Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4: Kepercayaan
Malam semakin larut..
Jam dinding di ruang keluarga rumah Fernansyah telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Buku-buku pelajaran tebal yang tadi memenuhi meja kini sudah digeser rapi ke sudut. Sebagai gantinya, sepiring pisang goreng kipas yang harum, singkong rebus gurih, dan cangkir teh hangat menjadi teman setia obrolan malam itu.
Suasana terasa begitu hangat dan mengalir tanpa sekat. Bagi Nadira, rumah ini sudah menjelma menjadi tempat bernaung kedua. Sementara bagi keluarga Fernansyah, kehadiran gadis berwajah lembut itu bukan lagi dianggap sekadar tetangga, melainkan sudah seperti putri mereka sendiri.
Bu Dita Pertiwi ibu Arga duduk santai di sofa sambil mengupas buah jeruk. Sesekali matanya menatap penuh kasih ke arah dua anak kelas dua belas yang sebentar lagi akan menempuh gerbang pendewasaan.
Beliau tersenyum kecil. "Dira...".
Nadira yang sedang menyeruput teh hangatnya refleks menoleh. "Iya, Tante Dita?"
"Nanti kalau udah kelar urusan kelulusan sekolah..." Bu Dita menghentikan usapan pisaunya sejenak. "...kamu rencananya mau lanjut kuliah atau mau langsung kerja, Nak?"
Nadira tersenyum tipis, matanya memancarkan ketulusan. "Rencananya mau lanjut kuliah, Tante."
"Wah, bagus itu! Udah kepikiran mau ambil kampus mana?"
Nadira mengangguk pelan, sedikit ragu namun matanya tampak mantap. "Kalau sesuai impian Dira... Dira pengen banget kuliah di UPI, Tante."
"UPI Bandung?" tanya Bu Dita memastikan.
"Iya, Tante Dita."
"Wah, lumayan jauh juga ya dari Jogja," gumam Bu Dita ramah.
"Iya..." Nadira terkekeh kecil, ada helaan napas halus yang menyertai. "Tapi itu juga kalau diizinin sama Papa. Kalau Papa nggak kasih izin... ya paling paling ujung-ujungnya kuliah di Jogja aja."
Pak Surya Fernansyah yang sejak tadi menyimak sambil menikmati kopinya ikut menimbrung. "Kalau boleh tahu... mau ambil jurusan apa, Nak Dira?"
Seketika wajah Nadira berbinar terang saat mendengar pertanyaan itu. Binar matanya seolah menandakan bahwa topik ini adalah sesuatu yang sangat ia cintai.
"Dira pengen masuk Kedokteran, Om Surya."
"Kedokteran?"
"Iya, Om."
Pak Surya mengangguk-angguk kagum, menatap Nadira dengan rasa bangga. "Wah... itu cita-cita yang mulia sekali. Kenapa kok tertarik jadi dokter?"
Nadira tersenyum hangat, kenangan masa kecil melintas di ingatannya. "Dari kecil Dira suka banget ngeliat sosok dokter. Dulu waktu Almarhumah Nenek sakit dan dirawat, dokternya baik dan sabar banget melayani. Sejak saat itu Dira mikir... kalau nanti Dira bisa jadi dokter, mungkin Dira bisa bantu dan sembuhin banyak orang yang membutuhkan."
Bu Dita tersenyum tersentuh. "MasyaAllah... niatnya mulia sekali. Semoga Allah memudahkan j
alanmu ya, Sayang. Aamiin."
"Aamiin, Tante. Makasih banyak..."
Pak Surya membetulkan posisi duduknya. "Tapi tadi Om dengar... kamu bilang masih tergantung izin Papa kamu?"
"Iya, Om."
"Kenapa memangnya? Pak Hadi ragu?"
Nadira memainkan ujung lengan bajunya, mendadak ragu untuk membeberkan alasan utamanya. "Boleh jujur, Om?"
"Tentu saja, cerita saja."
"Papa sebenarnya sama sekali nggak ngelarang Dira kuliah. Yang bikin Papa berat... karena Bandung itu jauh dari Jogja."
Pak Surya mengangguk maklum. "Wajar, sih. Naluri orang tua pasti khawatir melepas anak gadisnya."
"Iya, Om Surya. Tapi..." Nadira tersenyum tipis, menatap Pak Surya dan Bu Dita bergantian. "Papa kemarin sempat bilang... 'Kalau Dira sendirian merantau ke Bandung, Papa belum ikhlas.'"
Bu Dita mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Terus?"
Nadira menarik napas dalam-dalam. "Papa bilang... kalau Dira mau tetep ke Bandung... harus ada Arga."
Suasana ruang keluarga itu mendadak hening seketika.
Pak Surya yang baru saja hendak menyeruput kopinya langsung menghentikan gerakannya di udara. Bu Dita pun membelalakkan mata terkejut. Kedua orang tua itu saling berpandangan selama beberapa detik.
"Lho..." Pak Surya mengernyit heran namun penasaran. "Maksud Papa kamu gimana, Nak?"
Nadira panik sendiri dan buru-buru melambaikan tangannya. "Bukan... bukan maksud yang aneh-aneh kok, Om! Papa cuma bilang... 'Kalau ada Arga yang nemenin di kota orang, Papa jauh lebih tenang.' Soalnya... Papa percaya banget sama Arga."
Kini giliran Bu Dita yang memiringkan kepalanya. "Percaya sama Arga?"
"Iya, Tante Dita. Papa bilang, Arga itu anak yang bertanggung jawab dan mandiri. Kalau kami sama-sama kuliah di Bandung... Papa yakin Arga nggak bakal ngebiarin Dira terlunta-lunta atau kesulitan sendirian di sana."
Pak Surya dan Bu Dita terpaku.
Sementara Arga yang sejak tadi menyimak sambil mengunyah pisang goreng hampir tersedak. "Hah?! Papa kamu beneran ngomong gitu, Nad?!"
Nadira mengangguk polos. "Iya, seriusan! Bahkan waktu aku cerita pengen daftar UPI Bandung, Papa langsung nanya... 'Arga jadinya daftar ke mana?'"
Arga spontan menunjuk dadanya sendiri dengan muka cengong. "Gue?"
"Iya! Papa bilang, kalau Arga fix ke Bandung, baru Papa bakal pertimbangkan buat ngasih izin aku berangkat."
Arga benar-benar kehilangan kata-kata. Ia bersandar lemas di sofa. "Lho... kok gue baru tahu sekarang, sih?"
Nadira tertawa kecil. "Soalnya Papa baru ngomong serius kemarin malam."
Bu Dita Pertiwi tersenyum tipis nan teduh, lalu mengalihkan pandangannya menatap sang putra. "Berarti... Om Hadi percaya sekali sama kamu, Ga. Itu kehormatan sekaligus amanah."
Arga menggaruk tengkuknya yang tak gatal, memasang raut wajah frustrasi yang dibuat-buat. "Jujur aja... gue mendadak dapet beban hidup sebesar gunung nih, Yah, Bu."
"Beban gimana maksud kamu?" tanya Pak Surya sambil terkekeh.
"Ya iyalah! Kalau misal gue gagal tembus kampus Bandung atau nggak jadi ke sana... berarti Dira juga nggak dibolehin merantau dong? Otomatis gue yang disalahin!"
Nadira tersenyum canggung. "Ya... gitu deh. Tapi aku nggak pernah maksa kamu kok, Ga. Papa cuma bilang gitu.
Pak Surya menyandarkan punggungnya ke sofa kayu jati, menatap Nadira dengan tatapan bapak yang bijaksana.
"Dira..."
"Iya, Om?"
"Papa kamu itu bukannya nggak percaya sama kemampuan kamu menjaga diri. Beliau cuma khawatir. Anak perempuan pertama, mau pergi jauh ke luar provinsi... pasti berat banget lepasnya buat seorang ayah."
Nadira menunduk pelan, mengangguk setuju. "Dira paham banget kok, Om Surya."
Bu Dita menggeser duduknya mendekat, lalu mengusap punggung tangan Nadira dengan lembut. "Tapi Tante bangga sama kamu. Kamu punya impian yang jelas dan mulia. Tante yakin, kalau kamu bersungguh-sungguh... cita-citamu jadi dokter pasti bakal terwujud."
Mata Nadira berbinar hangat, ada rasa haru yang membuncah. "Terima kasih banyak ya, Tante Dita."
Pak Surya kemudian memutar pandangannya ke arah Arga yang sejak tadi terdiam merenung.
"Kalau kamu sendiri gimana, Ga?"
Arga menghela napas panjang, menatap ayahnya lurus-lurus. "Arga masih tetep pengen ngejar ITB, Yah. Masih pengen masuk Arsitektur."
Pak Surya diam sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa raut marah. "Kalau memang itu impian terbesar kamu... nanti kita bicarakan baik-baik bertiga sama Ibu."
Arga melotot kaget, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Seriusan, Yah?!"
"Iya," Pak Surya tersenyum tipis. "Bukan berarti Ayah langsung kasih izin seratus persen. Tapi Ayah mau dengerin alasan dan kesiapan kamu dulu."
Senyum Arga mekar sempurna. Pundaknya yang tadi tegang mendadak rileks. "Siap, Ayah! Makasih!"
Melihat binar bahagia di wajah Arga dan kehangatan di ruang keluarga itu, Nadira ikut tersenyum lega dari lubuk hatinya yang paling dalam.