NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mie Ayam dan Gangguan

Pagi hari di sekolah tidak lagi menawarkan ketenangan yang biasa bagi Rahman. Setelah menyaksikan insiden mengerikan kemarin sore—saat Ryan dengan kemudahan yang tidak masuk akal melenyapkan entitas level tinggi yang setidaknya berada di Tier B—pikirannya terus dibayangi oleh pertanyaan yang meresahkan: apakah badai masalah yang jauh lebih besar tengah bergerak mendekat?

Duduk di sudut kelas, Rahman bersumpah ia masih bisa merasakan sensasi dingin yang menggelitik tengkuknya; sebuah memori sensorik dari sisa aura yang dipancarkan Ryan sedari tadi. Didorong oleh rasa ingin tahu yang mengakar kuat di benak, ia terus mengamati punggung remaja itu. Di bangkunya, Ryan menyimak penjelasan guru dengan tenang. Ia mengikuti pelajaran dengan baik, namun wajahnya tetap menampilkan ekspresi datar yang terlalu sukar untuk dibaca.

Apa dia tidak sadar? Atau dia memang tidak berniat mengendalikan aura mengerikan yang sedari tadi bocor ini?batin Rahman cemas. Ia gagal memahami apakah Ryan adalah sosok yang teledor, atau sengaja memamerkan tekanan spiritualnya yang menyesakkan.

Sepanjang jam pelajaran, fokus Rahman berantakan. Rangkaian teori di papan tulis kehilangan arti, tertimbun oleh spekulasi demi spekulasi mengenai identitas asli Ryan, hingga dentang bel istirahat akhirnya berbunyi.

"Hei Rahman, mau ikut kita ke kantin nggak?" sapa teman di samping bangkunya, membuyarkan lamunan.

"Oh, tidak. Kalian duluan saja, aku masih ada urusan di sini," jawab Rahman, memaksakan seulas senyum tipis.

"Ya sudah, kami duluan ya. Jangan kelamaan, nanti kehabisan jajan loh," sahut mereka sebelum bergegas pergi membaur dengan kerumunan murid lain.

Saat kelas menjadi hening, Rahman kembali memperhatikan sekeliling. Ia menyadari sesuatu yang aneh: tak ada satu saja teman sekelas yang mau menyapa atau sekadar memandang ke arah Ryan. Seakan insting biologis mereka mendeteksi bahaya, mereka memilih menjauh. Rahman pun bertanya dalam hati, Apakah hanya aku yang di kelas ini benar‑benar tidak mengetahui siapa Ryan sebenarnya?

Saat pikiran itu melintas, Ryan yang duduk diam mulai mengalihkan pandangannya ke sekeliling dengan ekspresi kebingungan. Sekejap kemudian, tatapannya berhenti tepat pada Rahman. Ia berdiri dari kursinya, lalu melangkah mantap menuju meja Rahman.

"Umm..., Rahman?"

"Iya?" sahut Rahman cepat. Ada riak keterkejutan yang gagal ia sembunyikan; ia sama sekali tidak mengira akan dikonfrontasi secara langsung.

"Maukah kamu mengantarku ke kantin?" tanya Ryan. Pada kesempatan ini, senyum sederhana muncul di wajahnya, disertai mata bersinar yang tampak memohon.

Ternyata anak itu bisa menampilkan ekspresi lain selain wajahnya yang begitu dingin, pikir Rahman kebingungan. Tak ingin melihat kegugupannya berlanjut terlalu lama, ia mengangguk. “Baik, ayo ke kantin.”

Rahman berjalan lebih dulu. Ryan mengikuti tanpa banyak bicara, menjaga jarak beberapa langkah di belakangnya. Namun, sepanjang koridor menuju area luar, Rahman sesuatu yang terasa berbeda, meski ia belum bisa menjelaskan apa. Murid‑murid yang lewat di samping mereka otomatis menepi, menutup wajah, sambil menatap curiga dan berbisik cemas.

Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah memang ada yang keliru pada diriku? Rahman berpikir heran, karena biasanya ia hanyalah murid biasa yang tak pernah mendapat perhatian. Menyadari sesuatu, ia mengintip perlahan ke belakang melalui sudut mata lalu kembali menatap lurus ke depan, memastikan Ryan tak menyadari pengawasannya. Ah, sial. Ini jelas karena dia.

Sesampainya di area kantin yang riuh, langkah mereka terhenti di tengah jalur utama. "Kita sudah sampai. Kamu mau makan apa?" tanya Rahman.

"Ummm...," Ryan tidak serta-merta menjawab. Ia hanya berbisik pelan sambil memusatkan pandangannya pada asap yang mengepul dari gerobak mi ayam, kemudian beralih menatap spanduk warung soto. Matanya terus beralih antara dua pilihan itu, terjebak dalam kebingungan yang absurd selama hampir satu menit penuh.

Setelah pergolakan batin yang tampak melelahkan itu selesai, ia baru menanggapi pertanyaan Rahman yang sempat diabaikannya. "Makan mi ayam yuk!"

Tanpa menunggu jawaban, Ryan berjalan mendahului menuju gerobak mi ayam, meninggalkan Rahman yang hanya bisa menggelengkan kepala, menghela napas panjang melihat tingkah kekanak-kanakan sang anomali, sebelum akhirnya melangkah menyusul.

Begitu dua mangkuk mi ayam hangat berada di tangan, Rahman segera mengarahkan langkah menuju sebuah meja kosong di pojok paling belakang kantin. Posisi yang terisolasi dan jauh dari kebisingan utama sengaja ia pilih agar ia bisa menginterogasi Ryan dengan leluasa.

Aroma mi ayam yang hangat tak mampu meredakan ketegangan Rahman. Di depannya, Ryan tampak terasing dari dunia luar, menikmati setiap suapan makanannya dengan santai. Seakan‑akan “kebocoran” aura gelap yang selama ini membuat bulu kuduk Rahman berdiri hanya sekadar hembusan angin lalu yang tak berarti.

Rahman menaruh sendoknya perlahan, mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kayu untuk menenangkan kegugupannya. “Ryan,” serunya, memulai konfrontasi.

Ryan menengadah. Bibirnya masih agak terbuka, memperlihatkan tatapan penasaran yang tampak sangat polos dan tidak bersalah.

"Soal kejadian kemarin sore di gang itu..." Rahman memelankan volume suaranya hingga batas minimal, memastikan tidak ada telinga asing yang menguping pembicaraan mereka. "Bagaimana bisa kamu melenyapkan makhluk mengerikan itu sendirian? Dan... aura hitam milikmu itu sebenarnya apa?"

Gerakan tangan Ryan yang tengah memegang sendok langsung terkunci di udara. Ekspresi wajahnya yang semula rileks perlahan bergeser menjadi kerutan bingung, seakan ia baru saja mendengar pertanyaan dalam bahasa asing yang tak dipahaminya.

"Apa maksudmu? Aura hitam?" Ryan memiringkan kepala. "Auraku ini berwarna biru muda, sama seperti para Esper D Class pada umumnya."

Untuk membuktikan ucapannya, Ryan mengangkat tangan kirinya, memusatkan fokus sejenak hingga sepercik energi spiritual menguar dari ujung jari telunjuknya. "Nih, Biru kan?"

Deg.

Rasa dingin yang menusuk tulang seketika menyebar ke seluruh tubuh Rahman. Meskipun Ryan hanya memancarkan energi itu selama dua detik sebelum memadamkannya, tekanan yang dihasilkan berhasil membuat napas Rahman terhenti. Ia terkejut dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Bagaimana mungkin pria ini begitu santai melepaskan manifestasi energi aneh itu di tempat umum?

Di saat yang sama, jauh di dalam jiwanya, Khodam Harimau Putih milik Rahman berteriak menggeram frustrasi. Sang khodam yang biasanya gagah berani itu kini terus meronta, memohon dengan sangat kepada sang tuan untuk segera angkat kaki dari tempat itu.

“Level D?” Rahman menatap Ryan dengan pandangan ngeri. Apa dia benar-benar buta terhadap warna asli dari energinya sendiri? Batinnya tak percaya.

"Kamu... juga seorang Esper?" Pertanyaan tenang yang keluar dari mulut Ryan itu seketika menyentak Rahman kembali ke realitas.

“Ya, aku juga,” jawab Rahman parau. Berbohong hanya akan menjadi tindakan sia-sia, apalagi di hadapan sosok yang baru saja memusnahkan hantu tingkat tinggi seolah-olah itu hanyalah debu.

Mendengar pengakuan itu, sebuah lengkungan senyum tipis yang tampak tulus terukir di wajah datar Ryan. "Pantas saja," gumamnya sembari mengangguk-angguk paham. "Karena kamu bisa merasakan energi spiritual, kamu penasaran denganku lalu mengikutiku kemarin, kan?"

Rahman berdeham kecil, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak kering. "Aku belum pernah mendaftarkan diri atau mengukur kekuatanku di Asosiasi, tapi kurasa aku ada di Level E. Sebagai tipe Sensory, aku jadi jauh lebih peka terhadap distorsi di sekelilingku."

Rahman memperpendek jarak, menatap tajam ke dalam mata Ryan dengan serius. “Namun Ryan, saya bukan bercanda. Menurut pandanganku, energi yang baru saja kamu tunjukkan dari jarimu tadi… bukanlah warna biru."

Ryan menghentikan aktivitas mengunyahnya. "Hah?"

"Warnanya hitam pekat," bisik Rahman penuh penekanan. "Dan hawanya juga dingin. Bagaimana bisa kamu begitu yakin kalau itu berwarna biru?"

Pertanyaan berbisik itu menciptakan keheningan lama di antara mereka. Ryan menahan diri, menatap Rahman dengan pandangan yang sulit dipahami. Daripada melontarkan sanggahan, wajahnya perlahan berubah menjadi kebingungan polos.

"Auraku jelas berwarna biru muda, tidak ada yang aneh sama sekali," jawab Ryan dengan nada yang sangat yakin dan tanpa kepura-puraan.

Namun, sebelum Rahman sempat menggali lebih dalam mengenai anomali persepsi tersebut, sebuah interupsi kasar memotong momentum mereka. Langkah kaki yang berat dan kentara sengaja diseret terdengar mendekat dari arah samping.

Brakk!

Sebuah hantaman keras mendarat di atas meja kayu mereka, membuat mangkuk mi ayam milik Rahman bergetar hebat. Suara dentuman itu menggema keras, seketika menenangkan kebisingan kantin. Dalam beberapa detik, keramaian di sekitar berubah hening; puluhan mata beralih memusatkan perhatian pada meja di pojok itu.

Di hadapan mereka, berdiri seorang pemuda dengan gestur menantang. Rambut pendeknya berantakan dengan ujung yang diberi semir pirang kusam.

"Jadi kalian berdua Esper juga? Hahaha, menarik," ucap si rambut pirang sembari menyunggingkan senyum seringai meremehkan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melemparkan tatapan tajam secara bergantian pada Ryan dan Rahman. "Perkenalkan, aku Agil. Pulang sekolah nanti mari kita berkelahi!"

Tantangan yang meledak tiba-tiba itu menggantung berat di udara sekolah. Rahman bisa merasakan sebuah gelombang energi baru yang mulai menguar agresif dari tubuh pemuda di depannya, sebuah kontras ekstrem yang berbenturan langsung dengan hawa dingin milik Ryan.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Rahman melirik Ryan di sampingnya. Ada ketakutan nyata yang merayap di batinnya; ia cemas jika anomali di sebelahnya ini kehilangan kesabaran dan melepaskan sedikit saja daya hancur hitamnya yang sanggup meratakan seluruh bangunan kantin ini dalam sekejap.

Namun, Ryan justru hanya menatap sisa mi ayamnya yang mulai mendingin dengan raut polos yang kosong. Seringai provokatif dari si berandalan seolah tak lebih penting daripada fakta bahwa sisa makanannya kini telah terganggu.

Badai masalah yang sejak pagi ditakutkan oleh Rahman, rupanya telah tiba—jauh lebih cepat dan dari arah yang sama sekali tidak ia duga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!