Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Bianca masih belum sepenuhnya pulih dari kejutan ketika Arka sudah berjalan ke depan Empu Wira.
Penjaga tua itu tampak tidak rela, tetapi Empu Wira memberi isyarat agar ia diam.
"Ambil lampu spiritus," kata Arka.
Penjaga mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Terapi api."
Penjaga menatap Empu Wira.
"Ambil," kata Empu.
Tidak lama kemudian, lampu spiritus kecil diletakkan di meja batu. Arka membuka gulungan jarumnya. Ujung beberapa jarum perak dipanaskan di atas api sampai memantulkan cahaya biru tipis.
Bianca memperhatikan tangannya.
Tangan itu tidak gemetar. Padahal beberapa menit lalu tangan yang sama menawar nama Empu Wira seolah sedang membeli menu makan siang. Kini tangan itu justru tenang, teliti, dan dingin.
"Empu, duduk tegak. Jangan menahan napas."
Empu Wira duduk di kursi rotan.
Arka bergerak.
Beberapa titik di kepala disentuh lebih dulu. Jarum masuk cepat, nyaris tanpa suara. Setelah itu bagian belakang leher, bahu, pergelangan, lutut, dan beberapa titik dekat dada. Qi Hantala mengalir melalui jarum panas seperti benang halus yang menyusup ke jaringan tua.
Empu Wira mengerang rendah.
Penjaga hampir maju, tetapi Bianca menahannya dengan tatapan.
"Tunggu."
Beberapa detik kemudian, wajah Empu Wira yang tadinya menegang perlahan berubah. Dahinya yang berkerut menjadi longgar. Napasnya memanjang. Jari-jari yang selama puluhan tahun selalu terasa berat setelah bekerja kini bergerak pelan, seperti baru lepas dari ikatan tak terlihat.
Arka mencabut jarum satu per satu.
"Selesai."
Penjaga tertegun. "Secepat itu?"
Empu Wira membuka mata.
Ia tidak langsung bicara. Ia menggerakkan leher, memutar bahu, lalu menggenggam dan membuka tangan. Mata tuanya tiba-tiba bersinar.
"Ringan."
Satu kata itu membuat pendopo hening.
"Kepalaku... ringan." Empu Wira berdiri. "Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan ini."
Arka menyimpan jarum.
"Penyumbatan utama sudah terbuka. Nanti saya tuliskan ramuan tujuh hari untuk menstabilkan saraf dan otot. Setelah itu, Empu bisa mengukir tanpa takut mati suri lagi."
"Aku ingin mencoba sekarang."
Arka menoleh pada Bianca.
Bianca baru sadar ia masih membawa diri seperti penonton. "Batu ada di mobil. Aku ambil."
"Biar saya."
Arka tersenyum. "Saya sopir. Urusan angkat barang tetap pekerjaan saya."
Kalimat itu membuat penjaga menatapnya seperti baru mendengar bagian paling tidak masuk akal dari hari ini.
"Kamu sopir?"
"Sopir, konsultan, kadang dokter darurat."
Penjaga tidak tahu harus menjawab apa.
Arka kembali ke mobil dan mengambil koper pengaman berisi imperial green. Ketika koper dibuka di pendopo, warna hijau di dalamnya membuat udara seolah ikut berubah. Empu Wira hanya melirik sekali, tetapi mata seorang maestro langsung tahu nilai benda itu.
"Besok sore datang lagi," katanya. "Aku akan mulai malam ini."
Bianca menunduk hormat. "Terima kasih, Empu."
"Jangan berterima kasih dulu. Kalau hasilnya buruk, salahkan sopirmu."
Arka mengangkat tangan. "Saya terima risiko."
Empu Wira tertawa.
Mereka pamit dari vila joglo itu. Saat kembali ke mobil, Bianca duduk di belakang dalam diam cukup lama.
Arka menyalakan mesin.
"Bu Bianca?"
"Hari ini lagi-lagi kamu membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin."
"Saya hanya menjalankan pekerjaan."
"Pekerjaan sopir?"
"Sopir yang punya KPI agak luas."
Bianca tertawa pelan. Tawa itu pendek, tetapi cukup membuat kabin yang dingin terasa berubah.
Mobil turun dari kawasan perbukitan menuju Jakarta. Cahaya sore mulai memantul di kaca gedung. Bianca menatap jalan dari jendela, sementara Arka menunggu saat yang tepat.
"Bu Bianca," katanya akhirnya, "saya sebenarnya kagum pada Anda."
"Tiba-tiba?"
"Tidak tiba-tiba. Orang yang bisa membangun Lestari sebesar ini pasti punya latar belakang kuat. Ayah Anda pasti orang hebat."
Bianca tidak langsung menjawab.
Wajahnya yang tadi sedikit lunak kembali dingin, tetapi bukan dingin marah. Lebih seperti pintu yang sudah lama ditutup.
"Aku tidak punya ayah."
Arka terdiam sebentar. "Bercerai?"
"Tidak."
Ia menelan ludah. "Maaf. Saya turut berduka."
"Dia tidak meninggal." Bianca menatap jendela. "Dia hilang."
Arka merasa mulutnya sendiri ingin ia lempar keluar jendela.
Pak Mahendra pernah berkata rekan lamanya gugur. Jika ayah Bianca hilang, apakah ini orang yang sama? Atau justru informasi yang diketahui Bianca sengaja dibuat tidak lengkap?
Bianca melanjutkan tanpa menoleh.
"Saat ibuku sakit parah, dia pergi. Tidak ada pesan, tidak ada penjelasan. Ibuku menunggu sampai napas terakhir. Dia tidak datang."
Suara Bianca tetap tenang. Justru karena terlalu tenang, Arka bisa mendengar luka yang belum kering.
"Aku membencinya."
Arka tidak buru-buru bertanya. Kalau ia terlalu jelas menggali, Bianca akan menutup diri.
"Maaf," katanya. "Saya tidak tahu."
"Kenapa tiba-tiba menanyakan ayahku?"
Arka sudah menyiapkan alasan.
"Saya hanya berpikir, orang seperti Anda biasanya punya orang tua yang sangat kuat di belakangnya. Setelah mendengar itu, saya jadi merasa masalah hidup saya tidak ada apa-apanya."
Bianca menoleh sedikit.
Arka melanjutkan dengan wajah serius palsu, "Setidaknya orang tua saya masih ada. Walau sampai hari ini mereka belum pernah berkata, 'Nak, sebenarnya keluarga kita konglomerat. Dulu Ayah menyembunyikan kekayaan agar kamu tidak sombong. Sekarang ambil kunci tambang nikel ini dan pulanglah mewarisi semuanya.'"
Bianca menatapnya beberapa detik.
Lalu ia tertawa.
Kali ini lebih jelas.
"Kamu memang tidak bisa serius lama-lama."
"Saya sedang serius. Saya menunggu tambang nikel itu sejak lulus kuliah."
Sisa mendung di wajah Bianca menipis. Ia kembali menatap jendela, tetapi sudut bibirnya masih naik sedikit.
"Dulu aku bekerja sangat keras karena berpikir kalau Lestari cukup besar, cukup terkenal, mungkin dia akan melihat. Mungkin dia akan kembali."
Arka mendengar dengan diam.
"Tahun demi tahun lewat. Dia tidak muncul. Sekarang aku tidak lagi membangun perusahaan untuk orang yang pergi. Aku membangunnya untuk diriku sendiri."
"Itu lebih baik."
"Aku tahu."
Hening turun sebentar, tetapi kali ini tidak berat.
Bianca tiba-tiba memandang Arka dari kaca spion.
"Aku baru ingat sesuatu."
"Apa?"
"Tadi kamu menyembuhkan Empu Wira dengan jarum di kepala, leher, dan tubuh. Ia tetap berpakaian."
Arka mulai merasa tidak enak.
"Ya?"
"Saat kamu menyembuhkanku dulu, titik jarumnya di sekitar dada. Kamu bahkan memintaku menurunkan handuk sedikit."
Kabin mobil mendadak terasa lebih sempit.
Arka batuk kecil.
"Bu Bianca, pengobatan harus sesuai penyakit. Empu Wira masalahnya di saraf kepala dan jalur otot. Pakaian tidak mengganggu. Penyakit Anda waktu itu menekan jalur jantung dan dada, kalau titiknya tidak jelas, hasilnya bisa meleset."
"Begitu?"
"Tentu. Saya sangat profesional."
"Profesional yang mimisan saat melihat batu?"
"Itu efek samping teknik."
"Teknik melihat batu atau teknik melihat orang?"
Arka hampir salah injak rem.
Bianca memalingkan wajah, tetapi Arka melihat telinganya sedikit merah.
Ia memutuskan mengambil risiko.
"Bu Bianca sangat cantik. Dokter mana pun akan berusaha lebih teliti agar tidak terjadi kesalahan."
"Itu alasan medis?"
"Alasan medis yang jujur."
Bianca menatapnya tajam, tetapi tidak ada amarah di sana.
"Pikiranmu tidak murni."
"Pikiran murni atau tidak, teknik medis saya murni."
Bianca diam.
Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke jendela. Sudut bibirnya kembali naik.
Menjelang gedung Lestari, Bianca menekan pelipisnya. Wajahnya sedikit lelah.
"Arka, akhir-akhir ini kepalaku sering sakit. Mungkin kurang tidur."
"Saya bisa bantu terapi kepala."
"Malam ini antar aku pulang. Kalau tidak ada urusan, sekalian bantu."
Arka menahan senyum.
"Baik, Bu Bianca."
Bianca turun di depan lobi perusahaan.
Arka menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kaca. Undangan terapi kepala itu datang tepat saat ia butuh alasan masuk ke rumah Bianca lebih dalam.
Jika ada foto lama, dokumen, atau petunjuk tentang ayahnya, malam ini mungkin ia bisa melihatnya.
Ia harus tahu apakah Bianca benar-benar anak dari rekan Pak Mahendra.