Kehidupan Alex anak seorang pengusaha ternama dan tekemuka yang hidup bebas dan tidak terarah.
Kehidupan Filece, yang merubah nama nya sendiri menjadi Zahra setelah menghadapi gelombang hidup di tengah keluarganya.
akan kah Alex dan Zahra bisa hidup bersama dengan bahagia atau malah sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ima alyanadira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-30
Zahra hampir tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya, ia sungguh tidak menyangka selama ini Luna yang di anggap nya sahabat karib, bahkan lebih dari itu. Karena mereka berempat selalu bersama-sama bagaikan persahabatan kepompong. Kini ia mendengar alasan penyebab retaknya persahabatan mereka, bahkan Luna sangat membencinya dan mencoba merampas apa yang menjadi kebahagiaan nya.
"Hah, apa ini?, Mengapa aku baru menyadari betapa buruk nya hatimu?, Selama ini aku selalu menganggapmu sahabat baikku, bahkan aku menganggapmu sebagai saudaraku sendiri, aku sungguh menyayangimu, lalu apa balasanmu? Kau menjadi penyebab hancurnya rumah tangga orang tua ku"
"Hahahaha, kau terlambat menyadari semuanya Felic, sekarang aku sudah puas, tapi mungkin belum" jawab nya bahagia.
"Dasar psikopat"
"Zahra apa yang kamu katakan?, Dia ibumu Zahra" ucap Denish yang tiba-tiba muncul sedang menggendong Hafidz.
"Mas, sudahlah mas, biarkan saja, mungkin dia belum bisa menerima aku sebagai ibunya, maklumlah ibu tiri memang beginilah nasibnya" Luna memasang wajah iba
Luna berlari kedalam kamar pura-pura menangis.
"Pa, bukan aku pa, dia yang mulai duluan" bela Zahra kepada dirinya
"Papa tau dia sahabatmu, tapi sekarang dia ibumu" kesal Denish lalu mengejar Luna ke kamar masih dengan menggendong Hafidz.
________
Sampai di depan lobi kantor sudah ada Feliysa disana, menunggunya dengan tersenyum.
Dengan cepat ia menyambut kedatangan Alex dan bergelayut manja di lengan kekar Alex.
"Feliysa jaga sikap kamu, ini di kantor" pinta Alex sambil melihat kepada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
Mereka berbisik-bisik tetangga satu sama lain melihat bos yang sudah beristri bermesraan di kantor dengan sekretaris pribadi nya.
"Iya, saya lupa, mari " ajak Feliysa menekan tombol lift.
Ting pintu lift terbuka disana ada sepasang mata terpaku yang menatap mereka dengan heran.
"Apa kalian masih bersama, bukannya kamu sudah beristri" tanyanya menyambut pemandangan yang membuatnya terkejut.
"Bian sedang apa kamu di kantorku" tanya Alex yang lebih terkejut dengan kehadiran Bian di kantornya.
"Oh, ini kantormu? aku tidak tau" jawabnya menyamakan langkahnya dengan Alex dan Feliysa.
"Alex kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, mengapa kalian masih bersama" tanya Bian lagi.
"Kebiasaan buruk, suka kepo dengan urusan orang" jawab Feliysa
Akhirnya Alex mengajak Bian duduk di atas sofa di ruangan kebesaran nya.
"Aku tidak bertanya denganmu, tapi aku bertanya dengan Alex?" Sergah Bian Kepada Feliysa.
Alex menatap Feliysa," Feliysa bisakah kau ambilkan dua cangkir kopi untuk kami" pinta Alex
Dengan cemberut Feliysa meninggalkan mereka berdua dan pergi ke dapur kantor.
"Feliysa sedang hamil anakku" ucap Alex pada Bian
"What!!!, Oh tidak, kamu sudah gila Alex, bukankah kamu sangat membenci Feliysa karena dia sudah menghianati mu?" Jawab Bian terkejut dengan ucapan Alex barusan.
"Awalnya aku membencinya, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kalau aku masih sangat mencintainya" lirih Alex mengatup kedua tangan di mukanya. Kepalanya disandarkan di badan sofa.
"Lalu bagaimana dengan istrimu?" Antusias Bian.
"Sama, aku juga cinta sama dia"
"Gila kamu Lex, kamu bermain api, kalau kamu terbakar baru tahu rasa"
"Itulah yang sedang aku pikirkan sekarang, aku bingung"
"Jadi siapa yang akan kau pilih?"
"Aku tidak bisa memilih di antara mereka berdua, karena aku mencintai mereka berdua"
"Tamatlah riwayat kau Lex, kamu pikir hidup dengan dua istri itu menyenangkan"
"Ya enak lah, puas sama yang atu, pulang tempat yang atu nya hahahaha" tawa Alex menggema
"Asal ngak botak aja kepala kau " ejek Bian membalas tawa Alex
"Kenapa kau bisa ke kantorku?" Tanya Alex mengalihkan pembicaraan.
"Aku mewakili ayahku, untuk membahas kerja sama dengan perusahaan mu" jawab Bian
"Jadi kau sekarang bekerja di perusahaan ayahmu? Bagaimana dengan kabar anak-anak?"
Tiba-tiba Feliysa datang dengan seorang office girl membawa troli dengan tiga cangkir kopi di atas nya.
"Taruh disini" perintah Feliysa kepada nya
Lalu Feliysa duduk di samping Alex.
"Hai Bian apa kabarmu?" Tanya Feliysa kepada Bian
"Baik"
"Bian bagaimana dengan kabar anak-anak yang lain?" Ulang Alex bertanya.
"Mereka kecewa dengan kamu Lex, kata mereka semenjak kamu menikah dengan adik Galih kamu berubah"
"Hah!!, Maksud kamu Zahra itu adiknya Galih?" Tanya Feliysa terkejut
"Kenapa?, Apa kamu masih mencintainya?" Tanya Alex cemburu juga marah
"Ah, tentu saja tidak, aku mencintaimu Alex" ucap Feliysa bergelayut manja
"Woiiii hargai aku kenapa?, Jiwa jombloku meronta, tega kamu Lex, embat semua cewek, bagi atu napa?" Keluh Bian gregetan
"Makanya kamu cepat nikah biar kayak aku" sombong Alex
"Tapi Bi, apa kamu masih ikut nongkrong sama mereka?" Tanya Alex sambil menyeruput kopinya.
"Masih dong, walaupun aku di paksa sama papa ku untuk mengurus bisnisnya, aku tetap nongkrong sama mereka, bukan kayak kamu langsung undurkan diri"
"Aku malas sama Rey, dia ga menyukai Zahra"
"Sayang jangan hanya karena Zahra, kamu bertengkar dengan teman-temanmu" ucap Feliysa manja.
_________
Suara adzan di ponsel Zahra berbunyi, menandakan waktu sholat 'asar telah masuk.
Zahra langsung berwudlu dan menunaikan kewajibannya.
Selepas melaksanakan sholat 'asar
Zahra ingin berbelanja ke supermarket.
Zahra pergi ke supermarket dengan diantar oleh supir pribadi papanya.
"Reva, tolong gendong Hafidz ya" pinta Zahra kepada baby sister Hafidz
"Baik mbak" Reva menggendong Hafidz
Zahra berkeliling dengan mendorong troli belanja, memasukkan satu persatu barang belanjaan nya hingga seseorang menabraknya
Brruuuks
"Up maaf" ucap Zahra dan menoleh kebelakang.
"Miko" ucap Zahra tercekat tetapi masih bisa didengar oleh orang yang kini berada di depannya.
"Iya saya miko, dari mana kamu tau nama ku?" Heran pemuda di hadapan Zahra, namanya Miko.
Zahra mengalihkan pandangannya dan mendorong troli buru-buru, diikuti Reva yang sedang menggendong Hafidz di belakangnya.
Miko pun terheran dengan wanita bercadar yang secara tidak sadar mengucapkan namanya itu, seingatnya ia tidak mempunyai teman ataupun keluarga yang bercadar. Dengan rasa penasarannya yang kuat, ia mengikuti Zahra yang sedang di meja kasir.
"Mbak, Mbak kok tau nama saya?" Tanya Miko
"Oh, nama nya miko ya, saya hanya asalan saja" jawab Zahra grogi melihat ke arah miko.
"Tunggu deh, seperti nya aku kenal suara ini" ucap Miko sedang mengingat seseorang.
"Makasih ya Mbak" ucap Zahra mengambil uang kembalian dan belanjaannya, lalu bergegas keluar.
"Mungkin aku salah orang tidak mungkin itu Felice" gumam Miko menatap punggung Zahra yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Pak jalan pak" ucap Zahra terlihat panik, Reva yang melihatnya pun merasa keheranan, tapi dia tidak ingin mengetahui lebih lanjut tentang urusan pribadi majikannya itu.