Sedang direvisi.
Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Biasa
Pukul 11.30 seorang laki-laki berjalan keluar dari sebuah ruangan dengan wajah penuh kebahagiaan. Seolah memperlihatkan kemenangannya atas pertempuran yang ia lakukan. Ia melihat ke arah laki-laki lain yang juga berjalan ke arahnya pun dengan wajah yang tersenyum senang. Yah... Merekalah Razka dan Rendy. Yang merasa sangat puas dengan hasil sidang mereka. Kini, mereka hanya tinggal menunggu hari kelulusan mereka.
"Bagaimana? Apa memuaskan?" tanya Rendy ketika telah sampai di dekat Razka.
"Ah yah. Kau bisa melihatnya sendiri bukan?" jawab Razka sambil menunjuk wajahnya sendiri yang penuh dengan senyuman sambil menaik-turunkan alisnya.
"Ayo kita pergi, aku mau langsung pulang ke rumah karena harus mempersiapkan diri untuk mencari pundi-pundi rupiah." Ia berjalan sambil menyeret lengan Rendy.
"Hei, kau tidak bertanya tentangku?" Rendy menarik tangannya membuat langkah keduanya berhenti.
"Aku sudah tahu dari melihat wajahmu saja. Kau terlihat begitu puas tadi saat keluar dr ruangan itu." Menyeret kembali lengan Rendy. Laki-laki itu hanya tersenyum dan mengikuti langkah Razka menuju parkiran.
Sesampainya di sana mereka berpisah. Razka yang langsung menghampiri motornya, dan segera pergi dari sana. Ia harus bergegas untuk membuka lapak dagangannya.
"Nek, aku pulang!" Ia masuk ke dalam rumah namun tak ada siapa pun di sana.
'Kemana perginya Nenek?' gumamnya dalam hati sambil terus melangkah masuk.
Saat sampai di ruang tamu samar ia mendengar suara orang mengobrol dan tertawa dari teras belakang rumah. Ia melangkah mendekati teras belakang rumah, saat sudah di depan pintu ia bisa melihat sang Nenek sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya karena pintu itu terbuka lebar.
"Bibi!" Razka menghampiri keduanya lalu meraih tangan kedua wanita itu dan meletakkannya di hidungnya.
"Kau sudah pulang, Nak? Bagaimana hasilnya? Apa memuaskan?" tanya Nuri yang tak lain adalah istri Paman Max yang memang setiap hari akan menemani Nenek di rumah.
"Iya, Bi, sangat memuaskan. Kalau begitu Razka pamit untuk mandi dan bersiap mangkal, Bi. Kalian lanjutkanlah mengobrol." Ia tersenyum manis.
"Baiklah, hati-hati!" ucap Nenek, ia hanya menganggukkan kepala menanggapi perhatian sang Nenek kemudian berlalu dari sana.
Setelah selesai mempersiapkan semuanya ia pamit pada keduanya untuk segera berangkat ke tempatnya berjualan.
Sesampainya di sana, dengan cekatan ia menyusun jualannya. Mulai dari bahan utamanya, yaitu sate, bumbu-bumbu, memanaskan panggangan dan merapikan meja dan kursi untuk pembeli. Setelah selesai ia beristirahat sejenak sambil menunggu pelanggan datang. Namun, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya bergerak melangkah mendekati sesuatu tersebut.
"Hai Aisy! Butuh bantuan?" Wanita yang disapanya hanya tersenyum dan berkata, "Apa Kakak sudah selesai? Aku juga baru sampai. Jadi baru membuka kedai."
Aisyah adalah salah satu pedagang di tempat itu, ia seorang gadis berhijab yang berjualan sosis bakar di sana.
"Sudah, kau bisa lihat tempatku sudah rapi bukan?"
Razka menunjuk kedainya yang sudah rapi sementara Aisyah hanya melirik lalu tersenyum. Tidak banyak percakapan yang mereka lakukan karena Aisy yang bernama Aisyah Fadhilah memang orang yang tak banyak bicara ia terkesan pendiam. Setelah hampir selesai sebuah suara terdengar membuatnya menghentikan kegiatannya.
"Abang! Abang sate!" Suara seorang wanita pelanggan setia di kedai sate miliknya.
"Ok, tunggu sebentar ya! Aku datang!" Ia melirik Aisyah dan berkata, "kakak ke sana dulu, ya ada pembeli." Aisyah hanya mengangguk.
"Berapa tusuk sekarang Mba Ris? Masih seperti biasa?" Ia bertanya setelah sampai di sana.
"Tidak, tolong tambahkan 5 porsi, hari ini ada acara arisan di rumah Mba." Wanita yang bernama Riska itu memang hampir setiap hari ia akan datang ke kedai Razka, entah untuk membeli sate atau hanya sekedar untuk melihat Abang penjual satenya saja.
"Ok!"
'Seandainya aku masih sendiri aku godain terus kamu Razka, sayang aku sudah punya suami' Ia berbicara dalam hati.
Tak berapa lama pesanannya telah siap ia memberikan kantong plastik berisi sate itu kepada Riska dan menerima uangnya.
Pukul 09.00 malam,
'Ini masih sore, tapi Alhamdulillah sateku sudah habis.'
Razka bersyukur jam 09.00 itu memang masih sore untuknya karena biasanya ia akan selesai pukul 11.00 malam.
Setelah selesai merapikan semuanya dan ia bersiap pulang, sebuah suara membuatnya menghentikan aktifitasnya yang saat itu tengah menaikan barang-barang jualannya ke atas motornya.
"Kakak!" Suara gadis kecilnya, itu suara Emil.
'Tumben sekali Emil datang di jam ini. ada apa?'
baca dari awal begitu bnyk kematian
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
itu namaku🤭🤭
itu namaku🤭🤭
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔