Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021: Jebakan Menjadi Profesor
Mereka tidak tahu rantai itu bisa berubah menjadi senjata.
Keesokan paginya, Ardi datang ke kampus UNAIR dengan undangan resmi di dalam map cokelat.
Gedung rektorat berdiri tenang di bawah cahaya Surabaya yang menyilaukan. Mahasiswa berlalu-lalang membawa laptop dan jas praktikum. Di halaman, spanduk dies natalis mulai dipasang, penuh logo sponsor, senyum pejabat, dan kalimat tentang kemajuan ilmu kesehatan.
Di salah satu sudut spanduk, logo PT Surya Perkasa Group terlihat kecil.
Terlalu kecil untuk orang awam.
Terlalu jelas untuk Ardi.
Dokter Hasan menunggu di lobi. Ia tidak memakai jas operasi, tetapi wajahnya tetap seperti orang yang sedang memeriksa risiko perdarahan.
“Profesor Marwan ingin bicara empat mata dulu,” katanya.
“Tentang gelar itu?”
Hasan mengangguk. “Dan tentang orang yang membayar panggungnya.”
Mereka naik ke lantai rektorat. Di dalam ruang kerja, Profesor Marwan Effendy berdiri menyambut Ardi. Usianya sekitar enam puluh, rambutnya memutih rapi, suaranya tenang dengan berat seorang administrator yang sudah terlalu sering duduk di antara idealisme kampus dan uang sponsor.
“Dokter Ardi,” katanya. “Terima kasih sudah datang.”
Ardi menyalami tangannya. “Terima kasih sudah menerima saya, Pak Rektor.”
Di meja, sudah ada berkas usulan: kuliah ilmiah dies natalis, penghargaan akademik, dan rancangan pengangkatan Ardi sebagai Profesor Klinis Tamu untuk bidang bedah inovatif.
Judulnya indah.
Isinya berat.
Profesor Marwan tidak langsung memuji.
Ia justru menutup berkas itu dengan telapak tangan.
“Ini bisa menjadi hal baik,” katanya. “Tapi saya harus jujur. Usulan ini datang setelah Surya Perkasa Group menyatakan komitmen donasi besar untuk program pengembangan pusat bedah kami.”
Hasan duduk diam di samping Ardi.
Marwan melanjutkan, “Secara formal, tidak ada syarat tertulis yang melanggar. Tidak ada kalimat yang menyebut Anda harus menerima. Tapi saya sudah cukup lama di kampus untuk tahu bahwa niat baik dan kepentingan bisnis sering memakai jas yang sama.”
Ardi menatap berkas itu.
“Mereka ingin saya menerima jabatan yang terlihat seperti kehormatan.”
“Ya.”
“Lalu setelah itu?”
Marwan menarik napas. “Jadwal mengajar, seminar, kewajiban menghadiri acara kampus, bimbingan residen, mungkin komite akademik. Semua bisa terdengar wajar. Tapi jika diatur berlebihan, itu bisa menghabiskan waktu klinis dan riset Anda.”
Hasan menambahkan, “Dan kalau Anda menolak, mereka bisa bilang Anda sombong. Tidak menghargai kampus. Tidak mau berbagi ilmu setelah dibantu panggung akademik.”
Perangkap yang rapi.
Jika Ardi menerima, ia masuk ke kandang yang dibangun dengan kata kehormatan.
Jika menolak, Surya Pradana akan menjadikannya dokter tidak tahu terima kasih, orang yang hanya ingin panggung tetapi tidak mau memberi kembali.
Dokter Agung, direktur RS UNAIR, masuk beberapa menit kemudian dengan senyum yang terlalu halus.
“Ah, Dokter Ardi. Selamat. Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini secepat Anda.”
“Ini belum saya terima,” jawab Ardi.
Senyum Agung tidak berubah, tetapi matanya menyipit sedikit.
“Tentu. Tapi publik sudah mulai mendengar. Akan disayangkan kalau kesempatan bagus dari kampus dan sponsor besar tidak disambut dengan sikap positif.”
Sponsor besar.
Kata itu diletakkan di meja seperti pisau yang dibungkus kain.
Profesor Marwan menatap Agung sekilas. “Dokter Agung, saya ingin bicara dulu dengan Dokter Ardi.”
“Tentu, Pak Rektor.” Agung berdiri lagi. Sebelum keluar, ia menoleh kepada Ardi. “Kami semua berharap Anda tidak mengecewakan banyak pihak.”
Pintu tertutup.
Hasan mendengus pelan.
“Itu baru pembukaan,” katanya.
Ardi tidak marah.
Ia justru semakin tenang.
Panel sistem muncul di tepi pandangannya.
[Syarat Sistem Warisan terdeteksi.]
[Jabatan akademik + pengajaran publik dapat membuka subsistem.]
[Jika Anda menerima dan mengajar, Sistem Warisan akan aktif pada sesi pengajaran pertama.]
[Catatan: nilai awal ditentukan oleh tingkat kesulitan materi dan jumlah penerima manfaat.]
Ardi membaca kalimat terakhir dua kali.
Tingkat kesulitan materi.
Jumlah penerima manfaat.
Surya Pradana ingin menenggelamkannya dalam kelas, seminar, dan kewajiban akademik. Mereka mengira mengajar adalah beban. Mereka tidak tahu Sistem Modifier menganggap pengajaran sebagai investasi.
Semakin sulit materi.
Semakin banyak dokter yang memahami.
Semakin besar hasilnya.
Untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar profesor itu, Ardi hampir tersenyum.
Profesor Marwan memperhatikannya.
“Dokter Ardi, Anda tidak wajib menerima. Saya tidak ingin kampus ini menjadi alat untuk menekan dokter yang sedang naik karena kemampuan sendiri.”
Ardi mengangkat kepala.
“Pak Rektor, jika saya menerima, apakah saya bisa menentukan materi dan cara mengajar?”
Marwan tampak terkejut. “Selama sesuai standar akademik, tentu. Tapi biasanya panitia memberi tema besar.”
“Saya ingin tema pertama: modifikasi Teknik Sandwich untuk diseksi aorta kompleks. Materi berbasis kasus Pak Gunawan, dengan data yang sudah mendapat izin etik. Bukan ceramah motivasi. Bukan seremonial.”
Hasan menoleh cepat.
“Ardi... itu materi berat.”
“Justru karena berat.”
Marwan menatapnya lebih lama. “Anda paham audiensnya akan luas? Panitia ingin mengundang dokter dari seluruh Jawa Timur. Bukan hanya bedah jantung.”
“Kalau mereka ingin melihat saya jatuh, biarkan mereka datang lebih banyak.”
Ruangan hening.
Hasan perlahan bersandar, lalu tersenyum tipis. “Anda benar-benar ingin memakai panggung mereka.”
“Mereka sudah menyiapkannya.”
Profesor Marwan membuka kembali berkas. Kali ini, matanya tidak lagi hanya berisi kekhawatiran. Ada sesuatu yang mirip rasa hormat.
“Baik. Saya akan tulis bahwa Anda menerima dengan syarat akademik: materi, struktur, dan metode pengajaran ditentukan oleh Anda bersama tim ilmiah.”
Ardi mengangguk.
“Saya terima, Pak Rektor. Tapi saya mau mengajar dengan cara saya sendiri.”
Kalimat itu membuat beban di ruangan berubah arah.
Marwan menandatangani satu lembar nota internal. Hasan mengambil ponsel dan mulai membuat daftar data operasi yang boleh dipakai. Di luar ruangan, panitia dies natalis mungkin sedang menghitung kursi, spanduk, dan kamera.
Mereka mengira sedang menyiapkan panggung hukuman.
Ardi melihatnya sebagai ruang operasi yang lebih besar.
Sore harinya, kabar penerimaan itu sampai ke kantor Surya Pradana.
Surya tidak muncul di depan publik. Ia cukup mendengar laporan dari seorang perantara yang berdiri di sudut ruang rapat, ponsel menempel di telinga.
“Dia menerima, Pak.”
Di ujung telepon, suara Surya rendah. “Bagus. Pastikan kuliah pertamanya besar. Undang dokter sebanyak mungkin. Kalau dia salah bicara sedikit saja, buat itu menyebar.”
“Dokter Agung sudah menyiapkan beberapa penanya.”
“Bagus. Orang seperti Ardi harus dibuat sibuk menjelaskan dirinya sendiri sampai lupa menyerang kita.”
Malam itu, Ardi kembali ke Soetomo membawa salinan keputusan.
Dokter Fajar membaca berkas itu di ruangannya.
“Kamu yakin?”
“Tidak ada pilihan tanpa risiko, Pak.”
“Ini bisa jadi beban.”
“Atau bahan bakar.”
Panel sistem muncul sekali lagi.
[Keputusan akademik tercatat.]
[Sistem Warisan akan aktif saat sesi pengajaran pertama berlangsung.]
[Persiapkan materi dengan tingkat manfaat maksimal.]
Ardi menutup map.
Di layar laptopnya, ia membuka file presentasi kosong.
Slide pertama ia beri judul:
Teknik Sandwich Modifikasi: Dari Meja Operasi ke Sistem yang Bisa Dipelajari.
Keesokan paginya, panitia mengirim daftar undangan sementara.
213 peserta terkonfirmasi.
Spesialis bedah jantung, bedah umum, emergency, anestesi, radiologi, bahkan beberapa dokter estetika yang penasaran karena nama Ardi mulai tersebar.
Rudi membaca daftar itu dan mengusap wajah.
“Di, ini bukan kuliah. Ini arena.”
Ardi menatap angka 213.
“Bagus,” katanya.
“Bagus?”
Ardi menyimpan file presentasi.
“Semakin banyak yang datang, semakin banyak yang pulang membawa sesuatu.”
Rudi belum mengerti.
Surya Pradana juga belum.
Dan itu membuat perangkap ini semakin menarik.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭