Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Bos Berulah
Hari-hari berikutnya Mila jalani dengan beban yang semakin berat. Arya ternyata jauh lebih demanding dan menyebalkan dari yang ia bayangkan.
Pagi itu, Mila meletakkan piring berisi dua potong roti panggang keju di atas meja Arya. Aromanya harum, masih mengepul hangat. Ia bahkan sengaja memanggang ulang roti yang baru dibelinya tadi pagi agar lebih renyah.
Di sampingnya, tersedia secangkir kopi hitam dengan satu setengah sendok teh gula, sesuai selera Arya.
Mila mundur selangkah, memandangi hasil kerjanya dengan puas.
Seharusnya ini sudah sempurna.
Lima menit kemudian, Arya datang. Wajahnya segar, rambut rapi, kacamata hitam masih tersangkut di kemeja navy-nya.
"Pagi," sapanya sambil melirik ke meja. "Oh, udah siapin sarapan ya?"
Mila tersenyum ramah. "Sesuai pesanan Bapak. Roti dan kopi."
Arya duduk, mengambil cangkir kopinya lebih dulu. Satu tegukan kecil, lalu diletakkannya lagi tanpa ekspresi apa-apa. Kemudian ia meraih sepotong roti, menggigitnya, mengunyah perlahan.
Mata Mila melebar penuh harap saat melihat Arya mengunyah. Ekpektasinya adalah validasi kecil, mengingat toko roti itu salah satu favorit di Jakarta. Terlebih Arya baru pindah dari Singapura, kemungkinan dia belum pernah coba roti dari toko ini.
Tapi tidak ada reaksi sama sekali di wajah Arya. Ekspresinya datar, hambar. Ia meletakkan kembali rotinya ke piring, lalu bibirnya menekuk ke bawah.
"Hmm.. nggak terlalu enak ya," dia jelas tidak suka. Pria itu langsung meraih mouse laptop dan mulai scrolling dokumen di layar.
Hening.
Mila akhirnya bersuara. "Nggak suka ya, Pak?"
"Tekstur rotinya bukan selera saya. Terlalu tepung." Jawab Arya tanpa menatapnya.
Mila terdiam.
Sebagian besar orang akan bilang roti itu enak. Mereka bahkan punya rating bintang 5 di aplikasi pesan-antar makanan manapun. Apa Arya termasuk yang sebagian kecil?
Lagipula roti memang dibuat dari tepung terigu. Jelas saja ada rasa tepungnya. Memang dia mengharapkan rasa apa? Kapur barus? Asbes?
"Oh," suara Mila keluar lebih tajam dari yang ia maksudkan.
"Bukan maksud saya nyalahin kamu ya. Just a personal preference thing." Arya menoleh, meliriknya sekilas.
"Oh gitu," Mila mengangguk. "Mau dipesankan menu lain, Pak?"
"Nggak usah. Udah nggak nafsu," sahutnya sambil mengangkat bahu.
Wah... orang ini tidak ada basa-basinya sama sekali.
Mila sudah hendak pamit meninggalkan ruangan, namun Arya besuara lagi. "Ada toko roti lain nggak di sekitar sini?"
"Ada Pak, Golden Crust. Tapi di luar kompleks kantor. Sekitar sepuluh menit jalan kaki."
"Besok kamu coba beli dari sana ya. Kalau ada sandwich aja deh. Isi smoked beef atau tuna gitu. Yang nggak terlalu banyak rotinya, lebih banyak isiannya."
"Baik, Pak." Mila mengangguk kaku.
Ia berbalik, menahan dongkol. Sepuluh menit jalan kaki, dua puluh menit pulang pergi. Berarti dia harus berangkat lebih pagi lagi besok.
Bos baru ini rupanya semakin menjengkelkan.
Dia bahkan tidak bilang 'terima kasih'.
...***...
Di hari lain saat Mila baru saja kembali dari makan siang bersama Nina, ponselnya berdering. Nama "General Manager" muncul di layar.
"Iya, Pak?"
"Tolong ke ruangan saya sebentar."
"Baik, Pak."
Ia segera melangkah masuk, membawa notes kecil dan pulpen, siapa tau ada instruksi penting yang harus dicatat.
Begitu pintu terbuka, Arya sedang duduk dengan ponsel menempel di telinga, berbicara dengan seseorang dengan konteks profesional tapi nada bicaranya cukup rileks.
"Ya, kami sedang tinjau Q3-nya. Mm-hmm... Saya bisa kirimkan materi presentasinya sore ini..."
Arya menggerakkan telunjuknya, memberi isyarat agar Mila duduk.
Mila duduk di sofa tamu, notes terbuka di pangkuan. Ia menunggu.
Lima menit berlalu.
Arya masih bicara. Kali ini tentang ekspansi regional, partner strategis, proyeksi revenue.
Sepuluh menit.
Mila mulai gelisah. Ia melirik jam tangannya. Masih ada tiga email urgent yang harus dibalas sebelum jam dua.
Lima belas menit.
Arya tertawa kecil, sepertinya sedang bercanda dengan lawan bicaranya.
Dua puluh menit.
Mila sudah mulai merasa ini tidak masuk akal. Kalau memang tidak mendesak, kenapa dia harus dipanggil dan disuruh menunggu seperti ini?
Dua puluh lima menit, akhirnya Arya menutup telepon.
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan tampang bingung (atau sok bingung) sambil berdiri dan meraih jasnya dari sandaran kursi.
Mila ikut berdiri dan berjalan mendekat ke arah Arya. "Tadi Bapak panggil saya. Saya pikir ada yang perlu dicatat."
"Oh, ya?" dia mengerutkan kening.
'OH YA' KATANYA??
Lalu dia berlagak seperti teringat sesuatu. "Oh, kayaknya tadi saya cuma mau bilang kalau saya dipanggil Pak Lukman, kemungkinan sampai siang. Kalau ada yang cari, kamu suruh hubungi saya ke WA aja ya."
Mila membeku.
"...cuma itu, Pak?"
"Iya. Ada masalah?" Arya menatapnya dengan wajah polos, seolah memang tidak ada yang salah.
Mila mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan hasrat untuk tidak meninju hidung bosnya sekuat tenaga. "Nggak ada, Pak. Silahkan." lalu ia bergeser untuk memberi jalan.
Arya mengangguk, lalu berjalan keluar meninggalkan Mila berdiri sendirian di ruangan.
Mila menatap notes kosong di tangannya.
Dua puluh lima menit.
For absolutely nothing.
.
.
Oh tenang, masi ada lagi! Setelah ini, giliran tugas yang tidak kalah absurd.
"Mila, tolong scan dokumen ini ya," manusia setengah setan itu menyerahkan setumpuk kertas tebal tanpa mengangkat pandangan dari layar laptop.
"Semua, Pak?"
"Iya. Kirim soft copy-nya ke email saya. Urgent."
Mila mengambil tumpukan dokumen tersebut dan kembali ke mejanya. Ia menyalakan mesin scanner, mulai memasukkan halaman demi halaman dengan sabar meski tangannya sudah pegal.
Sepuluh halaman.
Tiga puluh halaman.
Lima puluh halaman selesai.
Ia kompilasi semua file, memberi nama yang rapi, lalu mengirimnya ke email Arya dengan subjek yang jelas.
"Sudah saya kirim, Pak," lapor Mila sambil berdiri di ambang pintu.
Arya mengecek emailnya, membuka lampiran, men-scroll sebentar.
Lalu ia mengerutkan dahi.
"Loh? Kayaknya yang ini saya sudah punya soft copy-nya."
Mila terdiam.
"Maaf ya, saya lupa. Tadi pagi Dira sudah kirim duluan," senyumnya ringan. Seperti ini bukan masalah besar.
Mila memaksa bibirnya tersenyum lebar, tapi yang keluar adalah seringai marah menyerupai chihuahua. "Bapak lagi bercanda nih pasti."
"Enggak. Dira beneran sudah kasih soft copy-nya tadi pagi." Arya menatap Mila dengan raut meyakinkan. Kemudian matanya memicing. "By the way, muka kamu serem. Keluar sana, saya takut."
Mila berdecak keras, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa kesalnya. Lalu melirik tajam pada Arya dengan ekor matanya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan ruangan.
Ia berjalan kembali ke kursinya, menatap layar komputer tanpa benar-benar melihat apa-apa.
Tangannya masih terasa pegal. Matanya sudah mulai perih karena menatap kertas putih terus-menerus tadi.
Dan semua itu... sia-sia lagi.
Malam itu akhirnya Mila pulang, duduk di dalam kereta dengan wajah lesu. Lalu ponselnya berbunyi, pesan dari Tyas masuk.
*Tyas**📱: [Udah sampe kosan? Makan bareng yuk*.]
Biasanya tawaran seperti itu akan langsung membuat Mila tersenyum. Tapi malam ini, ia hanya menatap layar tanpa ekspresi.
Jemarinya mengetik balasan singkat.
*Mila**📱: [Capek banget. Besok aja ya*.]
Ia mematikan ponsel dan bersandar di kursi.
Di kepalanya, wajah Arya yang santai dan menyebalkan terus berputar.
'Rotinya nggak terlalu enak.'
'Kayaknya tadi cuma mau bilang kalau saya dipanggil Pak Lukman.'
'Oh, ternyata saya udah punya soft copy-nya.'
Mila menutup matanya lalu menghela napas panjang.
Ia tidak tahu apakah Arya sengaja menjahilinya, atau memang benar-benar tidak sadar bahwa semua itu menjengkelkan.
Tapi satu hal yang pasti.
Ia mulai benci bos barunya.
...***...
aahhh... bapak Arya ini emng suami idaman 😆