Plaakkk...
Plakkkk...
Dua tamparan mendarat mulus dipipi Raisa.
"Gue minta Lo pergi jauh-jauh dari hidup Arsya, jika perlu Lo gugat cerai dia, karena Arsya itu cuma milik gue seorang, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi milik gue paham nggak Lo" ucap orang misterius itu sambil menarik kuat jilbab Raisa.
" aakkkhhhhh" jerit Raisa yang terdengar pilu.
" kamu siapa? apa salahku? aku nggak pernah merasa merebut siapapun dari orang," ucap Raisa dengan nada bergetar sembari menahan sakit.
"hahaha, nggak usah pura-pura bego Lo, wanita sok suci kayak Lo nggak pantas tau nggak buat Arsya, yang lebih pantas itu gue bukan Lo, dasar wanita murahan" ucap orang misterius itu dengan menatap tajam Raisa.
"Arsya? apa yang kamu maksud itu Arsya suamiku?"
" cih, suami Lo? dia itu pacar gue yang udah Lo rebut, Lo itu udah ngehancurin hidup gue, dasar wanita jalang" umpat orang misterius itu.
" maaf saya nggak pernah merebut Arsya dari anda"
"dasar wanita jalang, Rendi terserah Lo mau apakan tuh wanita jalang, mau Lo habisin juga nggak apa-apa, yang terpenting dia nggak ada lagi di dunia ini, hahaha" bengis orang misterius itu dan berlalu meninggalkan tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizaUtami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31
Selesai melaksanakan kewajiban terhadap sang pencipta alam semesta, Arsya merebahkan dirinya diatas ranjang pikiran nya masih kalut bagaimana bisa Tika masih berusaha mengejar-ngejar nya lagi, ingin membina hubungan mereka yang telah lama kandas itu. Lagian itu adalah salah nya Tika sendiri kenapa ia tega mengkhianati Arsya dengan teman dekat nya sendiri lagi.
Apa yang kurang dari Arsya, semuanya telah ia berikan untuk Tika, sampai-sampai ia rela tidak jadi melanjutkan studinya keluar negeri dan memilih melanjutkan studinya di dalam negeri, tak adakah sedikit rasa nurani dihati Tika sehingga ia tega berkhianat dari Arsya.
Arsya menyugar rambutnya kasar karena frustasi, Raisa yang baru saja membuka pintu terkejut melihat Arsya yang sangat kusut dan tampak frustasi. Raisa pun berjalan menghampiri Arsya, dan mendudukkan dirinya disamping tubuh Arsya.
" Abang kenapa kok Raisa perhatiin Abang kusut banget kayak lagi frustasi berat, emang nya di perusahaan banyak masalah ya?" tanya Raisa lembut.
Arsya pun bangkit dari tidurnya duduk menyandar di kepala ranjang, dan tersenyum tipis kepada Raisa.
" nggak ada apa-apa kok, semuanya baik-baik aja, kamu nggak usah khawatir" ucap Arsya lembut.
"beneran nggak ada apa-apa? " tanya Raisa menyakinkan
" iya sayang" ucap Arsya penuh menyakinkan Raisa.
" bang kalo semisalnya Abang ada masalah atau apalah, Abang jangan sungkan buat cerita sama Raisa, jangan sampai ada rahasia-rahasiaan diantara kita, kita harus saling terbuka satu sama lain, harus saling percaya satu sama lain, ingat Raisa ini sekarang udah jadi istri abang, jadi Raisa berhak mengetahui apa yang membuat Abang menjadi tidak nyaman, Raisa pun In Sha Allah akan selalu ada buat abang, tapi kalau memang Abang nggak mau cerita sama Raisa ya nggak apa-apa, mungkin itu merupakan privasi Abang yang orang lain nggak boleh tau," ucap Raisa sembari mengelus lembut pipi Arsya, Arsya pun hanya tersenyum tipis menanggapi Raisa.
"Abang nggak apa-apa kok dek, mungkin akhir-akhir ini Abang kurang piknik kali ya soalnya kan sibuk terus makanya jadi kusut dan kelihatan frustasi kayak gini" elak Arsya dengan senyum tipis di bibirnya.
" yaudah sekarang Abang istirahat aja dulu kan dari tadi pagi sewaktu Abang sampai belum sempat istirahat kan?" perintah Raisa lembut, Arsya pun mengangguk patuh dan merebahkan kembali tubuhnya menutup matanya.
Raisa yang melihat Arsya yang mulai terlelap pun tersenyum tipis, dan mengelus lembut rambut Arsya.
"Abang nggak bisa bohong sama Raisa, Raisa tau pasti Abang lagi ada masalah kan, cuma Abang aja yang nggak mau ngasih tau Raisa, pasti Abang takut Raisa menjadi khawatir kan bang?" lirih Raisa
Setelah memastikan bahwa Arsya benar-benar sudah terlelap Raisa pun melangkahkan kaki keluar kamar, dan berjalan menuju ruang keluarga.
Setibanya disana Raisa melihat nek Uti, mama Maya, papa Andre, dan Rania, yang sedang berbincang ria, Raisa pun berjalan mendekat kearah mereka dan ikut berkumpul disana.
"wahh kayaknya seru banget ni pada ngobrolin apa sih" ucap Raisa dengan senyuman manis setelah tiba mendudukkan bokong nya disamping nek Uti.
"eh Raisa sayang, kamu kok sendirian Arsya mana?" tanya nek Uti
" ada dikamar nek lagi istirahat, katanya capek" jawab Raisa.
"kak Ran, kak Reno mana?" tanya Raisa yang tidak melihat keberadaan Reno disana.
"kerumah sakit, katanya ada panggilan darurat harus menangani korban kecelakaan barusan aja perginya" jawab Rania, Raisa pun hanya ber Oh rai saja.
"kalian udah pada makan belum?" tanya mama Maya
" udah Tan pas kita jalan-jalan tadi kita mampir dulu ke restoran"
"oh syukur lah untung mama tadi masaknya cuma dikit, jadi nggak mubadzir deh" cengenges Mama Maya.
" sejak kapan mama jadi pelit soal masak? kan biasanya selalu masak banyak walaupun udah makan diluar" bingung papa Andre
"iiiss papa ini mama kan nggak pernah pelit kalo soal masak memasak, mama itu cuma masak sedikit karna mama punya feeling kalo mereka berempat pasti makan diluar, dari pada mama masak banyak nggak ada yang makan terus dibuangkan mubadzir pa, sayang Lo beli semuanya kan pake uang" jelas Mama Maya
"tumben mama punya pemikiran yang jernih kaya gitu" cibir papa Andre, Mama Maya pun langsung menatapnya tajam.
" jadi maksud papa selama ini mama nggak pernah berpikiran jernih gitu" kesal mama Maya
"ya nggak gitu juga sih" lirih papa Andre menggaruk kepala yang tidak gatal karena merasa serba salah.
Raisa, nek Uti, dan Rania pun hanya tersenyum melihat perdebatan diantara pasutri paruh baya tersebut.
"udah ahh, kalian ini udah pada tua masih aja berdebat kayak bocah, nggak malu sama umur apa" sela nek Uti menyudahi perdebatan antara anak dan menantunya itu, mama Maya dan papa Andre pun terdiam dan menunduk kesal.
"sayang" rengek Arsya manja yang tiba-tiba muncul di belakang mereka berlima, sontak mereka berlima pun menoleh kebelakang, dan menatap Arsya yang baru bangun tidur.
"Sayang kamu kok tega banget ninggalin Abang tidur sendirian?" rengek Arsya manja setelah mendudukkan tubuhnya di samping Raisa.
"lah kan Abang nngak bilang kalo minta ditemenin?" tanya Riasa balik.
"harusnya kan kamu itu tau walaupun aku nggak bilang, jangan main tinggal aja" manja Arsya memeluk erat Raisa.
" Ck, manja banget kamu sya, udah tua juga tidur masih minta ditemenin minta dijagain emangnya kamu bocah apa?" Cibir Rania gemes sekaligus kesal melihat tingkah manja adik sepupunya itu.
"aku nggak ngomong sama kakak ya" ucap Arsya kesal.
"terserah kakak dong kan kakak juga punya mulut, lagian nggak ada yang larang juga kok" kesal Rania.
"haiss, bilang aja iri" kesal Arsya tersenyum sinis
" ck, iri sama kamu kayak nggak ada kerjaan aja sya, lagian kamu itu udah gede sya sifat manja mu itu ya dikurangi dikit napa?" ucap Rania.
"aku kan cuma manjanya dari sama Raisa, emangnya salah?" tanya Arsya sok polos
"nggak ada yang salah, tapi bisa nggak kamu ini merubah sifat manja kamu itu" jelas mama Maya dengan lembut.
" iya nih sya, kamu udah nikah bukannya lebih mandiri eh malah tambah manja" cibir papa Andre.
" bener banget tuh om, plus nya lagi tambah bucin ni anak" ledek Rania tertawa puas.
Arsya pun hanya berengut kesal menatap Rania tajam, Rania yang ditatap tajam pun hanya acuh saja.