Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Perpustakaan dan Buku Tua
Hari-hari berikutnya berjalan teratur. Pagi-pagi sekali Dika sudah bangun, membersihkan halaman, menyiram tanaman, lalu membantu pekerjaan lain di dapur atau gudang. Ia bekerja dengan rajin, tidak pernah mengeluh, meski sesekali masih mendapat tatapan dingin dari Bu Marni atau pembantu lain yang menganggapnya hanya orang luar yang diberi kesempatan.
Sore harinya, biasanya ia diminta merapikan perpustakaan kecil di lantai dua. Ruangan itu luas, berderet rak buku tinggi dari lantai sampai langit-langit. Awalnya Dika hanya menyapu debu dan menata buku yang berantakan, tapi lama-kelamaan ia mulai tertarik. Banyak buku di sana yang jarang dibuka, sampulnya sudah agak pudar karena usia.
Suatu sore, saat sedang menata rak paling atas, tangannya menyentuh sebuah buku bersampul kulit cokelat tua. Ukurannya agak tebal, tulisan di sampulnya sudah sulit dibaca. Ia menurunkannya perlahan, meniup debu yang menempel, lalu membuka halaman pertamanya. Isinya tentang kisah perjuangan dan kehidupan sederhana, persis seperti yang sering ia dengar dari ibunya.
Dika duduk di kursi dekat jendela, lupa waktu sambil membaca. Suasana perpustakaan yang sunyi dan sejuk membuatnya betah. Ia tidak sadar kalau ada orang yang masuk dan berdiri di dekat pintu, mengamatinya dari tadi.
“Kamu suka membaca?”
Suara itu membuat Dika terkejut. Ia menoleh cepat, melihat Kirana berdiri di ambang pintu, memegang sebuah buku tebal di tangannya.
“Maaf, Non. Saya tidak bermaksud mengambil buku tanpa izin,” kata Dika buru-buru hendak menutupnya.
“Tidak apa-apa,” sahut Kirana sambil melangkah masuk. “Buku-buku di sini sudah lama tidak ada yang membaca. Ibu jarang sempat, dan saya lebih suka buku pelajaran atau majalah. Itu buku tentang apa?”
“Tentang orang yang hidup sederhana, tapi tetap berusaha meski banyak rintangan. Menarik juga,” jawab Dika sopan.
Kirana mendekat, lalu duduk di kursi di seberangnya. Ia menatap buku yang terbuka di meja itu. “Kamu memang sering membaca buku seperti itu ya? Waktu pertama kali datang, saya lihat kamu juga membawa banyak buku.”
Dika tersenyum tipis. “Kalau tidak punya uang untuk jalan-jalan atau hiburan, membaca buku bisa jadi jendela dunia. Bisa tahu banyak hal tanpa harus pergi ke tempatnya.”
Kirana terdiam. Ia memandangi rak-rak buku yang berjajar rapi. “Saya punya banyak buku, tapi rasanya membaca itu hanya kewajiban. Sekolah menyuruh, guru menyuruh, ibu menyuruh. Tidak pernah merasa senang seperti yang kamu katakan.”
“Kalau dibaca karena terpaksa, memang terasa berat. Coba cari yang topiknya disukai, sedikit demi sedikit pasti terasa beda,” saran Dika pelan.
Kirana menoleh padanya, matanya terlihat penasaran. “Kamu punya buku kesukaan?”
Dika mengangguk, lalu mengeluarkan buku catatan lusuh miliknya dari saku baju—buku yang selalu ia bawa ke mana-mana. “Ini bukan buku cerita, tapi catatan ibu. Dia menulis pesan-pesan, hal-hal yang dia pelajari selama hidupnya. Saya sering membacanya kalau sedang lelah atau sedih.”
Kirana menatap buku itu, lalu mengulurkan tangannya ragu. “Boleh saya lihat?”
Dika terdiam sebentar, lalu mengangguk dan menyerahkannya dengan hati-hati. Buku itu terlihat sederhana, bahkan agak rusak di sudut-sudutnya, tapi di mata Dika ini barang paling berharga.
Kirana membuka halaman demi halaman. Tulisan tangannya rapi meski agak tua, berisi kalimat sederhana: “Kejujuran lebih mahal dari emas”, “Orang yang sabar akan melihat hasilnya”, “Jangan malu dengan pekerjaan apa pun, selama halal”.
“Tulisan ibumu bagus,” kata Kirana pelan. “Dan isinya… berbeda dari apa yang saya pelajari di sekolah. Di sana saya diajari cara berbisnis, cara berbicara dengan orang penting, cara menjaga nama baik. Tapi tidak pernah diajari hal-hal seperti ini.”
“Karena ini hal yang diajarkan langsung dari pengalaman hidup,” jawab Dika. “Ibu saya tidak sekolah tinggi, tapi dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk.”
Kirana menutup buku itu perlahan, lalu mengembalikannya. “Terima kasih sudah memperbolehkan saya membacanya. Rasanya… menenangkan.”
Sebelum Dika sempat menjawab, suara langkah kaki cepat terdengar mendekat. Bu Marni muncul di ambang pintu, wajahnya terlihat kaget melihat mereka berdua sedang duduk berdekatan.
“Non Kirana! Ternyata ada di sini. Nyonya mencari, tamu sudah datang,” katanya, lalu matanya menatap tajam ke arah Dika. “Dan kamu, Dika, sebaiknya selesaikan pekerjaanmu. Perpustakaan sudah bersih, kan?”
Dika segera berdiri dan menunduk. “Sudah, Bu. Saya bereskan semuanya.”
Kirana berdiri juga, wajahnya kembali dingin seperti biasa. “Saya pergi dulu. Terima kasih atas bukunya.” Ia berjalan keluar diikuti Bu Marni, meninggalkan Dika sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Dika menghela napas, lalu menyimpan buku catatannya kembali. Ia sadar, meski percakapan mereka tadi biasa saja, tapi bagi orang di rumah ini, melihatnya berbicara lama dengan Kirana bisa dianggap hal yang tidak wajar. Ia harus lebih berhati-hati, tapi di sisi lain, ia merasa senang bisa berbagi sedikit hal yang ia miliki.
Ia membereskan meja, memastikan semuanya rapi, lalu keluar dari perpustakaan. Sore itu, untuk pertama kalinya, ia merasa ada satu hal kecil yang membuatnya betah berada di rumah besar ini: kesempatan berbicara dengan orang yang mau mendengar tanpa menilai hanya dari status.