NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:26k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 4

Dia mabuk, atau gila?

Pikiran dan ekspresi Zenna entah bagaimana bisa dibaca jelas oleh Bram.

Alis lelaki tampan itu menukik tajam dan ia mengangkat bibirnya sinis, "Bukan aku yang gila, sebab bukan aku yang meratap di kuburan selama berjam-jam di bawah hujan begini... kalau ibumu melihatmu seperti ini, apa yang akan dia katakan?"

"Jangan ikut campur urusanku!" Zenna tak tahan untuk berteriak, kedalaman dadanya seakan meledak. "Pergi dan jangan pernah lagi--"

"Justru kamu yang sudah membuat urusanku berantakan--jadi jangan menyusahkanku begini!" Bram balas membentak. "Ayah dan ibumu meninggalkan wasiat yang harus dipenuhi sekarang--bisakah kamu berhenti bersikap keras kepala dan mendengarkan kata-kataku?!"

Zenna terperangah. Dialog Bram sama mengejutkan dengan kemunculannya--di luar prediksi dan nalar siapa saja yang tengah berduka parah sepertinya.

Ayah dan ibuku...?

Ayah sudah lama bercerai dengan ibuku dan aku tak tahu bagaimana dan di mana Ayah sekarang... tapi laki-laki ini muncul dan bicara soal wasiat...? Wasiat apa...? Dan kenapa dia yang...?

Saking bingung dan guncangnya, Zenna sampai tak punya daya dan suara kala Bram habis sabar dan menariknya bangkit, bahkan menyeretnya di antara pusara menuju mobil BMW hitam mewah yang terparkir di luar tembok dingin pemakaman.

"Kita... mau ke mana...?" Zenna bertanya lemah dan gemetar setelah dipaksa duduk di dalam mobil Bram, tepat di sebelah kursi pengemudi.

"Ke tempat yang lebih aman dan nyaman untuk pembacaan surat wasiat," sahut Bram seraya mengencangkan sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil. "Diam dan menurut saja supaya semua ini cepat selesai, oke?"

Zenna tak punya pilihan selain pasrah terbawa arus tak terduga ini. Bram mengemudi dengan cepat dan mulus membelah jalanan basah, dan mereka sampai di sebuah gedung mewah yang terletak di kawasan elit ibukota bagian selatan.

"Selamat sore, Tuan Bram," sapa seorang wanita muda dan cantik yang berdiri di belakang meja resepsionis di lobi depan gedung. "Tuan Pengacara Haris Sinaga sudah menunggu Anda di VVIP Meeting Room, lantai delapan."

"Bagus," Bram mengangguk. "Aku akan ke sana sekarang. Tolong kamu ajak wanita ini mengeringkan diri dan berganti pakaian, Yulia--gunakan kamar dan persediaan pakaian milik Rita di lantai sebelas. Setelah itu antar dia ke ruanganku dan Haris di lantai delapan."

Wanita bernama Yulia itu mengangguk. "Baik, Tuan Bram. Mari ikut saya, Nona--maaf, siapa nama Anda?"

"Zenna," gumam Zenna lirih.

"Ikuti saya, Nona Zenna, terima kasih."

Zenna dengan gontai mengikuti Yulia menyeberangi aula, menaiki lift, dan menyusuri lorong-lorong panjang dengan dinding dan lantai pualam. Wajah Zenna memerah saat orang-orang yang berpapasan dengannya menatapnya lekat, bahkan saling berbisik dan menunjuknya.

Ia baru sadar mengapa dirinya menjadi pusat perhatian ketika memasuki sebuah kamar di lantai sebelas dan memandang cermin besar yang menempel di dinding. Hujan yang mengguyurnya di pemakaman sang ibunda telah membuat penampilannya seperti boneka kain yang baru saja dipungut dari selokan--kusut, kotor, dan menyedihkan.

"Nona Zenna mau sekalian mandi? Supaya lebih bersih dan segar," Yulia menawarkan sopan.

"Ehm... ya, baiklah..."

Zenna seperti setengah sadar saja saat masuk ke dalam kamar mandi, menanggalkan gaun hitamnya, dan membersihkan dirinya di bawah guyuran shower. Air itu menyegarkan kulitnya, tetapi sama sekali tak menjernihkan batinnya.

Usai mandi, Zenna mengenakan pakaian yang disediakan Yulia--gaun putih panjang berimpel dan kardigan rajut warna hitam yang lembut dan hangat, yang entah bagaimana, ukurannya pas di badan.

"Mau saya bantu menata rambut Anda, Nona?" tanya Yulia saat Zenna duduk mematung di depan meja rias sambil menggenggam sisir.

"Tidak... tidak usah, terima kasih..."

Zenna menyisir rambutnya yang sudah dikeringkan dengan asal dan linglung. Ia masih tak sungguh paham apa yang terjadi, atau apa yang akan terjadi setelah ini. Tetapi ia tahu, jawaban untuk beberapa pertanyaan yang mengganjal benaknya sudah menanti di ruang pertemuan itu.

Setelah membenahi diri, Zenna pun mengikuti Yulia menuju tempat Bram dan pengacaranya berada. Dua laki-laki itu sudah menunggu di sana, tak ada satu pun yang tersenyum saat Zenna memasuki ruangan berperabot meja panjang dan kursi-kursi empuk beroda itu.

"Tinggalkan kami, Yulia. Aku tak akan menerima panggilan telepon atau permintaan meeting apapun sampai dua jam ke depan," titah Bram dengan suara dingin dan lantang bagai penguasa.

"Baik, Tuan."

Yulia undur diri dan menutup pintu, yang oleh Bram langsung dikunci otomatis menggunakan aplikasi yang terinstal di ponselnya.

"Duduk," perintah Bram sambil menunjuk salah satu kursi.

Zenna duduk dengan kaku dan canggung.

"Kamu tadi mengatakan soal wasiat...?" ia mencoba membuka dialog meski suaranya lemah dan gemetar.

"Itu benar, Nona Zenna. Saya di sini sebagai pengacara yang mewakili mendiang Tuan Zahir Atmaja untuk membacakan wasiatnya," kata Haris Sinaga dengan suara baritonnya yang berwibawa.

Zenna memandang lelaki paruh baya berkulit gelap yang rambut dan janggut klimisnya sudah memutih semua itu dengan bingung.

"Siapa itu Zahir Atmaja? Apa hubungannya denganku?"

"Dia ayah tiriku," jawab Bram datar. "Sekaligus ayah kandungmu, Zenna Amalia. Kamu dan aku saudara tiri, dan tak lama lagi, sesuai wasiat Papa Zahir, kita akan menjadi suami istri."

***

1
anindira maheswari
alir yg bagus dan beda dr yg lain sehingga pembaca sulit menebak
La Rumi: Matur suksma ❤️
total 1 replies
anindira maheswari
berasa tegang setiap kali baca....
benaar2 alur yg tak bisa ditebak
La Rumi: Thank you udah mampir dan marathon baca kak ❤️ GBU ❤️
total 1 replies
Shamira Zee
yaaah akhirnya tamat! happy lihat ze-bra happy ❤️ ditunggu karya selanjutnya ya kak ❤️
Shamira Zee
Huhu manis sekali couple satu ini... bikin irii
Shamira Zee
Yaah ketahuan deh Bram
Shamira Zee
Bram pulih, Zenna pulih, yuk Kenan pulih juga... aku gak mau Kenan jadi korban lho thooor
sryharty
aaah akhirnya happy ending juga mereka,, terimakasih ka udah kasih bacaan bagus
bikin hati bener2 traveling
La Rumi: Thank you udah baca sampai akhir kak ❤️ GBU ❤️
total 1 replies
Shamira Zee
Akhirnya si tua metong /Skull/ tapi bram kritis /Sob/ Kalau zenna sampai tahu gimana...
Shamira Zee
Gak tahu lagi mau bilang apa... jahat banget si tua dan tegangnya itu lho... Bram plis selamat dong
Shamira Zee
Wee bakal dar der dor macam mana lagi inii? Upload semua lah thor sampai ending, jangan bikin tegang dan penasaraaan
Shamira Zee
Whaat seriusan Bram ditangkap? /Scare/
Shamira Zee
Walaahh makin tegaaang
Shamira Zee
Zenna hamil yaa ❤️ Tapi malah jatuh ke tangan Darwin tuh gimana... thor mau bikin ceritanya kayak apa lagi ini /Sweat/
Shamira Zee
Kenan selamat /Scowl/Jangan bikin aku nangis ya thor... trus ini fakta dar der dor apa lagi yang bakal mengguncang Bram? Duh ada aja konfliknyaa
Shamira Zee
Thooor nggak mau aku kalau Kenan meninggal /Sob//Sob//Sob/
Shamira Zee
Semangat nulisnya thor... tapi aku patah hati beneran lho kalau sampai Kenan nggak ada... jangan pliiss /Sob/
Shamira Zee
Ya kamu bisa, Ken, tapi abis itu kamu ketembak... /Sob/
Lord Aaron
Darwin kudunya mati di tangan Kenan atau Bram lah
Lord Aaron
Kan... penulisnya tim medis pasti nih, bisa khatam betul soal obat dan segala macam tes medisnya
Lord Aaron
Jadi PoVnya Kenan... kasihan juga Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!