Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab
Hari-hari berjalan terlalu cepat. Sejak mengetahui dirinya hamil, Alena semakin menutup diri. Bahkan dia pernah ingin menggugurkan kandungannya, karena ia tak sanggup mempunyai anak dari pria kejam itu.
Namun saat dokter menjelaskan posisi janin cukup baik dan Alena mendengar detak jantung sang anak di dalam rahimnya. Hal itu justru mengurungkan niat jahatnya.
Sebagai seorang ibu ia teramat tega ingin menghabisi darah dagingnya sendiri, dan sejak itu pula Alena benar-benar menyesali perbuatannya hingga perlahan dia mulai bangkit.
"Nak maafin Ibu ya," ucap Alena entah kenapa setiap pagi kebiasaan itu selalu terucap begitu saja.
Tepat di pagi ini usia kandungan Alena sudah tiga bulan. Setiap hari sahabatnya Rani selalu menjaga, bahkan Rani rela memberi makan Alena dengan cuma-cuma sejak saat itu.
Namun hidup terus berjalan Alena tidak mau terus menerus merepotkan Rani hingga akhirnya sekarang ia bekerja di rumah makan sejak satu bulan yang lalu.
Hari ini hujan mengguyur pusat kota, Alena duduk di kamar kostnya setelah menikmati sehelai roti untuk mengganjal perutnya.
Tidak lama kemudian Rani datang dengan senyum mengambang.
"Lena?" sapanya penuh dengan senyuman.
"Iya Rani, pagi ini aku sarapan tepat waktu, dan tidak ada alasan untukmu memarahi aku ya," ujar Alena.
"Oh ya, kalau begitu aku merasa lega, karena calon ponakanku gak kelaparan di dalam sana," kata Rani sambil mengelus perut Alena yang masih rata.
Alena tersenyum kecil menanggapi itu, sejak dulu ia tahu jika Rani lah yang membantunya kuat untuk menjalani semua ini.
Tapi kali ini terlihat jelas dari raut wajah Rani, sepertinya gadis itu ingin menyampaikan sesuatu pada Alena.
"Lena, kemarin aku baru dapat alamat kantor Tuan Kael," ucap Rani lirih.
Mendengar nama itu disebut Alena sedikit gugup rasa takut itu masih ada, tapi ia sadar anak yang saat ini tengah ia kandung juga berhak tahu dimana ayahnya.
"Ran, tapi aku masih takut," potong Alena.
Rani menghela napas pelan. "Mau sampai kapan cepat atau lambat perutmu itu akan membesar jika tidak diberi tahu malah keenakan itu pria."
Alena terdiam ia seperti menanting ucapan Rani, memang benar adanya ketakutan itu masih ada didalam hatinya tapi di sisi lain ia tidak mau jika anaknya mengalami nasib sama seperti dirinya, yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya, hingga sampai besar pun ia masih hidup di panti tanpa ada satu pun orang tua yang menjemput.
Persetan dengan rasa takutnya itu, hingga akhirnya pagi yang dipenuhi dengan rintik hujan ini. Ia akhirnya setuju dengan saran sahabatnya itu.
"Baiklah, aku akan datang," ucap Alena dengan suara sedikit bergetar.
"Ya gitu dong, dalam hidup kita harus tegas gak boleh lemah siapa yang berbuat harus bertanggung jawab, dan jangan pernah mendiamkan seorang pelaku," pesan Rani.
Alena mengangguk kecil. Hatinya penuh meleleh, tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata, ia tidak pernah membayangkan akan dipertemukan dengan orang baik seperti Rani.
☘️☘️☘️☘️☘️
Hujan masih terus mengguyur membasahi jalanan kota dengan udara dingin yang menusuk kulit.
Alena berdiri cukup lama di depan gedung tinggi menjulang itu. Jemarinya saling menggenggam erat, mencoba menenangkan rasa gugup yang sejak tadi menguasai dirinya.
Hotel Ardion Group.
Salah satu hotel paling mewah di pusat kota. Bangunannya megah dengan dinding kaca tinggi setinggi tembok pembatas antara Alena dan Kael.
Orang-orang keluar masuk menggunakan pakaian mahal dan parfum berkelas, sementara dirinya hanya mengenakan dress sederhana berwarna krem dengan cardigan tipis yang mulai basah terkena gerimis.
Secara refleks tangan Alena perlahan menyentuh perutnya. Sudah tiga bulan ia mengumpulkan keberaniannya untuk mendatangi tempat ini, berharap bisa menemui seseorang pemilik bangunan ini di dalam sana.
Ia memejamkan mata sejenak. “Demi kamu…” bisiknya lirih.
Dengan langkah ragu, akhirnya Alena masuk ke dalam hotel. Seketika hawa dingin pendingin ruangan menyambut tubuhnya.
Interior hotel itu begitu mewah. Lampu kristal menggantung indah di langit-langit. Lantai marmer mengkilap memantulkan bayangan setiap orang yang melintas.
Alena mendadak merasa kecil. Namun sebelum rasa takutnya makin besar, ia memberanikan diri mendekati meja resepsionis.
“Maaf…” suaranya pelan. “Saya ingin bertemu Tuan Kael.”
Resepsionis wanita itu tersenyum profesional. “Apakah Anda sudah memiliki janji temu?”
Alena langsung gugup. “Belum… tapi ini penting.”
“Maaf, tanpa janji temu kami tidak bisa—”
“Tolong…” potong Alena cepat. “Saya hanya perlu bicara sebentar.”
Belum sempat resepsionis menjawab, seorang pria bertubuh besar datang mendekat. Tatapannya langsung menilai Alena dari atas sampai bawah.
“Ada masalah?”
Resepsionis itu terlihat canggung.
“Wanita ini ingin menemui Tuan Kael.”
Pria itu langsung tertawa sinis. “Lagi?”
Wajah Alena bingung. “Maksudnya?”
“Setiap bulan selalu ada wanita datang mengaku punya urusan penting dengan Tuan Kael.” Tatapannya berubah merendahkan. “Biasanya ujung-ujungnya minta uang.”
Pipi Alena seketika memucat, hatinya bergetar hebat atas tuduhan yang salah itu.
“Saya bukan seperti itu.”
“Semua juga bilang begitu.”
Alena menggigit bibirnya kuat-kuat. Harga dirinya kembali terasa diinjak akan tetapi demi bayi dalam kandungannya… ia mencoba bertahan.
“Tolong katakan saya hanya ingin bicara.”
Pria itu tampak malas menanggapi. Namun sebelum sempat mengusir Alena, suara langkah kaki terdengar dari arah lift VIP.
Seketika seluruh pegawai langsung menunduk hormat.
Deg.
Tubuh Alena menegang melihat Kael muncul dengan jas hitam mahal melekat sempurna di tubuhnya. Wajah dinginnya sama sekali tidak berubah sejak malam terakhir mereka bertemu.
Tatapan pria itu awalnya biasa saja, tapi setelah melihat Alena berdiri di depan meja resepsionis langkahnya perlahan berhenti.
Untuk sesaat udara terasa membeku. Anak buah Kael langsung bicara cepat.
“Tuan, wanita ini memaksa ingin bertemu Anda.”
Kael menatap Alena tanpa ekspresi. “Masuk.”
Pintu ruang kerja itu tertutup pelan. Alena berdiri gugup di tengah ruangan besar bernuansa gelap dan dingin itu. Jendela kaca tinggi memperlihatkan pemandangan kota dari atas.
Sementara Kael berdiri membelakanginya sambil membuka jas.
“Cepat bicara. Aku sibuk.”
Nada dingin itu langsung menusuk hati Alena. Tangannya mulai gemetar, namun ia sudah sejauh ini datang, dan saat kesempatan itu datang. Ia tidak boleh mundur.
“Saya…” napasnya tercekat. “Saya hamil.”
Sunyi menyelimuti ruangan ini. Pria itu perlahan menoleh. Tatapan matanya berubah tajam.
“Apa?”
Alena menunduk sambil memegang jemarinya erat. “Kandungan ini… anak Tuan.”
Beberapa detik Kael hanya diam, bukannya percaya, pria itu justru tertawa kecil sinis.
“Cara lama.”
Mata Alena langsung membelalak. “Saya tidak bohong.”
Kael melangkah mendekat perlahan. Tatapannya dingin menusuk. “Berapa yang kau mau?”
Air mata Alena hampir jatuh saat itu juga, rasanya perjuangannya untuk datang ke tempat ini tidak ada artinya sama sekali di mana orang besar seperti Kael.
“Saya tidak datang untuk uang.”
“Kalau begitu untuk apa?” suara Kael mulai keras. “Jangan bilang kau berharap aku bertanggung jawab hanya karena satu malam?”
Tubuh Alena gemetar, ia tidak menyangka pria yang sudah merenggut kesuciannya dengan paksa tega berbicara seperti itu. Bahkan ucapan pria itu terlalu menyakitkan.
“Saya hanya ingin Tuan tahu…”
“Tahu bahwa ada wanita lain yang mencoba menjebakku?”
Alena langsung menggeleng cepat. “Bukan begitu!”
Kael tertawa dingin. “Hidupku penuh wanita yang datang membawa drama murahan seperti ini.”
Kalimat itu membuat hati Alena benar-benar hancur.
Dengan tangan gemetar Kael mengambil sebuah cek lalu melemparkannya ke meja.
“Ambil.”
Alena membeku di tempat saat itu juga.
“Itu cukup untuk hidupmu beberapa tahun.”
“Saya tidak menjual anak saya…” suara Alena mulai pecah.
Kael menatapnya dingin. “Kalau begitu gugurkan.”
Air mata Alena langsung jatuh tanpa bisa dibendung lagi, ia sudah berusaha mempertahankan janinnya itu selama tiga bulan dan. Bagaimana bisa… seorang ayah mengatakan itu pada darah dagingnya sendiri?
“Saya menyesal pernah bertemu Tuan,” bisik Alena lirih.
Tatapan Kael sedikit berubah. Namun egonya terlalu besar untuk menahan gadis itu pergi.
Alena menghapus air matanya kasar lalu mendorong cek itu kembali.
“Kalau saya wanita murahan… sejak awal saya sudah meminta uang Tuan," ucapnya pelan.
"Selama tiga bulan ini saya berusaha bangkit dan melawan rasa traumaku akibat kelakukan anda... dan pagi ini Tuhan memperlihatkan sisi lain anda, mungkin memang harus seperti ini, anakku tidak akan pernah punya ayah seburuk anda!"
Setelah mengatakan itu, Alena langsung berbalik pergi.
Brak!
Pintu ruangan tertutup keras, Kael terkejut baru kali ini ada wanita yang berani menyentuh miliknya dengan kasar, namun bukannya marah pria itu justru membiarkannya.
Di luar hotel, hujan turun semakin deras. Alena berjalan sendirian di tengah guyuran air sambil memeluk perutnya.
Tangisnya pecah, dalam hidup ia tidak pernah berpikir keturunannya akan bernasib sama seperti dirinya. Namun di sisi lain ia tidak mau menjadi orang yang sama, dan perlahan tekad kuat datang dari hatinya.
“Mulai hari ini…” suaranya bergetar. “Hanya aku yang akan menjaga kamu.”
Sementara jauh di lantai atas… Kael berdiri di balik kaca ruangannya. Tatapannya lurus memperhatikan tubuh kecil Alena yang berjalan menjauh di tengah hujan.
Dan entah kenapa… Dadanya terasa sesak meskipun langkahnya tidak mengejar.
Bersambung...