NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lea

WARNING!!! BIJAKLAH MEMBACA!!! NOVEL DEWASA!!! JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA .

Laura Elsabeth Queen tidak menduga ia akan bertemu kembali dengan Zafran Volkofrich mantan kekasihnya, di acara ulang tahun teman sekelas mereka, 10 tahun yang lalu mereka berpisah dengan tidak damai, orang tua Laura menentang keras hubungan mereka karena Zafran pria miskin. Zafran masih sakit hati pada Laura dan ingin membalas dendam.

Di sisi lain Laura mengetahui rahasia kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, dan kini beban berat berada di pundak Laura.

Sedangkan Zafran pria miskin itu kini telah berubah menjadi penguasa dunia bisnis.

Bagaimana kisahnya yuk baca kelanjutannya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 31

Zafran terus mencari ke mana Luwis membawa Laura, hingga ia mengelilingi hampir setiap dek kapal pesiar itu.

Akhirnya, langkahnya terhenti.

Di geladak kapal, ia melihat mereka berdiri berdampingan. Laura memegang pagar besi, rambut panjangnya tergerai dan menari tertiup angin malam yang dingin. Pemandangan itu menusuk mata Zafran. Nalurinya mendorongnya untuk maju—memberikan jasnya pada Laura—namun langkah itu terhenti ketika Luwis lebih dulu melakukannya.

Luwis menyampirkan jasnya ke bahu Laura dengan gerakan lembut.

Zafran membeku di tempatnya, hanya bisa mengamati dari kejauhan.

"Sial, aku terlihat seperti pencundang!"

Kata Zafran dalam hati dan mengepalkan tangannya.

"Aku punya sesuatu untukmu."

Luwis mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas nya.

Laura terkejut saat Luwis dengan hati-hati memasangkan sebuah gelang mungil dan cantik di pergelangan tangannya.

"Apa ini Luwis?"

Tanya Laura terkejut.

"Sebelum terbang ke sini memakai helikopter, aku sempat membeli gelang itu, setelah pulang dari sini aku berniat ingin menemuimu."

"Sebenarnya aku selalu memikirkanmu, apalagi kita bertemu kembali di acara reuni sekolah, dan setelah saat itu aku terus memikirkanmu. Tapi ternyata kita justru bertemu di sini."

Luwis tertawa pelan, lalu menyandarkan punggung bawahnya pada pagar besi. Laura tetap memegang pagar, menatap gelapnya laut di bawah sana, sementara Luwis tak mengalihkan pandangannya dari wajah Laura yang tampak pucat diterpa angin malam.

"Terima kasih Luwis, tapi aku harus kembali, aku takut Zafran membutuhkan sesuatu dan aku tidak ada di sana."

Kata Laura.

"Berikan ponselmu."

Kata Luwis.

"Untuk apa?"

Tanya Laura.

"Berikan saja."

Laura kemudian memberikan ponselnya pada Luwis dan terlihat Luwis mengetik beberapa nomor dan menyimpannya, kemudian melakukan panggilan ternyata itu panggilan ke ponselnya sendiri.

"Aku sudah menyimpan nomorku, dan aku akan menyimpan nomor ponselmu, hubungi aku jika ada sesuatu."

Kata Luwis.

Laura hanya tersenyum dan menyimpan ponselnya kembali.

"Terimakasih untuk gelangnya."

Kemudian Laura pergi meninggalkan Luwis namun tiba-tiba Luwis menahan lengan Laura.

"Jaga diri baik-baik. Kau harus janji hubungi aku jika terjadi sesuatu."

Luwis meyakinkan Laura, dan pria itu terlihat cemas, sedangkan gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Laura menatapnya sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk pelan sebagai tanda mengerti.

Sebelumnya Zafran sudah lebih dulu pergi saat Laura berpamitan pada Luwis dan pria itu pergi menuju kamarnya.

Pria itu kembali ke kamarnya dan berdiri di balkon, meneguk alkoholnya dengan perasaan yang kian bergolak. Dadanya terasa sesak, amarah dan kecemburuan bercampur tanpa arah.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu—tanda Laura telah kembali ke kamarnya.

Perasaan kesal di dada Zafran kian mengental. Ia melangkah menuju pintu penghubung yang menghubungkan kamar mereka, lalu membukanya tanpa ragu.

Laura terkejut, ia menoleh dengan cepat siapa yang masuk ke dalam kamarnya, karena Laura sedang berusaha membuka resleting gaunnya, terlihat gadis itu menyibakkan rambut ke sisi bahu kirinya memperlihatkan leher jenjang yang putih dan mulus.

"Bisakah kau mengetuk dulu sebelum membuka pintu!"

Kata Laura.

"Ku pikir Zafran belum kembali dan masih bersenang-senang dengan wanita itu." Ujar nya dalam hati.

"Kenapa harus sekaget itu." Kata Zafran tenang.

"Kau masuk ketika aku ingin mengganti pakaianku, ku pikir kau masih bersama pacarmu." Kata Laura memprotes.

"Dia bukan pacarku." Kata Zafran masih dengan suara datar.

"Oh ya aku lupa, dia tunanganmu."Kata Laura lagi.

"Kau hobi sekali mengarang dan memancing amarah orang." Bantah Zafran

Melihat cara Zafran memandangi lehernya, Laura dengan cepat membenarkan rambutnya, ia mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian.

Namun, sebelum Laura sempat melangkah menjauh, Zafran dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya. Tatapan pria itu langsung tertuju pada gelang kecil yang melingkar di tangan Laura. Dengan gerakan kasar, ia mengibaskan tangan Laura hingga gadis itu terhuyung setapak.

“Lepaskan gelang itu." Perintah Zafran dingin.

“Kenapa?” tanya Laura ketus, menahan perih di pergelangan tangannya.

“Aku tidak suka. Mataku sakit melihat barang murahan,” balas Zafran tanpa ragu.

“Nanti akan kulepas,” jawab Laura sambil memalingkan wajah.

“Sekarang keluarlah. Aku ingin mandi dan berganti pakaian.”

“Jangan menyulut kemarahanku,” suara Zafran meninggi. “Lepaskan sekarang juga!”

“Kenapa denganmu?!” bentak Laura akhirnya.

“Sebentar kau baik, sebentar lagi kau marah! Sebentar kau suruh aku begini, sebentar lagi begitu! Aku lelah, Zafran!”

“Kenapa kau selalu memaksaku mengulang kata-kataku?” suara Zafran mengeras, penuh ancaman.

“Lepaskan gelang itu, atau aku yang akan menariknya!”

Dengan tangan gemetar menahan amarah dan luka, Laura melepas gelang itu lalu meletakkannya di atas meja. Tangannya membentur permukaan kayu keras hingga terdengar bunyi nyaring.

“Apa kau puas?!” dengus Laura kesal.

Zafran langsung mengambil gelang itu.

“Apa yang kau lakukan?!” Laura terkejut dan spontan menahan lengan kekar Zafran. “Kenapa kau mengambilnya, Zafran?!”

“Kau berani menatapku seperti itu?” Zafran mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Laura. Tatapannya tajam, menusuk.

“Berani menantangku?” Kedua bola mata Zafran menatap dingin Laura.

“Kau tidak berhak mengatur hidupku dan privasiku!” balas Laura tak kalah garang. “Kembalikan gelang itu!”

Namun Zafran mengabaikannya. Ia berbalik dan melangkah maju menuju balkon, membuka pintu kaca dengan kasar. Tangannya terangkat, siap melemparkan gelang itu ke laut.

Saat itu juga Laura memeluk tubuh Zafran dari belakang.

Tubuh pria itu menegang. Dadanya naik turun, napasnya berat, amarahnya berdesakan dengan sesuatu yang tak ia pahami sendiri.

“Aku mohon… jangan membuangnya,” ucap Laura lirih, suaranya bergetar.

“Sepenting itu kah barang ini?” Zafran berhenti, suaranya dingin namun bergetar.

“Sampai kau berani memohon hanya demi gelang murahan ini?”

Laura terdiam. Pelukannya mengencang, namun bibirnya tak mengeluarkan jawaban.

“Tatap aku,” perintah Zafran pelan, tapi mengandung tekanan yang menyesakkan.

Laura hanya diam tak menjawab pertanyaan Zafran.

"Tatap aku." Zafran menarik tubuh Laura dengan satu tangannya mendekatkan tubuh gadis itu pada tubuh kekarnya, pria itu memeluk Laura dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memegang gelang itu.

"Aku tidak tahu itu penting atau tidak, tapi yang ku tahu aku hanya tidak ingin kau membuangnya, jika kau tidak suka aku akan mengembalikannya." Kata Laura tertunduk.

"Kau akan mengembalikannya?" Tanya Zafran.

"Ya aku janji akan mengembalikannya, jangan membuangnya."

"Besok kita kembalikan bersama, aku ingin melihat siapa orang yang telah memberikan gelang murahan ini padamu." Kata Zafran berbohong seolah ia tidak tahu siapa yang memberikan gelang tersebut, kemudian Zafran memeluk tubuh Laura, seakan ia tidak ingin kehilangan gadis itu.

"Bisakah kau melepaskanku juga." Kata Laura.

"Kenapa kau selalu meminta sesuatu yang tidak ku sukai. Kau sangat membuatku kesal, dan aku ingin sekali menghukummu." Kata Zafran kesal, pria itu sedang ingin memeluk Laura untuk menenangkan diri dan meredam amarahnya namun gadis itu justru ingin berniat pergi darinya.

"Menghukumku?" Laura tak mengerti.

Dengan cepat Zafran mencium bibir Laura, membuat gadis itu yang tidak memiliki pertahanan diri sama sekali terkejut dan membelalakkan matanya, Laura berusaha melepaskan diri namun sia-sia, Zafran justru semakin dalam dan rakus mencium Laura.

Zafran menuntun Laura untuk berjalan mundur ke arah ranjang, Laura dengan sekuat tenaga menahan namun kekuatan Zafran jauh lebih besar.

"Aku mohon jangan lakukan sesuatu yang akan membuatku membencimu seumur hidupku Zafran." Kata Laura dalam hatinya, gadis itu tidak dapat berbicara dan tidak dapat berontak.

Zafran terus mencium Laura, dan masih mendorong tubuh Laura untuk mengikutinya.

Zafran menjatuhkan dirinya tepat di atas Laura, dan masih mencium gadis itu.

"Aku mohon jangan lakukan Zafran." Kata Laura dalam hatinya, gadis itu masih berusaha memberontak hingga tenaganya mulai melemah.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu." Laura meneteskan air matanya.

Zafran masih membungkam mulut Laura dengan ciumannya, tangannya mulai meraih gaun Laura dan mencoba membukanya.

Laura memberontak di sisa-sisa tenaga terakhirnya.

Bersambung~

1
evanindia
baca ulang lagiii
Novita Sari
Luar biasa
Novita Sari
Lumayan
Yon Taek
Biasa
Bastian Sipahutar
luar biasa keren/Drool/
SariRani
Terbaik author 👍🏻👍🏻semangaaat, maaf baru baca karyamu ini di 2025, keren
Ririn Nursisminingsih
laura juga kbanyakan tingkaj udah tau suaminya cemburuan
Siti Sa'diah
🪭
Noni Diani
Luar biasa
Eka Sri lestari
baru kali ini aku baca novel nangis sesenggukan😭 paling ga bisa klo udh nyangkut org tua,
Alifah Azzahra💙💙
Mampir Thor 🥰🥰
Arini Zain
mampir thor
Rita Murwanti
satu sisi di cintai secara ugal* an satu sisi ada penderitaan ortu untuk kebahagian anaknya
juwita
mampir
Sandisalbiah
intinya suka dgn hasil imajinasimu thor.. sangat puas dan terhibur.. dan abaikan koment yg gak penting.. semangat...
Sandisalbiah
myngkinkah Dex jatuh hati pd Laura...?
Sandisalbiah
lagian di mension Zafran kan banyak penjaga dan oelayan.. jelas² merwka tau Geby sangat berbahaya tp kok begitu mudah Geby bisa masuk slm mension..? apa pengawal mension ada yg berhianat juga?
Sandisalbiah
jila Luwis bukan penghianat jd siapa... Edward juga tdk.. apakah Kate...
Sandisalbiah
leuwis bekerja sama dgn Geby.. dan saat ini leuwis memanfaatkan amneaia Laura buat mendoktrin ingatanya.. dan Geby.. apa yg dia dapat setelah ini.. zonk..
Sandisalbiah
leuwis...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!