NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Ziarah

“Tidak ada yang akan mengambilmu hari ini.”

Om Bram menjawab pertanyaanku tanpa ragu. Dia tidak menjanjikan bahwa proses pengadilan akan mudah, tetapi Fikri sudah mengurus penempatan perlindungan bersama dinas sosial. Selama proses berjalan, aku tetap tinggal di Puri Cendana.

Satu minggu kemudian, Mbok Nah membangunkanku lebih pagi.

“Pakai baju yang rapi, Non. Den Bram mau mengajak Non pergi.”

Di ruang depan, Om Bram menungguku dengan kemeja batik berwarna gelap. Deni membawa dua payung dan sebuket bunga melati putih.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

Om Bram menyerahkan bunga itu kepadaku. “Menemui orang tuamu.”

Aku hampir menjatuhkannya.

Bu Win tidak pernah mengizinkanku pergi ke makam. Katanya ongkos terlalu mahal dan orang mati tidak membutuhkan kunjungan. Lama-lama aku berhenti meminta, tetapi setiap Lebaran aku selalu membayangkan batu nisan Ibu dan Ayah tertutup daun kering tanpa ada yang membersihkannya.

“Om tahu makamnya?”

“Deni menemukannya dari dokumen keluarga.”

Aku memeluk bunga ke dada. “Terima kasih, Mas Deni.”

Deni tersenyum. “Sama-sama, Non.”

Perjalanan menuju pemakaman memakan waktu hampir satu jam. Semakin dekat, jemariku semakin dingin. Aku takut nama di batu itu sudah pudar. Aku juga takut melihatnya masih jelas.

Makam Ayah dan Ibu berada berdampingan di bawah pohon kamboja. Rumput liar tumbuh di sekeliling nisan. Begitu membaca nama mereka, lututku kehilangan tenaga.

“Ibu...”

Aku berjongkok dan menyapu daun dengan kedua tangan. Semua kalimat yang kusimpan selama lima tahun saling berdesakan, tetapi yang keluar hanya tangis.

“Maaf aku baru datang.”

Mbok Nah memegang payung di belakangku. Deni membersihkan rumput di makam Ayah tanpa banyak bicara. Om Bram berdiri beberapa langkah jauhnya, memberiku ruang sampai napasku lebih tenang.

Kami membaca doa. Setelah itu aku menaburkan melati, satu genggam untuk Ibu dan satu untuk Ayah.

“Aku sudah keluar dari rumah Bu Win,” bisikku. “Sekarang aku tinggal di tempat yang aman.”

Bayang-bayang di sampingku bergerak.

Om Bram maju, lalu berlutut dengan satu kaki di tanah basah. Kemeja batiknya menyentuh rumput. Di depan dua nisan itu, pria yang baru kukenal seminggu lalu menundukkan kepala.

“Pak, Bu,” katanya pelan, “saya titip anak Bapak dan Ibu. Saya akan menjaga Sekar sampai kapan pun.”

Dadaku sesak, tetapi kali ini bukan karena takut.

Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Tangisku pecah lagi. Mbok Nah ikut menyeka mata, sementara Deni membalikkan badan dan pura-pura sibuk merapikan bunga.

Tidak seorang pun pernah mengucapkan janji tentang diriku di depan saksi. Bahkan Bu Win hanya berjanji kepada petugas kelurahan bahwa dia akan merawatku, lalu melupakannya begitu kami tiba di rumah.

Om Bram berdiri dan menepuk tanah di celananya.

“Pulang?”

Aku menggeleng. “Sebentar lagi, boleh?”

“Boleh.”

Dia menunggu tanpa melihat jam.

Dalam perjalanan pulang, mobil berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Om Bram mengajakku masuk ke toko pakaian, lalu toko sepatu dan alat tulis. Aku memegang satu kemeja putih paling murah, tetapi seorang pegawai sudah membawa beberapa ukuran lain.

“Satu cukup, Om.”

“Kamu perlu pakaian sekolah, pakaian rumah, dan sepatu.”

“Yang lama masih bisa dipakai.”

“Baju yang bahunya robek itu sudah menjadi barang bukti.”

Aku menunduk.

Om Bram tidak memaksaku memilih yang mahal. Dia hanya menyuruh pegawai menaruh barang yang kubutuhkan, lalu membayar tanpa memperlihatkan jumlahnya.

Di toko alat tulis, aku berhenti di depan rak buku tulis.

“Boleh ambil dua?”

“Ambil sesuai kebutuhan.”

Aku mengambil enam, lalu merasa sangat berani.

Pegawai toko memasukkan semuanya ke dua kantong besar. Ketika aku mencoba membawanya sendiri, Deni mengambil kantong yang lebih berat.

“Aku bisa, Mas.”

“Saya tahu. Tapi tangan saya sedang kosong.”

Jawaban itu tidak membuatku merasa lemah. Aku membiarkannya membantu.

Sebelum pulang, Om Bram mengajak kami makan. Aku memilih nasi goreng paling murah di menu, lalu menyimpan setengah kerupuk ke dalam tisu.

Mbok Nah melihatnya. “Buat nanti, Non?”

Pipiku panas. Kebiasaan menyimpan makanan selalu membuat Bu Win marah. “Kalau besok lapar.”

Mbok Nah tidak menertawakan. Dia meminta pelayan membungkus satu porsi tambahan, lalu berkata, “Di rumah selalu ada makanan. Tapi kalau Non ingin menyimpan ini, simpan saja.”

Om Bram tetap membaca pesan di ponselnya, memberi kesempatan kepadaku mengatasi rasa malu. Hanya setelah pelayan pergi dia berkata, “Mulai sekarang, kamu tidak perlu memilih makanan berdasarkan mana yang paling murah.”

“Aku takut uang Om habis.”

Deni tersedak air minumnya. Om Bram menatapku beberapa detik, lalu sudut bibirnya bergerak tipis.

“Enam buku tulis dan sepiring nasi goreng tidak akan membuat saya bangkrut.”

Aku ikut tersenyum. Rasanya aneh di wajahku, tetapi tidak buruk.

Malamnya, Deni membuka laptop di ruang kerja. Fikri bergabung melalui panggilan telepon. Di layar terlihat formulir pendaftaran dan foto sebuah gedung sekolah.

“SMA Tunas Bangsa masih menerima siswa pindahan,” kata Deni. “Dokumen lama Sekar juga sudah ditemukan.”

Aku meremas ujung buku tulis baru di pangkuan. “Aku sudah lama nggak sekolah.”

“Kamu bisa mengikuti kelas tambahan,” kata Om Bram. “Tidak perlu mengejar semuanya dalam satu hari.”

“Kalau aku bodoh?”

Dia menatapku di seberang meja. “Orang yang bertahan selama lima tahun dalam keadaanmu bukan orang bodoh.”

Mbok Nah datang membawa teh, lalu meletakkan secangkir di depanku. “Non Sekar nanti punya teman lagi.”

Aku mencoba membayangkan seragam baru, ruang kelas, dan orang-orang yang tidak tahu apa pun tentang luka di punggungku.

Rasa senang muncul bersama ketakutan.

Deni menggulir halaman data siswa, lalu berhenti.

“Ada satu hal, Pak Bram.”

Om Bram mengangkat wajah. “Apa?”

Deni melihat kepadaku sebelum menjawab.

“Reno masih bersekolah di SMA Tunas Bangsa.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!