[Tidak akan dilanjutkan]
"World Fantasy" merupakan novel ringan yang ditulis oleh seorang penulis baru dan mendapatkan popularitas yang luar biasa sejak peluncuran volume pertamanya.
Akibat tubuh dan pikirannya yang kelelahan, dia terjatuh dari tangga di rumahnya dan mengalami pendarahan.
Setelah dia menyadarinya, dia telah terbangun sebagai Vex von Artrez, karakter figuran dalam novelnya.
"Apa yang harus aku lakukan?!"
"Apakah aku harus mengubah alur ceritanya?!"
"Terserah. Mari lihat perkembangan dan sesuaikan!"
Apakah dia akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang dia inginkan?
Genre : Action, Adventure, Comedy, Fantasy, Magic, Romance.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riepra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergerakan Kekaisaran
^^^| Sudut Pandang Orang Ketiga |^^^
Tahun Suci 1300, Bulan Kedelapan.
Sabana Bavaria, Luegnus, Kekaisaran Dormus.
BLAAARR!
BLAAARR!
Di Sabana Bavaria yang terletak pada wilayah tenggara Kekaisaran Dormus, terjadi pertempuran yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Senjata Suci dan Senjata Terkutuk digunakan dalam pertempuran antar dua pangeran untuk memperebutkan suksesi tahta.
Seorang pria tampan kekar yang memiliki rambut emas dan mata keperakan, Klein von Alacy Dormus, yang sedang mengendarai awan berwarna kemerahan melemparkan Rúyì Jīngū Bàng miliknya ke angkasa dan berkata, "Membesar."
Seketika tongkat tersebut membesar dengan diameter sekitar 200 meter dan terjatuh dari udara.
BLAAARRRR!
Akibat kejatuhan tongkat itu, tanah padang rumput yang telah hancur itu semakin rusak parah.
GLLAARR!
GLLAARR!
Tak berselang lama, beberapa kilatan petir terbentuk di langit yang menyebabkan tanah hitam karena terdampak dan langit yang menjadi semakin gelap.
Setelah itu, seorang pangeran lain yang memiliki fisik kuat serta rupawan dengan rambut oranye dengan mata hitam, Teir von Veste Dormus, melompat dari dasar dan berlari menapaki tongkat raksasa milik Klein.
"Kleeinnnn!" ujar orang tersebut dengan kesal dan mengarahkan Demonic Sword Gram yang sangat besar miliknya seakan untuk menebas Klein yang saat ini berada di atas awan.
"Cih. Mengapa kau sangat keras kepala, Tier?! Kinton!" teriak Klein kesal dengan mengarahkan awan yang sedang dinaikinya terbang menjauh.
Krak.
Krak.
BLAAAARRRR!
Setelah Tier mengarahkan pedangnya ke angkasa, tercipta tornado api yang mengikuti arah tebasan Gram di angkasa.
"Non-elemental Magic: Barrier," ujar Tier merapalkan mantra sehingga terbentuk banyak penghalang persegi yang membentuk tangga ke atas.
Tier pun melangkahkan kaki menaiki penghalang yang bertingkat dengan cepat sembari menghunus pedangnya.
Tak kalah dengannya, Klein pun berkata, "Mengecil, kembali," lalu tongkatnya mengecil dan seketika kembali ke tangannya.
Lalu, dia mengarahkan Awan Kintonnya menuju Tier yang mendekat ke arahnya sembari mempersiapkan tongkatnya.
BLAAAAAARRR!
Seketika, tongkat dan pedang itupun bertabrakan yang menyebabkan lingkungan tercipta badai hebat dan memiliki dampak reaksi magis yang pekat.
"Kleeeinn!" teriak Tier kesal.
"Tieerrr!" teriak Klein kesal.
Lalu, mereka saling melepaskan senjatanya dan Klein pun mengarahkan tongkatnya ke arah kepala Tier yang menyebabkan Tier mundur. Klein pun berteriak, "Membesar!"
"Sial!" teriak Tier dengan melompat kesamping menjauh.
Lalu, Tier dengan cepat menebaskan pedang besarnya ke arah samping.
Klein pun mengecilkan tongkatnya kembali dan mengarahkan tongkatnya untuk melindungi dari tebasan Gram.
BLAAARR!
Ketika tebasan pedang mengenai tongkat, itu menyebabkan tekanan magis yang sangat kuat sehingga kedua orang tersebut terlempar.
Kedua orang itupun menahan tubuhnya dari dampak dengan menggunakan tangan mereka. Lalu, mereka berdua bangkit dengan mempersiapkan senjatanya.
Setelah itu, mereka berlari ke arah satu sama lain dengan menghunuskan senjatanya.
BWOOSSHH!
Saat kedua senjata itu hampir bertabrakan sekali lagi, sebuah panah emas yang memiliki kilatan petir berwarna emas meluncur ke arah mereka yang menyebabkan mereka mundur kembali.
Bzzt.
Bzzt.
Bzzt.
"Murad, kah?" ujar Klein sebal.
"Tak kusangka, Pangeran Keempat Kekaisaran akan ikut campur perebutan tahta," ujar Tier kesal.
Setelah itu, seorang pria muda berusia sekitar 15 tahun yang memiliki berambut emas dengan mata berwarna emas muncul secara tiba-tiba dengan menapakkan kakinya di udara.
"Apakah kalian tidak lelah dengan perbuatan sia-sia seperti ini?" tanya Murad seolah bosan dengan memegangi sebuah busur panah ilahinya.
"Apakah kau bermaksud menganggu kami?" tanya balik Tier dengan kesal dan menghunuskan Gram miliknya.
"Tidak, aku tidak tertarik dengan mahkota kosong seperti itu. Setelah pangeran pertama terbunuh, militer kekaisaran sangat melemah, kalian tahu?" balas Murad acuh tak acuh.
"Dan juga, berapa banyak tentara dan sipil yang telah menjadi korban kalian?" tambah Murad acuh tak acuh.
"Cih, anak tidak sah sebaiknya diam saja," ujar Klein kesal.
"Nah, bagaimana bila ekspansi terbanyak akan menentukan kaisar selanjutnya?" balas Murad seolah tidak peduli.
"Hah?! Jangan berkata omong kosong!" ejek Tier kesal.
"Sebenarnya, aku telah memikirkannya kembali. Dengan ekspansi, itu akan menambah sumber daya kekaisaran yang telah menjadi kering akibat ulah kalian. Dan juga, itu lebih menyehatkan politik kekaisaran setelah ini karena kaisar yang akan menjadi penerus tahta terpilih dikarenakan prestasi perang yang besar sehingga setiap orang akan menerimanya. Lagipula, Holy Sword Caliburn milik Pangeran Pertama juga telah menghilang yang menyebabkan penurunan kekuatan militer sangat besar," ujar Murad acuh tak acuh.
Kemudian, suasana hening sejenak menyelimuti percakapan tersebut karena kedua pangeran memiliki pemikiran yang mendalam dengan saran yang diberikan oleh Murad.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Klein.
"Jika aku memikirkannya dengan matang, saran tersebut tidak buruk," jawab Tier tenang.
"Aku setuju," timpal Klein tenang.
"Begitu," balas Murad acuh tak acuh.
"Jika begitu, aku akan mengekspansi barat kekaisaran," ujar Tier serius.
"Aku akan mengekspansi wilayah utara kekaisaran. Dan untuk membuktikan kau benar-benar tidak ikut campur, jangan gerakkan militer menuju wilayah timur saat kami sedang melakukan ekspansi. Jika tidak..." ujar Klein serius.
"Aku tahu," balas Murad.
"Awas saja," timpal Tier mengancam.
"Baik," balas Murad acuh tak acuh.
"Lalu, kami akan menarik pasukan kami. Dalam tiga tahun, kami akan melakukan ekspansi militer besar-besaran," timpal Klein.
"Selamat tinggal," ujar Tier pergi dengan menuruni tangga penghalang dan diikuti oleh Klein menggerakkan Awan Kinton menuju arah yang berlawanan darinya.
Setelah melihat mereka pergi, Murad terbang turun menuju salah satu sudut pepohonan yang ada di hutan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Murad kepada hutan yang telah hancur akibat pertempuran dua pangeran.
Dari rerumputan di depannya, seketika muncul seekor serigala berbulu hitam secara tiba-tiba.
Kemudian, dia bertransformasi menjadi seorang wanita remaja cantik yang memiliki kulit putih dengan telinga seekor serigala di atas kepalanya serta memiliki rambut hitam dengan mata serigala berwarna kuning.
"Yang Mulia Raja Iblis telah menyetujui proposal yang telah Anda berikan, Yang Mulia Pangeran. Saat ini, kami sedang mempersiapkan pasukan monster serta tentara iblis. Dalam tiga—tidak, dua setengah tahun lagi, kami akan menyerang Wilayah Margrave Artrez secara keseluruhan serta bergerak menuju Kerajaan Vetra," jawab wanita serigala itu.
"Hutan Elf, bukan?" timpal Murad tersenyum.
Saat Murad mengatakan hal itu, wanita tersebut hanya terdiam tanpa menunjukkan emosi.
"Aku menyarankan agar beliau mempersiapkan serangan menuju satu titik saja," saran Murad dengan tersenyum.
"Mengapa?" tanya wanita itu penasaran.
"Wilayah Margrave Artrez diibaratkan hanya memiliki satu benteng kokoh yang melindungi seluruh wilayahnya. Jika Kota Athen telah jatuh, menyerang seluruh wilayahnya hanya semudah memotong kue," ujar Murad riang.
"Juga, pergerakan tentara Margrave ke kota dan wilayah lain akan terhambat saat basis utamanya diserang. Saat itu, aku menyarankan kalian juga menyerang kota-kota dan wilayah lainnya," tambah Murad dengan tersenyum.
"Begitu, kami akan mempertimbangkan saran Anda, Yang Mulia. Namun, jangan lupa untuk menepati janji Anda," balas wanita serigala itu tajam.
"Ya, aku tidak melupakannya. Menembakkan Divine Indra's Arrow ke Wilayah Frontier Count, bukan?" timpal Murad seolah bersenang-senang.
"Lalu, saya mohon untuk undur diri terlebih dahulu," balas wanita serigala itu seolah yakin lalu menundukkan kepalanya dengan ringan.
"Baik, harap berhati-hati saat perjalananmu kembali," balas Murad tersenyum.
"Permisi," timpal wanita serigala lalu menghilang seketika dengan meninggalkan sedikit asap hitam.
Setelah melihatnya pergi, Murad melirik kembali busurnya lalu mengambilnya seolah menjaganya.
"Tidak lama lagi, aku akan mencapai tujuanku," kata Murad pada ruang hutan yang hancur dengan senyum yang terlihat menakutkan.
Tanpa ada yang menyadarinya, seseorang yang mengenakan jubah sihir berwarna putih telah bersandar di balik salah satu batang pohon di dekat Murad. Setelah mengetahui semuanya, ia memasang ekspresi tersenyum yang memancarkan kebahagiaan dengan mata merahnya yang menyala bagaikan iblis.
...----------------...
Catatan :
Iblis tidak menyerang manusia, tepatnya Kerajaan Vetra, karena terdapat Wilayah Frontier Count yang memiliki tentara yang sangat besar dan kuat. Jika mereka memaksa untuk menyerang Wilayah Artrez ataupun Wilayah Count, mereka akan dihabisi dengan serangan penjepit dan menerima kekalahan telak.
Atribut Divine adalah atribut netral yang dimiliki oleh Dewa. Divine bukanlah Holy.
Divine Indra's Bow dapat menembakkan 2 jenis anak panah, yang pertama adalah panah yang terbuat dari mana yang memiliki dampak seperti sihir tingkat atas dan dapat digunakan kapan saja tanpa menggunakan mana. Yang lainnya adalah Indra's Arrow dimana hanya dapat digunakan sebanyak 3 kali oleh Murad von Dormus karena keterbatasan mana miliknya.
Timur kekaisaran \= Kerajaan Vetra.
...----------------...