Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Sebuah restoran mewah yang terletak di tengah kota nampak ramai, dan dua pengunjung diantaranya adalah Leon dan Reka. Leon mengajak Reka untuk makan siang berdua, itung-itung sebagai pendekatan sebelum kembali bersama dalam ikatan suci pernikahan nantinya. Lebih tepatnya, Leon ingin melakukan pendekatan terhadap wanita itu. Walaupun pernah menikah sebelumnya, namun selama dua tahun terakhir hubungan mereka terbilang tak baik akibat kesalahpahaman Leon di masa lalu.
"Kamu mau makan apa?."
"Samakan sama punya mas saja!."
"Baiklah."
"Mbak, saya pesan yang ini dua dan minumnya yang ini juga dua." Leon membuat pesanan pada pelayan yang sejak beberapa saat lalu menunggu di depan meja mereka.
"Baik, tuan. Mohon menunggu!."
Setelah mencatat pesanan, pelayan pamit undur diri.
"Apa saat melahirkan baby Richard dulu, kamu hanya seorang diri?." Tanya Leon dengan hati-hati, di sela waktu senggang menunggu pesanan datang.
Ditanya demikian lantas membuat ingatan Reka kembali berputar pada saat di mana ia melahirkan baby Richard. Tak ada seorangpun yang menemaninya, ia bahkan mendatangi rumah sakit seorang diri. Untuk persetujuan operasi pun, ia harus menandatanganinya sendiri.
Setelah cukup lama terdiam, Reka akhirnya mengangguk.
"Maafkan mas, Reka." Leon semakin merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf, lagipula itu bukan sepenuhnya kesalahan mas leon. Kalau saja waktu itu aku memberitahu mas soal kehamilanku, aku yakin mas tidak akan membiarkan aku melahirkan baby Richard seorang diri, sekalipun kita telah bercerai." Reka tidak ingin bersikap egois dengan sepenuhnya mempersalahkan Leon, karena kenyataannya ia yang sengaja menyembunyikan kehamilannya dari pria itu.
"Saat itu mungkin adalah saat-saat terberat dalam hidupku, tapi aku tetap bahagia karena akhirnya aku tidak lagi hidup seorang diri di dunia ini. Ada putraku yang akan menemani hari-hariku dan juga ada putraku yang akan memberi warna baru dalam kehidupanku." Kata Reka. Ia berusaha tersenyum agar terlihat baik-baik saja di depan Leon. Reka telah berdamai dengan kepahitan hidup yang pernah dilaluinya selama dua tahun terakhir ini.
"Seandainya saat itu kamu sudah tahu tentang keberadaan baby Richard di perut kamu, apa kamu akan tetap meminta cerai dari mas?." Leon penasaran dengan jawaban Reka.
Tanpa berpikir lama, Reka menggelengkan kepala. Bila saja ia mengetahui tentang keberadaan janin di dalam rahimnya sebelum hakim mengetuk palu atas gugatan cerai yang dilayangkannya pada Leon, pastinya Reka tidak akan meminta untuk berpisah dari pria itu.
"Mari lupakan kenangan pahit dua tahun silam, dan mari membuka lembaran baru!." Leon sadar, meskipun kembali bersama tetap tak akan mampu menebus semua penderitaan Reka selama dua tahun belakangan ini, tapi setidaknya bisa menjadi awal baru bagi Reka, baby Richard dan tentu saja dirinya.
Reka mengangguk meskipun hingga detik ini hatinya masih dipenuhi oleh sosok Georgina, wanita yang pastinya akan menjadi korban atas kembalinya hubungan mereka.
Kedatangan pelayan sekaligus mengakhiri pembahasan Leon dan Reka.
"Terima kasih." Ucap Reka setelah pelayan menyajikan pesanan di meja. Ucapan terima kasih memang terdengar sederhana, namun sebagai mantan pelayan restoran tentunya Reka tahu betul bahwa ucapan sederhana itu mampu membuat hati para pelayan merasa sedikit dihargai sebagai sesama manusia.
"Sama-sama, nyonya, dan selamat menikmati hidangan di restoran kami." Setelahnya, pelayan pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
Leon diam saja tapi bukan berarti pria itu tak tahu jika Reka pernah bekerja sebagai pelayan disebuah restoran demi memenuhi kebutuhan hidup. Leon mengetahui semua itu dari cerita Georgina tempo hari. Jujur, Leon sempat berpikir, apa mungkin pertemuan Georgina dengan Reka merupakan jalan Tuhan untuk mempertemukannya kembali dengan wanita yang masih sangat dicintainya itu. Jika benar demikian, cukup pelik juga cara sang maha pencipta dalam mentakdirkan jalan hidupnya, mengingat Georgina adalah wanita yang dijodohkan dengannya.
Leon memo-tong steak daging miliknya hingga menjadi beberapa bagian, kemudian menukarnya dengan milik Reka. "Makanlah!." Kata Leon.
Reka tertegun dengan sikap Leon. Pria itu sama sekali tidak berubah, masih sama seperti yang dulu, sangat perhatian dalam hal kecil sekalipun.
"Terima kasih, mas."
Leon mengangguk singkat.
Tanpa disadari oleh Leon dan Reka, rupanya ada sepasang mata yang sejak tadi mengamati keduanya.
"Dasar wanita licik...." Gumam seorang wanita muda yang menempati meja paling sudut. Wanita itu terlihat sangat geram. "Ternyata benar dugaanku selama ini, Reka meminta cerai dari tuan Leon hanya untuk mengelabui papah dan mamah. Ini semua pasti hanya akal-akalan Reka saja agar bisa hidup bebas bersama tuan Leon tanpa bayang-bayang papah dan mamah yang sudah susah payah merawatnya sejak kecil." Wanita muda yang tak lain adalah saudara angkat Reka tersebut lantas mengeluarkan ponselnya kemudian mengabadikan momen kebersamaan Reka dan Leon. Tentu saja foto itu akan diperlihatkannya pada kedua orang tuanya di rumah nanti.
Tak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya, Mima juga licik. Dahulu, saat Reka masih tinggal di rumah mereka, wanita itu bahkan sering memprovokasi kedua orang tuanya agar terus menekan Reka dalam segala hal. Perginya Reka dari rumah bukannya membuat wanita itu sadar bahwa ternyata peran Reka di perusahaan mereka cukup berpengaruh untuk kemajuan perusahaan, wanita itu justru mengkambing hitamkan Reka atas anjloknya saham perusahaan selama dua tahun belakangan ini.
*
"Pah.....Mah....." Sekembalinya dari restoran, suara Mima menghebohkan seisi rumah.
"Kamu ini kenapa sih, pulang-pulang kok seperti orang kesurupan begitu."
"Coba tebak, siapa yang aku lihat di restoran tadi?." Mima begitu bersemangat untuk menyampaikan apa yang dilihatnya di restoran tadi kepada kedua orang tuanya.
"Memangnya siapa yang kamu lihat, hm?." Ayah sampai melipat koran ditangannya dan meletakkannya di atas meja. Tak sabar menunggu jawaban dari sang putri tercintanya.
"Tadi aku melihat Reka, pah..."
"Jangan pernah lagi membahas apapun tentang anak tidak tahu diri itu di rumah ini!." Tegas sang ayah. Mendengar nama Reka disebutkan saja sudah membuat tekanan da-rah pria paruh baya tersebut melonjak naik.
"Papah kamu benar, sayang..... Jangan pernah menyebut nama anak tidak tahu diri itu lagi di rumah ini! Dia bukan anak kandung kami. Jika tidak ada fungsinya lagi di keluarga ini, lalu untuk apa membahas tentangnya." Tidak jauh berbeda dengan sang suami, nyonya Ika pun seolah alergi mendengar nama Reka disebutkan.
"Tapi pah....mah......"
Mima mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan foto Leon dan Reka kepada kedua orang tuanya.
"Bukannya ini tuan Leon? Untuk apa lagi tuan Leon menemui Reka, bukannya mereka telah bercerai?."
Tuan Hafidz pun ikut mengamati foto tersebut dengan seksama, mencoba menelaah apa yang mungkin saja terjadi.
"Sepertinya Reka telah membodohi kita semua." Gumam tuan Hafidz setelah cukup lama berpikir.
Dengan cepat Mima mengangguk, seolah sepemikiran dengan sang ayah.
"Nampaknya perceraian hanyalah akal-akalan Reka untuk mengelabui papah dan mamah saja agar kalian tak lagi meminta uang dari tuan Leonardo Fernandez." Mima semakin memanas-manasi keadaan.