NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: DMAM

Sedan mewah berwarna hitam mengkilap yang membawa Dimas dan Aisyah itu meluncur perlahan membelah kabut tipis yang menyelimuti jalanan perkampungan.

Suara deru mesin bertenaga besar yang halus berpadu dengan gesekan ban pada tanah basah, menciptakan ritme konstan di tengah udara pagi yang menusuk tulang.

Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma wewangian kayu cendana mahal, suasana terasa begitu kontras.

Di barisan depan, Pak Dudung, sopir pribadi kepercayaan keluarga Wiraguna yang telah bekerja lebih dari sepuluh tahun, fokus menatap jalanan berliku melalui kaca depan. Kedua tangannya menggenggam lingkar kemudi dengan tenang, dan sesekali melirik ke arah kaca spion tengah.

Sementara di barisan belakang, Aisyah duduk merapat ke sudut pintu kanan. Jemarinya yang menempel di pangkuan saling meremas kain gamis biru mudanya dengan sedikit gugup.

Pandangannya terpaku ke luar jendela, menyaksikan deretan pepohonan pinus dan rumah-rumah kayu tetangga yang perlahan menghilang tertinggal di belakang. Ada rasa berat yang menggelayut di hatinya saat rumah sederhana tempat ia tumbuh besar makin menjauh.

Sementara, Dimas duduk di sisi kirinya dengan gaya yang jauh dari kata tenang. Setelan kemeja putihnya yang kusut di bagian lengan serta celana kain mewahnya terasa agak longgar.

Sejak mobil mulai bergerak meninggalkan gang rumah Aisyah, pikiran pria muda itu berkelana ke mana-mana.

Rasa takut akan amarah Bu Rosma yang sempat memuncak tadi subuh perlahan luntur, tergeser oleh sebuah perasaan asing yang mekar di dalam hatinya. Perasaan menang dan perasaan puas yang sangat besar.

Dimas melirik Aisyah dari sudut matanya. Dari samping, profil wajah istrinya terlihat begitu bersih tanpa celak atau bedak tebal. Bulu matanya yang lentik menunduk syahdu, dan sapuan warna pink alami di bibirnya tampak begitu nyata di bawah paparan sinar fajar yang menerobos kaca mobil.

"Dia benar-benar sudah jadi istriku..." batin Dimas, bibirnya mengukir senyuman tipis yang tak bisa ia tahan.

Ingatan Dimas melayang ke beberapa bulan lalu. Saat pertama kali ia melihat Aisyah di pekarangan rumah kayu itu, saat ia mencoba mendekati dan menyatakan perasaannya dengan gaya anak muda kaya kota, namun berujung pada penolakan halus pada tembakan pertama.

Saat itu harga dirinya sebagai anak tunggal kaya raya sempat teriris. Tapi lihatlah sekarang, setelah diterjang gelombang penolakan saat lamaran kemudian fitnah dari warga, ketukan pintu subuh, dan perdebatan panjang, wanita yang paling sukar ia gapai itu kini duduk hanya berjarak beberapa puluh sentimeter darinya.

Secara hukum agama dan negara, Aisyah adalah miliknya.

"Ehem... Syah?" panggil Dimas seraya berdehem pelan.

Aisyah pun langsung menoleh dan memberikan tatapan bertanya yang lembut. "Iya, Mas Dimas?"

"Kamu... kamu gak mual kan naik mobil? Jalanan desa kan bergelombang banget," tanya Dimas yang mengarang alasan agar pembicaraan mereka tetap bergulir.

"Alhamdulillah tidak, Mas," jawab Aisyah singkat, lalu kembali menatap ke luar jendela.

Dimas menggigit bibir bawahnya. Jawaban yang singkat itu tidak memuaskan keinginannya untuk berinteraksi lebih jauh. Rasa gemas dan dorongan manja yang selama ini selalu ia curahkan pada ibunya kini secara alami membelok ke arah Aisyah.

Ditambah lagi, ingatan saat ia terbangun subuh tadi, saat ia merengkuh tubuh hangat Aisyah di atas kasur busa yang masih menempel segar di ingatan indranya.

Dingin banget nih di dalam mobil, pikir Dimas mencari alasan dalam otaknya yang childish.

Dengan sengaja, Dimas membetulkan posisi duduknya. Ia menggoyangkan bahunya dan pura-pura meregangkan otot leher yang kaku usai membawa koper berat tadi.

"Aduh... leherku kaku banget nih," gumam Dimas yang cukup keras agar terdengar oleh Aisyah.

Ia sengaja menggeser pinggulnya beberapa sentimeter ke arah kanan agar mendekati posisi duduk Aisyah.

Tak berhenti di situ, saat mobil melewati sebuah tikungan tajam yang membuat badan kendaraan miring tipis, Dimas sengaja tidak menahan beban tubuhnya, hingga membiarkan bahu dan lengannya meluncur dan menempel erat pada bahu serta lengan Aisyah.

Srett.

Kain kemeja Dimas bersentuhan langsung dengan kain gamis Aisyah. Kehangatan tubuh Dimas pun langsung merambat ke lengan Aisyah.

Aisyah tersentak kecil saat merasakan sentuhan itu. Refleks, kepala Aisyah menoleh ke samping dan menyadari sepenuhnya bahwa geseran tubuh Dimas bukanlah murni karena goncangan mobil, melainkan ada unsur kesengajaan yang dibuat-buat oleh suaminya itu.

Aisyah merasakan desiran aneh menjalar di tengkuknya. Ada rasa risih dan canggung yang cukup besar, mengingat selama hidupnya ia tidak pernah bersentuhan sedekat ini dengan pria asing, sekalipun Dimas dulu adalah calon tunangannya.

Namun, sebuah bisikan di dalam hatinya langsung menahan Aisyah untuk bergeser menjauh atau menarik diri ke sudut pintu, hingga dia tetap dalam posisi tersebut.

"Dia suamimu, Aisyah... Ibu sudah bilang, patuhi dan layani suamimu..."

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!