"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Malam ini, Jakarta diguyur hujan rintik-rintik, menyisakan hawa dingin yang perlahan merayap di balik dinding kaca restoran privat berbezel emas di kawasan elit Jakarta. Restoran itu telah dikosongkan sepenuhnya oleh keluarga Veldens hanya untuk sebuah agenda: Jamuan Makan Malam Privat Dua Keluarga.
Atmosfer di dalam ruangan begitu megah, dipenuhi lilin aromaterapi premium, alunan musik klasik yang samar, dan kilauan sendok perak di atas meja marmer panjang.
Kayna Ramida duduk dengan punggung tegak sempurna. Malam ini, ia mengenakan gaun satin sutra berpotongan bodycon berwarna hijau zamrud hangat—sebuah karya mahakarya yang ia jahit sendiri dengan detail lipatan yang menyembunyikan ketegangannya.
Di sampingnya, Liliana dan Erick tampil anggun, memancarkan wibawa sebagai pengusaha besar. Namun bagi Kayna, gaun indah ini terasa seperti baju zirah. Ia tahu betul, malam ini adalah medan perang tersembunyi yang sengaja dirancang untuk menjebak kebebasannya.
Pintu geser kayu ek berukir kuno itu perlahan terbuka.
Langkah kaki yang berat namun berirama konstan terdengar memecah keheningan. Detik itu juga, Kayna merasakan atmosfer ruangan mendadak menyusut, digantikan oleh tekanan udara yang begitu pekat dan intimidatif.
Johanna Marelia Veldens masuk terlebih dahulu dengan senyum yang menawan, didampingi oleh suaminya, Nollan Andriaan Veldens, pria paruh baya berdarah Belanda murni yang bertubuh jangkung. Namun, pandangan mata Kayna langsung terkunci pada sosok pria muda yang berjalan selangkah di belakang mereka.
Damara Lexander Veldens.
Pria itu mengenakan kemeja hitam legam dengan dua kancing atas terbuka, dibalut jas kasual berwarna abu-abu arang yang dipotong sempurna mengikuti bahu tegapnya yang atletis. Garis wajahnya begitu tegas, dengan hidung mancung aristokrat dan rahang kokoh yang seolah dipahat tanpa cela. Namun yang paling mengerikan adalah sepasang matanya—manik mata berwarna abu-abu gelap kebiruan yang dingin, tajam, dan kosong dari kehangatan manusiawi.
Saat mata elang Mara berbenturan dengan mata bulat milik Kayna, sebuah letupan ketegangan yang tak kasatmata mendadak meledak di antara mereka. Mara tidak tersenyum. Ia hanya menatap Kayna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat menyebalkan, seolah-olah Kayna hanyalah selembar dokumen saham yang sedang ia pertimbangkan untuk dibeli.
"Ah, Liliana! Erick! Sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini," sapa Johanna dengan hangat, memeluk ibunya Kayna sebelum beralih menatap Kayna dengan binar mata penuh kekaguman. "Dan ini... Kayna sayang. Kamu jauh lebih cantik dan memukau daripada foto-foto yang Mama lihat. Gaun hijau zamrud ini... sungguh luar biasa."
"Terima kasih, Tante Johanna. Ini kehormatan bagi saya bisa memenuhi undangan Anda," jawab Kayna, suaranya tetap tenang dan merdu, meskipun jemarinya di bawah meja meremas kain gaunnya erat-erat.
"Mara, kemari. Perkenalkan, ini Kayna Ramida, putri tunggal Liliana," ujar Johanna, menoleh pada putrinya dengan nada penuh penekanan.
Mara melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Bau parfum maskulin perpaduan sandalwood dan kehangatan amber yang mahal langsung merasuki indra penciuman Kayna. Pria itu mengulurkan tangan kanannya yang kekar, jam tangan platinum bermerek itu begitu berkilau di pergelangan tangannya.
"Damara Lexander," ucap Mara dengan suara bariton yang berat, rendah, dan sarat akan arogansi yang mutlak. Ia tidak memanggilnya dengan sebutan akrab, melainkan menatap gadis itu dengan senyum sinis yang samar di sudut bibirnya. "Senang akhirnya bisa bertemu dengan 'penguasa kecil' dari Jogja."
Kayna menaikkan dagunya, menolak untuk tunduk pada aura dominan pria di depannya. Ia menyambut uluran tangan Mara. Telapak tangan pria itu terasa hangat, besar, dan kasar—sebuah kontras dari penampilannya sebagai CEO pesolek. Kayna meremas tangan Mara dengan kekuatan yang sama, menyampaikan pesan implisit bahwa ia tidak akan bisa ditindas dengan mudah.
"Kayna Ramida," balas Kayna, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu yang dingin itu. "Dan saya juga senang bisa bertemu dengan 'Pak Mara' yang agung, yang rumor arogansinya ternyata... bukan sekadar isapan jempol belaka."
Mendengar sindiran tajam yang keluar begitu lancar dari mulut manis Kayna, senyum sinis Mara mendadak mengeras. Erick dan Liliana sempat menahan napas mendengar keberanian putri mereka, namun Johanna justru tertawa renyah, menganggap interaksi tajam itu sebagai bumbu yang menarik.
Jamuan makan malam pun dimulai. Selama satu jam, percakapan didominasi oleh para orang tua yang membahas kerja sama bisnis ekspansi fasyen dan jaringan restoran. Mara hampir tidak menyentuh makanannya; ia hanya menyesap wine merahnya secara berkala sambil terus melemparkan tatapan menguliti ke arah Kayna. Kayna, dengan kedisiplinan tingkat tingginya, mengabaikan tatapan itu dan tetap makan dengan keanggunan seorang ratu.
Hingga akhirnya, Johanna meletakkan serbetnya di atas meja dan bertukar pandang penuh arti dengan Liliana.
"Erick, Liliana, Nollan... kurasa ada dokumen kontrak kerja sama baru di ruang VIP sebelah yang perlu kita tanda tangani malam ini," ujar Johanna sambil berdiri. Ia kemudian menoleh ke arah Mara dan Kayna dengan senyuman penuh teka-teki. "Mara, temani Kayna di sini. Biarkan kalian yang muda saling mengenal lebih dalam tanpa gangguan dari orang tua. Kami tinggal sebentar, ya?"
Erick memberikan tatapan memperingatkan sekaligus protektif pada Kayna sebelum melangkah pergi, sementara Liliana tersenyum penuh harap. Dalam waktu kurang dari satu menit, pintu ek itu kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruangan privat yang luas itu.
Klik.
Suara kunci pintu otomatis terdengar mengunci dari luar.
Kayna langsung meletakkan garpunya dengan dentingan pelan. Ia bersandar pada kursinya, bersedekap dada, dan menatap langsung ke arah pria yang kini duduk di ujung meja panjang, menatapnya seperti predator yang sedang mengunci target.
Mara meletakkan gelas wine-nya, lalu bangkit berdiri. Dengan langkah lambat yang sengaja dibuat untuk mengintimidasi, ia berjalan memutari meja marmer hingga berhenti tepat di samping kursi Kayna. Ia menopang kedua tangannya di sandaran kursi Kayna, mencondongkan tubuh tegapnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Jadi..." Mara berbisik, suaranya terdengar seperti desisan ular yang berbahaya. "Kamu gadis kecil yang berani menolak bertemu denganku, hm? Kamu tahu, Kayna? Di Jakarta, tidak ada satu orang pun yang berani mengucapkan kata 'tidak' padaku."
Kayna tidak mundur satu milimeter pun. Jarak yang begitu dekat membuat ia bisa melihat bintik-bintik emas di sekitar wajah Mara. "Lalu Anda berharap aku akan gemetar ketakutan dan langsung bersujud di kaki Anda, Pak Mara? Maaf, tapi Jogja bukan Jakarta, dan aku bukan salah satu dari model-model pajangan Anda yang bisa Anda atur hidupnya dengan selembar cek."
Mara terkekeh dingin, sebuah tawa maskulin yang terdengar meremehkan. "Kamu terlalu percaya diri dengan butik kecilmu itu, Kayna. Dengar baik-baik. Menikah denganku adalah sebuah keuntungan mutlak yang tidak akan pernah didapatkan oleh wanita mana pun di negara ini. Veldens Management bisa membawa nama LiLYRa melangkah ke panggung Paris Fashion Week dalam hitungan bulan. Aku bisa memberimu kekuasaan, harta yang tidak akan habis tujuh turunan, dan takhta tertinggi di industri ini. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjadi istri yang penurut, duduk manis di sisiku, dan berhenti bersikap keras kepala yang tidak berguna ini."
Cara Mara berbicara—begitu angkuh, begitu menganggap pernikahan sebagai transaksi bisnis yang menempatkan Kayna sebagai objek bawahan—membuat darah di dalam nadi Kayna seketika mendidih. Amunisi kemarahan yang sejak seminggu lalu ia pendam kini meledak sepenuhnya.
Kayna berdiri dengan sentakan tiba-tiba, membuat Mara terpaksa menegakkan tubuhnya kembali dan mundur satu langkah.
"Istri yang penurut?" Kayna mendengus, senyuman sinis yang sangat dingin terukir di wajah cantiknya. "Dengar baik-baik, Damara Lexander Veldens. Aku tidak peduli seberapa kaya atau seberapa berkuasanya Anda di kota ini. Aku tidak butuh kemurahan hati dari seorang pria diktator yang terkenal memiliki reputasi playboy dan berhati dingin hanya untuk membawa LiLYRa ke Paris. Aku akan membawa butikku ke sana dengan kerja kerasku sendiri, dengan tanganku sendiri, tanpa harus menjual harga diriku pada pria arogan sepertimu!"
Mata abu-abu Mara menyipit tajam, rahangnya mengatuk keras hingga urat di lehernya menegang. Suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa mencekam, seolah badai besar siap menghancurkan apa saja. Selama hidupnya, ia selalu dipuja, ditaati, dan diinginkan. Namun malam ini, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun baru saja menampar egonya dengan kata-kata yang begitu menusuk.
"Kau... menolakku? Menolak seorang Veldens?" desis Mara, suaranya kini terdengar begitu rendah dan berbahaya, memancarkan aura Capo Mafia Lexans yang biasa membantai musuh-musuhnya di dunia bawah tanah.
"Ya! Aku menolakmu mentah-mentah!" teguh Kayna, melangkah maju hingga ujung sepatunya menyentuh sepatu pantofel Mara. Ia menunjuk tepat ke dada pria itu dengan jari telunjuknya. "Aku tidak tertarik padamu, Pak Mara. Aku tidak sudi menjadi boneka pajangan di dalam sangkar emasmu. Hubungan ini tidak akan pernah terjadi, jadi sebaiknya Anda katakan pada Tante Johanna untuk membatalkan semua omong kosong perjodohan ini sekarang juga!"
Keheningan total kembali melanda. Mara menatap jari telunjuk Kayna yang menempel di dadanya, lalu perlahan menaikkan pandangannya untuk menatap wajah gadis itu. Bukannya mengamuk atau memanggil pengawalnya untuk menghancurkan Butik LiLYRa saat itu juga, sudut bibir Mara perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sangat mengerikan—sebuah senyuman kepuasan yang pekat dari seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang paling menantang dalam hidupnya.
Ego Mara yang tersengat hebat justru melahirkan sebuah obsesi gila yang gelap di dalam lubuk hatinya. Rasa ingin memiliki, menjinakkan, dan menguasai seluruh hidup Kayna Ramida seketika membakar seluruh kewarasannya.
Mara maju satu langkah, mencengkeram pergelangan tangan Kayna yang berada di dadanya dengan genggaman yang kuat namun tidak sampai menyakiti, mengunci gadis itu dalam dominasinya yang mutlak.
"Menolakku mentah-mentah, hm?" Mara berbisik tepat di samping telinga Kayna, embusan napas hangatnya yang beraroma wine membuat bulu kuduk Kayna meremang. "Kau salah besar jika berpikir bisa keluar dari ruangan ini setelah meneriakiku, Kayna. Kau sudah resmi masuk ke dalam radarku. Dan di dalam duniaku... apa yang sudah kuincar, tidak akan pernah bisa lolos, sekeras apa pun kau mencoba berlari."
Kayna mencoba menarik tangannya dengan amarah yang berkilat, namun Mara justru menggenggamnya lebih erat, menatapnya dengan pandangan posesif yang begitu pekat hingga membuat Kayna tersadar—ia baru saja membangunkan monster yang salah.
...●Bersambung●...