Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Mo Tianxia berdiri mematung di depan kotak batu itu, matanya terpaku pada simbol yang terukir di permukaannya—sebuah lambang sederhana berbentuk bulan sabit yang dikelilingi tujuh bintang kecil.
'Itu...' pikirnya, jantungnya yang seharusnya sudah lama terbiasa dengan berbagai kejutan sepanjang hidupnya, kini berdegup lebih cepat dari yang ia duga. 'Itu adalah lambang pribadiku. Lambang yang kuciptakan sendiri di kehidupan sebelumnya, untuk menandai catatan-catatan pribadiku yang paling rahasia.'
Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lambang itu bukan sesuatu yang umum diketahui siapa pun—ia telah menciptakannya sendiri ribuan tahun lalu, dan hanya menggunakannya untuk menandai gulungan-gulungan yang berisi pemahaman paling dalam tentang Dao yang pernah ia capai.
'Bagaimana bisa benda ini ada di sini?' pikirnya, kebingungan bercampur dengan rasa penasaran yang meluap-luap. 'Reruntuhan ini jatuh dari langit ratusan tahun lalu—berarti saat itu aku masih hidup, di kehidupan sebelumnya. Tapi aku tidak pernah kehilangan catatan ini. Aku tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuh gulungan-gulungan paling rahasiaku, apalagi sampai terkubur di dalam batu yang jatuh dari langit.'
Zhao Kuang, yang berdiri tidak jauh darinya, menyadari perubahan ekspresi Mo Tianxia yang biasanya selalu tenang. "Tianxia? Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat aneh."
Kata-kata itu menyadarkan Mo Tianxia dari keterkejutannya. Ia dengan cepat menormalkan ekspresinya kembali, meski di dalam hati, pikirannya masih berputar dengan berbagai kemungkinan.
"Aku baik-baik saja," jawabnya, suaranya kembali tenang seperti biasa. "Hanya penasaran dengan kotak itu."
Chen Feng, yang berada di dekat mereka, juga mendekat untuk memeriksa kotak batu tersebut. "Ada aura pelindung di sekitarnya. Sepertinya ini bukan artefak sembarangan."
Beberapa disciple lain mulai berkumpul, tertarik dengan penemuan itu, namun tidak seorang pun berani menyentuhnya secara langsung karena aura pelindung yang terasa aneh dan menggangu.
Mo Tianxia melangkah maju, dengan hati-hati mengulurkan tangannya ke arah kotak itu.
'Kalau ini benar milikku,' pikirnya, 'aura pelindungnya seharusnya mengenaliku.'
Tangannya menyentuh permukaan kotak batu itu. Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa.
Kemudian, cahaya keunguan lembut memancar dari simbol bulan sabit itu, dan kotak batu itu terbuka dengan sendirinya—tanpa perlawanan, tanpa jebakan, seolah memang telah menunggu Mo Tianxia untuk membukanya.
Seluruh disciple yang menyaksikan momen itu terdiam kagum. Di dalam kotak, tergeletak sebuah fragmen perkamen kuno yang telah rapuh dimakan usia, dengan tulisan yang sebagian sudah pudar namun masih bisa dibaca oleh mata yang cukup teliti.
Mo Tianxia mengambil fragmen itu dengan hati-hati, membacanya dalam diam.
Isinya adalah catatan singkat tentang prinsip dasar sebuah teknik yang pernah ia ciptakan sendiri di kehidupan sebelumnya, bukan teknik yang paling kuat yang pernah ia kuasai, melainkan salah satu teknik paling awal yang ia ciptakan saat masih muda, jauh sebelum mencapai puncak kekuatannya.
'Ini benar tulisan tanganku,' pikirnya, mengenali setiap goresan huruf yang familiar meski telah pudar oleh waktu. 'Tapi kapan aku kehilangan ini? Aku tidak pernah ingat menulis fragmen ini hilang, apalagi sampai berakhir di dalam batu meteor yang jatuh dari langit.'
Ia tidak menemukan jawaban langsung, namun satu kemungkinan mulai terbentuk dalam benaknya, sebuah kemungkinan yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar misteri arkeologi biasa. Seseorang, entah kapan sepanjang seribu dua ratus tahun hidupnya yang lalu, telah mengambil sesuatu darinya tanpa sepengetahuannya sama sekali. Bagi seseorang yang pernah berdiri di Absolute Realm, gagasan bahwa ada pihak yang mampu melakukan itu tanpa terdeteksi olehnya sendiri adalah sesuatu yang hampir mustahil ia terima.
"Apa isinya?" tanya Chen Feng penasaran, mengamati ekspresi Mo Tianxia yang masih sedikit berbeda dari biasanya.
Mo Tianxia menutup fragmen itu perlahan, menyembunyikan kembali gejolak emosi yang sempat muncul di wajahnya.
"Hanya catatan teknik dasar," jawabnya, memilih kebohongan kecil demi menjaga rahasianya. "Sepertinya milik seorang kultivator kuno yang tidak dikenal."
Chen Feng mengangguk, meski matanya tetap mengamati Mo Tianxia dengan seksama, ia tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu, namun tidak memiliki alasan untuk mendesak lebih jauh.
...------...
Malam itu, saat delegasi berkemah di dalam salah satu ruangan aman di reruntuhan, Mo Tianxia duduk sendirian di sudut, fragmen perkamen itu masih tersimpan rapat di dalam pakaiannya.
'Ada sesuatu yang lebih besar terjadi di sini,' pikirnya, menatap ke arah dinding batu yang dipenuhi ukiran kuno.'Fragmen ini... Seseorang mengambilnya dariku jauh sebelum aku memutuskan untuk mati, dan aku bahkan tidak menyadarinya.'
Pikiran itu terasa jauh lebih mengganggu daripada sekadar pertanyaan tentang asal-usul reruntuhan. 'Kalau benar ada yang mampu mencuri sesuatu dariku tanpa sepengetahuanku, sekuat apa pun mereka bersembunyi, cepat atau lambat aku akan mencari tahu siapa itu.'
Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasinya, Mo Tianxia merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan sepanjang seribu dua ratus tahun hidupnya.
Ketidakpastian yang sesungguhnya.