"Aku tampan dan memiliki banyak harta. Semua wanita akan sangat tertarik pada pria seperti ku. Sebaiknya kamu jangan terlalu curiga dan mengekang ku Adara. Cukup jadi wanita penurut dan tak banyak menuntut!" Ucap Arkan dengan penuh kesombongan. Ia yang tak terima dengan pertanyaan dari sang istri yang meminta kejelasan hubungannya bersama sang sekretaris sekaligus sepupu yang dulu merupakan mantan kekasihnya,mencoba berdalih agar wanita itu diam dan tak lagi bertanya. Namun satu hal yang tak ia sadari,bahwa perkataan nya itu justru menjadi sebuah motivasi bagi Adara untuk kembali bangkit menjadi wanita yang cerdas serta kembali terjun ke dunia bisnis. Adara diam-diam menyusun rencana untuk membalas dendam pada Arkan sang suami yang selama ini selalu mempermainkannya.
Karya ini sangat menarik,bagi readers yang menginginkan hiburan yang tak membosankan,silahkan simak cerita ini hingga selesai. Terima kasih and happy reading 🤗🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinly Secret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Kecurigaan
"Ke mana Non ?" Tanya sopir taxi begitu Adara masuk dan duduk. Untuk sekian detik,Adara mencoba menebak ke mana sang suami pergi. Dalam pikirannya hal pertama yang terlintas adalah rumah sang mertua. Kecurigaan Adara adalah,mungkin saja suaminya ke rumah orang tuanya karena di sana ada kely.
"Ke Jalan Mangga dua Pak." Jawab Adara sambil memasak sabuk pengaman. Hatinya saat ini sebenarnya deg-deg'an membayangkan kemungkin yang sedang dilakukan sang suami.
"Baik Non." jawab supir taxi dan langsung melajukan kendaraannya.
Perjalanan menuju rumah sang mertua memakan waktu sepulu menit. Dan Adara tak yakin akan bisa menyusul kendaraan yang ditumpangi Arkan saat ini. Karena jika pria yang masih bergelar suaminya itu memacu kendaraannya dengan kencang,mungkin dalam waktu kurang dari sepuluh menit,ia telah sampai di rumah kedua orang tuanya.
Namun alam sepertinya sedang memihak pada Adara,tiba-tiba saja pandangan Adara tertuju pada sebuah mobil silver milik Arkan yang sedang terparkir rapi di sebuah toko kue. Toko kue tersebut sangat ramai pengunjung meskipun masih terbilang pagi. Maka dengan cepat,Adara langsung menyuruh sopir taxi untuk memelankan laju kendaraannya.
"Pak,bisa ikuti mobil silver itu ?" Tunjuk Adara pada mobil berwarna silver yang saat itu sedang parkir di depan toko bersama beberapa kendaraan lainnya.
"Baik Non.Kalau begitu,kita menepi dulu ya ?" Ucap supir taxi meminta persetujuan Adara.
"Iya Pak,usahakan jangan sampai di curigai kalau kita sedang menguntit ya Pak ?"
"Siap Non. Tapi,kalau boleh tahu,siapa pemilik mobil itu ? Pacar ?" Tanya supir taxi yang berpikir bahwa Adara adalah anak remaja.
"Suami saya Pak. Saya hanya ingin tahu suami saya pagi-pagi begini." jawab Adara sambil terus menatap keluar di mana kendaraan sang suami sedang terparkir.
"Oh,iya Non. Maaf,saya pikir belum menikah." supir taxi merasa bersalah dan langsung meminta maaf.
"Gapapa Pak. Santai saja. oiya Pak,itu orangnya udah masuk mobil. Siap-siap kita ikuti." Dari dalam taxi,Adara bisa melihat Arkan menenteng satu box kue. Dan tak lupa,wajah pria itu terlihat sangat berseri. Hati Adara terasa berdenyut sakit. Selama ini,suaminya itu sangat sibuk bekerja hingga tak pernah membelikan makanan kesukaannya. Dan hari ini,ia melihat suaminya itu dengan wajah penuh kegembiraan,membawa sekotak kue. Entah untuk siapa.
Mungkin saja untuk ibunya.Hibur Adara dalam hati. Ia masih tak ingin membayangkan kemungkinan hal lain yang lebih jauh.
"Siap Non." Dan supir taxi pun mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menyesuaikan kecepatan mobil yang di tumpangi Arkan.
Mata Adara tak lepas memandangi ke mana perginya sang suami. Dan secara sadar,ia tahu bahwa suaminya benar-benar memacu kendaraannya menuju kediaman kedua orang tuanya.
Sang supir taxi begitu hati-hati mengikuti kendaraan di depannya. Sebisa mungkin berusaha agar tak terlihat seperti sedang menguntit. Sampai pada akhirnya,mobil Arkan memasuki sebuah halaman rumah yang cukup bagus dan luas. Taxi yang di tumpangi Adara sengaja melaju melewati dan mencari posisi aman untuk menguntit dari jauh.
"Di sini saja Pak." Pinta Adara mengarahkan sang supir taxi ketika telah mendapatkan posisi yang aman. Sebagai seseorang yang telah mengetahui selak beluk keadaan rumah mertuanya,ia sudah sangat hafal di mana tempat yang pas.
Akhirnya Adara bisa melihat dari ke jauhan,bagaimana Arkan turun dari mobil dan langsung di sambut oleh wanita muda sebaya Adara dengan pakaian yang cukup seksi. Dialah kely. Wanita itu sangat gembira begitu mendapatkan satu kotak kue dari Arkan. Dan tanpa rasa canggung,Arkan dan Kely saling bergandengan tangan dengan mesra masuk ke dalam rumah.
Kecurigaan Adara ternyata memang benar. Suaminya terburu-buru karena kely. Dan Adara telah membuktikannya sendiri.
Dengan cepat Adara segera mengabadikan momen tersebut. Mungkin saja suatu saat akan berguna baginya. Meskipun hatinya sedang sakit,ia tetap berusaha berpikir rasional. Saat ini ia tak boleh gegabah. Apa yang saat ini dilihatnya belum cukup untuk menyatakan bahwa Arkan telah mengkhianatinya. Ia harus memiliki bukti yang kuat. Jika tidak,ia akan kalah dan mungkin akan dipermalukan. Oleh karena itu,ia harus sabar dan cerdas dalam mengambil keputusan.
Arkan dan Kely tak terlihat lagi dari pandangan mata Adara. Sepertinya kedua insan itu telah masuk ke dalam rumah. Adara pun segera meminta supir taxi untuk pulang.
"Pak,kembali ke alamat tadi." pinta Adara sambil menghela nafas pelan. Mencoba menetralkan rasa sesak di dada.
"Siap Non." seolah mengerti dengan perasaan Adara,sang supir taxi tak lagi banyak bertanya. Pria paruh baya tersebut memilih diam dan membiarkan Adara sibuk merenung dengan segala isi pikirannya.
"Semakin hari,kamu semakin lupa diri Mas. Ternyata seperti ini rasanya dibohongi terus-menerus oleh kamu. Dan begini rasanya ketika pria yang sangat aku cintai lebih mementingkan wanita lain daripada istrinya sendiri. Mas,kamu benar-benar telah lupa diri! Gumam Adara dalam hati sambil menggigit bibir. Berusaha menahan butiran bening yang memaksa untuk keluar.
Selama ini tak pernah terlintas sedikitpun bahwa sang suami akan berpaling dan melupakannya. Semenjak menikah,Arkan adalah pria yang sangat penyayang dan sabar sekaligus perhatian. Meskipun hubungan Adara bersama ibu mertuanya tak baik,namun hatinya terhibur karena memiliki Arkan yang selalu setia menghibur ketika dirinya mendapat perlakuan tak adil dari sang ibu mertua.
Begitulah hati seorang istri. Sekalipun orang-orang atau bahkan keluarga sang suami tak pernah menyukainya,ia akan tetapi berdiri dengan tegar memegang teguh mahligai pernikahannya. Asalkan sang suami tetap berada di sampingnya. Akan tetapi jika suami telah meninggalkannya,maka berapapun banyaknya kasih sayang dari orang lain,tak akan sanggup membuatnya tetap berdiri tegar demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Suami adalah kunci ketegaran istri.
Dan inilah yang dirasakan Adara. Bahkan benar-benar tak ada yang berpihak padanya. Mertua sejak dulu tak pernah menyukainya,dan kini suaminya pun mulai berpaling. Sepertinya sudah tak ada harapan untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Arkan. Ia hanya butuh waktu untuk mendapatkan bukti kuat yang suatu saat akan mempermudahnya merebut apa yang telah menjadi haknya sebagai seorang istri.
"Sudah sampai Non." Suara supir taksir langsung menyadarkan Adara.
"Terima kasih Pak." Ucap Adara sambil tersenyum. Ia pun segera turun dan melangkah masuk ke halaman rumah. Rumah besar yang merupakan bangunan besar dan keren menurut beberapa orang yang menyukainya.
"Aku harus memikirkan langkah untuk menghadapi kely. Aku rasa saat ini,dia sudah sangat jauh mempengaruhi Mas Arkan. Meskipun begitu,aku akan tetapi membiarkan Mas Arkan menentukan keputusannya sendiri." Gumam Adara dalam hati.
Kok lama tidak up Thoor, jangan berhenti, sayang ceritanya bagus, jika diputus di tengah jalan
mrk tinggal serumah Kan?