NovelToon NovelToon
Artefak User

Artefak User

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem / Matabatin / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Setelah kehancuran dunia, munculah Cubex, pintu dimensi antar planet berikut kemunculan Artefak User yang dapat membuat manusia berubah menjadi Mutan berevolusi. Semua datang bukanlah sebuah kebetulan atau bencana alam semata namun ada rahasia dibalik semuanya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Party

Biasanya, seorang Healer adalah perempuan.

Bukan karena aturan tertulis, melainkan karena dunia telah terlalu lama percaya bahwa jalur penyembuhan bukan milik laki-laki. Healer memang dibutuhkan dalam setiap ekspedisi, tetapi jarang benar-benar dihormati. Mereka dianggap lemah secara fisik, tak cocok berada di garis depan, dan tak punya daya serang yang layak. Tugas mereka hanya menopang orang lain—menyembuhkan luka, memulihkan tenaga, lalu berdiri di belakang para petarung utama.

Di mata banyak User, Healer tetaplah kelas dua.

Mereka berguna, tetapi tidak menakutkan. Dibutuhkan, tetapi jarang dipandang setara. Kenaikan level mereka pun umumnya bergantung pada seberapa besar kontribusi mereka dalam mendukung orang lain. Tanpa tim, seorang Healer dianggap nyaris tak punya nilai.

Karena itulah Arman langsung meremehkan Joe begitu tahu pemuda itu adalah Healer—lebih-lebih seorang User lepas yang dikenal orang-orang meja judi sebagai Penjudi Tunggal.

“Aku bisa memeriksanya kalau kau masih ragu dia benar-benar laki-laki.”

Jasmin tersenyum genit, matanya sengaja menyapu Joe dari kepala sampai kaki.

“Apa kau mau kukeluarkan dari kelompok?”

Suara Ketua naik sedikit. Cukup untuk menunjukkan rasa tak senang yang gagal ia sembunyikan. Meski tahu Jasmin hanya bercanda, tetap saja darahnya terasa naik.

“Hei, jangan terlalu serius,” balas Jasmin enteng sambil membuang abu rokok. “Makanya cepat tua.”

Bukannya menjauh, ia malah melangkah makin dekat ke arah Joe. Wajah Ketua langsung mengeras.

Sementara itu, Roji bergerak lebih dulu menghampiri pemuda pengendara motor itu.

“Kenapa kau lama sekali?” bisiknya dengan nada campuran lega dan panik.

Joe menepuk pundaknya ringan. “Maaf. Semalam aku menang banyak. Orang-orang di meja judi tak mau membiarkanku pulang cepat.” Ia tersenyum santai. “Akhirnya aku ketiduran.”

“Jadi, kau Healer itu?”

Jasmin kini berdiri di hadapan Joe, cukup dekat untuk membuat Roji refleks mundur setengah langkah.

“Iya, Kak,” jawab Joe sopan sambil mengangguk. Ia melepaskan kacamata hitamnya, lalu menyelipkannya ke kerah kaus. Senyumnya ringan, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat orang memerhatikannya dua kali.

“Kau yang dipanggil Penjudi Tunggal itu?”

Joe terkekeh kecil. “Ah, itu cuma julukan dari teman-teman judi. Aku sering tidur di pondokan belakang rumah judi kalau sedang mabuk.” Ia mengangkat bahu. “Namaku Joe.”

Artinya sederhana: lelaki yang nyaris tak pernah benar-benar pulang.

“Kudengar kerjaanmu satpam?”

“Betul, Kak. Satpam pabrik.”

Jasmin mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Mana ada satpam yang homo. Apalagi penjudi.”

Suaranya sengaja dibuat cukup keras agar semua orang mendengar.

Ia kembali tersenyum, dan seperti biasa, senyuman itu bekerja seperti jebakan. Senyum Jasmin bukan senyum wanita yang terlalu cantik hingga membuat orang tak berkedip. Wajahnya tidak sempurna. Namun begitu bibirnya melengkung dan lesung pipit muncul di pipinya, daya tariknya berubah menjadi sesuatu yang sulit ditolak. Ketua sendiri pernah terperangkap oleh senyum seperti itu.

“Mengapa kau memilih artefak Healer?” tanya Jasmin lagi.

Joe tidak langsung menjawab. “Bukan aku yang memilih.” Ia menatap sebentar ke arah Cubex hijau, lalu kembali pada Jasmin. “Seseorang memasangkannya kepadaku saat aku hampir mati. Setelah itu aku merasa cocok, jadi kubiarkan saja.”

“Seseorang yang memasangkannya?” Jasmin tampak benar-benar heran sekarang. “Apa orang itu tidak tahu kalau artefak Healer lebih cocok untuk wanita? Kalau tidak cocok, kekuatannya tidak akan keluar sepenuhnya.”

Ia memang tidak sepenuhnya salah.

Artefak bisa memberi kekuatan, tetapi kecocokan antara artefak dan tubuh inang tetap menentukan segalanya. Jika sinkronisasi rendah, kekuatan yang keluar hanya sebagian kecil. Namun bila kecocokan tinggi, tubuh sang User bisa berevolusi jauh lebih cepat dan jauh lebih kuat.

Di dunia User, semua orang tahu tingkatan artefak.

Yang paling rendah disebut Low Artefact.

Di atasnya Common Artefact.

Lalu Rare Artefact, Epic Artefact, dan yang tertinggi, Legend Artefact.

Artefak User sendiri biasanya berbentuk benda kecil bulat, bening, ringan seperti plastik, tetapi jauh lebih padat dari kelihatannya. Di permukaannya terukir rune kuno dan simbol-simbol aneh. Benda itulah yang ditanam ke dalam tubuh manusia untuk membangkitkan kekuatan sihir.

Namun proses itu tidak pernah menjamin keberhasilan.

Kadang artefaknya hangus menjadi abu saat dipasang. Kadang berhasil menyatu, tetapi kekuatannya hanya keluar lima persen. Sisanya terkunci selamanya. Itulah sebabnya banyak User mandek di level tertentu. Bukan karena malas, melainkan karena artefak yang mereka pakai sejak awal memang cacat, tidak cocok, atau tak mampu berkembang.

Kemunculan artefak sendiri selalu dikaitkan dengan Cubex—kubus-kubus raksasa misterius yang muncul bersamaan dengan runtuhnya dunia lama. Bagi sebagian orang, Cubex adalah pintu ke dimensi asing. Bagi sebagian lain, itu hanyalah luka besar yang tertanam di permukaan bumi.

“Kalau hasil panen kita bagus di Cubex ini,” kata Jasmin sambil melipat tangan, “kau sebaiknya beli artefak baru dari Ketua. Ganti artefak sampahmu itu.”

Nadanya terdengar seperti saran baik, walau mengandung penghinaan yang jelas.

Artefak di dalam tubuh manusia memang bisa diganti. Namun ada harga yang harus dibayar: seluruh level dan perkembangan yang telah dicapai akan hilang. User harus memulai lagi dari awal, seolah semua darah dan usaha sebelumnya tak pernah ada.

Bagi Jasmin, Joe terlalu rapi, terlalu muda, dan terlalu sayang untuk membuang citra pada jalur Healer. Menurutnya, dengan artefak bertipe kekuatan atau serangan, pemuda itu pasti terlihat jauh lebih gagah.

“Ayo, cepat berkumpul!”

Suara Ketua memotong pembicaraan. Nadanya lebih tajam dari sebelumnya. Ketidaksukaannya pada Joe mulai tumbuh, dan Jasmin tanpa sadar mempercepatnya.

“Selesaikan perkenalan ini. Kita bentuk party sekarang juga.”

Perkenalan singkat sebelum masuk ke Cubex adalah kebiasaan umum. Bukan karena semua orang ingin saling mengenal, melainkan karena banyak nyawa bergantung pada siapa yang berdiri di kiri dan kanan mereka.

Akhirnya mereka berlima berkumpul: Ketua, Jasmin, Arman, Roji, dan Joe sebagai Healer.

Tak lama kemudian, kelompok itu bergerak menuju Cubex hijau raksasa yang menjulang di tengah kota mati.

Di sepanjang jalur menuju gerbang masuk, para pedagang liar berjejer di atas pasir, menggelar dagangan mereka di atas terpal kumal. Dunia memang hancur, tetapi perdagangan tak pernah benar-benar mati.

“Mari, Pak! Minuman energi buat bekal masuk!” teriak seorang pedagang sambil mengangkat botol-botol kusam.

“Senjatanya, Pak! Murah! Masih layak pakai!” seru pedagang lain yang menjajakan kapak, tombak, pisau besar, sampai pistol tua dengan gagang aus.

Sejak hujan meteor, senjata tidak lagi dipandang aneh di ruang publik. Dunia terlalu penuh bahaya untuk mengandalkan hukum. Orang-orang membawa senjata untuk bertahan hidup, untuk mengintimidasi, atau sekadar supaya tidak mati terlalu cepat.

Di pusat kota yang lebih hidup, senjata yang dijual jauh lebih bagus. Bahkan bahan peledak pun bisa didapat—asal punya uang. Dan di dunia seperti ini, harga selalu memihak pada mereka yang cukup putus asa untuk membayar.

“Artefaknya, Pak? Bu? Artefak murah! Lima ratus euro saja!”

Seorang pedagang lain mengangkat kotak kecil berisi benda-benda bulat bercahaya.

Jasmin menoleh. “Murah sekali. Asli?”

Untuk artefak kelas rendah, harga normalnya paling tidak seribu euro. Sementara lima euro sudah cukup untuk satu kali makan seadanya. Dua puluh euro bisa dipakai orang miskin untuk bertahan hidup sehari penuh. Nilai mata uang terus memburuk dari tahun ke tahun, dan orang-orang belajar menilai barang bukan dari nominal, tetapi dari peluang hidup yang bisa dibelinya.

“Jangan tertipu,” kata Ketua cepat, menahan langkah Jasmin. “Sebagian besar itu palsu. Sisanya cacat.”

Ia bicara dengan keyakinan orang yang memang tahu isi pasar artefak.

Tidak semua artefak bisa menciptakan manusia super. Ada artefak rusak yang tak berguna. Ada artefak cacat yang bisa menyatu, tetapi tak akan pernah berkembang. Ada juga artefak yang sama sekali tak bisa dipasang ke tubuh manusia. Bagi orang awam, semuanya terlihat serupa—sama-sama kecil, sama-sama bercahaya, sama-sama misterius.

Padahal kualitasnya bisa berbeda sejauh langit dan dasar kubur.

Sama seperti emas, artefak hanya bisa dinilai dengan alat dan pengetahuan. Tanpa keduanya, orang sangat mudah ditipu.

Pemasangannya pun tak boleh sembarangan. Sedikit kesalahan bisa merusak tubuh, menghancurkan artefak, bahkan membunuh calon User di tempat. Namun tetap saja orang-orang nekat mencobanya. Dalam dunia yang nyaris tak memberi jalan keluar, sedikit peluang sering terasa lebih berharga daripada keselamatan.

“Lihat,” bisik seorang pedagang pada pedagang di sebelahnya. “Itu kelompok Black Hammer, kan?”

“Benar,” jawab yang lain, suaranya ditahan rendah. “Kelompok yang sering masuk Cubex ini. Setiap datang selalu berlima, tapi yang keluar biasanya cuma tiga.”

“Mereka masuk cuma buat cari artefak.”

Kelompok itu memang dikenal sebagai Black Hammer, mengikuti nama User milik Ketua. Namun yang benar-benar tetap hanya tiga orang: Ketua, Jasmin, dan Arman. Sisanya selalu berubah-ubah. Orang tambahan hanya dipungut dari mana saja untuk memenuhi syarat minimal party.

Hari ini, Roji adalah satu di antaranya. Joe yang lain.

“Dua orang baru itu kelihatan lemah,” gumam seorang pedagang lagi. “Paling cuma pelengkap kuota.”

“Pelan sedikit,” tegur temannya. “Bisa-bisa mereka dengar. Lagi pula, tumbal seperti itu sudah biasa. Setiap party butuh orang yang siap dibuang kalau keadaan memburuk.”

Tak satu pun dari mereka menoleh.

Kelompok itu terus berjalan seolah tak mendengar bisikan yang mengiringi langkah mereka. Di kiri-kanan jalan setapak, tenda-tenda kecil dan lapak terpal terus memanjang sampai mendekati gerbang Cubex.

Semua orang yang memandang mereka tahu satu hal:

begitu lima orang itu melangkah masuk, nyawa mereka bukan lagi milik mereka sendiri.

Di dalam Cubex, kematian adalah hal biasa.

Banyak orang masuk berkelompok, lalu keluar tinggal separuhnya. Banyak pula yang tidak pernah kembali sama sekali. Bahkan mayat mereka pun belum tentu bisa dibawa keluar.

Di dalam Cubex, nyawa tak lebih mahal daripada kesempatan.

Dan orang-orang yang berdiri di luar sana menatap mereka seperti menatap wajah-wajah calon mayat.

Bagi seorang User, tatapan seperti itu sudah biasa.

1
@dadan_kusuma89
Ternyata segala sesuatu nggak ada yang gratis ya. Tremor perlu mengetahui keuntungan baginya jika hendak dimintai bantuan.
🌺Bunga_Ros⁹⁷
kacau benar negara ini😩
🌺Bunga_Ros⁹⁷
kekurangan banget apa menggatal juga nih si Jasmin? 🤭
Melisa Satya
penasaran dengan lanjutannya
Melisa Satya
ya udah berhenti
Shin Himawari
tidak heran dia jadi ketua artefak user. dia pandai memanfaatkan peluang 💪
Shin Himawari
semua orang memang punya masalah dan kesulitan tapi karena itulah bisa bertahan jadi semangaat✨️
-Thiea-
keadaan bisa saja berbalik, joe.
Rezqhi Amalia
imajinasi lo keren bnget Thor 😭😭, penasaran juga bacanya. suka banget cerita yang kek gini
Rezqhi Amalia
100 tahun kemudian, aku kayaknya udah metonh disitu deh
Rezqhi Amalia
ngeri banget kalau beneran terjadi. sepertiga dunia behh🤧
Athena
jika tk seimbang jgn di ambil taruhannya, jgn2 itu udh di setting pula spy user gk akan menang
Mira
Wehh apakah kita para pembaca juga diajakkk ?
ginevra
selama ini dibayanganku artefak kek batu kristal gitu ternyata salah....heheheh
ginevra
otak otak pebisnis ya gini... kalau ada celah uang mengalir bakal diambil
ginevra
waduhhh ... dah berjuang sedemikian rupa malah berakhir jadi simpanan
👑Chaotic Devil Queen👑
Deja Vu itu biasanya perasaan kayak merasakan hal yang udah pernah dirasain, padahal bisa aja cuma perasaan 🗿
👑Chaotic Devil Queen👑
Iya, biasanya healer itu terkenalnya cuma sebagai support. Tapi ya... selalu ada anomali support yang jadi DPS 😭🤣
dilafnp
kayaknya keren, tapi aku takut laut.. 🤧 naik kapal aja mabokk 😭😭
Ff Gilgamesh
kartu As sama Joker belum bisa digunakan. tunggu naik level dulu baru bisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!