NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 4 Lilin yang Dipadamkan

Ruangan doa itu dipenuhi aroma dupa yang menyesakkan dan cahaya lilin redup yang menari pelan di dinding kayu tua kuil. Ravin duduk sendirian di depan patung dan lukisan roh bulan yang terlihat begitu hidup di bawah sinar bulan dari jendela atas. Matanya memperhatikan lembaran-lembaran harapan kecil milik para pengunjung yang digantung memenuhi ruangan.

Beberapa tulisan membuatnya diam cukup lama.

Aku ingin dicintai.

Aku ingin bertemu lagi dengannya.

Aku ingin doaku terkabul.

Ravin tersenyum pahit kecil. Hatinya tiba-tiba terasa sesak mengingat Dewi. Malam ini seharusnya ia ada di villa bersama mereka, bukan terjebak di kuil asing yang membuat bulu kuduknya berdiri sejak tadi.

Ia menundukkan kepala pelan di depan altar.

“Aku cuma pengen bersama Dewi...” bisiknya lirih. “Walaupun dia lebih milih Juna... setidaknya biar dia sadar aku tulus.”

Suasana mendadak hening.

Lalu angin dingin berhembus entah dari mana sampai api lilin bergoyang pelan. Ravin mengangkat kepala bingung. Padahal semua pintu tertutup rapat.

Tiba-tiba suara wanita terdengar samar.

“Aku... bisa membantu harapanmu...”

Tubuh Ravin langsung menegang. Matanya membesar ketakutan sambil menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapa pun di sana.

“S-siapa?” suaranya mulai gemetar.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara lonceng kecil yang berdenting lirih di sudut ruangan.

Ravin buru-buru berdiri dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Jantungnya berdetak tidak karuan. Tangannya hampir membuka pintu ketika suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat dan dingin.

“Jangan pergi...”

BRAK.

Pintu kayu tertutup sendiri dengan keras membuat Ravin mundur panik.

“Astaga... apa-apaan ini...” ucapnya ketakutan.

Lilin-lilin mendadak padam satu per satu hingga ruangan menjadi gelap dan dingin. Nafas Ravin mulai memburu saat suara wanita itu kembali terdengar lirih namun menyeramkan.

“Aku bisa memberimu apa yang kau inginkan...”

Ravin menggeleng pelan sambil mundur.

“Siapa kamu...?”

Beberapa detik kemudian matanya perlahan tertuju ke arah lukisan roh bulan di depan altar.

Dan saat itu tubuh Ravin membeku.

Wanita dalam lukisan itu... tersenyum tipis ke arahnya.

Ravin berdiri gemetar di depan altar dengan wajah pucat dan napas tidak beraturan. Ruangan doa itu terasa semakin sempit dan mencekam. Cahaya lilin kecil di bawah lukisan roh bulan menjadi satu-satunya penerangan yang tersisa, membuat bayangan di dinding bergerak seperti sosok hidup.

Ia terus melirik pintu keluar dengan panik.

“A-aku gak mau ada masalah di sini...” ucap Ravin lirih sambil mundur pelan. “Aku cuma numpang istirahat...”

Suara wanita itu terdengar lagi, lembut namun dingin hingga menusuk tulang.

“Padamkan lilin itu.”

Ravin langsung menggeleng cepat.

“Gak bisa...” katanya dengan suara hampir pecah. “Kalau ketahuan biksu kuil aku bisa diusir...”

Angin dingin mendadak berhembus kuat di dalam ruangan. Beberapa kertas harapan bergoyang sendiri sementara suara bisikan samar mulai terdengar dari sudut-sudut gelap.

Ravin menutup telinganya ketakutan.

“Tolong... jangan ganggu aku...” bisiknya panik.

Namun suara itu justru semakin dekat.

“Kalau kau tidak menuruti perintahku...” suara wanita itu berubah lebih berat dan menyeramkan, “kau tidak akan selamat keluar dari kuil ini.”

Tubuh Ravin langsung melemas. Dadanya naik turun cepat menahan takut. Ia benar-benar ingin kabur, tetapi kakinya seperti sulit bergerak. Hatinya kacau antara takut pada sesuatu yang tidak terlihat dan takut membuat masalah besar di kuil.

Lalu suara itu kembali terdengar pelan.

“Aku bisa membuat wanita yang kau cintai menjadi milikmu.”

Nama Dewi langsung terlintas di pikirannya.

Ravin menunduk dengan mata gemetar. Ada rasa lemah dan putus asa di dalam dirinya. Ia tahu ini salah tetapi ancaman tadi membuat pikirannya kacau.

“...Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya lirih.

“Gunakan air doa di kendi sampingmu.”

Ravin perlahan menoleh ke samping sebuah kendi kecil memang berada di dekat altar. Tangannya langsung dingin melihatnya.

“Ini...?” tanyanya ragu.

“Padamkan lilin itu.”

Ravin menggigit bibirnya kuat-kuat sampai hampir menangis. Tangannya bergetar saat mengambil kendi tersebut. Bahkan air di dalamnya ikut bergetar karena tubuhnya tidak berhenti gemetar.

“Aku pasti kena masalah...” gumamnya panik.

“Cepat.”

Suara itu kini terdengar lebih menekan dan menyeramkan.

Dengan langkah lemah, Ravin berjalan mendekati altar. Cahaya lilin menyinari wajah takutnya yang hampir menangis. Ia mengangkat kendi perlahan lalu menuangkan air doa ke arah api kecil itu.

Byurrr

Api lilin langsung padam.

Dalam sekejap seluruh ruangan menjadi gelap gulita.

Petir menyambar langit malam dengan suara menggelegar hingga seluruh kuil bergetar pelan. Angin datang tiba-tiba, berputar liar melewati lorong-lorong kayu tua sambil membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Lonceng kecil di atap kuil berbunyi nyaring tanpa henti, menciptakan suara yang membuat suasana terasa semakin menyeramkan.

Ravin yang berdiri gemetar di depan altar langsung tersentak panik. Setelah lilin itu padam dan ruangan berubah gelap, rasa takut di dadanya seperti pecah begitu saja. Ia buru-buru berlari keluar dari ruangan doa tanpa berani melihat ke belakang sedikit pun.

Langkahnya terburu-buru di lorong kayu yang remang. Nafasnya tidak beraturan, bahkan beberapa kali hampir tersandung karena tubuhnya terlalu lemas akibat ketakutan.

“Gila... ini gila...” gumamnya pelan sambil terus berlari.

Bayangan wanita di dalam lukisan tadi terus muncul di kepalanya. Senyum tipis itu terasa jauh lebih menakutkan daripada wajah menyeramkan apa pun yang pernah ia lihat.

Begitu keluar dari kuil, hujan deras langsung mengguyur tubuhnya. Ravin hampir kesulitan membuka pintu mobil karena tangannya gemetar hebat. Kunci mobil beberapa kali meleset sebelum akhirnya mesin menyala.

“Ayo... ayo dong nyala..” katanya panik.

Saat mobil berhasil menyala, Ravin langsung menginjak gas dalam-dalam. Mobil itu melaju cepat meninggalkan kuil tua di tengah hujan dan suara petir. Jalanan licin sama sekali tidak ia pedulikan. Yang ada di pikirannya hanya pergi sejauh mungkin dari tempat itu.

Di balik kaca mobil yang basah oleh hujan, wajah Ravin terlihat pucat dan penuh keringat dingin. Tangannya masih gemetar di atas setir.

“Apa tadi beneran...” bisiknya lirih dengan napas memburu.

Sementara itu di dalam ruangan doa, suasana berubah sangat sunyi. Hanya terdengar suara angin yang masuk dari sela jendela kayu tua. Roh bulan berdiri diam di depan lukisan besar di altar. Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya berubah.

Tubuh rohnya bergetar pelan. Matanya menatap lukisan di depannya dengan perlahan.

Kosong.

Tidak ada lagi sosok dirinya di dalam lukisan itu. Cahaya bulan yang biasanya memeluk tubuhnya kini hanya menyisakan latar gelap dan kain tua kusam. Wanita itu terlihat diam cukup lama, seolah belum percaya dirinya benar-benar terlepas dari kutukan yang mengurungnya begitu lama.

Di aula utama kuil, ritual para biksu mendadak berhenti. Lilin-lilin utama padam sendiri dan hawa dingin menyelimuti seluruh ruangan hingga beberapa biksu saling berpandangan cemas.

“Ada sesuatu yang lepas...” ucap salah satu biksu tua pelan.

Mereka segera memeriksa seluruh area kuil dengan lampu minyak di tangan. Saat salah satu biksu menyadari pemuda yang tadi meminjam dongkrak tidak terlihat lagi, suasana langsung berubah semakin tegang.

“Mobilnya juga tidak ada...” kata biksu lain dengan wajah khawatir.

Salah satu biksu tua segera berjalan menuju ruangan doa tempat Ravin tadi berada. Cahaya lampu minyak menerangi lorong gelap dengan samar. Semakin dekat ke ruangan itu, hawa dingin terasa makin menusuk.

Pintu kayu terbuka perlahan dengan suara berderit panjang.

Biksu tua itu langsung berhenti melangkah.

Lantai altar terlihat basah oleh air doa yang tumpah. Kendi kecil tergeletak pecah di dekat lilin yang sudah padam.

Namun saat matanya melihat ke arah dinding depan, wajahnya perlahan berubah pucat.

“Tidak mungkin...” lirihnya pelan.

Lukisan roh bulan itu telah kosong.

Jalan raya malam itu tampak panjang dan basah setelah hujan. Lampu-lampu jalan memantul samar di permukaan aspal, sementara suara mesin mobil Ravin terdengar pelan saat ia menepikan kendaraannya di bahu jalan yang sepi. Dadanya masih naik turun menahan gugup sejak keluar dari kuil tua itu. Tangannya bahkan sedikit gemetar ketika melepas genggaman dari setir.

Ravin mengusap wajahnya kasar lalu menyandarkan kepala ke kursi. Pikirannya kacau.

Kalau para biksu menganggap dia sengaja merusak tempat suci bagaimana?

Kalau sampai dilaporkan polisi?

Kalau dia benar-benar masuk penjara hanya karena kejadian aneh tadi?

“Sial...” gumamnya pelan frustrasi. “Kenapa jadi begini...”

Suasana di dalam mobil sunyi. Hanya ada suara angin malam dan napas Ravin yang belum tenang. Namun tiba-tiba suara wanita terdengar sangat dekat dari belakang.

“Tidak akan terjadi masalah. Semua akan baik-baik saja.”

Ravin langsung membeku.

Jantungnya berdetak keras saat ia perlahan menoleh ke kaca spion tengah.

Seorang wanita duduk di kursi belakang mobilnya.

Tubuh Ravin langsung menegang. Padahal sejak tadi dia yakin tidak ada siapa-siapa di dalam mobil itu.

Wanita itu duduk tenang sambil menatapnya diam. Rambut hitam panjangnya jatuh lembut melewati bahu, kulitnya pucat bersih seperti cahaya bulan, dan matanya memiliki kilau yang sulit dijelaskan. Wajahnya begitu cantik sampai Ravin sempat kehilangan fokus beberapa detik.

Cantiknya bahkan membuat bayangan Dewi di pikirannya terasa memudar sesaat.

Ravin menatap wanita itu terpaku tanpa sadar.

Namun hawa dingin yang memenuhi mobil perlahan membuat kesadarannya kembali. Bulu kuduknya berdiri saat mengingat dari mana wanita itu muncul.

“T-tunggu...” suara Ravin melemah. “Kamu. siapa?”

Wanita itu sedikit memiringkan kepala, tatapannya tenang namun terasa asing.

“Aku tidak akan menyakitimu.”

Suaranya lembut, tapi justru membuat suasana semakin tidak nyaman. Tidak terdengar seperti manusia biasa.

Ravin menelan ludah sulit.

“Kau dari kuil tadi...?”

Wanita itu memandang keluar jendela mobil ke arah langit malam yang tertutup awan. Cahaya bulan samar menyinari wajah pucatnya.

“Aku keluar sebelum waktuku selesai.”

Kalimat itu membuat dada Ravin terasa dingin.

Ia langsung teringat lukisan rusak di kuil dan suara aneh yang memenuhi ruangan tadi. Tangannya perlahan menjauh dari setir seolah tubuhnya sendiri mulai takut berada dekat wanita itu.

Sementara itu di kuil tua, suasana masih dipenuhi ketegangan.

Api lilin bergoyang pelan tertiup angin malam yang masuk dari celah bangunan tua. Para biksu berkumpul di aula utama dengan wajah serius. Lukisan yang robek kini tergeletak di lantai, sementara aroma dupa terasa lebih pekat dari biasanya.

“Pemuda tadi yang melakukannya!” salah satu biksu berkata keras penuh emosi. “Segel roh itu rusak setelah dia datang!”

“Kita harus menemukannya sebelum terjadi sesuatu.”

“Jika roh bulan benar-benar bebas, kuil ini bisa terkena bencana!”

Suara mereka mulai saling tumpang tindih. Beberapa terlihat marah, sebagian lain justru cemas. Suasana aula terasa berat dan tidak nyaman.

Namun di tengah perdebatan itu, biksu tua yang sejak tadi diam justru terlihat paling gelisah. Tatapannya terus mengarah pada lukisan kosong tersebut.

“Yang aku khawatirkan... bukan roh itu...” ucapnya pelan.

Para biksu lain langsung terdiam dan menoleh padanya.

“Lalu apa, guru?”

Biksu tua itu menggenggam tasbih kayunya erat. Wajah tuanya tampak muram diterpa cahaya lilin redup.

“Pemuda itu.”

Ruangan langsung hening.

Biksu lain mengernyit bingung. “Maksud guru?”

Biksu tua terdiam beberapa saat seolah ragu mengucapkannya. Tatapannya perlahan menurun penuh kekhawatiran.

“Roh bulan tidak pernah mendekati manusia tanpa alasan...” katanya lirih. “Jika dia memilih mengikuti pemuda itu... maka mungkin nasib buruk sudah mulai mendatanginya sejak malam ini.”

Angin dingin tiba-tiba berhembus melewati aula, membuat seluruh api lilin bergoyang hebat bersamaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!