba menyimpulkan bahwa itu ... sejenis sihir,“ tanpa banyak keberanian, cukup sedikit mengangkat wajah sambil tetap menunduk, Ki Sanca menjawab pertanyaan tuannya.
"Sihir di Tanapura? Ha ha ha!" aneh, setelah mendengar itu, tawa Paduka Jayasinggih meledak. Namun segera kembali tegang.
“Sihir …?” sisa tawa Paduka berubah tegang, sama sekali tak mengartikan kesenangan. Resah khawatir nampak di raut mukanya.
“Benar, Paduka. Sihir luar biasa, baru kali ini hamba melihat sihir sehebat itu di Tanapura,” jawab abdi Ki Sanca membenarkan, tanpa terduga justru menyinggung Paduka.
“Hmm, perlukah ku sampaikan pada Sang Pencemburu tentang hal ini? Dia tak segan menyuruhmu untuk menjilati Pedang Maar. Itukah yang kau mau?” kata Paduka, mendelik lirik tajam matanya ke arah Ki Sanca dinilainya salah bicara.
Ki Sanca menggelengkan kepala, gemetar punggungnya. Mendengar Pedang Maar disebut-sebut, membuatnya meringis takut, “Ampun, Paduka … hamba tidak berani,” cepat-cepat ia membungkukkan badan lebih rendah lagi sampai-sampai bersimpuh lutut.
“Jangan berkata bahwa ada yang melebihi kehebatan sihir Sang Pencemburu. Camkan itu dalam otakmu!“ lanjut Paduka Jayasinggih kesal amarahnya tertuang pada Ki Sanca.
Disebutnya sesosok dengan julukan Sang Pencemburu, ciut nyali Ki Sanca.
Paduka Jayasinggih menghunus ujung pedang ke leher Ki Sanca, “Be … benar. Hanya Paduka Jayasinggih, Penguasa Kakilangit, satu-satunya pemilik kekuatan dahsyat di dunia bersama Sang Pencemburu,” suara Ki Sanca makin gemetar, tak mampu disembunyikan lagi karena benar-benar ketakutan berada di ujung Pedang Maar, padahal ujung pedang itu yang menyentuhnya.
Lagi-lagi tawa berat Paduka Jayasinggih menggema ke seluruh ruangan. Sembari menarik pedangnya.
"Aku catat laporanmu ini. Jika terbukti penglihatanmu salah, aku akan memotong lidahmu dengan Pedang Maar!” ancam Paduka Jayasinggih. Selama ini, ratusan abdi mati sia-sia setiap kali membuatnya kecewa meskipun telah mengabdi puluhan tahun. Ki Sanca hanya segelintir abdi yang tersisa.
“Ampun, hamba tidak berani berbohong, Paduka!” kata Ki Sanca sembari mengantuk-antukkan jidatnya ke lantai berkali-kali.
“Pergilah, lakukan tugasmu selanjutnya! Tetap waspada, jangan sampai orang-orang Tanapura mencium penyamaranmu!” tegas Paduka Jayasinggih.
“Baik, Paduka, hamba laksanakan,” kata Ki Sanca. Tak lama kemudian angkat kaki secepat mungkin, takut-takut Paduka Jayasinggih berubah pikiran, mengingat sudah banyak abdi terbunuh setelah sekian pengorbanan, toh nasib mereka berakhir di ujung pedangnya.
Tidak ada pilihan lain selain menjadi abdi Paduka Jayasinggih yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya manusia adidaya.
* * *
Salam dari NALA dan PENDEKAR TOPENG SERIBU 🙏🏻
sehat selalu dan sukses terus 🤲