follow yuk ig : @riana.kristina
Sekuel "Di Antara Dua Hati"
Jangan lupa siapkan tissu🤧
Plakkk!!
Sebuah kisah yang berawal dari ciuman yang tidak terduga. Mengharuskan gadis bernama Cinta Yasmila Pratama melayangkan tamparan keras ke wajah tampan seorang Adipati Rangga Wijaya.
Pemuda yang selama ini menganggap para gadis hanyalah boneka barbie.
Hingga pada akhirnya mereka saling jatuh cinta, Rangga harus dihadapkan pada kenyataan pahit lantaran Cinta adalah adiknya sendiri.
"Apapun yang terjadi di antara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai."
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Apakah hubungan keduanya harus kandas lantaran adanya hubungan darah?
Penasaran? Ikutin kisahnya ya di,,
"Bukan Salah Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Cinta sedang duduk di sebuah kafe. Dia menyedot minumannya sembari sesekali menengok ke pintu masuk, berharap orang yang ditunggunya muncul di sana. Sudah 20 menit dia duduk di sana tapi, orang yang ditunggunya belum juga nampak batang hidungnya. Dia sudah mulai bosan. Kemudian meraih ponselnya, berniat bermain game.
"Apa kamu sudah lama menunggu?" suara seseorang menginterupsinya.
Cinta menengok, dan melihat Laura sudah duduk di hadapannya. Seketika dia menghentikan permainan gamenya, dan menaruh ponselnya kembali ke dalam tas ranselnya.
"Ee..Ibu Laura sudah datang. Lumayan Bu, dua puluh menitan."
"Sorry, macet di jalan," jawab Laura dengan angkuhnya.
"Iya, enggak apa - apa, Bu." Cinta tersenyum tulus. "Oya, Ibu mau pesan minum apa?" tawar Cinta.
"Ehem, tidak usah. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar."
"Ibu ingin bicara apa sama Cinta?" Cinta menatap Laura.
Laura menghela nafas berat, "Sejujurnya, aku benci mengatakan ini, karena aku tidak menyukai ibumu." Dia terdiam sebentar untuk mengatur nafas, "tapi, aku harus melakukan ini, demi putraku."
Cinta masih menatap Laura tanpa menjawab apapun.
"Cinta, apa kamu benar - benar mencintai putraku?" Laura menatap lekat ke bola mata Cinta. "Apa kamu masih mencintai putraku sampai saat ini?"
Mata Cinta membola, "Maksud ibu, kak Adipati?" tanyanya ragu.
"Iya, Memangnya siapa lagi? Ben? Dia masih anak-anak!" sungut Laura.
Cinta memalingkan wajahnya, lalu menunduk.
"Tidak mungkin, Bu. Kami adalah saudara. Kak Adipati sekarang adalah kakakku. Di tubuh kami mengalir darah yang sama sekarang," lirihnya. Cinta mengigigit bibir bawahnya. Dadanya tiba - tiba terasa sesak. Matanya mulai berkaca - kaca.
"Ck," Laura menyunggingkan sudut bibirnya. Dia menyilangkan tangannya di depan dada, "Bagaimana jika kalian sebenarnya bukan saudara?"
Cinta mengangkat wajahnya, "Maksud Ibu?"
...****************...
Ceklekkk!
"Cinta?" Ada raut kaget di wajah pria yang membuka pintu untuk Cinta.
"Hai Kak," Cinta tersenyum dan melambaikan tangannya saat Rangga membuka pintu apartemennya.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Rangga heran.
Suara berat Rangga membuat rasa rindunya semakin menyeruak dalam hatinya.
"Kamu tidak menyuruhku masuk dulu, Kak?"
Rangga menghela nafas, "Hm, masuklah!"
"Makasih," Cinta masuk dan mulai mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, sedangkan Rangga menutup pintu.
"Duduklah!" Rangga berjalan menuju lemari es yang terletak di dekat dapur.
Cinta duduk di sofa sembari memperhatikan pria itu. Andai saja dia punya keberanian lebih, dia akan langsung memeluk pria itu saat pintu dibuka.
"Minumlah!" Rangga menyerahkan minuman kaleng kepada Cinta lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan Cinta.
"Terima kasih, Kak!" Cinta membuka tutupnya lalu meneguknya sedikit. Dia melirik pria di depannya yang juga sedang meneguk minumannya. Hatinya terenyuh melihat penampilan pria itu. Dia sungguh ingin menangis tapi, sekuat tenaga dia berusaha menahannya sekarang.
"Kamu kurusan Kak," Cinta menatapnya.
"Iyakah? Aku sibuk kuliah jadi kadang enggak sempat makan." Rangga meliriknya sekilas. "Sekarang katakan, ini sudah malam, kenapa kamu bisa kemari dan tau apartemenku di sini?"
"Kenapa wajahmu jadi seram begitu, Kak?" Cinta mengabaikan pertanyaan Rangga, dan fokus menatap Rangga yang rambutnya kembali gondrong dan wajah yang dibiarkan ditumbuhi kumis dan jambang.
"Gadis - gadis di sini menyukai pria yang berpenampilan begini," jawab Rangga tak acuh.
"Benarkah?" Cinta menopang dagunya.
"Hm,"
"Ck, selera mereka aneh," cibir Cinta, "apa termasuk wanitamu juga begitu?" selidiknya.
Rangga nampak tertegun sebentar, "Tentu!" jawabnya singkat, "sekarang jawab, kenapa kamu bisa ke sini? Bukannya minggu depan acara pertunanganmu, harusnya kamu mempersiapkan dirimu di rumah." Rangga meneguk minumannya kembali.
"Apa Kakak tidak akan datang ke hari pertunanganku?."
Rangga mengerutkan dahinya, "Aku sudah bilang sama ayah dan ibu, aku tidak bisa datang di hari pertunanganmu. Aku jadwal ujian pas itu."
"Iya, ibu sudah memberitauku," jawab Cinta lesu.
"Hm, ini sudah malam." Rangga melihat alroji di tangannya. "Sebaiknya kamu tidur." Dia menuntun Cinta menuju kamar lainnya yang ada di apartemennya.
"Aku tidur di sini?" Cinta memperhatikan ruangan yang didominasi warna putih bersih itu. Dia mendekati ranjang, lalu melepas tas ranselnya dan menaruhnya di atas nakas yang terletak di sebelah ranjang.
"Iya tidurlah, besok pagi aku akan mengantarmu ke bandara." Rangga memutar tubuhnya dan bersiap meninggalkan kamar itu.
"Kakak mau tidur?" Suara Cinta menghentikan langkahnya.
"Hm,"
"Kakak tidur di mana?" Cinta sudah berjalan mendekati Rangga.
"Tentu saja di kamarku!" Rangga menjawab tanpa menengok ke arah Cinta. Dia sudah meraih gagang pintu saat Cinta memeluknya dari belakang. Rangga tersentak, lalu menunduk melihat tangan Cinta yang melingkar di pinggangnya.
"Kumohon jangan pergi, Kak!" Cinta membenamkan wajahnya di punggung Rangga. Dihirupnya aroma tubuh pria itu sebanyak - banyaknya. Sungguh dia sangat merindukannya.
...****************...
"Cinta lepaskan!" Rangga berusaha melepaskan tangan Cinta yang masih melingkar di pinggangnya.
Cinta menggeleng, "Tidak Kak, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Sudah cukup dua tahun kamu meninggalkanku." Cinta mulai terisak.
Rangga tertegun, "Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu, Kak! Aku masih sangat mencintaimu!"
"Cinta jangan seperti ini, kamu membuat keyakinanku kembali goyah." Rangga menangkup keningnya.
"Kenapa kamu membohongiku?"
"Bohong?"
"Kamu tidak kuliah kan di sini, kamu tidak punya kekasih kan?!" Cinta semakin terisak.
"Bagaimana kamu bisa berbicara begitu?" Rangga menautkan kedua alisnya. Dia heran kenapa Cinta bisa mengetahui kebenaran tentang dirinya selama dua tahun ini. Bukankah ayah dan ibunya sudah berjanji untuk merahasiakan ini dari Cinta sampai gadis itu menemukan pilihan hatinya, dan Rangga akan baru kembali setelahnya.
"Aku sudah mengetahui semuanya Kak, kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu sia - siakan masa depanmu demi aku?"
Rangga terdiam sejenak lalu menghela nafas berat, "Karena aku sangat mencintaimu!" lirihnya, "kita tidak akan bisa saling melepaskan jika kita tetap tinggal bersama. Namun, kita juga tidak akan pernah bisa bersatu meski tetap tinggal bersama." Rangga menyusut sudut matanya.
"Aku tidak mau masa depanmu hancur dan terbuang sia - sia karena aku. Karena itu aku mengambil jalan ini," ucapnya tegas, "Stevan adalah pria yang baik. Dia pria yang tepat untu... ."
"Aku tidak menginginkan kak Stevan. Aku menginginkanmu!" Cinta melonggarkan pelukannya.
Rangga memutar tubuhnya, ditatapnya wajah Cinta yang kini sudah dibanjiri air mata.
"Kamu pria yang aku inginkan, Kak!" Cinta menatap lekat ke bola mata Rangga.
"Apa yang kamu katakan Cinta?!" Rangga menangkup kedua pipinya. Di pandangnya lekat mata hazel milik Cinta mencoba mencari kebenaran di sana.
"Ibu Laura sudah menceritakan semuanya padaku, Kak." Cinta sesegukan. "Kamu bukan darah daging ayah."
Rangga mengerutkan dahinya.
"Kamu bukan anak ayah. Kamu anak paman Jonathan."
"...... "
"Kita tidak sedarah Kak, kamu bukan kakakku, dan aku bukan adikmu!"
"Omong kosong macam apa ini!"
bersambung.....
jangan lupa dukung Cinta sama Rangga terus ya😁
thor tolong y sembunyikan cinta sampai dia melahirkan dan bikin rangga prustasi berat