Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Pagi itu, mansion Thorne kembali diuji kekuatannya. Alistair baru saja turun ke ruang makan, berharap menemukan keheningan dan ketenangan yang biasa ia dapatkan ketika bangun pagi. Namun, yang ia temukan adalah pemandangan yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia dikepung oleh polisi atau musuhnya.
Sloane sedang berdiri di atas kursi makan mahoni abad ke-19, tangannya memegang semprotan pembersih kaca, dan ia sedang mencoba menjangkau bagian atas bingkai foto keluarga Alistair yang besar.
Dia bahkan tidak memperdulikan kedatangan alistair di dekat nya.
melihat pemandangan yang tidak biasa itu, membuat jantungnya berdebar kencang. wanita ceroboh itu kini melakukan hal yang belum ia perintahkan.
"Nona Sterling! Turun dari sana sekarang juga!" Alistair bersuara, suaranya yang kaku terdengar sangat mendesak,meminta Sloane untuk segera turun.
"Aku baru saja mulai, Tuan Kaku! Ada sarang laba-laba yang sedang mencoba membangun kerajaan di sudut bingkai ini! Aku tidak bisa membiarkan kolonialisasi debu terjadi di rumah ini!" Sloane menjawab tanpa menoleh, tubuhnya sedikit goyah saat ia mencoba menjangkau lebih jauh.
"Kursi itu adalah barang antik. Jika kakinya patah, Anda akan—"
KRETAK.
Belum sempat Alistair menyelesaikan kalimatnya, bunyi kayu yang retak terdengar keras. Sloane kehilangan keseimbangan. Dengan refleks cerobohnya yang khas, ia bukannya melompat turun, malah mencoba berpegangan pada tirai beludru yang berat.
SRET! BRAK!
Tirai itu terlepas dari relnya, dan Sloane jatuh dengan selamat di lantai. terbungkus kain beludru merah seperti sebuah burrito raksasa tepat di depan kaki Alistair.
Suasana Hening sejenak. Alistair menatap gulungan tirai di bawahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara ingin marah, bingung, atau tertawa (meskipun saraf tertawanya sudah lama lumpuh).ingin sekali dia membentak gadis di hadapannya ini. tapi hatinya tidak mampu mengeluarkan kata kasar.
"Saya... saya sedang mencoba gaya baru untuk dekorasi rumahmu.Tuan Kaku," suara Sloane muncul dari balik kain yang masih menutup tubuh dan wajahnya, terdengar sangat canggung namun tetap berusaha terdengar angkuh.
Alistair membungkuk, menarik ujung tirai untuk membebaskan wajah Sloane yang tampak nya sulit untuk bernafas. Gadis itu muncul dengan rambut yang tertutup debu tirai dan wajah merah padam. ia bahkan masih bisa tersenyum walaupun sudah hampir celaka.karena kecerobohan nya. "Anda sangat ceroboh," kata Alistair datar.ia memijat pangkal hidungnya.merasa pusing karena tingkah asisten nya itu.
"Aku tidak ceroboh! Kursimu saja yang sudah tua dan jelek!" Sloane segera berdiri, membenarkan kausnya yang compang-camping. "Dan jangan menatapku seperti itu. Aku punya harga diri! Aku akan memperbaiki tirai ini... nanti. Sekarang, aku haus dan lapar. Di mana kopiku?"
Alistair mematung. "Kopi? Anda asisten rumah tangga saya, Nona Sterling. Seharusnya Anda yang menyediakan kopi untuk saya."Bos anda".
Sloane berkacak pinggang, menatap Alistair dengan tatapan tajam. 'apa-kau-bercanda'. "Kau lihat aku sekarang? Aku baru saja bertarung dengan laba-laba dan tirai raksasa demi kebersihan rumahmu ini! Dan Kau....malah tega menyuruh asistenmu yang kelelahan ini memasak? Lagipula, jika aku yang menyentuh mesin kopi mahalamu itu, aku yakin mesin itu akan berakhir menjadi rongsokan dalam satu menit."Kau pasti tidak mau itu terjadi kan?.
Alistair menghela napas panjang. Benar juga. Logikanya mengatakan lebih aman baginya untuk membuat kopi sendiri daripada harus membeli mesin baru senilai tiga ribu poundsterling.
"Duduklah," perintah Alistair kaku. "Saya akan... membuat kan anda kopi."
Sloane duduk di meja makan—di kursi yang masih utuh—sambil memperhatikan Alistair yang bergerak dengan cepat seperti seorang Barista handal di dapur terbuka. "Tuan Thorne, kau tahu? Kau terlihat sangat lucu kalau sedang serius menimbang biji kopi. Itu Seperti kau sedang merakit sebuah bom."
Alistair tidak menjawab, namun gerakannya sedikit melambat. "Kopi membutuhkan rasio yang tepat Nona Sterling," jawabnya formal.
Saat Alistair sedang berkonsentrasi menuangkan air panas, Sloane tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah sofa di ruang tamu. Ia menyambar sesuatu yang tergeletak di sana.
"ALISTAIR THORNE!"
Ia berteriak keras menyebut nama penuh pria itu.tanpa rasa takut.
Alistair hampir menjatuhkan teko leher angsa miliknya yang saat itu digenggaman nya. Ia berbalik dan melihat Sloane memegang sebuah sarung pistol kulit hitam yang ia letakkan di atas sofa tadi malam.
"MEJA KOPI ADALAH UNTUK KOPI! SOFA ADALAH UNTUK DUDUK! KENAPA ALAT PEMBUNUH INI ADA DI SINI?!" Sloane berteriak, suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan Mansion.
"Itu... sarung pistol saya. Saya harus segera pergi dan—"
"AKU TIDAK PEDULI! Kau ingin aku bersih-bersih di rumah ini, tapi kau sendiri yang menyebarkan barang-barang berbahaya sembarangan seperti ini! Bagaimana jika aku tidak sengaja duduk di atasnya dan meledak?!" Sloane memarahi Alistair, sambil membawa sarung pistol itu dengan ujung dua jarinya seolah-olah itu adalah kaus kaki kotor yang bau.
"Senjatanya tidak ada di dalam sana, Nona Sterling. Jadi tidak akan meledak, tolong tenanglah."
"Prinsipnya masih sama! Taruh barang pada tempatnya! Masukkan ke dalam lemari senjatamu yang menyeramkan itu sekarang juga!" Sloane melemparkan sarung pistol itu ke arah Alistair.
Alistair menangkapnya dengan sigap. Ia menatap sarung pistol di tangannya, lalu menatap Sloane yang kini kembali duduk dengan gaya seolah dia adalah pemilik rumahnya.
"Baiklah," gumam Alistair. "Saya akan... menyimpannya."
Sloane mengangguk puas. "Bagus. Mana kopiku? Dan jangan pakai gula, aku sedang diet."
Alistair Thorne, sang predator London, meletakkan kopi di depan Sloane dengan wajah kaku. Ia menyadari bahwa di rumah ini, ia bukan lagi pemimpin tertinggi. Ia hanyalah seorang pria yang mencoba bertahan hidup dari omelan asisten rumah tangganya yang ceroboh dan tidak kenal takut.
Namun, saat ia melihat Sloane menyesap kopi dengan mata berbinar bahagia—meskipun wajahnya masih ada noda debu tirai—Alistair merasakan sebuah kehangatan yang asing.entah kenapa Sloane terlihat lucu di matanya. jika itu orang lain, mungkin aku sudah menembak kepalanya.
"Kopinya... enak," gumam Sloane pelan, wajah manisnya tampak tulus sesaat. "Terima kasih, Tuan Kaku."
Alistair segera membuang muka, memperbaiki kerah jasnya yang sudah sangat rapi. "Itu hanya kopi standar operasional," jawabnya cepat dengan nada canggung.
Di luar, mobil pengawal sudah menunggu untuk membawanya ke sebuah negosiasi berdarah. Tapi di sini, Alistair Thorne baru saja menyadari bahwa ia jauh lebih takut pada omelan Sloane daripada pada peluru musuh.
kini dia punya alasan untuk datang terlambat ke sebuah negosiasi berdarah. bukan karena di hadang musuh. melainkan berdebat kecil dengan wanita yang baru saja ia pungut.
To be continued.....