Terusan novel Muslimah Itu Milik Seorang Mafia.
jika ada yang bingung, silahkan mampir di novel Gabriel terlebih dahulu🥰
Cerita ini hanyalah fiksi, tak ada unsur dunia nyata. ini hanyalah sebuah karangan saja.
Dilarang Spam promosi!!!
Daniel Lahanta Raymond, pria pshycophat yang pernah membunuh bahkan memperkosa, dengan tulus melamar seorang gadis yang berprofesi sebagai koki pribadinya di dapur.
Dengan senyuman manisnya ia mengatakan bahwa ia ingin gadis itu menjadi istrinya.
Hal itu membuat semua pelayan termasuk gadis itu terkejut.
Apakah ini salah satu kegilaan tuan muda nya? Itu yang ada di benak gadis itu.
Ingin menolak namun sorot mata Daniel menunjukkan bahwa Daniel tak suka penolakan. Namun, ia juga tak bisa menerima dengan begitu mudah lamaran mendadak itu mengingat statusnya hanya seorang babu dan juga anak dari seorang wanita pekerja seksual.
Akankah lamaran itu di terima dan gadis itu bisa mengubah kepribadian Daniel yang masih suka menyakiti mahluk di sekitarnya?
Atau malah gadis itu menolak lamaran tulus Daniel sehingga membangunkan monster berdarah yang sudah lama tidur di tubuh Daniel.
Note:
1. Saya tidak menerima segala bentuk plagiat! jika di temukan kasus plagiat, maka saya tidak akan segan membawa ke ranah hukum!.
2. Jika tidak suka. Silahkan tinggalkan tanpa jejak. Jangan berkomentar yang membuat para penulis down!
3Jika suka silahkan dukung penulis dengan like, komen, vote dan juga rate 5.
3. Cover: Google source.
Editing cover: Saya sendiri.
terimakasih
happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Rii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zahra (Flashback)
Saras kini sedang berada di dapur membuatkan susu untuk Zahra. Air matanya tak henti-hentinya jatuh karena kepergian suami tercintanya dan juga tekanan dari keluarga suaminya.
"Ibu, susu." Saras tersenyum manis menatap putri kecilnya yang cantik sama seperti nya. Ia memberikan segelas susu hangat pada Zahra.
"Setelah ini, Zahra pergi tidur yah." Putri kecilnya itu mengangguk sembari masih meminum susu buatan Saras.
Saras berjalan menuju kamarnya mengambil sebuah surat yang di tinggalkan oleh Nonik.
Di sana tertulis surat kontrak untuk menjadi wanita pekerja seksual. Tinggal menunggu tanda tangan dari Saras ataupun Zahra saja.
Ada dua pilihan. Yang pertama, ketika nanti Zahra sudah berusia 12 tahun. Zahra harus segera mendapatkan pendidikan menjadi wanita malam. Dan akan bekerja sampai uang 750 juta terkumpul kan. Tarif yang di berikan untuk Zahra adalah 500 ribu per malam nya.
Yang kedua, jika ingin Zahra aman. Maka Saras lah yang harus menjadi penggantinya. Saras harus mau menjadi wanita pekerja seksual sampai uang 750 juta terkumpul kan. Tarif yang di berikan adalah 150 ribu per malam.
Sungguh biadab!
Saras menangisi nasibnya yang malang. Suaminya baru saja meninggalkan nya, kini ia harus menanggung beban moral dan batin.
"Tak mungkin aku memberikan Zahra pada mereka. Zahra adalah buah hatiku, Zahra adalah kehidupan ku."
"Ya Allah.... Hiks hiks.."
"Ibu," panggil Zahra datang berlari lalu memeluk Saras.
"Adek mau peluk. Boboknya di peluk, yah."
Saras mengangguk lalu meletakkan surat kontrak itu di meja. Ia pun meninabobokan anaknya yang manis. Hanya putrinya lah keluarga dan jantung hidupnya.
*****
Hari sudah berganti malam. Setelah shalat isya, Saras kembali melihat isi surat kontrak. Apa yang harus ia lakukan? Ia melirik ke arah Zahra yang sudah tertidur lelap.
Ia pun mengambil sebuah foto di dalam laci. Foto pernikahan nya dengan suami tercinta.
"Apa yang harus aku lakukan, mas?" Saras tak kuasa menahan tangisnya. Sungguh takdir yang membingungkan.
Tidak ada pilihan lain. Ia ingin mencari kerja, namun keluarga suaminya langsung mengancam bahwa mereka akan mengambil Zahra secara paksa dari Saras. Ia pun dibuat bingung akan situasi seperti ini.
"Kalaupun aku bekerja sebagai pelacur, lalu kapan hutang itu akan terbayar? Tarif nya saja hanya 150 ribu. Sedangkan hutang yang harus di bayar 750 juta."
Saras frustasi. Bahkan semalaman ia tak tidur dan hanya menangis saja. berharap ini cepat berlalu.
Flashback Off
Saras menghela nafas panjang lalu menatap ke depan. Biarlah ini berlalu dengan semestinya. Semuanya sudah ia terima, masalah kebahagiaan anaknya. Ia pasti bisa mendapatkan rezeki yang halal nantinya.
Kembali pada Zahra yang kini sudah berada di dapur dan sedang makan. Ia makan dengan tidak lahap karena memikirkan ibunya dan juga pekerjaannya.
Beragam hinaan dan juga perlakuan kasar serta pelecehan sudah ia terima. Bagaikan garam yang sudah ia telan bulat-bulat, semuanya sudah biasa ia hadapi.
"Aku harus mencari kerja yang gajinya mahal. Aku berjanji, kalau nanti aku sudah punya uang. Aku akan membuat ibu berhenti dari pekerjaan itu. Aku berjanji."
Yah, Zahra bahkan belum tahu apa alasan ibunya menjadi wanita panggilan. Yang ia tahu, ibunya sangat suka uang dan juga kemewahan. Itulah mengapa ibunya mencari pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, namun haram.
Zahra tak membenci ibunya, Zahra bahkan sangat menyayangi wanita yang sudah melahirkan nya itu. Meski ibunya seperti itu, ia tak menaruh rasa jijik pada ibunya.
Setelah selesai makan, Zahra kembali ke kamar. Ia ingin beristirahat, perutnya terasa keram karena memang ia sedang haid.
"Besok aku akan mencari pekerjaan. Ya Allah, bantulah hamba. Kuatkan lah hamba. Bukakanlah pintu rezeki kami. Aamiin."
*
*
*
*
*
Malam sudah berganti menjadi pagi. Setelah membersihkan diri dan membuat sarapan, Zahra kini tengah duduk di meja makan menunggu ibunya.
"Selamat pagi sayang," sapa Saras berjalan mendekati putrinya.
"Pagi ibu. Ayo kita makan," ucap Zahra mengecup pipi ibu tercinta.
Tampak guratan lelah di wajah Saras. Zahra hanya bisa menatap sendu ibu nya, bahkan ada luka lembam di sekitar pipi ibunya.
"Ibu, hari ini Zahra akan mencari pekerjaan. Jika nanti Zahra mendapatkan pekerjaan yang gajinya banyak, Zahra mohon ibu berhentilah bekerja di tempat hina itu," ucap Zahra di sela makannya.
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapian Bu. Zahra mau ibu berhenti, Zahra janji akan memenuhi semua kebutuhan ibu. Zahra janji," ucap Zahra mencoba menyakinkan ibunya.
"Hmmm, baiklah." Saras hanya bisa pasrah saja. Ia tak ingin banyak bicara, ia hanya akan mengikuti alurnya.
"Zahra sudah siap sarapannya, Zahra pamit cari kerja dulu yah, Assalamu'alaikum." Zahra sekali lagi mengecup pipi ibunya lalu pergi meninggalkan Saras yang masih ada di meja makan.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."
"Semoga kau bahagia."
_
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc