Penyakit kanker yang diderita, membuat Kiara memaksa suaminya, Tama, untuk berpoligami. Dia rela melakukan itu agar suaminya bisa memiliki keturunan.
"Aku menikah denganmu tidak semata karena aku ingin memiliki keturunan. Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Jadi, jangan paksa aku untuk menikah lagi!" tukas Tama saat Kiara memintanya untuk berpoligami.
"Jangan membuatku merasa bersalah dengan kekurangan yang aku miliki! Jika kamu mencintaiku, maka menikahlah!" ~ Kiara.
Bagaimana nasib rumah tangga Tama dan Kiara selanjutnya? Yuk, ikuti kisah mereka dalam ISTRI UNTUK SUAMIKU.
Jangan lupa, rate bintang 5, like, komen dab votenya ya. Salam sayang dari otor ter KETCE.
Follow akun author ya🤗
Ig: Samudra_Lee_19
fb: Samudra Lee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#IUS 30
Beberapa sebelumnya ....
Wina yang baru saja keluar dari rumah, buru-buru kembali ke kamarnya ketika melihat Kiara baru saja turun dari taksi online. Dia yang sebelumnya sudah memakai pakaian dinasnya langsung menggantinya dengan jubah mandi, seolah-olah dia baru keluar dari kamar mandi. Wina juga mewarnai lehernya dengan lipstik berwarna merah kebiruan dan membentuknya seperti bekas kecupan agar Kiara mengira kalau itu adalah tanda kepemilikan yang diberikan oleh Tama kepadanya.
"Aku yakin saat melihat ini Mbak Kia akan mengira kalau aku dan Tama sudah melakukan malam pertama kami," ucap Wina setelah memastikan kalau kissmark buatannya terlihat sempurna. "Sekarang aku akan berlagak seoalah aku baru selesai mandi. Aku yakin Kiara nggak akan curiga kalau ini palsu."
Dan benar saja saat melihat dirinya keluar dengan mengenakan jubah mandi, ekspresi wajah Kiara langsung berubah. Namun, istri dari Tama Wijaya itu tetap memaksakan diri untuk tersenyum dan itu membuat Wina sedikit jengah. Namun, Wina kembali merasa di atas angin saat Kiara menanyakan keberadaan suaminya. Wina dengan sengaja menjawab kalau Tama baru saja mandi karena mereka bangun kesiangan. Dan tentu saja itu disalah artikan oleh Kiara. Wanita itu mengira kalau suaminya kesiangan karena kelelahan setelah menghabiskan malam pertamanya dengan Wina. Saat itu Tama memang sedang mandi karena dia juga baru kembali ke rumah lima menit sebelum kepulangan Kiara.
Wina merasa senang saat Kiara menghindari Tama yang hendak memeluk wanita itu. Dia yakin kalau tujuannya membuat Kiara cemburu berhasil. Dan sayangnya, ketika dia berusaha mendekati putra pertama dari Rangga Wijaya itu, laki-laki itu malah terang-terangan menolaknya.
"Semakin kamu menghindariku, aku akan semakin menciptakan jarak yang lebih lebar untuk kalian berdua," gumam Wina dengan senyum smirknya. Akhirnya dia memilih sarapan seorang diri karena hari ini dia ada jadwal di rumah sakit.
***
Tama melihat jam di dinding ruang kerjanya. Jam itu sudah menunjuk pukul 10.00 WIB. Dan kali ini perutnya sudah keroncongan minta diisi.
"Kiara kenapa ya? Kenapa sikapnya tiba-tiba aneh?" Tama bertanya pada dirinya sendiri. "Aku harus melihat keadaannya sekarang."
Tama beranjak dari meja kerjanya dan segera menuju ke kamar Kiara.
"Kia, kamu sudah sarapan belum? Ini sudah jam sepuluh lho." Tama mengatakan itu sambil berdiri di depan pintu kamar Kiara. "Kia."
Tama sangat khawatir saat Kiara tidak menjawab panggilannya. "Kia kamu tidak apa-apakan? Kia, buka pintunya!" seru Tama sambil terus mengetuk pintu yang ada dihadapannya.
"Kia, cepat buka pintunya! Kalau kamu tidak membuka pintunya akan aku dobrak pintu ini!" ancam Tama. "Aku hitung sampai tiga ya. Satu."
Belum ada tanda-tanda Kiara akan membuka pintu kamarnya. "Dua." Keadaan masih sama, tidak pergerakan dari dalam.
"Ti ...." Saat Tama sudah berancang-ancang menendang pintu kamar itu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka.
"Ada apa, Mas? Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Kiara bingung. Dia merasa aneh dengan posisi kuda-kuda yang sedang suaminya itu lakukan.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Tama memastikan.
"Aku tadi tidur, Mas. Soalnya semalam aku nggak bisa tidur," jawab Kiara. Kiara memang sempat cemburu saat melihat kondisi Wina tadi. Tetapi, dia juga menyadari kalau Wina juga berhak mendapatkan itu dari suaminya.
"Ohya, apa yang mau Mas Tama lakukan barusan?" tanya Kiara.
"Ku kira kamu kenapa-napa karena tidak juga keluar dari kamar sejak pulang tadi." Tama bernapas lega.
kruyuk
Kiara menatap suaminya saat mendengar perut suaminya itu berbunyi. "Mas, kamu belum sarapan?" Tama mengangguk. "Ya Allah, Mas. Kalau Mas lapar harusnya Mas makan saja duluan."
"Aku tidak biasa makan tanpa kamu," jawab Tama jujur. Dan memang benar, sejak tadi malam Tama melewatkan jam makannya.
"Ya Allah, Mas. Kan ada Wina. Kenapa kamu nggak makan bareng Wina? Bukankah semalam kamu bersama Wina di rumah?"
"Aku tidak terbiasa makan masakan Wina."
"Mas .... "
"Perutku sudah lapar," sela Tama. Dia paling tidak suka jika Kiara sudah membahas soal Wina.
"Ya sudah. Aku masakin buat kamu ya?" Ketika Kiara hendak berjualan ke arah dapur, Tama mencekal pergelangan tangannya.
"Tidak usah! Aku ingin kita makan di luar," ajak Tama dan mendapat anggukan dari Kiara.
"Mas tunggu aja di luar, aku akan mandi sebentar." Dan lagi-lagi Kiara harus menghentikan langkahnya karena Tama kembali menahannya.
"Biar aku yang memandikanmu." Tama langsung menggendong tubuh istrinya dan masuk ke dalam kamar.
🍁🍁🍁
Like, komen, dan votenya donk. Terimakasih, lope lope sekebon toge ♥️💋
tapi karena sudah berbau poligami, yang baca jadinya sedikit deh..
btw, tetap semangat ya kakak.. 💪🏻
walaupun harus sad ending dan aku tidak suka itu, tapi aku tetap menghargai semua jerih payahmu untuk menghasilkan karya ini kak..
semoga sehat selalu ya kak.. 😘🥰
ooo ternyata Roni dijebak dan berakhir di hotel PK polisi....
jadi gregetan pengen tonjok wajahnya
bukannya terima kasihh, malah mau nikung.
begitupun Tama