NovelToon NovelToon
MY DEVIL PARTNER

MY DEVIL PARTNER

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:360.9k
Nilai: 5
Nama Author: musbich

"Kamu pikir aku memperhatikanmu? Aku hanya khawatir dengan lingkunganmu. Akan ku habiskan yang berani mengganggumu,"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

DHIKA POINT OF VIEW:

Pagi ini setelah memastikan Paris sampai di tempat tujuan dengan selamat, aku menuju tempat autopsy. Di sana sudah banyak rekan yang menunggu.

Dan tunggu, raut wajah penuh khawatir ada di antara rekan rekanku saat ini. Aku tahu kenapa mereka terlihat khawatir. Alasan satu satunya adalah karena Yesha ada di ruangan itu bersama mereka.

Yesha memang pernah bekerja di sini dan kami sangat akrab dulu, bahkan semua rekanku juga tahu kisah di antara kami. Dan mengapa mereka terlihat khawatir, karena mereka takut moodku akan berubah buruk untuk pagi ini.

Tanpa memperdulikannya yang berdiri di antara dokter forensic lainnya, aku hanya berjalan santai melewatinya begitu saja. Aku memeriksa korban yang mulai membusuk. Pembusukan adalah musuh dari ilmu forensic, sesuatu yang ada di tubuh korban mulai menghilang.

Ada beberapa pihak kejaksaan yang juga turut serta dalam proses autopsy kali ini.

“Berikan aku tongkat pengukur,” pintaku pada rekan yang ada di sebelahku.

Dengan cepat dia memberikan apa yang ku pinta.

“Kedalaman lukanya 3 cm,” kataku yang langsung di catat oleh rekanku.

“Beraa kali dia ditusuk?” tanyaku.

“15 kali, ku rasa korban dilukai karena cemburu,” sahut Erika.

“Jangan membuat kesimpulan sendiri, tolong balik mayatnya,” kataku sejenak menatap Erika.

Setelah proses autopsy selesai, Erika bertanya bagaimana hasil akhirnya. Kami berkumpul di salah satu ruangan seraya menyandarkan tubuh sejenak di kursi.

“Dia mati tercekik dan kehabisan udara,” kataku datar.

“Bukannya dia tertusuk 15 kali,” sahut Yesha yang membuatku malas melihatnya.

“Tidak ada luka serius,“ kataku dingin.

“Wajahnya dipukul dan wajahnya membusuk dengan cepat, dan terdapat luka berdarah. Lalat biasanya menaruh telurnya pada luka berdarah. Itulah awal mula belatung,” kata dokter Vina ikut menanggapi.

“Ah, yang dilihat Paris waktu itu kan? Aku ingat,” sahut Erika.

Setelah melakukan proses autopsy, kami semua menuju tempat kejadian perkara untuk menganalisa kejadian saat itu. Kami berjalan bersama menuju tempat parkir, melewati lorong gedung hingga terdengar ketukan sepatu kami bersama sama.

“Aku ikut satu mobil denganmu,” kata Yesha ragu menggenggam tanganku.

“Lepaskan,” kataku dingin.

“Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita,” kata nya pelan yang hanya bisa didengar olehku.

Aku tetap berjalan, tak peduli apa yang dikatakan nya. Erika benar benar memperhatikan kami berdua.

“Kamu yang memutuskan hubungan kita, tapi aku punya hak untuk tetap mencintai bahkan aku punya hak untuk kembali jika memang aku ingin,” kata Yesha percaya diri.

“Simpan omong kosongmu,” kataku seraya masuk ke dalam mobil, dia masuk ke dalam mobilku juga.

“Keluar!” kataku dingin.

“Kenapa kamu tiba tiba memutuskanku sepihak? Bahkan menjadi dingin sejak hari itu, tidak bisakah kamu paham bagaimana frustasinya aku hingga pergi meninggalkan tempat ini?” katanya dengan nada meninggi mulai terisak.

“Keluarlah sebelum aku benar benar hilang kendali,” kataku memperingati.

“Apa kamu berselingkuh dariku? Apa kamu menghianatiku hari itu? Apa kamu punya wanita lain?”

“Keluar!” kataku dengan nada marah.

“Aku akan keluar, tapi aku masih butuh penjelasan darimu,” kata Yesha menyeka air matanya, keluar dari mobilku dan membanting pintu nya cukup keras.

***

Di tempat kejadian perkara yang terpasang beberapa police line di sana. Terdapat banyak petugas kepolisian maupun kejaksaan bahkan dokter forensic.

“Apa yang kamu temukan?” Tanya Erika pada salah satu pihak kejaksaan.

“Lihatlah dia minum banyak, banyak botol minuman di sini,” sahut rekannya.

“Jangan lupa memakai sarung tangan lengkap,” kataku memperingati Erika.

Setelah memeriksa tempat kejadian perkara, kami juga memeriksa mobil korban yang masih terparkir rapi dengan police line mengitarinya.

“Apa anda sudah memeriksa CCTV di tempat kejadian?” Tanya Yesha pada Erika.

“Kata petugas keamanan CCTV di bagian penting sedang rusak saat kejadian,” kata Erika.

“Bagaimana bisa?” sahut Yesha dengan nada sedikit meninggi.

“Mana ku tahu,” sahut Erika santai.

“Ku mohon bantu adikku,” kata Yesha sedikit menurunkan emosinya.

“Tidak bisa berjanji, tapi kita bisa menemui saksi,” kata Erika cepat.

Siang ini juga kami dari pihak dokter melakukan analisa di laboratorium. Dokter Shailla dan dokter Vina benar benar memeriksa barang bukti yang berkaitan dengan korban. Bahkan Yesha tidak pulang dan tetap mengikuti semua prosess demi adiknya.

CEKLEK…

Pintu terbuka dan semua menatap ke arah pintu yang terbuka. Paris dengan gaunnya yang glamour masuk ke dalam ruangan menyita perhatian semua orang. Tapi ku rasa semua orang sudah terbiasa dengan kehadirannya.

“Maaf mengganggu, lanjutkan pekerjaan kalian,” kata Paris tersenyum.

Dia melepas heelsnya dan berjalan pelan mendekatiku.

“Aneh sekali, kenapa ada noda darah di stir mobil milik korban,” kata Paris pelan menunjuk barang bukti.

“Bahkan ditemukan rambutnya juga di kursi penumpang, handuk berdarah di dalam mobil. Benar benar mengerikan,” lanjut Paris lirih.

“Ini hasil DNA di sepatu, DNA cocok dengan dokter Shane Djanu,” kata dokter Shailla menyerahkan kertas padaku.

“Kamu pasti salah memeriksanya!” kata Yesha menatap dokter Shailla.

“Maaf, tapi saya sudah bekerja dengan teliti, dokter yesha,” kata dokter Shailla tidak enak hati.

“Apa kamu percaya dokter Shane yang melakukannya, aku rasa dia dokter yang serius dengan karirnya. Dia tidak mungkin melakukan itu,” kata Paris menatapku.

“Kita tidak pernah tahu isi otak oranglain, jangan melihat orang dari cover saja,” sahutku.

“Sudah berapa lama kamu mengenal dokter Shane?” Tanya Paris.

“Lama,” sahutku.

“Apa kamu percaya pria yang kamu kenal lama akan melakukan hal itu?” kata Paris menatapku tajam.

“Jangan meminta pendapatku, pendapatku tidak penting sama sekali,” sahutku datar.

“Tapi—“

“Hentikan ocehanmu,” kataku keluar dari laboratorium dan berjalan menuju ruanganku.

Baru saja aku akan melakukan sesuatu suara Paris mengagetkanku hingga membuatku sedikit terjingkat.

“Apa kamu benar benar tidak menemukan hal aneh pada mayatnya? Aku bahkan tidak percaya dokter Shane membunuh seseorang,” kata Paris yang ternyata mengikutiku ke ruanganku.

“Apa kamu tidak peduli sama sekali jika dokter Shane dihukum?” Tanya nya lagi.

“Kenapa kamu tidak menjawabku? Kenapa kamu tidak berperasaan sama sekali sih? Kalian saling mengenal cukup lama kan? Kenapa kamu diam saja?” ocehan Paris tidak berhenti.

“Keluar, aku pusing,” kataku datar.

“Memangnya apa sih yang sedang kamu lakukan, kotak apa itu?” Tanya Paris mendekatiku yang sedang berada di sebelah kotak kaca.

“Apa ini? Kenapa kamu menyimpan banyak belatung di sini?” kata Paris histeris, suaranya memenuhi ruanganku.

“Ini hewan peliharaanmu? Yang benar saja?” kata nya dengan napas tersenggal karena begitu terkejut melihat banyak belatung dalam kotak kaca lengkap dengan oksigen, makanan dan lain sebagainya.

Dengan segera aku mengamankan kotak kaca itu supaya dia tidak melihatnya.

“Apa kamu kesepian akhir akhir ini? Kamu benar benar membuatku frustasi, dhika!” gerutunya mulai menyandarkan diri di sofa.

“Bagaimana pekerjaanmu pagi tadi?” tanyaku mengalihkan topic seraya mencuci tanganku.

“Begitulah,”

“Begitulah?”

“Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidur dengan pecinta belatung setiap hari,” gumamnya.

“Aku serius sedang bertanya tentang pekerjaanmu tadi pagi,” kataku duduk di sebelahnya.

“Kamu tidak memelihara belatung di kamar rumah juga kan?”

“Paris—“

“Aku tidak mau tahu, mandi yang bersih dulu sebelum kita makan siang bersama,” kata Paris cepat memotong kalimatku.

“Kenapa memang nya?” tanyaku seraya memeluknya.

“Lepaskan aku, aku jijik dengan peliharaanmu,” kata Paris meronta dari pelukanku.

Aku semakin menggodanya dengan memeluknya semakin erat sedangkan dia memukul mukul dadaku. Aku terkekeh melihat ekspresinya, dia benar benar penghilang penat di siang hari.

“Dhika, kamu benar benar menyebalkan!” omelnya.

“Aku tidak peduli,” kataku tersenyum berusaha memeluknya yang hampir terlepas.

CEKLEK….

“Ma.. Maaf…”

Yesha berdiri mematung menatap kami dengan mata nanar nya, membuat Paris terdiam memperhatikannya yang berusaha berbalik badan dan menutup pintunya kembali seperti semula.

1
Rahmawati
bagus banget
ratna wati
suka
Cecilia Woen
Kecewa
Mhira Tzabit
hahahahahhaha
Caturtws
baik baik baiiiikkkk sangat baiiiikkkk
Caturtws
kak gimana kabarnya
Ade Jayanti
ceritanya hampir mirip Drakor justice farners. bedanya dokter d film sudah Mateng umurnya dan tidak ada drama percintaan nya. tapi hampir 60% Cerita nya mirip, karakter dokternya juga mirip, kasus2 kriminal juga mirip.
Caturtws
nunggu banget lanjutan angel in crime
Novianti Ratnasari
paris tuh terlalu di manja am pph nya am kkek nenek nya jd gt
Novianti Ratnasari
Paris ngikut jejak ibu nya😂😂😂😂
Khalisah Rochman
author pinter bgt.... semua ilmu ad di novelmu thor 😍😘😘😘
Khalisah Rochman
keren thor.... luar biasa karyamu.... the best pokokx... lope lope sekebon deh 😍😘😘😘😘❤❤❤
RINDU ⭕
Author, ceritanya bagus dan seru, maaf, penulisan nama diawali huruf besar ya, Zea
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🙏
Indah Nihayati
bagus thor mampir nih
Nur Yuliastuti
suka dg cerita ini,, ku kesini llagi Thor 🤗

sehat sehat sll yaa 🤗
Nur Yuliastuti
baiklah Yesha,, tunjukkan pesonamu Paris 🤗
Nur Yuliastuti
🤭🤭🤭
Nur Yuliastuti
lagi 😃
Nur Yuliastuti
kangen Dokter Dhika jd kesini 😍
Riska Wulandari
lah kalo g ada Ratu ntar d panggil apa,??Mahar atau Dhika juga???🤭🤭🤣🤣
terimakasih cerita menghiburnya thor..👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!