Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25 — Satu Kali Mendayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui
Pagi harinya, sinar matahari perlahan menyapu kabut tebal yang menyelimuti Puncak Pedang Kedua.
Suara pergeseran batu yang berat terdengar saat pintu gua kultivasi Huo Li terbuka. Begitu ia melangkah keluar, menghirup udara pagi yang segar, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Sesosok tubuh ramping berjubah rapi telah berdiri di pelataran, menunggunya.
"Senior Yun?" sapa Huo Li santai.
Yun Bing menoleh. "Ah, kau akhirnya keluar juga, Junior."
Gadis itu terdiam sebentar. Raut wajahnya yang biasanya sedingin es kini memancarkan sedikit keraguan, jari-jarinya bertaut ringan. Ia sebenarnya sedikit ragu untuk mengatakan hal ini, namun ia tidak punya pilihan lain yang lebih baik.
"Apakah... aku tidak mengganggu aktivitasmu?" tanya Yun Bing dengan nada yang sedikit diturunkan.
Huo Li menggeleng pelan lalu mengangguk, "Ya, tidak mengganggu sama sekali. Ada apa, Senior Yun?"
Yun Bing menarik napas pelan untuk menenangkan dirinya, lalu menatap lurus ke mata Huo Li. "Bagaimana kalau kita pergi ke Kota Sungai Hijau..." tanyanya. Tanpa menunggu Huo Li membalas, ia segera melanjutkan penjelasannya, "Sebenarnya akan ada pelelangan besar beberapa hari lagi di sana."
"Pelelangan?" balas Huo Li, alisnya sedikit terangkat.
"Ya. Apakah kau tahu Paviliun Dagang Anggrek Merah?"
Huo Li mengangguk. Ingatannya tentang hal itu dari sekte lamanya langsung menyajikan informasi yang relevan. "Tentu saja aku mengetahuinya. Paviliun Dagang Anggrek Merah adalah rumah dagang raksasa terbesar di Prefektur Naga Air kita."
"Benar," timpal Yun Bing. "Walaupun yang di Kota Sungai Hijau hanyalah cabang dari Rumah Dagang Anggrek Merah, tetapi... membuka pelelangan di sana tentu saja akan mengundang banyak perhatian. Baik Sekte Pedang Mendalam maupun Sekte Pedang Tiran yang memiliki pengaruh besar di beberapa kota terdekat pasti akan mengikuti pelelangan tersebut, entah secara rahasia untuk menyembunyikan identitas, ataupun terang-terangan."
Yun Bing menghela napas, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. "Merekalah yang akan membuka pelelangan nanti dan... ada harta yang harus kudapatkan di sana."
Gadis itu menatap Huo Li dengan sorot mata penuh harap yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun. "Bisakah kau menjadi penjagaku selama beberapa hari di sana, Junior? Situasi di luar sekte bisa jadi sangat rumit, dan kekuatanmu sangat bisa kuandalkan. Tentu saja, aku akan membayarmu."
Mendengar tawaran itu, Huo Li tidak perlu berpikir dua kali. Ia langsung mengangguk dengan mantap. "Aku setuju."
Melihat Huo Li menerima ajakannya tanpa penolakan, bahkan tanpa menanyakan rincian bahaya apa yang mungkin menanti, Yun Bing sedikit terkejut. Matanya mengerjap. "Kau... setuju begitu saja?"
"Kau membutuhkanku, dan kau akan membayarku. Kesepakatan yang sederhana," balas Huo Li dengan wajah datar yang khas.
Namun, Yun Bing tidak tahu bahwa di balik wajah tenang itu, roda perhitungan yang dingin sedang berputar dengan kecepatan penuh di dalam kepala Huo Li.
Huo Li sendiri menerima ajakan itu bukan karena sekadar ingin membantu Kakak Seperguruannya. Kota Sungai Hijau... Walaupun secara formal dipimpin oleh seorang Wali Kota, semua orang tahu bahwa penguasa sejati yang memiliki pengaruh terbesar adalah Keluarga Qu.
Huo Li mengetahui hal ini dengan sangat jelas karena di masa lalunya sebagai murid pelayan, ada seseorang yang sering kali menyombongkan dirinya sebagai putra Patriark Keluarga Qu dari Kota Sungai Hijau. Dan seseorang itu adalah Qu Jin, salah satu pengikut Tuo Gu—orang yang ikut serta menyiksanya, menendang rusuknya, dan menertawakannya saat ia digantung di atas tebing.
Ditambah lagi, Huo Li yang saat ini sedang bangkrut total setelah senjatanya dikerjakan oleh Pei Hubong, memang sudah berencana pergi ke Kota Sungai Hijau dalam waktu dekat. Ia harus melakukan transaksi dengan cabang Paviliun Dagang Anggrek Merah untuk menjual 'sesuatu' kepada mereka.
'Kebetulan yang sangat sempurna. Dengan berangkat bersama Saudari Senior Yun, aku memiliki alasan resmi dan alibi jika terjadi sesuatu. Satu kali mendayung, dua tiga pulau terlampaui,' batin Huo Li menyeringai sinis.
Huo Li kemudian menatap Yun Bing, lalu dengan santai menengadahkan tangan kanannya ke depan. "Karena kesepakatan sudah dibuat... bisakah aku meminta bayaran di muka, Senior?"
Yun Bing, yang baru sedetik lalu merasa kagum akan kesetiaan Juniornya, seketika tersedak. Wajahnya yang dingin berubah menjadi sedikit kesal melihat Huo Li yang menagih uang tanpa basa-basi.
"Kau ini benar-benar mata duitan," gerutu Yun Bing. Namun ia tetap merogoh kantong spasialnya, mengeluarkan dua buah kristal yang memancarkan pendar biru pekat, dan meletakkannya di telapak tangan Huo Li.
"Ini 2 Kristal Spiritual Tingkat 2. Ini bayaran awalmu. Sisanya akan kuberikan setelah kita kembali dari pelelangan," ucap Yun Bing.
"Terima kasih, Senior yang dermawan," Huo Li tersenyum tipis, tidak memedulikan gerutuan gadis itu. "Tunggu di sini sebentar, Senior. Ada hal yang harus aku persiapkan ke dalam."
Yun Bing hanya mengangguk sambil melipat tangannya di dada.
Huo Li berbalik dan kembali masuk ke dalam guanya. Begitu pintu batu tertutup rapat, senyum santai di wajahnya menghilang, digantikan oleh keseriusan mutlak.
Ia duduk di tepi ranjang batu giok, mengeluarkan 2 Kristal Spiritual Tingkat 2 tersebut. Setelah diperas habis-habisan oleh si pandai besi kemarin, memiliki dua kristal berkualitas tinggi ini terasa seperti oasis di tengah gurun.
Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan Kantong Keberuntungan.
"Baiklah, ubahlah 2 Kristal Spiritual ini..." gumam Huo Li sambil memasukkan kedua kristal itu ke dalam kantong.
Wunggg...
Kantong itu memancarkan pendar cahaya yang jauh lebih terang dari biasanya, menandakan kualitas material yang sedang dikonversinya berada di tingkat yang lebih tinggi.
Hanya butuh beberapa tarikan napas sebelum cahaya itu meredup. Huo Li melongok ke dalam dan matanya berbinar puas. Di dasar kantong spasial mutlak itu, tergeletak dua buah Kristal Surgawi yang ukurannya sedikit lebih besar, memancarkan cahaya emas pekat yang sangat murni.
Ini adalah Kristal Surgawi Tingkat 2! Energi di dalamnya setara dengan puluhan, bahkan ratusan Kristal Surgawi Tingkat 1.
"Sempurna. Dengan ini, aku dapat melakukan hal itu," gumamnya puas.
Setelah memastikan pedang tulang di punggungnya terikat dengan kuat dan energinya berada dalam kondisi puncak, Huo Li merapikan jubahnya dan melangkah keluar gua.
"Maaf membuatmu menunggu, Senior. Aku sudah siap," ucap Huo Li.
Yun Bing mengangguk, menatap ke arah jalan setapak yang menuruni gunung. "Perjalanan ke Kota Sungai Hijau akan memakan waktu sekitar setengah hari jika kita menggunakan kuda spiritual dari kandang binatang spiritual sekte. Kita harus bergegas agar bisa memesan penginapan sebelum kota dipenuhi oleh kultivator dari luar daerah."
"Tentu. Aku akan mengikuti instruksimu, Majikan," balas Huo Li dengan nada sedikit menggoda.
"Berhenti memanggilku seperti itu, Junior!" desis Yun Bing dengan wajah sedikit memerah, lalu melesat lebih dulu menuruni tangga batu.
Huo Li tertawa pelan. Ia melangkah menyusul gadis itu. Angin gunung berembus menerpa wajahnya, dan saat ia menatap jauh ke arah cakrawala di mana Kota Sungai Hijau berada, sorot matanya kembali mendingin.
"Kendalikan amarahmu Huo Li." bisiknya pelan kepada dirinya sendiri.