NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 - Kehilangan Terbesar

Beberapa saat kemudian, Cang Xuan tiba di sebuah lapangan terbuka yang cukup aman dan jauh lebih mudah diawasi dibandingkan area hutan yang dipenuhi semak belukar. Dengan gerakan hati-hati, ia menurunkan tubuh gadis itu dari punggungnya dan membaringkannya di atas rerumputan yang lembut. Setelah memastikan kondisinya tidak memburuk, ia mulai mencari beberapa tanaman obat liar yang tumbuh di sekitar tempat tersebut.

Tanaman itu merupakan jenis yang sering digunakan penduduk desa untuk mengobati luka ringan. Meskipun khasiatnya tidak terlalu istimewa, setidaknya dapat membantu menghentikan pendarahan dan mempercepat pemulihan luka luar.

Cang Xuan mengumpulkan beberapa helai daun, lalu menghancurkannya hingga mengeluarkan cairan hijau sebelum menempelkannya pada luka di lengan gadis tersebut. Gerakannya terlihat terampil, menandakan bahwa ia sudah cukup terbiasa menangani luka seperti ini.

Setelah selesai, ia duduk tidak jauh dari sana sambil mengatur napas. Pertarungan melawan kawanan serigala sebelumnya masih menyisakan beberapa goresan kecil di tubuhnya, tetapi ia tidak terlalu memedulikannya.

Tidak lama kemudian, kelopak mata gadis yang terbaring di atas rerumputan itu mulai bergerak.

Awalnya hanya sedikit, seolah sedang berusaha melawan rasa lelah yang luar biasa. Namun beberapa saat kemudian, matanya perlahan terbuka.

Tatapan yang muncul di sana dipenuhi kebingungan.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan pepohonan di sekitarnya seakan berusaha memahami apa yang telah terjadi.

"Di mana aku?"

Sambil bertanya, gadis itu segera mencoba duduk. Untungnya, luka-lukanya tidak terlalu memengaruhi gerakannya.

Melihat bahwa ia telah sadar, Cang Xuan mengembuskan napas lega tanpa sadar. Setidaknya usahanya tidak sia-sia.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kau sudah sadar. Kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang."

Mendengar suara tersebut, gadis itu langsung menoleh ke arahnya.

Tatapannya berhenti pada sosok anak laki-laki yang mengenakan pakaian sederhana dengan pedang tua di pinggangnya.

"Apakah kau yang menolongku tadi?"

Cang Xuan menganggukkan kepala tanpa banyak berpikir.

"Iya. Aku menemukanmu di tengah hutan. Saat itu kau hampir dimakan serigala."

Mendengar penjelasan tersebut, ekspresi gadis itu sedikit berubah. Seolah baru mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya kehilangan kesadaran.

"Oh begitu ya..."

Untuk sesaat ia tampak sedikit malu.

"Terima kasih."

Namun Cang Xuan hanya menggeleng pelan.

"Tidak perlu berterima kasih."

Baginya, membantu seseorang yang sedang berada dalam bahaya adalah hal yang wajar. Terlebih lagi, ia memang tidak tega membiarkan seseorang mati begitu saja di tengah hutan.

Setelah memastikan kondisi gadis itu cukup stabil, ia pun berdiri dari tempatnya.

"Kalau rumahmu tidak jauh dari sini, sebaiknya cepat pulang."

Tatapannya mengarah ke langit yang perlahan bergerak menuju siang.

"Malam hari sangat berbahaya. Monster Abyss akan mulai bermunculan."

Gadis itu tersenyum kecil mendengar peringatannya.

"Tenang saja. Tempat tinggalku tidak jauh dari sini kok."

Jawaban itu membuat Cang Xuan sedikit lega. Setidaknya ia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan gadis tersebut setelah berpisah nanti.

Setelah suasana hening selama beberapa saat, gadis itu kembali membuka suara.

"Kalau boleh tahu, siapa namamu?"

"Cang Xuan."

Jawabannya singkat seperti biasanya.

Gadis itu menganggukkan kepala.

"Kalau namaku Ling Yue."

Senyum hangat menghiasi wajahnya.

"Salam kenal, Cang Xuan."

Cang Xuan membalas dengan anggukan sederhana.

"Salam kenal."

Meskipun tidak banyak bicara, sikapnya tetap sopan.

"Lalu rumahmu di mana?" tanya Ling Yue lagi.

Cang Xuan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah pegunungan yang tampak samar di kejauhan.

"Di sekitar gunung itu, tidak jauh dari situ."

"Oh begitu."

Ling Yue mengikuti arah yang ditunjuknya sambil mengangguk pelan.

Setelah itu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Keduanya hanya terdiam sejenak, membiarkan angin siang yang lembut berembus melewati lapangan terbuka tersebut.

Pada akhirnya, Cang Xuan berbalik lebih dulu.

"Kalau begitu aku pergi dulu."

Ia sempat melirik ke arah Ling Yue untuk terakhir kalinya.

"Jaga dirimu baik-baik."

Ling Yue hanya mengangguk sambil memperhatikan sosok anak laki-laki itu berjalan menjauh. Langkahnya terlihat sederhana dan biasa saja, sama seperti anak desa pada umumnya.

Namun justru karena itulah ia merasa sedikit heran.

Tatapannya perlahan jatuh pada beberapa goresan dan noda darah yang masih terlihat di pakaian Cang Xuan.

"Dilihat dari pakaiannya, dia hanyalah orang biasa."

Pikirannya kembali mengingat keadaan saat ia terbangun tadi.

Luka-luka di tubuh anak itu jelas bukan luka yang didapatkan secara kebetulan.

"Dilihat dari tubuhnya, dia juga mengalami beberapa luka. Jangan-jangan dia benar-benar melawan kawanan serigala sendirian demi menyelamatkanku."

Semakin dipikirkan, semakin sulit baginya untuk mempercayainya.

Meskipun kawanan serigala bukan ancaman besar baginya dalam kondisi normal, seorang anak seusia Cang Xuan yang mampu menghadapi mereka seorang diri tetap merupakan hal yang tidak biasa.

Senyuman kecil perlahan muncul di wajahnya.

Tatapannya masih mengikuti punggung Cang Xuan yang semakin jauh di antara pepohonan.

"Aku harap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya lagi."

Sementara itu, Cang Xuan bergegas kembali menuju area tempat ia meninggalkan bangkai para serigala. Karena sebelumnya ia membawa Ling Yue ke lapangan terbuka yang cukup jauh dari lokasi pertempuran, perjalanan kembali membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ia terus berjalan cepat melewati semak-semak dan pepohonan yang sudah dikenalnya, sesekali mempercepat langkah karena khawatir sesuatu terjadi pada hasil buruannya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi bayangan enam ekor serigala yang berhasil ia bunuh dengan susah payah. Jika semuanya dapat dibawa kembali ke desa, ia akan memperoleh uang yang jauh lebih banyak dibandingkan biasanya. Bahkan mungkin cukup untuk membeli persediaan obat selama beberapa hari ke depan. Memikirkan hal itu membuat langkahnya semakin cepat.

Namun ketika ia akhirnya tiba di lokasi tersebut, seluruh tubuhnya langsung membeku.

Langkah yang sedang diayunkan terhenti di tempat.

Matanya membelalak tidak percaya.

"Di mana?"

Suara itu keluar hampir tanpa sadar.

Area terbuka yang sebelumnya menjadi tempat pertarungan masih ada di hadapannya. Rerumputan yang rusak akibat pertempuran masih terlihat jelas. Bahkan noda darah yang membasahi tanah pun masih belum mengering sepenuhnya.

Namun bangkai para serigala yang seharusnya berada di sana telah lenyap.

Tidak ada satu pun yang tersisa.

Cang Xuan segera menoleh ke berbagai arah. Tatapannya menyapu setiap sudut area tersebut seolah berharap menemukan sesuatu yang terlewatkan.

Tetapi semakin lama ia mencari, semakin dingin perasaannya.

"Tidak mungkin..."

Ia segera berlari ke sana kemari, memeriksa semak-semak di sekitar lokasi, mencari jejak apa pun yang mungkin menunjukkan ke mana bangkai-bangkai itu menghilang. Sayangnya, seluruh usahanya tidak membuahkan hasil.

Enam ekor serigala yang telah ia kalahkan dengan susah payah benar-benar menghilang tanpa jejak.

Tidak ada bangkai.

Tidak ada bulu.

Tidak ada sisa-sisa yang dapat menjelaskan apa yang telah terjadi.

Cang Xuan berdiri terdiam di tengah area terbuka itu. Napasnya sedikit memburu akibat berlari ke sana kemari, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Mungkin ada pemburu lain yang kebetulan menemukan tempat ini dan membawa seluruh hasil buruannya pergi.

Mungkin juga beberapa monster atau binatang buas lain datang setelah ia pergi dan menyeret bangkai-bangkai tersebut ke tempat lain.

Atau mungkin terjadi sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui.

Apa pun alasannya, kenyataan tidak berubah.

Seluruh hasil buruannya telah hilang.

Perlahan, kedua tangan Cang Xuan mengepal.

Rasa kecewa yang selama ini berusaha ia tahan mulai memenuhi dadanya.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang baik. Setelah berjam-jam tidak menemukan mangsa yang layak, akhirnya ia berhasil memperoleh enam ekor serigala sekaligus. Namun hanya karena meninggalkan tempat itu untuk menyelamatkan seseorang, seluruh hasil jerih payahnya lenyap begitu saja.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Suara pelan itu terdengar begitu berat.

Ia bukan sedang memikirkan dirinya sendiri.

Yang terlintas di benaknya adalah ibunya.

Obat-obatan.

Makanan.

Kebutuhan yang harus dipenuhi esok hari.

Semua harapan yang sempat muncul ketika melihat enam bangkai serigala tadi kini perlahan menghilang seperti kabut yang tertiup angin.

Cang Xuan menundukkan kepala selama beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

Bagaimanapun juga, ia tidak mungkin terus berada di sana.

Ketika mengangkat pandangan ke langit, ia menyadari bahwa matahari telah bergerak semakin rendah. Cahaya keemasan yang menyelimuti hutan perlahan berubah menjadi warna jingga kemerahan, menandakan bahwa senja telah tiba.

Malam sudah semakin dekat.

Dan di dunia ini, tidak ada tempat yang lebih berbahaya daripada hutan ketika malam turun.

Meskipun hatinya masih dipenuhi kekecewaan, Cang Xuan tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain. Tinggal lebih lama hanya akan membahayakan nyawanya sendiri.

Dengan langkah yang jauh lebih berat dibandingkan saat datang, ia akhirnya meninggalkan area tersebut dan mulai berjalan kembali menuju desa.

Sepanjang perjalanan kembali ke desa, Cang Xuan hampir tidak memedulikan rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya. Perutnya terus mengeluarkan suara protes akibat kelaparan yang telah ia tahan sejak hari sebelumnya, tetapi rasa lapar itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan kekecewaan yang memenuhi hatinya. Setiap kali mengingat enam bangkai serigala yang menghilang begitu saja, dadanya terasa semakin sesak. Itu bukan sekadar hasil buruan biasa, melainkan harapan untuk membeli obat dan kebutuhan yang sangat diperlukan di rumah.

Ketika malam akhirnya turun dan lampu-lampu minyak mulai menyala di berbagai sudut desa, Cang Xuan tiba di depan rumah kayu kecil tempat ia tinggal bersama ibunya. Entah mengapa, rumah itu tampak lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada cahaya hangat yang biasanya terlihat dari sela-sela jendela, dan suasana di sekitarnya terasa begitu sepi hingga membuat hatinya dipenuhi perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Ia segera membuka pintu dan melangkah masuk.

"Aku pulang."

Suara itu bergema pelan di dalam rumah yang sederhana.

Namun tidak ada jawaban.

Biasanya, meskipun sedang terbaring sakit, ibunya akan tetap menyahut dengan suara lembut dari dalam kamar. Kali ini, yang menyambutnya hanyalah keheningan.

Perasaan tidak enak di hati Cang Xuan semakin kuat.

Tanpa membuang waktu, ia segera berjalan menuju kamar ibunya. Namun saat baru tiba di depan pintu, langkahnya langsung terhenti.

Wajahnya seketika berubah pucat.

"Ibu!"

Tubuh wanita itu tergeletak di lantai di samping kasur tua yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat. Tidak diketahui apakah ia mencoba bangun atau melakukan sesuatu sebelumnya, tetapi jelas bahwa ia telah jatuh dan tidak memiliki tenaga untuk kembali berdiri.

Jantung Cang Xuan berdegup kencang.

Ia segera berlari menghampiri dan berlutut di samping ibunya sebelum dengan hati-hati membantu wanita itu kembali berbaring di atas kasur.

"Ibu! Ibu, bagaimana keadaan Ibu?"

Tangannya sedikit gemetar ketika menyentuh tubuh wanita tersebut.

Napas ibunya terdengar sangat lemah.

Jauh lebih lemah dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Wajah yang selama ini sudah pucat kini tampak semakin kehilangan warna, sementara sorot matanya yang biasanya masih menyimpan sedikit kehidupan perlahan mulai meredup.

Wanita itu memandang putranya dengan tatapan penuh kasih sayang.

"Cang Xuan..."

Suaranya bergetar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

"Sepertinya... waktu Ibu sudah tidak lama lagi."

Mata Cang Xuan langsung memerah.

"Ibu jangan bicara seperti itu."

Ia menggenggam tangan wanita itu erat-erat, seolah takut kehilangan dirinya jika melepaskannya.

"Ibu pasti akan sembuh."

Namun wanita tersebut hanya tersenyum lemah.

Senyuman itu tidak mengandung harapan ataupun penyangkalan. Sebaliknya, senyum itu terlihat seperti seseorang yang telah menerima kenyataan yang tidak bisa diubah.

"Ada satu hal yang belum pernah Ibu ceritakan kepadamu."

Mendengar kata-kata itu, Cang Xuan perlahan terdiam.

Wanita tersebut menarik napas panjang dengan susah payah sebelum kembali berbicara.

"Mengenai ayahmu."

Tubuh Cang Xuan langsung membeku.

Selama bertahun-tahun, pertanyaan mengenai sosok ayahnya selalu tersimpan jauh di dalam hati. Ia tidak pernah mengetahui siapa pria itu, tidak pernah melihat wajahnya, dan tidak pernah mendengar penjelasan apa pun dari ibunya.

Kini, untuk pertama kalinya, rahasia tersebut akhirnya akan terungkap.

Wanita itu memejamkan mata sejenak sebelum melanjutkan.

"Ayahmu... mungkin masih hidup."

Mata Cang Xuan membelalak.

"Ibu... Ayah masih hidup?"

Wanita itu menganggukkan kepala perlahan.

"Ya."

Jawaban singkat itu membuat hati Cang Xuan bergejolak.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, wanita tersebut kembali berbicara.

"Tetapi dia tidak berada di dunia ini."

Kebingungan langsung memenuhi wajah Cang Xuan.

"Maksud Ibu?"

Tatapan wanita itu perlahan beralih ke langit-langit kamar, seolah sedang memandang masa lalu yang sangat jauh.

"Ayahmu berada di Dunia Atas."

Istilah itu terdengar begitu asing.

Dunia Atas.

Cang Xuan belum pernah mendengar nama tempat tersebut sebelumnya. Namun entah mengapa, hanya dari dua kata itu saja, ia dapat merasakan bahwa tempat tersebut berada sangat jauh dari kehidupannya sekarang.

Jauh melampaui desa kecil ini.

Jauh melampaui hutan yang selama ini ia kenal.

Jauh melampaui segala sesuatu yang pernah ia bayangkan.

Wanita itu kembali memandang putranya.

Di matanya terdapat kekhawatiran yang mendalam.

"Ibu harap..."

Tangannya yang lemah menggenggam tangan Cang Xuan.

"Kau tidak mencoba mencari ayahmu."

Suaranya semakin pelan.

"Tempat itu terlalu berbahaya."

"Terlalu sulit untukmu."

Air mata mulai mengalir dari mata Cang Xuan.

"Ibu..."

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Semua yang terjadi malam itu terasa terlalu mendadak.

Rahasia mengenai ayahnya.

Kondisi ibunya.

Dan firasat buruk yang terus menghantui hatinya.

Wanita itu tersenyum lembut sekali lagi.

Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengeluarkan sebuah benda yang selama ini tersembunyi di balik pakaiannya. Benda tersebut tampak seperti sesuatu yang selalu dijaganya dengan sangat baik selama bertahun-tahun.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menyerahkan benda itu ke tangan Cang Xuan.

"Terimalah ini..."

Suara wanita itu semakin lirih.

"Ibu sudah tenang sekarang."

Air mata terus mengalir di wajah Cang Xuan.

"Cang Xuan..."

Tatapan wanita itu dipenuhi kasih sayang yang tidak pernah berubah sejak hari pertama putranya lahir.

"Kau harus tetap hidup..."

"Itulah harapan terakhir Ibu."

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, genggaman tangannya perlahan mulai melemah.

Sangat perlahan.

Seolah pasir yang terus mengalir keluar dari sela-sela jari.

Kelopak matanya menutup sedikit demi sedikit.

Senyuman lembut masih tersisa di wajahnya.

Lalu napasnya berhenti.

Untuk selamanya.

Keheningan langsung menyelimuti seluruh ruangan.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Tidak ada apa pun selain kesunyian yang terasa begitu menyesakkan.

"Ibu...?"

Suara Cang Xuan terdengar bergetar.

Ia menatap wajah wanita itu, berharap melihat tanda-tanda kehidupan yang masih tersisa.

Namun tidak ada.

"Ibu?"

Tangannya mulai gemetar.

Ia mengguncang tubuh wanita tersebut dengan hati-hati, lalu semakin kuat ketika tidak mendapatkan respons apa pun.

"Ibu!"

Tidak ada jawaban.

Tidak ada senyuman.

Tidak ada suara lembut yang selama ini selalu menenangkannya.

Yang tersisa hanyalah tubuh yang perlahan kehilangan kehangatan.

Saat itulah kenyataan akhirnya menghantam dirinya sepenuhnya.

Air mata mengalir deras tanpa mampu dihentikan.

"Ibu!!"

Tangisan penuh kesedihan menggema di seluruh rumah kecil itu.

Tangisan seorang anak yang baru saja kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Di luar rumah, malam terus berlanjut seperti biasa. Angin dingin berembus melewati jalan-jalan desa yang sunyi, sementara cahaya bulan menyinari atap-atap rumah dari kejauhan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kesedihan yang sedang terjadi di dalam rumah kecil di pinggiran desa itu.

Malam yang gelap menjadi saksi ketika kehidupan seorang anak laki-laki berubah untuk selamanya, dan sejak saat itu, Cang Xuan benar-benar sendirian di dunia ini.

End Chapter 4

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!