NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04. Kedatangan ibu mertua

Arista dan Anisa bergegas melangkah ke arah pintu. Jujur suara teriakan dan ketukan amat sangat mengganggu telinga mereka. Apalagi hari sudah beranjak petang. Tak enak rasanya di dengar tetangga.

Ceklek...

Sosok yang tak asing tengah berdiri di depan pintu. Wajahnya terlihat kesal. Yahh...dialah Bu Rahmi , ibu mertua Arista alias ibu dari suaminya, Pramono.

" Waalaikumsalllam." Arista menyindir .

Tanpa bicara ibu mertua Arista menerobos masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu. Anisa yang kesal dengan tingkah wanita itu ingin segara menghampiri.

" Eehh..." belum sempat Anisa bicara ,lengan kirinya sudah di tarik kakaknya. Pelan Arista menggelengkan kepala, sebagai kode agar adiknya tenang.

Anisa menghentakkan kakinya kesal. Lantas masuk ke dalam sambil melirik tak suka pada wanita yang baru saja menerobos masuk.

Arista duduk berhadapan dengan Bu Rahmi, sikapnya tenang. Terlalu tenang malah. Bu Rahmi mengernyitkan dahinya, dia sedikit heran dengan sikap menantunya.

"Eehemmm...langsung saja Arista. Kedatangan ibu ke sini mau minta uang sama kamu."

Arista menyipitkan matanya pertanda heran. Tiba-tiba ibu mertuanya datang-datang meminta uang. Tanpa menanyakan kabarnya setelah melahirkan. Tanpa menanyakan cucunya yang baru lahir, apakah sehat atau tidak.

" Ibu tahu kan, kalau saya habis melahirkan?." tanya Arista datar.

" Tahu." Bu Risma menjawab singkat.

" Paling nggak ibu tanya kabar saya dan cucu ibu dulu. Ini datang-datang langsung minta duit. Apa saya punya utang sama ibu?" tanya Arista .

" Kamu memang nggak punya utang sama ibu. Tapi suami kamu sekarang tinggal di rumah ibu dan itu butuh biaya buat makan tiap hari. Jadi jatah kebutuhan suami kamu sekarang di alihkan ke ibu." kata Bu Rahmi lancar sekali.

Arista tertawa sumbang. Dadanya sesak.

"Suami saya anak siapa, Bu?." tanya Arista.

"Anak saya. Kamu lupa?." Bu Risma balik bertanya.

"Bukankah sebagai ibunya sudah berkewajiban memberi makan anaknya. Lagian selama ini mas Pram selalu ngasih setengah gajinya buat ibu, kan?". Tanya Arista .

"I...ii...itu nggak benar." jawab Bu Risma gugup.

Arista tersenyum kecil

"Sudah cepat mana uangnya, ibu mau pulang."

"Maaf...Bu. Uangnya udah buat biaya melahirkan, tanya sama anak ibu , apa dia ada keluar uang buat biaya lahiran anaknya." Arista bicara dengan ekspresi menahan amarah di dadanya.

" Kalau itu ibu nggak mau tau. Sekarang mana uangnya , sudah mau Maghrib ibu nggak mau kemalaman di jalan." Bu Rahmi bicara dengan ketus.

" Sudah saya bilang tadi , apa perlu di ulangi lagi?." tanya Arista menatap datar ke arah ibu mertuanya.

Bu Rahmi terkesiap melihat ekspresi wajah menantunya saat menatapnya. Jantungnya berdesir. Pelan dia bangun dari duduknya dan dengan gerakan cepat berjalan ke arah pintu keluar.

Sudut bibir kanan Arista tertarik ke atas, samar. Dia pun melangkah mengikuti Bu Rahmi , tanpa senyum. Wajahnya dingin.

Bu Rahmi sedikit bergidik. Dia buru-buru mengenakan sandalnya.

" Nanti aku laporin ke Pram." masih sempat Bu Rahmi mengancam menantunya.

" Silahkan." jawab Arista singkat.

Bu Rahmi menghentakkan kakinya karena jengkel. Dia mengira menantunya akan memberinya uang, biar jatah dari Pram bisa dia pake buat yang lain.

Oo...oo..ternyata mertua Arista cerdas juga ya, kalau urusan akal mengakali.

Di ujung jalan Bu Risma berpapasan dengan ke tiga cucunya . Mereka berhenti dan menyalami Bu Risma. Mau tak mau Bu Risma pun menyambut tangan ke tiga cucunya.

" Nek...mau ke mana. Sudah mau Maghrib kenapa di luar." tanya Dirga.

"Mau pulang." jawab nenek mereka ketus.

Dimas dan Dityan saling berpandangan, dan mengangkat bahu secara bersamaan.

" Ini udah mau Maghrib,nek. Kenapa nggak ke rumah dulu. Nanti Dirga antarin."

Bu Rahmi menoleh ke arah rumah di mana yang empunya masih berdiri di sana. Menatap ke arah mereka. Dia sedikit ragu. Menatap jalanan yang lengang, perlahan dia berbalik dan melangkahkan kakinya ke rumah itu lagi.

Dirga dan ke dua adiknya saling berpandangan.

" Ibu udah pulang ternyata." kata Dityan seolah baru menyadari keberadaan ibunya di rumah.

Dirga dan Dimas bergegas menyalakan motornya dan melaju menuju rumah.

" Assalamualaikum, Bu." bertiga memberi salam, meraih tangan ibunya dan menciumnya dengan takzim.

Bu Rahmi melirik sinis. Entah dia merasa iri atau gimana, sepertinya dia tak menyukai adegan yang ada di depannya.

" Maaf, Bu. Kami telat menjenguk ibu, tadi sebenarnya langsung ke rumah sakit. Tapi kata dokter Mirna ibu udah pulang sama Tante Anisa." Dirga menjelaskan dengan wajah penuh penyesalan.

" Maaf ya, Bu. Di saat ibu berjuang melahirkan kita malah nggak ada di samping ibu." kata Dityan.

Arista tersenyum. Dia merasa terharu dengan sikat ke tiga putranya.

" Nggak apa-apa. Yang penting ibu dan adek kalian sehat." kata Arista sambil mengacak rambut ke tiga putranya satu per satu.

" Ayah mana, Bu. Apa belum pulang kerja?." tanya Dimas yang tidak melihat keberadaan ayah mereka.

" Ayah kalian di rumah nenek." tiba-tiba Bu Rahmi menyambar dengan nada ketus.

" Kalian bersih-bersih dulu gih, ke belakang. Apa kalian nggak mau lihat adek bayi?".

"Oh...ya, nek. Terima kasih ya, udah menjaga dan bantuin ibu." kata Dirga sesat sebelum dia ke belakang.

" Oh...itu..anu..nggak..nggak..ah." Bu Rahmi tergagap.

Dirga memandang neneknya dengan raut muka bingung.

" Sudah susul adikmu ke belakang. Nenek mungkin capek." kata Arista sambil melirik ke arah ibu mertuanya.

Dirga mengangguk dan berlalu menyusul ke dua adiknya. Sudah nggak sabar ingin menemui adik barunya.

" Nggak bisa jawab kan, Bu." Arista berlalu menyusul ke tiga jagoannya.

Tinggallah Bu Rahmi duduk sendiri. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara.

" Jelangkung...jelangkung...datang nggak di suruh, pulang minta di antar."

Bu Rahmi yang mendengar langsung kesal, tangan kanan mengepal kuat.

Anisa mengintip dari tembok pembatas ruang tamu dan ruang tengah. Dia menutup mulutnya menahan tawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!