NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Kau tidak bisa jawab, kan?" lanjut Alessio dengan tawa kering yang terdengar bagai dentam bel kematian.

Matanya menatap Arthur dengan intensitas yang sanggup menguliti jiwa pria tua itu.

"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku merebut kembali posisiku... secara paksa."

Tanpa menunggu balasan, Alessio berbalik dan melangkah pergi. Jubah jas hitamnya melambai tertiup angin koridor, meninggalkan Arthur yang hanya bisa mematung di tempat.

Pria tua itu menggenggam dadanya yang mendadak terasa dihantam beban berat, menatap punggung putra sahnya yang kian menjauh dan menghilang di balik belokan.

---

Sore harinya, kediaman utama Keluarga Carlton menyambut kepulangan Vanessa dari rumah sakit.

Arthur berdiri sendiri di dekat pintu utama, menyambut Vanessa dengan senyum hangat yang dibuat sesempurna mungkin, seolah berusaha menutupi retakan hancur di dalam hatinya akibat konfrontasi dengan Alessio beberapa jam lalu.

"Vanessa, masuklah. Bagaimana kondisimu?" tanya Arthur lembut, mengisyaratkan Pak Ben untuk membawakan barang-barang Vanessa.

"Duduklah dulu di ruang tamu. Rumah ini terasa sepi tanpamu."

"Terima kasih, Paman Arthur. Saya sudah jauh lebih baik," jawab Vanessa anggun. Ia melangkah tenang dan duduk di sofa utama bernuansa emas tersebut.

Tak lama kemudian, atas perintah Arthur, Jordan berjalan masuk ke ruang tamu dengan kepala tertunduk.

Langkahnya ragu-ragu, rahangnya masih menyisakan memar kebiruan. Di belakangnya, Yessika duduk di kursi roda, memberikan tatapan penuh isyarat agar Jordan menuruti semua instruksi.

Ingatan akan pesan Yessika semalam, untuk berpura-pura tunduk sampai posisinya aman, menjadi satu-satunya hal yang menahan amarah Jordan saat ini.

"Minta maaf pada Vanessa, Jordan. Sekarang," perintah Arthur tegas.

Jordan mengepalkan tangannya di balik punggung, lalu membungkukkan badan di hadapan Vanessa.

"Vanessa... aku minta maaf atas perlakuan kasarku di meja makan waktu itu. Aku benar-benar menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Vanessa menatap Jordan tanpa emosi, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri.

"Permintaanmu maaf kelihatan sangat tulus, Jordan. Tapi... sebelum kita membahas soal perlakuan kasarmu, ada hal lain yang jauh lebih penting untuk diselesaikan."

Vanessa merogoh tasnya, mengeluarkan sekumpulan berkas bukti transaksi dan meletakkannya di atas meja kaca.

"Bagaimana dengan aliran dana perusahaan yang kau kirimkan secara diam-diam ke rekening Rika—ibu kandung Yessika?" tanya Vanessa dengan nada tenang namun mematikan.

Deg!

Jordan dan Yessika tersentak hebat. Wajah Yessika seketika pucat pasi, sementara Jordan melotot tak percaya. Dari mana Vanessa bisa mendapatkan dokumen rahasia transaksi tersebut?

Arthur menyambar berkas di meja dan membacanya kilat. Seketika itu juga, raut wajahnya berubah merah padam.

"Sialan kau, Jordan!" amuk Arthur.

Pria tua itu bangkit dan membanting berkas tersebut, lalu melayangkan pukulan keras ke wajah Jordan hingga putra sulungnya itu tersungkur ke lantai marmer.

"Kau menggunakan uang operasional perusahaan untuk menyokong wanita lain?!"

"Ayah! Ampun, Ayah! Aku mohon maaf!" jerit Jordan sambil bersujud di kaki Arthur, tubuhnya gemetar ketakutan.

"Aku mengaku salah! Aku janji tidak akan pernah menyentuh kas perusahaan lagi demi mereka! Ampuni aku, Ayah!"

Yessika menahan napas, dadanya berdegup kencang menyaksikan kemurkaan Arthur.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru mengejutkan Vanessa.

Setelah meluapkan amarahnya dan memukuli Jordan, Arthur menarik napas panjang. Pria tua itu memungut lembaran bukti transaksi tersebut... lalu merobeknya menjadi dua, empat, dan menghancurkannya hingga tak berbentuk di hadapan semua orang.

Arthur melangkah sebentar ke ruang kerjanya, mengambil buku cek, dan menuliskan nominal di sana secara cepat. Ia merobek selembar cek tersebut dan membawanya lalu menyodorkannya tepat di depan Vanessa.

Angka yang tertera di sana bernilai dua kali lipat lebih besar dari total uang yang dialirkan Jordan ke ibu Yessika.

"Lupakan masalah ini, Vanessa. Anggap saja ini ganti rugi atas kelakuan Jordan," ujar Arthur dengan suara dingin yang tak menerima bantahan. "Jangan persoalkan hal ini lagi."

Vanessa membeku. Matanya menatap cek itu, lalu beralih menatap Arthur dengan dahi berkerut tajam.

"Tuan Arthur... apakah Anda tidak mau memperkarakan penggelapan dana ini ke pihak berwajib?" tanya Vanessa, suaranya bergetar menahan ketidakpercayaan. "Perbuatan Jordan jelas-jelas sudah melanggar hukum."

Arthur menatap Vanessa lurus-lurus, raut wajahnya mengeras bagai batu karang. "Jordan adalah penerus kepala keluarga Carlton. Tak boleh ada noda sedikit pun dalam jejak hidupnya."

Krak.

Vanessa mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih dan menancap di telapak tangan. Di sisinya, Yessika yang tadinya ketakutan kini perlahan menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan.

Vanessa tidak pernah menyangka... ternyata sesayang dan sebuta ini Arthur terhadap Jordan. Mau sebesar apa pun kejahatan dan kebodohan Jordan, pria tua itu akan selalu pasang badan untuk melindungi sang calon pewaris utama.

"Terima kasih, Ayah... Terima kasih banyak karena sudah memaafkanku," bisik Jordan penuh rasa lega meski masih bersujud di lantai.

Di tengah ruangan bernuansa mewah yang terasa makin mendingin itu, Vanessa berdiri kaku. Api dendam di dalam dadanya tidak padam, justru kian membakar hebat, menyadari bahwa untuk menghancurkan Jordan, ia benar-benar hanya memiliki satu jalan keluar.

Dia harus membuat orang lain merebut posisi itu dari Jordan. Dan, pilihannya hanya satu. Sosok pria yang sedang berdiri dari kejauhan dan menyaksikan semua adegan barusan tanpa riak emosi yang dapat terbaca.

Alessio Carlton.

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!