NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembayung senja Dari Timur

Gedung Aula Rapat Rumah Sakit Arka Denta.

Arka Denta Health and Care Coorporation Foundation sedang mengalami duka dan kehilangan Sang Presiden Direktur,Dr.Citra Arka Denta Kanaya.Dr Citra adalah Korban Kebakaran dua hari berselang.Kepala Rapat adalah Kepala Komisaris Yayasan,Dr.Arka Denta Supriyatna yang juga Ayah Kandung dari Dr.Citra.Ditemani oleh Putra Sulungnya Roy Arka Denta S.h yang Juga menjabat sebagai Notaris dan Pengacara keluarga.AKBP Andi yang datang sebagai Pihak Keluarga dari Suami Korban pun hadir disana.Di meja bundar dikelilingi Semua Direksi dari berbagai Cabang dan Wilayah juga Semua Staff,juga Para wartawan.Saat Seorang Pria Tua berusia sekitar enam puluhan tahun memakai setelan jas dan dasi didampingi banyak pengawalan datang.Semua Orang langsung meminta jabat tangan.Dan Pria tua bijaksana itu tersenyum sambil menjabat tangan semua peserta rapat.Roy Arka Denta Kemudian Mempersilakan Semuanya Untuk Duduk.

" Selamat Siang!"Kata Roy Arka Denta mengawali Pidato pembicaraan.

"SELAMAT SIANG!"Para Hadirin disana menjawab dengan serempak.

"Saya disini selaku wakil pembicara dari Ayah Saya, Bapak Dr Arka Denta Supriyatna.Ingin menyatakan jika Adik Kandung Saya Yang Bernama Almarhumah Dr.Citra Arka Denta Kanaya pernah berbuat Kesalahan pada para Direksi,Staff Karyawan dan para klien disini.Yang mungkin pernah disakiti hati dan perasaan oleh Adik Kandung Saya.Saya Selaku Wakil dari Arka Denta Health and Care Foundation Coorporation menyatakan Mohon maaf atas Nama Keluarga besar Arka Denta kepada Anda semua.Dan Saya ingin menyatakan untuk sementara jabatan fungsional Presiden Direktur Arka Denta Health and Care Foundation Coorporation,Akan Saya pegang Sampai Pewaris Asli Yang Bernama Naga Bayu Arka Denta Sikumbang menginjak usia 19 Tahun Atau Sampai Berusia 21 Tahun.Naga Bayu Arka Denta Sikumbang Sebagai Penerus Presiden Direktur Untuk Sementara masih terbilang Sangat belia,Jadi Menurut Perjanjian Hak Asuh Nanti hanya Akan Diberitahukan Secara Rahasia Hanya kepada Keluarga Dari Almarhum Ayahnya Yang Juga Menguasai Aset Perusahaan Di PT.Sikumbang Foundation Coorporation.Dan Saya juga akan menyampaikan bahwa Hak Waris Sikumbang Foundation Coorporation yang Memiliki Akses Lengkap Dalam Bidang Jasa Peti Kemas Dan Kapal Kargo Akan Diberikan Kepada Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang .Jadi Tidak ada Satupun Orang Atau Mengatasnamakan Perusahaan Bisa Memperjualbelikan Kedua Aset Yang Dimiliki Oleh Arka Denta Health and Care Foundation Coorporation Atau Sikumbang Foundation Coorporation Baik Atas Nama Keluarga Atau Bisnis Tanpa Sepengetahuan Saya,Dan Kedua Belah Pihak Keluarga.Semuanya Jelas dan sudah diatur dalam Hukum Hak Waris Negara.Sekian Dan Terimakasih. Dan Untuk Selanjutnya Asisten Komisaris Besar Polisi Andi Rajo Alam Sikumbang Selaku Pihak keluarga dari I.r Arya Arsyad Sikumbang Akan Melanjutkan Pesan Dari Keluarga Sikumbang, Sekali Lagi Terimakasih "Ucap Roy Arka Denta S.h Mengakhiri Pembicaraan Ditutup Dengan Tepuk tangan Semua Hadirin.

Setelah Semuanya Selesai Roy Arka Denta, AKBP Andi dan Ayahnya kembali berkumpul di Ruangan Kantor Pimpinan Yayasan.Mereka Bertiga Duduk Di Sofa Sambil Menyesap minuman panas.

"Aku akan membawa Keponakan kecil Kembar Kita tiga hari lagi menuju tanah kelahiran Kamu, Sobat."

"Ya ,Aku tahu Roy-Tapi sebenarnya aku ingin bercerita tentang mengapa dan untuk apa Mereka harus ada disana."Jawab AKBP Andi.

"Aku Sudah Tua...Aku nggak Mau Kehilangan dua Cucuku yang Lucu-lucu itu."Kata Dr Arka Denta Supriyatna.

"Saya tahu,Om."Jawab AKBP Andi kearah Dr Arka Denta Sambil Menepuk pelan Pahanya.

"Ada apa disana, Andi?"Tanya Roy Arka Denta.

"Mereka Orangtuaku bahkan Adik Kandung keduaku,Arlan Rasyad.Akan menjadikan Bhumi sama Bayu mirip seperti Kami bertiga , Waktu Kami berumur tujuh tahun."

"Maksudnya -Andi?"

"Kita bertiga ditempa fisik untuk mendapatkan Ilmu Beladiri Silek Minangkabau Warisan Keluarga turun-temurun."

"Bhumi Dan Bayu berusia Lima Tahun Sekarang, kurang 2 Tahun lagi?-Aku Tidak bisa berbuat apa-apa Sekarang, Andi.Karena sebenarnya Arlan Rasyad diwasiatkan oleh Arya Arsyad Adikmu."

"Ya,Tapi Aku juga tidak bisa menentang keputusan Adat Para Datuk Nagari."

"Ya,Kita berdoa saja supaya kedua cucuku bisa melewatinya,Kasihan Mereka masih terlalu sangat Muda."Tukas Dr Arka Denta sambil menitikkan airmata.

"Ya ,Om Arka.Saya faham ini keputusan Adat Nagari keturunan Sikumbang.Baiklah Om-Roy Aku Harus Balik Ke Kantor."Kata AKBP Andi mencoba berpamitan dengan Sopan.

"Terimakasih, Sobat."Kata Roy sambil bersalaman lalu memeluk tubuh Iparnya yang juga sahabatnya.

AKBP Andi membalas salaman dan pelukan Sahabatnya,Lalu Berpamitan dengan Sopan kearah Mertua Almarhum Adik bungsunya.

 

Selang hari yang dijanjikan di depan pintu keberangkatan Bandara Internasional Soekarno–Hatta yang sibuk dengan lalu lalang penumpang, terdengar suara langkah kaki, pengumuman dari pengeras suara, dan deru kendaraan di luar. Di tengah keramaian itu, berdiri seorang perwira polisi berpangkat AKBP dengan sikap tegas namun lembut — AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang — bersama istrinya, Amelia Ratna Sari. Keduanya tampak menyimpan rasa haru sekaligus berat melepas kepergian dua keponakan kembar yang masih berusia lima tahun: Bhumi dan Bayu.

Mereka berdua berlutut sedikit agar sejajar dengan tinggi badan kedua anak kecil itu, lalu merentangkan tangan lebar-lebar. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang memeluk kedua keponakannya erat-erat, seolah ingin menitipkan doa dan perlindungan di dalam pelukan itu.

“Anakku, Bhumi, Bayu… dengar baik-baik pesan Om,” ucapnya dengan suara berat namun penuh kasih sayang. “Kalian akan pergi ke tanah leluhur, di Minangkabau. Di sana kalian akan belajar banyak hal — tentang adat, tentang agama, tentang bagaimana menjadi manusia yang kuat tapi tetap rendah hati. Jangan lupa ajaran yang sudah diajarkan di rumah, dan hormatilah semua orang yang akan menjaga kalian di sana.”

Tak lama kemudian, Amelia Ratna Sari ikut memeluk kedua anak itu bergantian, menyeka sedikit keringat di dahi mereka dan mencium kening mereka satu per satu.

“Jangan takut, Nak. Om Roy akan menemani kalian sepanjang perjalanan. Nenek, Kakek, dan Paman-paman di sana sangat menantikan kedatangan kalian. Kalian tumbuh sehat, rajin belajar, dan selalu jaga sikap ya. Kami akan selalu mendoakan kalian dari sini.”

Bhumi dan Bayu, meski masih kecil, merasakan kehangatan dan ketulusan dalam pelukan kedua orang itu. Mereka membalas pelukan itu dengan tangan kecil mereka, sedikit bingung namun merasakan ada rasa aman di sana.

Setelah melepaskan pelukan itu, Roy Arka Denta yang berdiri di samping dengan tas di bahunya tersenyum menenangkan.

“Tenang saja, Om, Tante. Saya akan menjaga mereka dengan sebaik-baiknya sampai tiba dengan selamat di Padang Panjang dan diserahkan langsung kepada keluarga di sana.”

AKBP Andi Rajo Alam mengangguk mantap, lalu menepuk bahu Roy. “Kami percaya padamu. Sampaikan salam hormat kami kepada Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar Ayahku dan Ibu Siti Aminah Sikumbang Ibuku dan seluruh keluarga di nagari. Semoga perjalanan mereka menjadi awal yang baik untuk masa depan mereka.”

Dengan hati yang masih terasa berat namun penuh harapan, keduanya melambaikan tangan terus-menerus, sampai Bhumi, Bayu, dan Roy Arka Denta menghilang di balik pintu pemeriksaan keberangkatan menuju pesawat yang akan membawa mereka jauh dari Jakarta menuju tanah leluhur.

Belum sempat mereka melangkah lebih dekat, muncullah seorang gadis kecil berusia sekitar Tiga tahun dengan wajah yang manis dan mata yang bersinar, berlari kecil mendekat sambil memanggil.

“Kak Bhumi! Tunggu sebentar!”

Itu adalah Anindya, anak tetangga sekaligus teman bermain mereka selama ini. Napasnya terengah-engah karena berlari, lalu ia berhenti tepat di hadapan Bhumi. Dengan tangan kecilnya yang gemetar sedikit, ia mengulurkan setengah bagian kalung dari kayu berwarna coklat muda yang dibentuk menyerupai hati. Bagian lainnya masih tergantung rapi di lehernya sendiri.

“Ini buat Kak Bhumi,” ucapnya pelan namun jelas, matanya mulai berkaca-kaca.

“Supaya Kakak ingat Anindya, dan cepat pulang lagi ya.”

Bhumi menunduk, menatap kalung kayu itu dengan tatapan polos. Ia menerimanya dengan hati-hati, lalu mengangguk pelan.

“Terima kasih, Dya. Aku akan ingat.”

Lalu Melihat Om-nya Memanggil ,Bhumi Segera berlari Meninggalkan Anindya Yang Melambaikan Tangan Sambil Matanya Berkaca-kaca. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!