Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Peduli
Pagi ini Bunga sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Tadi malam ia tidur bersama dengan Om Praja. Dan setiap kali menghabiskan malam bersama dengan beliau, Bunga bisa tidur normal seperti pada umumnya. Om Praja tidak banyak menuntut, jika ia sudah dipuaskan maka Bunga bisa beristirahat. Meski terkadang lelaki itu tidak mengijinkan Bunga untuk pulang, tetapi Bunga tetap bisa tidur dengan aman dan nyaman.
Tangannya meriah tas yang tergantung di dekat lemari. Lalu beralih mengambil sepatu berwarna putih dan keluar dari apartemen.
Beruntung karena Om Praja tadi malam mabuk. Beliau tidak begitu memperhatikan leher Bunga yang terdapat tanda merah karena kelakuan nakal dari seorang cowok. Meski sudah coba Bunga tutupi dengan pondation, tetapi ganasnya Om Praja dalam mencumbu Bunga sampai membuat beberapa tanda merah yang sudah Bunga coba tutupi terlihat. Beruntung beliau tidak begitu mengamati karena rasa mabuk.
Bunga masuk ke dalam lift. Ekor matanya tanpa sadar mencari keberadaan seseorang.
Sampai di parkiran, orang yang secara tidak sadar sedang Bunga cari tidak terlihat. Bahkan mobil yang biasanya terparkir di sana juga tidak terlihat. Hanya motor besar milik cowok itu.
"Tumben," lirih Bunga lalu melajukan mobilnya menuju ke sekolah.
Di sebuah rumah yang cukup besar. Bian sedang terduduk di sofa depan tv. Ia sengaja pulang untuk menemui Ayahnya. Ayah yang tadi malam tidak datang di acara pameran lukisan.
Tap
Tap
Tap
Suara derap langkah kaki yang menuruni anak tangga seketika membuat Bian bungkam. Hawa panas langsung menjalar di sekujur tubuhnya. Tangannya mengepal marah hanya dengan mendengar langkah kaki dari orang tersebut.
"Kapan pulang?" tanya laki-laki itu tampak santai.
Tidak ada jawaban dari Bian. Membuat laki-laki yang sedang membenarkan letak jam di tangannya menoleh ke arah Bian.
"Kita sarapan dulu," ucapnya membuat Bian semakin mengepalkan tangannya kuat.
Kata-kata dari Ayahnya seakan tidak terjadi apa-apa. Padaha harusnya beliau paham jika Bian sudah sampai pulang ke rumah itu karena ada sesuatu yang penting. Bian tidak akan sudi pulang jika tidak ada hal penting yang akan ia bicarakan dengan Ayahnya.
"Kenapa tadi malam nggak datang?" suara Bian membuat laki-laki yang sudah rapih dengan kemeja nya menoleh.
"Kita bicarakan nanti, ini waktunya untuk sarapan," jawabnya tetap tenang.
"Apa karena jal**ng itu?" tanya Bian membuat emosi Ayahnya terpancing. Meski tetap tenang, tetapi laki-laki itu sedikit mengeraskan rahangnya.
Bian terkekeh. Kekehan yang terdengar mencibir namun juga tersirat akan rasa sakit.
"Ini." Bian sedikit membanting sebuah papan besar yang sudah terdapat hasil lukisannya tadi malam.
Setelahnya ia keluar dari rumah besar yang begitu sepi namun terasa seperti di neraka itu. Setiap kali Bian menginjak kan kakinya di rumah itu. Rasa sakit yang selalu muncul.
"Bian...! Berhenti!" Tukasnya namun tidak lagi dihiraukan oleh Bian.
Laki-laki itu melonggarkan dasinya. Langkahnya maju menuju dimana tadi Bian membanting hasil lukisannya sendiri.
Dengan perasaan tidak menentu. Ayah Bian mengambil lukisan yang ternyata hasilnya sangat memuaskan. Ia memang suka Bian menjadi seorang pelukis dibandingkan dengan bermain musik.
"Ayah bangga sama kamu," ucapnya menatap lukisan tersebut.
Sampai di sekolah. Lagi-lagi Bunga tidak melihat mobil Bian di parkiran. Ada rasa sedikit penasaran dimana cowok itu berada. Cowok yang selalu mengganggu Bunga akhir-akhir ini, dan dimintai sendiri oleh Bunga untuk tidak mengganggunya hidupnya lagi, tetapi Tuhan maha membolak-balik kan keadaan, terbukti dari sekarang Bunga sendiri malah yang secara tidak langsung mencari keberadaan Bian. Si cowok yang Bunga juluki aneh itu.
"Una!" Rasel berlari menghampiri Bunga yang baru saja keluar dari mobil.
"Tadi malam kemana hayo," goda Rasel seraya menyenggol lengan Bunga dengan manja.
Bunga memutas bola matanya malas. "Langsung aja deh...mau apa?" tanya Bunga yang sudah tahu maksud dari godaan Rasel.
Biasanya jika Bunga baru saja mendapat tamu sepesial, maka kedua sahabatnya tahu jika Bunga baru saja mendapat bonus dari Mimi.
"Hp Deby rusak," bisik Rasel seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit tidak enak hati untuk meminta dengan Bunga. Tetapi mau bagaimana lagi. Bunga memang yang paling kaya di antara mereka.
"Kenapa bisa? Baru kan punya dia?" tanya Bunga yang diangguki oleh Rasel.
"Tadi malam dia tidak sengaja kecebur ke kolam, sekarat deh tuh hp sekarang," jelas Rasel membuat Bunga mengangguk.
"Tadi malam tuh Om Praja," jelas Bunga membuat mata Rasel tampak terbelalak.
"Deb!" Teriak Rasel memanggil Deni yang tadi bersembunyi di belakang mobilnya.
"Sorry Na, eike nggak tahu, kalau gitu nggak jadi deh, ye pasti nggak enak kan minta lebih sama Om ganteng itu." Deni tampak tidak enak hati dengan Bunga dengan maksud dan tujuannya.
Bunga mengangguk kecil. "Siapa bilang? Nih liat..." Bunga memerkan isi dompetnya.
"Gila....tebel banget, kayak bawahan lo pasti," puji Rasel melihat isi dompet Bunga yang berlapis-lapis uang berwarna merah.
"Ngaco! nggak tahu Om Praja lagi pengen ngasih tips secara cas sama gue," jawab Bunga yang langsung dihadiahi sebuah ciuman oleh Deni di pipinya.
"Deby ih!" kesal Bunga, pasalnya Deni menciumnya di sembarang tempat, di lingkungan sekolah lagi. Bunga jelas saja tidak terima.
"Sok protes, di cip*k Bian juga ye diem aja..nggak ada protes tuh," jawab Deni membuat Bunga mencebik.
"Oke...hp lo batal-"
"Iya..iya...sorry Na, maafin eike." Deni buru-buru minta maaf membuat Bunga dan Rasel tertawa melihat wajah khawatir dari Deni.
Istiratah pertama. Bunga memutuskan untuk menemui Rasel dan Deni ke kelasnya. Dengan tujuan lain juga pastinya. Rasa kantuk juga tidak begitu Bunga rasakan. Karena tadi malam ia bisa tidur nyenyak berkat sugar daddy nya.
Saat akan sampai di kelas Deni dan Rasel. Tanpa sengaja Bunga seperti melihat sosok Bian dari arah belakang. Cowok itu terlihat sedang menaiki tangga paling ujung, tangga menuju ke atap sekolah.
"Masuk dia?" gumam Bunga tanpa disadari.
Tetapi lamunannya tentang Bian buyar kala Deni dan Rasel sudah lebih dulu datang menghampirinya.
"Una! tumben ye ke sini?" tanya Deni melihat datangnya Bunga.
"Pengen aja. Ke kantin yuk!" ajak Bunga yang diangguki oleh keduanya.
"Mau nraktir nih pasti," goda Rasel membuat Bunga mencebik.
"Na...hari ini Ian keliatan aneh tahu nggak!" beritahu Deni.
Deni memang paling semangat jika membicarakan tentang Bian.
"Ya terus?" jawab Bunga acuh. Meski sebenarnya ada rasa penasaran juga pada diri gadis itu.
"Dari tadi diem terus. teman-temannya juga bingung ma sikap Ian," jelas Deni membuat kening Rasel berkerut
"Tahu dari mana lo mereka bingung samak sikap Bian?" tanya Rasel membuat Deni mencebik.
"Eike kan punya kuping sama mata, ya eike gunain dengan semestinya lah," jawab Deni membuat Rasel menggeleng.
"Penguping!" cibir Rasel yang hanya dijawab Deni dengan gaya centilnya. "Nggak papa berguna ini untuk Una, iya kan Na?"
"Kenapa gue?" tanya Bunga membuat Deni memukul pelan kepalanya.
"Huh...pusing deh eike sama ye-ye pada!" Deni tampak melenggang terlebih dahulu meninggalkan Bunga dan Rasel yang sedang tertawa mengejek.
"Bunga!" sapa Andre melihat Bunga yang masih berada di depan kelasnya.
"Oh hai...duluan ya?" jawab Bunga sekalian pamit seraya menggandeng tangan Rasel untuk menghampiri Deni yang sudah lebih dulu pergi.
"Sabar bro..yang sepesial memang butuh banyak perjuangan." Oki tampak memegang pundak Andre untuk memberi semangat.
"Lihat aja..gue yakin suatu saat Bunga pasti bisa gue dapetin," ucap Andre berambisi.
"Iya..di mimpi," celetuk Roni yang baru saja datang dengan gelak tawanya.
"Anj*r... Roni bang**t lo!" umpat Andre dengan penuh emosi.
"Udah lah Ndre, kita ke Ian aja dia kayaknya lagi ada masalah." Oki mengajak Andre untuk menuju ke perpustakaan. Biasanya Bian akan ke tempat sepi ketika ada masalah.
Sementara di kantin. Bunga sepertinya sedang tidak minat untuk memakan- makanan di depannya. Gadis itu sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa menyuapkannya ke dalam mulut.
"Ye kenapa sih Na? makan biar nggak tepos tuh gundukan," suruh Deni membuat Rasel menyenggol lengan Deni kesal.
"Gue ke toilet dulu deh.." pamit Bunga beranjak.
"Nih buat bayar," gadis itu menaruh lembaran uang berwarna merah di meja.
"Na..! Jangan lama-lama!" teriak Deni yang tidak lagi dihiraukan oleh Bunga.
Bukannya ke toilet seperti yang dikatakannya tadi. Bunga malah berbalik melewati ke kelas Deni dan Rasel. Gadis itu terus berjalan sampai di tangga paling ujung. Sebelum benar-benar melangkahkan kakinya untuk naik. Ia menghela napasnya terlebih dahulu.
Di sana. Di kursi besi yang sudah lama terabaikan di tempat itu terlihat Bian yang sedang tertidur dengan satu tangannya sebagai alas bantal.
Bunga mendekat, entah kenapa tujuannya saat ini untuk bertemu dengan Bian. Cowok yang sudah ia suruh untuk menjauh dan tidak langi mengganggunya.
Deg
Sampai di depan Bian. Bunga terdiam di tempatnya. Wajah tampan Bian dengan mata terpejam, juga sinar matahari sebagai cahaya membuat Bian terlihat semakin tampan. Bahkan diaaat sedang terik seperti ini Bian sama sekali tidak takut dengan perubahan pada kulitnya karena ganasnya sinar matahari.
Cukup lama Bunga hanya terdiam memandangi wajah tampan Bian di bawah teriknya sinar matahari. Ia tidak melakukan dan tidak berkata apa-apa selain memandang wajah tampan itu tanpa rasa bosan. Sebelum akhirnya ia menggeleng sadar akan lamunannya yang terlalu jauh.
Bunga menghela napas. Melihat Bian yang baik-baik saja membuatnya berniat untuk pergi, tetapi....
"Bunga," suara itu terdengar dan berhasil menghentikan langkahnya.