Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Harapan Terakhir
Langkah Kemala terasa semakin berat menyusuri pedestrian ibu kota.
Sepatu tipis Kemala beberapa kali menggesek kasar permukaan trotoar yang panas. Matahari sudah naik tinggi, memantulkan cahaya menyilaukan dari gedung-gedung kaca raksasa di sekitarnya.
Terik Jakarta terasa berbeda. Tak ada pohon besar yang menaungi jalan seperti di desanya. Juga tak ada angin sawah yang sejuk. Hanya ada hawa panas bercampur asap kendaraan dan suara klakson yang tidak pernah berhenti.
Kemala berjalan tanpa arah. Tatapan wanita itu tampak kosong. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian rapi dan langkah cepat, sementara dirinya merasa seperti orang asing yang tersesat di tengah kota.
Perut Kemala tiba-tiba melilit pelan. Lapar, membuat Kemala kembali dalam kesadaran.
Kemala berhenti sejenak sambil menekan perutnya yang masih terasa nyeri setelah melahirkan. Dia memejamkan mata sesaat.
Tidak. Dia tak boleh sakit.
Kalau Kemala tumbang sekarang, siapa yang akan mencari putranya?
Kemala kembali membuka mata lalu mulai memperhatikan sekitar. Matanya mencari rumah makan sederhana yang mungkin masih terjangkau oleh dompetnya.
Beberapa restoran terlihat terlalu mewah bahkan hanya untuk dimasuki.
Akhirnya Kemala menemukan sebuah rumah makan kecil di ujung sudut jalan. Tempatnya sederhana, hanya berisi beberapa meja plastik dan kipas angin tua yang berputar lambat di langit-langit.
Kemala perlahan masuk.
Seorang ibu pemilik warung tersenyum ramah. “Mau makan apa, Neng?”
“Nasi sama telur saja, Bu.”
“Minumnya?” lanjut ibu dengan pakaian yang cukup sederhana itu sambil tersenyum.
“Air putih.”
Tak lama kemudian, sepiring nasi hangat dan telur dadar tersaji di depannya.
Kemala menatap makanan itu cukup lama sebelum mulai menyuap perlahan.
Namun nasi itu terasa sulit tertelan. Pikirannya terlalu penuh. Bayangan boks bayi kosong di rumah sakit kembali muncul di kepala Kemala.
Tangisan kecil itu. Wajah mungil yang bahkan belum sempat Kemala beri nama.
Dada Kemala terasa sesak. Namun kemala tetap memaksa makan. Karena Kemala sadar satu hal. Dia harus hidup, setidaknya sampai menemukan anaknya.
Setelah selesai makan, Kemala membuka tas kecilnya lalu mengambil dompet lusuh berwarna cokelat. Dia menghitung uang yang tersisa satu per satu. Sangat tak banyak. Jantungnya terasa semakin berat.
Kemala membuka aplikasi mobile banking di ponselnya. Nominal yang muncul membuat kepalanya langsung tertunduk.
[Rp 100.262,-]
Uang yang bahkan mungkin tak cukup untuk menginap semalam di Jakarta.
Tangannya perlahan mengepal. Kemala benar-benar sendirian di kota ini.
“Anak saya akhirnya diterima kerja di Rothmere Group.”
Suara seorang pria tua dari meja belakang membuat Kemala sedikit menoleh.
Awalnya Kemala tidak terlalu peduli. Namun nama itu terasa familiar.
Rothmere Group.
Bukankah pria dingin berjas hitam yang menolongnya pagi tadi juga berasal dari perusahaan itu?
Kemala yang sempat hendak berdiri kembali duduk perlahan. Diam-diam dia mendengarkan.
“Loh, kok bisa?” tanya pria lain. “Bukannya itu perusahaan elit? Katanya cuma nerima lulusan universitas terbaik.”
Kemala menunduk pelan.
Tiba-tiba dia teringat penolakan pria itu.
‘Saya tidak bisa sembarang mempekerjakan orang.’
Pantas saja. Dunia mereka memang berbeda terlalu jauh.
“Kamu tahu kan,” sahut pria pertama sambil menyeruput kopi penuh antusias, “sebentar lagi ada proyek pembangunan ulang Terminal Lebak Bulus jadi terminal terpadu standar bandara internasional.”
“Yang ramai di berita itu?”
“Iya.”
“Terus?”
“Nah, vendor katering utama mereka lagi buka lowongan besar-besaran. Katanya buat staf dapur gak perlu syarat macam-macam.”
“Serius?”
“Iya, anak saya masuk lewat anak perusahaan Rothmere Group.”
Tatapan Kemala langsung terangkat.
“Bahkan lulusan SMA juga bisa,” lanjut pria tua itu santai. “Soalnya proyeknya masif. Vendor kateringnya pasti kewalahan.”
Harapan kecil mendadak muncul lagi di dada Kemala. Setidaknya, dia bisa bertahan hidup di Jakarta. Kemala buru-buru berdiri menghampiri meja mereka.
“Pak …” Suaranya terdengar penuh harap. “Apa benar ada lowongan untuk lulusan SMA?”
Kedua pria itu tampak terkejut. Karena tiba-tiba disela oleh perempuan muda berwajah pucat dan pakaian kusut.
“Pak, tolong jawab,” desak Kemala lagi. “Saya benar-benar butuh pekerjaan.”
Kedua pria tua itu saling pandang sesaat. Salah satu dari mereka akhirnya menghela napas pelan, tampak iba.
“Iya, benar.”
Wajah Kemala berubah sedikit lebih hidup.
“Kalau mau ke sana, kamu naik angkot biru depan jalan ini. Turunnya dekat gedung utama Rothmere Group.”
“Terima kasih banyak, Pak”
Kemala hampir membungkuk saking leganya.
Kemala segera membayar makanannya lalu bergegas menuju angkot yang dimaksud.
***
Angkot biru itu berjalan lambat, tersendat-sendat di antara kemacetan siang yang menjadi-jadi. Kemala duduk di pojok, menggenggam tali tasnya erat-erat sambil menatap jalanan yang mengalir di luar kaca.
Dalam kepalanya, Kemala sedang berlatih. Kata-kata apa yang akan Kemala ucapkan, bagaimana Kemala akan berdiri, bagaimana Kemala tak akan menangis meskipun semua yang dia punya hanyalah seratus ribu rupiah dan tekad yang sudah nyaris habis.
Ketika gedung itu akhirnya muncul di balik tikungan, Kemala nyaris tak percaya.
Gedung Rothmere Group berdiri megah menjulang di tengah kawasan bisnis ibu kota.
Kaca hitam mengilap membungkus hampir seluruh bangunan. Logo perusahaan besar itu terpampang elegan di bagian atas gedung seperti simbol kekuasaan yang tak tersentuh.
Kemala sampai harus mendongak untuk melihat puncaknya.
Orang-orang keluar masuk gedung dengan pakaian formal dan langkah cepat. Mobil-mobil mewah berhenti bergantian di lobby utama.
Kemala menunduk melihat dirinya sendiri. Baju sederhananya sudah kusut karena perjalanan. Rambut panjang hitamnya sedikit berantakan. Namun dia tetap memberanikan diri melangkah masuk menuju gate utama.
Baru berapa langkah, seorang security langsung menghadang.
“Mohon maaf, Bu. Ada keperluan apa?” tanyanya sambil menatap Kemala dari ujung kepala hingga kaki.
Kemala buru-buru menjawab, “Apa benar di sini ada lowongan pekerjaan?”
Security itu sedikit mengernyit. Dia hanya tahu perekrutan pegawai inti Rothmere Group yang terkenal sangat elit. Tak mungkin wanita lusuh di depannya termasuk kandidat mereka.
“Tidak ada, Bu,” jawabnya tegas.
Kemala langsung menggeleng.
“Jangan bohong, Pak. Saya dengar ada lowongan,” desak Kemala yang enggan kehilangan kesempatan kecilnya itu.
“Memang tidak ada, Bu.”
Security itu sedikit gelisah karena orang-orang mulai menatap aneh ke arah Kemala yang terlihat tidak seharusnya berada di sini.
Di saat yang sama, kecemasan mulai begitu jelas tergambar di wajah Kemala yang ayu itu. “Tapi saya–”
“Maaf, Bu, sebaiknya Ibu segera pergi dari sini!”
Security itu mulai mengarahkan tubuhnya, mencoba membuat Kemala menjauh dari area masuk. Kepanikan langsung muncul di wajah Kemala.
Kalau tempat ini juga menolaknya, Kemala benar-benar tak punya apa-apa lagi. Dan di tengah rasa putus asa itu, Kemala tiba-tiba teringat sesuatu.
Wanita itu buru-buru membuka tas kecilnya dan mengambil sesuatu.
Kartu hitam, kartu yang jatuh dari pria berjas yang ditemui Kemala di terminal bus.
“Pak …” Kemala mengangkat kartu itu dengan tangan sedikit gemetar. “Saya ingin bertemu pemilik kartu ini.”
Tatapan security langsung berubah. Matanya membelalak sesaat begitu melihat kartu hitam pekat dengan garis emas elegan itu.
Begitu pula dengan orang-orang sekitar yang tadi menatap Kemala penuh penghinaan.
[Chairman Proxy]
Kartu khusus yang bahkan tidak semua petinggi perusahaan memilikinya. Hanya keluarga inti Rothmere Group yang memiliki akses semacam itu.
Security itu langsung menegakkan badan.
“Mohon tunggu sebentar, Bu.”
Dia buru-buru menghubungi executive office melalui headset dengan nada jauh lebih sopan dibanding sebelumnya.
Beberapa detik kemudian, gate akses VIP terbuka otomatis.
Kemala sampai terpaku.
Seorang wanita 40-an berpakaian formal rapi keluar dari lobby utama lalu berjalan cepat menghampirinya.
“Selamat siang,” katanya sopan. “Silakan ikut saya.”
Kemala masih bingung, tetapi tetap mengikuti.
Dia dibawa melewati lobby utama yang megah dengan lantai marmer mengilap dan lampu kristal besar di langit-langit.
Beberapa pegawai sempat melirik heran melihat penampilan Kemala yang kontras dengan tempat itu. Namun tak ada yang berani bertanya.
Lift VIP terbuka khusus untuk mereka. Begitu masuk, Kemala menelan ludah gugup. Dinding lift itu bahkan berlapis cermin dan logam mengilap. Jauh berbeda dari hidup yang pernah dia kenal.
Lift berhenti di lantai paling atas. Kemala dibawa menuju sebuah ruangan besar bernuansa hitam elegan.
“Silakan tunggu di sini,” kata sekretaris itu ramah sebelum pergi.
Kemala duduk perlahan di sofa mahal dengan tubuh tegang. Tangannya mencengkeram tas kecil di pangkuannya erat-erat.
Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Bentuk ruangan yang begitu mewah. Hingga terasa sangat asing bagi Kemala yang terbiasa hidup di pedesaan.
Beberapa detik kemudian, suara pria terdengar samar dari balik pintu ruangan lain. Nada suaranya rendah, tetapi terdengar jelas sedang menahan emosi.
“Aku tidak peduli harus cari dari mana. Bayinya butuh ibu susu sekarang. Kau mengerti artinya itu?”
Kemala menegang. Suara itu terdengar cukup familiar. Kehadirannya bahkan sudah terasa kuat hanya dengan suaranya.
“Dokter sudah bilang susu formula tidak bisa dikonsumsi terus-terusan. Dia butuh ASI. Dia–”
Suara itu terdiam sejenak.
“Cari, sekarang juga!” perintahnya penuh penekanan yang sulit dibantah.
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉