Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
II - Delapan Detik
Angka di pojok layar laptop menunjukkan pukul 02.47 ketika Raditya Wibowo masih membaca baris yang sama untuk ketiga kalinya.
*PT Cipta Prada Land. Didirikan lima tahun lalu. Pendiri: *Kirana Ayu Pradipta.
Ia sudah hafal setiap angka pertumbuhan perusahaan itu, setiap proyek yang pernah mereka garap, setiap kutipan dari wawancara singkat Kirana di media bisnis. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini riset kompetitor biasa — hal yang wajar dilakukan CEO mana pun menjelang presentasi final terbesar tahun ini.
Kebohongan itu tidak bertahan lama.
Karena yang sebenarnya ia cari, di antara baris angka dan grafik pertumbuhan itu, cuma satu hal: fotonya. Ia melihat potret Kirana dengan blazer gelap dan senyum yang jauh lebih percaya diri dari yang ia ingat. Rambutnya lebih pendek. Rahangnya lebih tegas.
Ia ingat rambut itu dulu selalu tergerai, sering diikat asal dengan pensil saat Kirana buru-buru menyelesaikan tugas maketnya. Ia ingat cara Kirana tertawa sampai matanya menyipit, cara ia bicara soal mimpinya membangun perusahaan sendiri seolah itu satu-satunya hal paling penting di dunia. Radit dulu percaya pada mimpi itu — bahkan lebih percaya daripada Kirana sendiri.
Sekarang perempuan di foto itu sudah mencapai semua impiannya sendiri. Tanpa dia.
Radit menutup laptop tepat jam empat pagi, matanya pedih, tubuhnya menolak berbaring meski otaknya sudah lelah berpikir. Ia hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela, sampai alarm berbunyi jam enam dan memaksanya bangkit lagi seperti tidak terjadi apa-apa semalaman.
TING!!!
Notifikasi dari Farrel masuk saat ia mengikat dasi di depan cermin.
Gua di bawah. 15 menit lagi kita harus otw.
...****************...
"Lu yakin siap?" Farrel bertanya begitu Radit masuk mobil, matanya masih sibuk memindai berkas di tangan.
"Siap buat apa? Presentasinya, atau ketemu dia?" Radit menjawab.
Farrel mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. "Gue cuma nanya soal presentasinya, Dit. Tapi sekarang gue jadi penasaran juga sama yang kedua."
Radit menghela napas, menyandarkan kepala ke jok mobil. "Gue nggak tahu, Rel. Sejak namanya muncul di laporan itu, gue nggak bisa berhenti mikirin gimana rasanya nanti, berdiri di ruangan yang sama bareng dia lagi. Kenapa harus dia, dari semua orang yang punya potensi buat jadi lawan?"
"Kalian putus baik-baik?" Farrel bertanya hati-hati. Ia tahu sedikit soal masa lalu Radit dengan seorang perempuan bernama Kirana — Radit tidak pernah cerita detailnya, cuma bilang hubungan itu berakhir, tanpa alasan yang jelas.
"Nggak." Radit menjawab pendek. "Sama sekali nggak baik-baik."
Farrel tidak mendesak lebih jauh, meski Radit tahu masih ada satu pertanyaan lagi yang tertahan di ujung lidah sahabatnya itu.
"Bokap lu udah tahu soal ini?" Farrel akhirnya bertanya, hati-hati memilih kata. "Soal siapa yang mimpin Cipta Prada Land, maksud gua."
"Belum." Radit menatap keluar jendela, melihat jalanan Jakarta yang mulai padat pagi itu. "Dan gue nggak niat kasih tahu, kecuali dia tanya duluan."
"Kenapa?"
"Karena kalau dia tahu," Radit menjawab pelan, "gua nggak punya jawaban yang bisa bikin dia puas."
Farrel diam sebentar, lalu menepuk bahu Radit sekali. "Ya udah. Fokus menang dulu aja hari ini. Urusan bokap lu, nanti aja dipikirin."
Radit tidak menjawab. Tapi kata-kata Farrel terus menggantung di kepalanya sepanjang sisa perjalanan, bercampur dengan bayangan wajah ayahnya yang selalu menuntut atas setiap keputusan dalam hidupnya.
...****************...
Ruang rapat di lantai 38 sudah ramai ketika mereka tiba. Sepuluh anggota dewan investor Cakra Investindo duduk mengelilingi meja oval besar, dua kursi presentasi menghadap mereka, satu untuk masing-masing kandidat finalis.
Tepat pukul sepuluh, pintu terbuka.
Radit mengangkat wajah, dan untuk sepersekian detik seluruh ruangan itu berhenti berputar.
Kirana berjalan masuk dengan langkah mantap, map presentasi terjepit di lengannya, mengenakan blazer abu-abu gelap. Di sampingnya, Nadia membawa tumpukan berkas dan maket kecil.
Kirana belum melihatnya. Ia sedang menyapa salah satu perwakilan dewan, tersenyum profesional, menjabat tangan beberapa orang yang menyambutnya hangat.
Lalu matanya berpindah ke seberang ruangan.
Berhenti tepat di wajah Radit.
Satu.
Dua.
Tiga.
Radit tidak tahu kenapa ia bisa menghitungnya sepasti itu — mungkin karena setiap detik terasa seperti… memberi ruang bagi kenangan di antara mereka untuk mengalir. Senyum Kirana perlahan memudar, bukan hilang, tapi berubah jadi sesuatu yang lebih waspada, seolah ia baru sadar lawan yang harus ia kalahkan hari ini bukan sekadar nama perusahaan di atas kertas.
Delapan detik, sebelum Kirana memutus kontak mata. Ia berdeham pelan, kembali ke perwakilan investor tadi, seolah delapan detik itu tidak pernah terjadi.
Tapi Radit tahu itu terjadi. Dan ia tahu, Kirana merasakannya juga.
"Selamat pagi, semuanya," Pak Kusnadi membuka sesi. "Hari ini kita akan mendengarkan presentasi final dari dua kandidat terbaik untuk proyek revitalisasi kawasan pesisir. Kita mulai dengan PT Cipta Prada Land, dilanjutkan dengan Wibowo Group. Keputusan final diumumkan satu minggu setelah presentasi ini berakhir."
"Selamat pagi, semuanya." Suara Kirana jelas dan tenang saat melangkah ke depan. "Saya Kirana Ayu Pradipta dari PT Cipta Prada Land. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada kami untuk mempresentasikan visi kami."
Radit memaksakan diri untuk fokus pada isi presentasi, bukan pada suara selalu terngiang di kepalanya selama tujuh tahun terakhir.
Presentasinya, ia harus akui, brilian. Kirana tidak cuma bicara keuntungan finansial, tapi juga dampak sosial bagi warga sekitar. Ruang publik yang dirancang untuk benar-benar dipakai, bukan sekadar dipajang di brosur. Radit mendapati dirinya kagum, di saat seharusnya ia merasa terancam.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, seorang anggota dewan bertanya soal kelayakan finansial jangka panjang, mengingat skala perusahaan Kirana yang masih tergolong kecil. Kirana menjawab dengan yakin, data dan argumen tersusun rapi, sampai anggota dewan itu sendiri terlihat terkesan dengan semua jawaban yang Kirana berikan.
Kemudian giliran timnya untuk memaparkan presentasi.
Radit berdiri, melangkah ke depan dengan ketenangan yang sudah ia latih ribuan kali.
"Selamat pagi. Saya Raditya Wibowo, mewakili Wibowo Group." Suaranya terdengar stabil, meski jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.
Presentasinya berjalan lancar. Angka-angka besar, skala proyek yang lebih ambisius, portofolio panjang Wibowo Group selama puluhan tahun.
Tapi, sesekali mata Raditya mencari celah untuk bertemu dengan mata Kirana yang memperhatikan presentasinya dengan ekspresi sulit dibaca.
Ketika sesi tanya jawab selesai, Pak Kusnadi berdiri, mengucapkan terima kasih pada kedua tim, menegaskan sekali lagi bahwa keputusan final akan diumumkan seminggu lagi.
Ruangan mulai bergerak, orang-orang berdiri untuk berjabat tangan formal sebelum pergi.
Sebagai perwakilan tertinggi timnya, Radit menyapa langsung perwakilan tim lawan.
Kirana berjalan mendekat, wajahnya kembali mengenakan topeng profesional yang sempurna, tangannya terulur untuk menyambut tangan Radit.
"Pak Wibowo," katanya, suaranya terdengar ada getar samar di baliknya. "Presentasi yang bagus."
Radit menjabat tangannya, merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Kirana untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Sensasi itu menjalar aneh sampai ujung jarinya.
"Bu Kirana," jawabnya, memaksa suara tetap datar meski jantungnya berdegup kencang. "Presentasi Anda juga luar biasa. Semoga yang terbaik yang memenangkan tender proyek ini."
Mereka berdua tahu — meski tak seorang pun di ruangan itu menyadarinya — kalimat sederhana itu menyimpan tujuh tahun memori yang belum selesai di antara mereka berdua.
Kirana melepaskan jabatan tangan lebih cepat, sembari menyunggingkan senyuman tipis. "Semoga begitu."
"Sepertinya kita bakal nunggu satu minggu yang cukup panjang," Radit berkata, mencoba menyelipkan sedikit candaan di tengah suasana yang begitu tegang.
Untuk sesaat, senyuman tulus — bukan senyum profesional yang tadi ia kenakan sepanjang presentasi — muncul di wajah Kirana. "Sepertinya begitu, Pak Wibowo."
Kirana mengangguk sekali, berbalik pergi bersama Nadia, meninggalkan Radit berdiri di ruang rapat yang perlahan kosong.
"Dit." Farrel menepuk bahunya, menariknya dari lamunan. "Yuk. Kita udah ngasih yang terbaik. Sekarang tinggal nunggu."
Radit mengangguk, mengikuti langkah sahabatnya keluar. Tapi bahkan di dalam lift, saat ia turun menuju lobi, delapan detik yang mengubah segalanya itu masih berkutat, menari-nari di dalam kepalanya.
...****************...
Di lobi, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras seketika.
Ayah.
Ia menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol hijau. "Ya, Ayah."
"Bagaimana presentasinya?" Suara Hartono Wibowo terdengar tegas seperti biasa, tanpa basa-basi untuk menanyakan kabar anaknya.
"Berjalan lancar. Hasilnya diumumkan minggu depan."
"Pastikan kita menang, Radit. Proyek itu penting buat ekspansi kita ke pesisir." Jeda sebentar. "Siapa pesaing kita?"
Radit menutup mata sesaat, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Perusahaan kecil. Belum lama berdiri."
"Kalau kecil, seharusnya bukan masalah buat kita."
"Nggak," Radit menjawab, suaranya lebih pelan. "Bukan masalah besar."
Ia mengakhiri panggilan itu tanpa memberi tahu detail tentang siapa pemilik perusahaan kecil yang dimaksud. Bukan karena ia ingin menyembunyikan sesuatu dari, tapi karena ia belum siap mendengar kata yang mungkin keluar dari mulut Hartono soal nama Kirana Ayu Pradipta.
Apa pun hasil keputusan dewan investor minggu depan, satu hal sudah pasti — sesuatu di dalam dirinya sudah berubah sejak pagi ini, dan ia tidak yakin bisa mengembalikannya seperti semula.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪