NovelToon NovelToon
Love In Tanjung Priuk

Love In Tanjung Priuk

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Cinta Murni / Romansa / Tamat
Popularitas:151.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Isma Wati

Akibat menolak menjadi istri kedua dari atasanya yang merupakan kakak kelasnya dulu. Adifa, gadis berusia 25 tahun. Yang bekerja di perusahaan transportasi di pelabuhan Tanjung Priuk, harus menerima jika ia di mutasi, dari sebagai staff administrasi, menjadi seorang Korlap, atau Koordinator Lapangan. Jabatan yang sembilan puluh sembilan persen di lakukan oleh seorang pria.

Akankah Adifa bertahan dari pekerjaanya karena begitu banyak cobaan ketika ia menghadapi para supir? Atau justru menerima tawaran menjadi istri kedua dari mantan kakak kelasnya? Namun, keputusan Adifa itu justru mempertemukanya dengan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Di Lapangan

"Sayanggg, kamu kesini?" Dirga yang pandai menguasai situasi berdiri, menghampiri sang istri, mencium kening, lalu memeluknya.

Iya, wanita yang datang itu adalah istri Dirga, Diana. Pernikahan mereka terjadi karena keduanya di jodohkan untuk menyelamatkan perusahaan keluarga Dirga yang hampir kollabs. Dua tahun menikah, mereka belum di karunia keturunan.

"Tidak usah peluk-peluk." Diana melepaskan pelukan Dirga dengan tatapan kesal, lalu berpindah menatap Adifa. "Jelaskan padaku apa yang sedang kamu bicarakan dengan wanita kucel itu?" ujarnya menuntut penjelasan.

Oh Tuhan. Itu mulut kenapa lancar sekali menghina orang, ingin rasanya Adifa meremat mulut bibir lemes itu. Jikapun Adifa memang kucel, jaga perasaan kek. Adifa menatap Dirga agar Dirga saja yang menjelaskan meski ada ketakutan Dirga akan memberikan keterangan palsu yang akan merugikan dirinya.

"Sini duduk dulu, tidak baik marah-marah sambil berdiri." Dirga menuntun istrinya ke mejanya dan mendudukkan wanita itu dipangkuanya.

"Adifa ini baru jadi Korlap, menggantikan Pak Iskandar yang beberapa minggu lalu melakukan uang korupsi," Dirga menjelaskan. "Tadi Adifa minta cuti nikah, yasudah aku bilang saja kalau dia tidak boleh izin atau cuti dulu, kalau untuk menikah sih terserah. Tapi no cuti."

Diana memutar kepala menatap Adifa, percaya saja dengan apa yang dijelaskan suaminya, tidak mungkin Dirga menyukai wanita kucel yang tidak ada cantik-cantiknya. Kulit gelap bagai pantat panci, muka kucel tanpa make up, dan Difa juga tidak wangi seperti dirinya yang Dirga sukai.

"Baiklah, aku percaya padamu, Sayang." Diana mengusap rahang Dirga sensual lalu mencium bibir suaminya. Rasanya Adifa ingin mengeluarkan isi perutnya melihat kepalsuan keromantisan pasutri lebay ini. Dirga yang mendapat perlakuan romantis istrinya melirik pada Adifa takut wanita yang ia cintai itu cemburu.

"Tapi kamu harus jauh-jauh dari wanita seperti ini karena dia pasti ingin merayu mu." Diana melirik Adifa yang memutar bola mata.

"Iya, Sayang. Cuma kamu yang ada di hati aku, mana mungkin aku berbelok pada wanita lain."

Dasar buaya, untung tidak terjerat jebakanya.

"Oke Adifa, aku rasa kamu sudah paham apa yang aku katakan tadi. Kamu boleh keluar."

Huh, kenapa tidak dari tadi? Malas sekali juga Adifa harus berada lama-lama dikandang buaya darat kalau tidak dipanggil juga. Dan kalau bukan karena kebutuhan ekonomi keluarga, Adifa sudah cabut mencari pekerjaan baru. Sayangnya sekarang mencari pekerjaan tidak semudah mendapatkan ijazah.

Itu real teman-teman.

Kembali ke lapangan dan berkawan dengan terik sinar marah menjadi tempat terbaik bagi Adifa saat ini ketimbang harus berada di dalam ruang ber-ac namun harus bertemu manusia modelan Dirga yang bisa menjorokkanya kedalam jurang terdalam.

"Selamat pagi teman-teman. Apa kabar semuanya." Adifa menyapa para driver yang sudah menunggunya sejak tadi.

"Baik Sayang," jawab para driver menggoda Adifa.

Marah? Sudah pasti, tapi inilah tantangan terbesar Adifa yang menyandang gender wanita dan harus mengatur laki-laki yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang dan dari segi usia mereka diatas Adifa. Adifa harus lebih bersabar dan bisa mengontrol diri meski kadang dia di remehkan.

Ditegur juga kadang mereka tidak terima dan lebih galak. Malah kadang-kadang melontarkan kata yang tak sedap di dengar.

"Mohon kerja samanya hari ini untuk mengantar barang tepat waktu, jangan ada yang mampir-mampir di jalan. Surat jalan jangan ada yang salah. Lebih teliti dan perhatikan barang yang turun atau masuk. Antara driver dan kenek harus bekerja sama, jadi jangan sampai kita saling menyalahkan jika ada kesalahan." Adifa mulai membrifieng. "Nanti beberapa diantara teman ada yang menjemput barang yang akan di ekspor. Jangan sampai ada komplainan. Karena disini kita sama-sama mencari rejeki untuk keluarga, jangan sampai kesalahan satu orang jadi mengobrak-abrik dapur teman kita yang lain."

"Oke sayang. Abang akan bekerja dengan baik. Demi mencari nafkah untuk masa depan kita nanti," jawab salah satunya. Adifa menanggapi dengan senyuman tipis. Setelahnya Adifa membagikan surat jalan dan mengatur para driver harus berpasangan dengan siapa.

"Neng, saya tidak mau kernetnya dia." Komplain salah salah satu driver.

"Kenapa, Pak?"

"Dia kerjanya tidak sat set, banyak makan. Uang jalan yang seharusnya bisa dibawa pulang habis buat jajan," adunya karena setiap pulang ia hanya bisa memberi uang istrinya cukup untuk beli beras saja.

Karena memang di tempat Adifa bekerja ini tidak memakai sistem perjanjian kontrak kerja antara driver dengan perusahaan, atau yang dikenal sistem pekerja lepas. Uang yang diberikan dari perusahaan, uang jalan berikut uang gaji. Jadi harus pintar-pintar para driver mengatur keuangan mereka agar ada sisa yang bisa mereka berikan pada anak istri mereka di rumah.

Fakta dilapangan yang sangat mengiris hati memang. Adifa yang baru terjun dilapangan, baru mengetahui begitu pahitnya hidup para pencari nafkah di jalanan. Uang sisa besar yang seharusnya bisa mereka sisihkan untuk menabung, terpakai untuk membayar para pemalak yang tidak bertanggung jawab.

Jika sedang apesnya, harus mengganti ban yang bocor atau meledak dalam waktu bersamaan, dan itu sudah pasti sangat menyita waktu mereka. Belum lagi uang solar boros jika harus menghadapi kacaunya kemacetan yang mengular di tanah air yang sulit untuk dihindari

"Di sini ada yang mau tukar?" tanya Adifa pada para driver yang lain. Namun tidak ada yang menjawab dan itu membuat Adifa harus berpikir bagaimana caranya agar driver dan kernet ini tidak ribut saat di jalan nanti. Karena Adifa sangat menyayangkan driver tersebut komplain di depan yang lainnya dan caranya yang sangat blak-blakan ini otomatis mempermalukan kernet tersebut.

"Bang, bisa ikut saya?" Adifa bertanya pada kernet yang di komplain tadi. Kernet bercelana jeans pendek dan kemeja kotak-kotak biru yang warnanya sudah pudar itu mengangguk dan mengekor di belakang Adifa menuju belakang pos agar pembicaraan mereka tidak di dengar yang lain.

"Begini, Bang. Abang kan tadi dengar sendiri kalau ada supir yang tidak suka dengan Abang. Berarti Abang harus merubah sikap Abang biar Abang masih bisa di pakai disini." Tegur Adifa dengan hati-hati agar ucapanya tidak menyinggung perasaan kernet tersebut.

"Akh, itumah kelakar Abang tadi saja ingin aku dipecat. Wajarlah orang lapar di jalan makan. Kalau tidak makan, masuk angin saya memang kantor mau tanggung jawab? Dijalan itu kurang makan sedikit nyawa taruhanya."

"Iya, saya mengerti. Tapi kontrol sedikit ya, karena supir yang tadi anaknya banyak. Nah kalo Abang kan belum berumah tangga, belum ada tanggung jawab yang dipikul, jadi-"

"Kamu itu cuma korlap, tidak usah ikut campur urusan uang supir dan kernet. Kami dilapangan lebih tahu. Kalian di kantor mana tahu keadaan kami di jalan. Jadi tidak usah banyak atur." Potongnya lalu pergi meninggalkan Adifa.

Adifa menghela nafas. Ia kembali lagi memanggil supir yang tadi untuk bicara berdua.

"Pak, saya tadi sudah bicara dengan kernet Bapak. Saran saya, agar uang jalan Bapak tidak terganggu, mending dibagikan dulu berapa jatah dia, berapa jatah Bapak. Berapa uang makan, uang rokok, solar dan lain-lainya. Jadi nanti kalau dia masih minta jajan lagi, Bapak suruh dia pakai uang jatah dia sendiri."

"Oke, bagus juga itu." Driver itu setuju dengan masukan Adifa.

"Untuk sementara waktu Bapak tidak apa-apa jalan sama dia dulu. Karena tidak ada kernet cadangan lagi. Tadi saya sudah coba telepon yang free, ada yang tidak mengangkat telepon saya, ada yang ngangkat juga tidak mau masuk."

"Saya mengerti, Neng. Tidak apa-apa, terimakasih atas masukanya. Sebenarnya uang jalan pemberian Neng Adifa ini ada sisa dibanding Pak Iskandar dulu, uang jalanya sangat di press. Tapi tidak bisa untuk menabung karena kernet saya sekarang banyak makan."

* * *

Waktu terus berjalan, matahari tepat diatas kepala dan sudah waktunya jam makan siang Adifa tiba. Bersama temanya Adinda, Adifa makan di rumah makan padang langganan mereka. Disaat sedang asyiknya makan siang, Dirga menelepon.

"Kenapa sih ini orang?"

"Siapa, Dif?"

"Pak Dirga."

"Angkat saja, penting kali, soalnya tidak mungkin tidak penting. Istrinya Pak Dirga masih disini." Adinda tahu skandal Dirga yang mengejar Adifa karena memang Adifa dan Adinda teman sejak SMP.

Mendengar itu dari Adinda, Adifa mengangkat telepon dari Dirga.

"Iya, Pak."

"Kiriman bahan retail untuk ke Bogor kok belum sampai? Memang belum di kirim?" tanya Dirga.

"Sudah, Pak. Sudah dikirim dari pagi," jawab Adifa.

"Tapi pihak Pt sana barusan telepon saya kalau barang mereka belum sampai. Itu barang penting, Adifa" Suara Dirga terdengar kesal.

Adifa mendesah, seharusnya kiriman ke bogor sudah tiba sejak tadi. Karena jarak dari Tanjung Priuk ke Bogor tidak begitu jauh dibanding kiriman yang lain.

"Yasudah, Pak. Saya telepon drivernya dulu."

Setelah menelepon driver yang dimaksud, dan mendapat informasi jika driver itu sebentar lagi tiba. Adifa melapor pada Dirga. Namun satu jam kemudian, Dirga kembali komplain pada Adifa karena driver tersebut belum juga sampai. Karena penasaran, Adifa meminta tolong pada bagian 'It' untuk melihat titik lokasi driver nakal yang tidak amanah pada pekerjaanya itu.

"Ini tempat apa, Pak Irwan?" tanya Adifa melihat lokasi yang tidak ia pahami.

Pak Irwan berpikir sejenak menerawang lokasi yang tidak asing baginya.

"Ini sepertinya warung remang-remang."

"Apa itu warung remang-remang?" tanya Adifa dengan kening berkerut.

"Kamu belum tahu istilah supir itu apa, Adifa?" Adifa menggeleng. "Supir itu, setiap susu mampir."

"Jadi maksudnya?" Pak Irwan mengangguk.

"Astagfirullah."

1
Sri Ariyanti
masih ada bonchap nya kan thor?
Isma Wati: iya, tapi belum waktu dekat. maaf ya
total 1 replies
Faa
kak kok Umat ,,, seharusnya hamba loh🤦
Jessica
Luar biasa
Taty Hartaty
enakkan ,rasanya cemburu /Proud/
Taty Hartaty
rasain
Taty Hartaty
klu gt sm pak Dirga aja hahahah
Taty Hartaty
wahh mahawira nih cari gara2
Evy
Harusnya Dirga sudah curiga bila dikasih makan atau minuman...
Ran Aulia
Luar biasa
Yuliana Purnomo
wooow lega,, akhir nya saaaah
Yuliana Purnomo
wooow pegang rahasia apa nihh,,Wira ?? dgn Dirga
Yuliana Purnomo
pasti ulah mantan istri dirga
Yuliana Purnomo
mantan licik,,,knp Dirga GK antisipasi siih
Yuliana Purnomo
gak ada dewa penolong kh ini???
Yuliana Purnomo
hahahhaha Afida gak ngerti kebiasaan sopir
Yuliana Purnomo
hahahaha kepergok bini tua,, Dirga
Yuliana Purnomo
ooh adek Marsha yg kembar ini kan??
EmbunCahaya
lah....😅
EmbunCahaya
Kasihan sih sama dirga....
EmbunCahaya
eh . ada apa dg dirga?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!