NovelToon NovelToon
7 Life Crystals Book I

7 Life Crystals Book I

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:104.6k
Nilai: 4.6
Nama Author: Koibumi Alana

Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.

Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.

Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 : Kepastian

Yula ingin bicara sekali lagi dengan Lacus tentang Yoshizu, namun saat ia masuk ke kamar kakaknya sudah terbaring di kasur. Telah terlelap atau tidak ia tak memastikannya, melihat posisi tidur Lacus yang tak menghadap ke kasurnya dan selimut hingga menyisakan kepala saja membuat Yula enggan mendekati Lacus. Posisi tidur yang menandakan tak mau diganggu, tentu karena Lacus menghindari ‘keingintahuannya’ Yula. Ia tak tidur ke dalam selimut Lacus seperti biasa, kali ini ia tidur di kasurnya sendiri.

Berharap esok pagi ia dapat bicara dengan Lacus lebih tenang, berharap esok perasaan Lacus menjadi baik karena itu Yula tak mengganggu tidur sang Putri Woerlt. Namun di pagi harinya, saat ia membuka kedua matanya ... kasur di seberangnya telah kosong.

Yula terkejut dan langsung lompat dari kasurnya. Matanya memandang seluruh sudut kamar, tas bawaan Lacus masih ada di atas kasur, dan kasur telah dirapikan. Yula merasa agak lega karena Lacus bukan hilang tapi sepertinya pergi ke luar. Ia pun segera keluar, mencari sosok Lacus di lantai dasar penginapan. Namun ia tak menemukan sosok sang putri.

Kakinya melangkah berbalik menuju kamar Esha dan Yoshizu, namun saat itu Esha berjalan ke arahnya.

“Kau mencari Tuan Putri?” tebak Esha.

Yula mengangguk tiga kali dengan cepat.

“Kemungkinan besar ia bersama Yoshizu.” Esha memunggungi tasnya. “Ambil tasmu, kita akan pergi.”

“Udah mau pergi aja?” heran Yula. “Gak sarapan dulu?”

Esha berjalan melewati Yula. “Cepatlah. Kau tak mau kakakmu ‘diapa-apain’ sama Yoshizu, kan? Aku ambil kereta dulu.”

Esha membuka pintu penginapan dan menghilang dari hadapan Yula.

Yula hanya tertegun. “Yaah ... perutku lapar ... setidaknya satu potong roti aja!”

.

.

.

Pagi ini matahari terbit dengan tenangnya memancarkan kehangatan dari balik gunung nan jauh dari pandangan mata. Udara masih terasa dingin di kulit namun sangat tenang hingga tak mengusik lembar baju maupun sehelai rambut.

Lacus menyingsingkan rambut di telinganya. Matanya agak memicing saat semburat cahaya matahari menampakkan diri. Mungkin agak ceroboh sebagi seorang putri keluar tanpa ditemani seseorang pun—namun bukan berarti ia gadis yang lemah, ia sangat kuat sebagai seorang putri kerajaan maupun sebagai magicier—bahkan tak mengatakan terlebih dahulu pada rekan terdekatnya, namun ia tahu seseorang akan menemuinya. Langkah kaki seseorang pun semakin mendekat. Ia berhenti di belakang Lacus berjarak tiga langkah.

“Tuan Putri sangat suka melihat matahari terbit, bukan?”

“Hmm.”

“Gunung Swetzén, kata para penjelajah tempat yang paling bagus untuk melihat matahari terbit. Namun menaikinya cukup sulit dan banyak rintangan, hutan yang lebat, monster berkeliaran seperti werewolf dan dogforest, namun menaiki puncak gunung sangat terbayar dengan keindahan yang tersaji.”

“Kau pernah ke sana?”

“Hm, yah, sekali. Menolong seorang anak yang dibawa pergi seekor harpie, peri burung kesepian yang tak memiliki teman bermain.”

“Sepertinya kau sudah berkelana sangat jauh. Dan tak sekedar menjadi perampok.”

“Tuan Putri....” Yoshizu terdiam. “Maafkan aku tak mengatakan hal itu sebelumnya. Karena aku pikir itu tidak penting dan lagi ... kehadiranku tak ada sangkut-pautnya dengan mereka. Aku ingin Anda tak melihat sisi buruk dari anak-anak itu....”

“Anak-anak?” heran Lacus.

Yoshizu kembali terdiam. Jika ia sangat pandai bermulut manis dan menyimpan rahasia pada orang lain, tapi mulutnya tak bisa menyembunyikan apa pun di hadapan Putri Woerlt. Tak ada pilihan lain selain menceritakan yang sebenarnya.

“Ya, sekumpulan anak-anak pencuri. Kebanyakan dari mereka seumuran dengan Esha, ada beberapa yang seumuran denganku. Awalnya aku hanya memberi mereka tempat tinggal karena mereka sebatang kara, disisihkan dari saudara dan terlantar. Lalu aku mengajari mereka bela diri dan magica. Tapi mereka sendiri yang memutuskan untuk mengikutiku, menjadi anak buah meski aku tak menginginkan hal itu.”

“Berapa orang mereka semua, Yoshizu?” tanya Lacus. Matanya berharap Yoshizu tak merahasiakan satu pun angka.

“Hingga kini ... sebelas orang selain aku.”

Lacus terdiam sesaat. “Aku tahu maksud murnimu, Yoshizu....” Lacus mengalihkan pandangannya pada sang mentari kembali, “Namun air jernih yang terkena lumpur akan tetap keruh. Tak bisa diperbaiki selain disaring, tapi manusia bisa diperbaiki dari tujuannya. Kuharap kau melakukannya setelah urusan kita di Kota Samber selesai.”

“Terima kasih atas kebaikan hati Tuan Putri....”

“Yoshizu, kau harus ingat, urusanmu adalah urusanku. Karena aku adalah Tuan Putrimu, bukan?” ucap Lacus dengan tersenyum. Kali ini senyuman ramah.

Wajah Yoshizu agak memerah mendengarnya. Kemudian ia mengangguk senang. “Terima kasih banyak, Lacus.”

.

.

.

Yula telah memunggungi tas, ia juga membawa tasnya Lacus keluar penginapan. Di luar Esha telah menunggu bersama kereta kuda mereka. Di saat bersamaan Lacus dan Yoshizu berjalan bersamaan menuju arah mereka berdua. Yula tercengang melihat Lacus telah berbaikan dengan Yoshizu, sepertinya. Dilihat mereka kembali bicara akrab seperti sebelumnya. Ia merasa waswas terhadap Yoshizu, sangat yakin bahwa laki-laki itu memiliki sebuah cara yang dapat membuat kakaknya memaafkannya.

“Kakak dari mana?” tanya Yula saat Lacus telah hampir di depannya.

“Melihat matahari terbit,” jawab Lacus ringan.

Alis kanan Yula naik. Ibu jarinya menunjuk ke arah Yoshizu. “Dengan orang ini?”

“Yula, tidak sopan!” ucap Lacus. “Yoshizu lebih besar darimu, hormatlah sedikit.”

Yula semakin heran. “Ternyata benar kamu memiliki mantra-mantra membalikkan hati Kak Lacus,” ucapnya kesal dengan sorotan mata tajam ke Yoshizu.

Yoshizu tertawa kecil. “Mungkin mantra yang Tuan Putri sebut ialah ... cinta?”

Esha tersedak.

Kedua bahu Yula merosot.

Lacus hanya terdiam dengan pipi yang memerah.

“Ternyata benar, kamu harus aku awasi!” ucap Yula kesal. “Uuukh.... Kak Lacus jangan mau sama orang ini! Lihat aja bapaknya gimana, anaknya juga bakal gitu!!”

“Yula!” Lacus sangat marah mendengar ucapan Yula barusan.

Yula langsung menutup mulutnya, ia benar-benar keceplosan dengan ucapan yang sangat menyinggung.

Namun Yoshizu hanya tersenyum, tak memperlihatkan perasaan tersinggung atau kesal sama sekali terhadap pernyataan Yula.

Tapi Esha yang langsung memarahinya. “Kau tak bisa menjaga ucapan apa?” ucapnya kesal.

Yula menundukkan kepala. “Maaf....”

“Tak apa, tak apa. Bagaimana pun memang seperti itu kenyataannya,” ujar Yoshizu. “Seandainya Tuan Putri tahu, ayahanda saya tak melakukan hubungan dengan nafsu, beliau melakukannya demi melindungi ketiganya. Ada cerita tersendiri di antara para orang tua yang tidak diketahui oleh anak-anak mereka. Asalkan Tuan Putri tahu, perasaan saya terhadap Putri Lacus jujur dan setia, meski dalam perjalanan saya bertemu dengan banyak gadis namun tak satu pun saya izinkan mengambil perasaan saya, dan saya pun begitu.”

Pernyataan Yoshizu membuat wajah Lacus bertambah memerah. Esha tercengang dengan pengakuan kakaknya yang seperti lamaran saja. Sedangkan Yula menatap dalam kedua mata Yoshizu mencari kebenaran dari ucapannya.

“Kuharap kau tak bohong,” ucap Yula memperingati.

“Untuk perasaan hati saya tak pernah berbohong,” jawab Yoshizu.

Yula terdiam sesaat, menatap wajah Lacus yang memerah. “Baiklah, kita lanjutkan perjalanan. Ayo Kak Lacus, kita naik. Aku ingin tahu detailnya!”

Lacus terkejut. “De-detail apa, Yula?”

Yula telah menaikkan satu kaki, ia berhenti, “Tujuan kita selanjutnya, Kota Samber, kan?”

Ada sedikit perasaan lega, Lacus menghela napas lalu tersenyum. “Bukan tentang kristal maupun pengendalinya. Aku mendapat informasi bahwa ada yang tidak beres dengan kota yang terkenal dengan persinggahan para pedagang tersebut. Mengingat kota itu dihuni oleh para perantau, sebagian kecil sekitar lima persen penduduk saja yang asli dari daerah tersebut, jadi tak mengherankan jika ada penyusupan barang-barang ilegal, bahkan perampok sekaligus singgah di sana.

“Jika permasalahan datang dari penduduk maupun pendatang, aku tak akan ikut campur, kerajaan tak akan turun tangan, tapi permasalahan datang dari pemimpinnya yang menggantikan pemimpin lama secara tiba-tiba. Apa permasalahannya hal itulah yang akan kita cari tahu bersama. Nah, untuk apa kita menghabiskan waktu di sini?”

“Butuh waktu berapa hari kita sampai ke Kota Samber?” tanya Yula.

“Hm, kalau dari sini kira-kira esok pagi. Tak ada penginapan lagi dalam perjalanan ke sana, bagaimana Tuan Putri?” ucap Yoshizu.

“Tak apa. kita bisa istirahat sebentar dalam perjalanan dan bergantian berjaga,” jawab Lacus tanpa ragu.

1
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
kasian esha
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangatt semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
ko we jadi sedih
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat Semangat Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Nayla Syberia
namanya lacus tapi aku baca nya berkali-kali salah malah Lucas 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!