NovelToon NovelToon
Ibu Susu untuk Putra CEO

Ibu Susu untuk Putra CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Pengasuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.

Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.

Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tes Pertama

Pena di tangan Aisha terasa begitu berat saat digesekkan di atas kertas putih tebal itu. Setelah membubuhkan tanda tangan, ia meletakkan pena dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Kontrak itu resmi mengikatnya. Mulai hari ini, ia bukan lagi seorang wanita bebas, melainkan seorang Ibu Susu yang terikat aturan ketat di dalam mansion megah ini.

Adrian menarik dokumen itu, memeriksanya sekilas dengan tatapan puas yang dingin, lalu memasukkannya kembali ke dalam laci meja kerja marmernya.

"Kontrak sudah sah," ujar Adrian sembari berdiri. "Bi Asih akan mengantarmu ke paviliun belakang. Di sana adalah tempat tinggalmu. Tapi sebelum kamu mulai bertugas secara resmi, ada satu hal lagi yang harus kita lakukan."

Aisha mendongak, matanya yang sembap menatap Adrian dengan bingung. "Hal apa, Tuan?"

"Tes pertama," jawab Adrian singkat. "Tadi malam, anakku dalam kondisi setengah sadar karena kritis. Sekarang, dia sudah jauh lebih segar. Aku ingin melihat apakah dia benar-benar menerima kehadiranmu atau tidak saat dia terjaga penuh."

Adrian berjalan melewati Aisha tanpa menunggu jawaban, mengisyaratkan agar wanita itu mengikutinya kembali ke lantai dua.

---

Di dalam kamar bayi, suasananya kini jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Kamar itu begitu luas, dengan dinding yang dicat warna biru pastel lembut dan dipenuhi perabotan bayi premium yang diimpor langsung dari luar negeri.

Kael sedang berbaring di dalam boks bayi yang terbuat dari kayu kokoh bertirai kelambu putih. Bayi mungil itu sudah terbangun. Sepasang mata bulatnya yang jernih mengerjap-ngerjap menatap langit-langit kamar, sementara tangan-tangan mungilnya yang terbungkus sarung tangan kain bergerak acak di udara.

Dokter pribadi Adrian dan Bi Asih sudah berdiri di dekat boks, menunggu kedatangan mereka dengan raut wajah tegang. Bagaimanapun, tes saat bayi terjaga sepenuhnya adalah penentu apakah insting sang bayi benar-benar menolak atau menerima ibu susu tersebut.

"Tuan Adrian, Den Kael baru saja terbangun sekitar sepuluh menit yang lalu. Kondisi fisiknya jauh lebih stabil berkat ASI tadi malam," lapor Dokter dengan nada suara rendah agar tidak mengejutkan sang bayi.

Adrian mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah Aisha yang berdiri kaku di ambang pintu, tampak sangat canggung dan minder melihat kemewahan di sekelilingnya.

"Aisha, mendekatlah," perintah Adrian, suaranya terdengar seperti titah yang tidak boleh dibantah. "Gendong dia."

Aisha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia melangkah perlahan, mendekati boks bayi tersebut. Begitu matanya menatap sosok Kael yang sedang mengerjap sehat, rasa hangat langsung menjalar di sekujur tubuh Aisha. Kerinduan mendalam kepada bayinya sendiri yang telah tiada mendadak menjelma menjadi limpahan kasih sayang untuk Kael.

Aisha mengulurkan kedua tangannya yang bersih ke dalam boks. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian, ia menyelipkan lengannya di bawah leher dan punggung kecil Kael, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

Begitu tubuh mereka bersentuhan, Kael mendadak terdiam. Gerakan tangan dan kakinya yang tadinya acak langsung terhenti.

Adrian maju satu langkah, matanya menyipit tajam, memperhatikan setiap detail reaksi putranya dengan napas yang tertahan. Jika Kael menangis atau meronta sekarang, maka keberadaan Aisha di rumah ini akan sia-sia.

Namun, ketakutan itu tidak terjadi.

Kael justru mengendus kecil, mengarahkan wajah mungilnya ke dada Aisha, mencari aroma khas yang menenangkannya tadi malam. Mengingat instruksi dokter, Aisha dengan perlahan menyingkap sedikit pakaian khususnya untuk menyusui secara tertutup, lalu memosisikan Kael dengan nyaman di lengan kirinya.

Saat mulut mungil Kael berhasil menggapai sumber ASInya, bayi itu langsung menyusu dengan sangat lahap. Matanya yang bulat sempat menatap wajah Aisha selama beberapa detik—seolah sedang mengenali wajah "ibu" barunya—sebelum akhirnya sepasang kelopak mata kecil itu perlahan meredup, menikmati kehangatan dan rasa aman dalam dekapan Aisha.

Keheningan di kamar itu mendadak pecah oleh helaan napas lega dari Dokter dan Bi Asih.

"Luar biasa..." bisik Dokter dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. "Ini benar-benar luar biasa, Tuan Adrian. Tidak ada penolakan sama sekali. Den Kael merasa sangat aman di pelukan Aisha. Tes pertama berhasil dengan sangat sempurna."

Bi Asih mengusap air mata haru di sudut matanya. "Benar, Tuan. Den Kael seperti menemukan ibunya kembali."

Adrian tetap bergeming di tempatnya berdiri. Tatapannya terpaku pada pemandangan di depannya. Ada sesuatu yang aneh yang bergejolak di dalam dadanya saat melihat bagaimana tenangnya Kael di pelukan Aisha. Selama ini, Adrian mengira bahwa uang dan fasilitas medis tercanggih bisa menyelesaikan segalanya, namun pemandangan ini membuktikan sebaliknya. Wanita rapuh di depannya memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uangnya yang melimpah: ketulusan seorang ibu.

Meskipun hatinya sedikit tersentuh, ego dan dinding keangkuhan Adrian dengan cepat mengambil alih kembali. Ia mendehem pelan, mengembalikan raut wajahnya menjadi sedingin es.

"Bagus kalau begitu," kata Adrian datar, memecah suasana haru. "Tes selesai. Bi Asih, setelah Kael selesai menyusu, segera antar Aisha ke paviliun belakang agar dia bisa beristirahat dan bersiap untuk jadwal menyusu berikutnya."

Aisha hanya menunduk pelan tanpa suara, membiarkan jemari mungil Kael yang bebas menggenggam erat ujung daster katunnya, seolah bayi itu enggan melepaskan pelukan hangat yang baru saja ditemukannya.

---

Bersambung

1
Sumining 123
luar BB biasa
Aera_yong
Wah gays terimakasih udah baca karya aku yang ini ya gays udah nembus 3k hehheeh😍😍🥳🥳
Sumining 123
lanjutkan cerita nya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!